
Setelah Rio pergi, Marshal beranjak dari duduknya menghampiri Viona yang masih mematung dengan handuk kecil ditangannya.
Viona yang menyadarai Marshal menghampirinya, dia jadi mulai merasa gugup juga takut Marshal akan berbuat kejam padanya. Karena disana tidak ada Rio. Belum lagi Viona mengingat sikap mencurigakan antara Rio dan Marshal saat berbincang tadi. Mengingatnya saja sudah membuat Viona cemas.
Marshal berdiri didepan Viona. Memperhatikannya dari atas sampai bawah. Hal itu membuat Viona jadi ketakutan sendiri. Dia tak berani menatap Marshal. Dia begitu takut. Yang bisa dia lakukan hanya menunduk dan tangannya meremas-remas handuk yang dipegangnya penuh cemas.
Ya Alloh, apa yang akan dia lakukan padaku? Apa dia akan membunuhku, sekarang?.. ah, tidak-tidak. Aku akan baik-baik saja.
"Kenapa selalu menunduk?" Marshal meraih dagu Viona supaya bisa menatapnya. "Tatap aku!" Titahnya lembut.
Setelah Viona mendongak dan memberanikan diri menatapnya, Marshal menyunggingkan senyuman penuh arti pada Viona. Senyumannya terlihat manis, namun justru membuat Viona semakin was-was dengan sikapnya.
"Tadi kamu sudah tidur, kan?" Marshal mengelus-elus Viona yang membuat sang empunya merasa risih juga semakin ketakutan.
Bulu kuduk Viona kian merinding. "Hanya.. hanya baru sebentar, tu tuan" bohong Viona.
Sebentar apanya? Dia baru saja memejamkan mata, tapi Rio sudah mengetuk kamarnya tadi. Boro-boro tidur, bernapas saja baru sebentar.
Marshal kembali menyunggingkan senyumannya. "Bagus! Berarti sekarang kamu sudah tidak ngantuk, kan?" Dengan ragu Viona hanya bisa mengangguk lemah.
Ia, dia sudah tidak ngantuk karena ketakutan bukan karena sudah tidur.
Marshal memajukan wajahnya semakin dekat pada Viona.
Jantung Viona semakin berdebar tak karuan. Tubuhnya gemetaran. Tangannya sudah dingin. Dia sangat takut dengan apa yang akan Marshal lakukan padanya.
Apa yang akan dia lakukan?....
Marshal semakin mendekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya bisa Viona rasakan dengan jelas menerpa area wajah moleknya.
Viona hanya bisa menatap Marshal tanpa berkedip. Tubuhnya sudah kaku, tak tahu harus berbuat apa. Tapi jantungnya tetap berdegup tak karuan.
Cuppfthh..
Mata Viona terbelalak karena tiba-tiba Marshal mencium bibirnya. Tubuh Viona menegang, mematung seketika. Otaknya sudah berhenti berpikir. Sedangkan Marshal masih tetap menempelkan bibirnya dibibir Viona. Dia meraih tengkuk Viona, memperdalam ciumannya.
"Mmppfhh.." Dengan segera kesadaran Viona kembali. Dia mendorong tubuh Marshal hingga ciumannya terlepas.
Marshal mengernyit menatap heran. Pandangannya juga terlihat kecewa atas tindakan Viona yang membuat ciumannya terlepas.
Entah sejak kapan pipi mulus Viona jadi merona, tapi tatapan matanya membulat sempurna menatap Marshal. "A-apa yang tuan lakukan?"
Marshal tak menghiraukannya, malah kembali mencium bibir tipis Viona. Dan Viona kembali mendorong kuat dada Marshal dengan kedua tangannya hingga handuk yang tadinya dipegang, kini teronggok begitu saja dilantai.
__ADS_1
Marshal mendengus kesal. "Kenapa?" Ujarnya membuat Viona terbelalak, terkejut sekaligus kesal.
Dia nanya 'kenapa?'.. padahal dia sudah lancang menciumku. Tapi dengan watadosnya hanya nanya 'kenapa?'. Bahkan dia mengambil first kissku, dia masih nanya 'kenapa?' Dimana otaknya tuan ini...
Marshal yang melihat raut kekesalan diwajah Viona, dia hanya tersenyum. "Kamu terkejut dengan ciumanku?" Viona tak menjawab. Dia hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Apa kamu tidak pernah berciuman?" Viona menggeleng cepat, membuat Marshal tersenyum gemas. "Jadi aku mengambil first kissmu?" Dia tak berani menjawab. Hanya tetap pada mode menunduknya sembari menggigit bibir bawahnya.
Marshal meraih dagu Viona supaya bisa menatapnya. "Jadi, aku orang pertama yang merasakan bibirmu ini?" Dia menyentuh bibir Viona dengan jempolnya yang kini Viona merasa risih dibuatnya. Namun dia hanya bisa mengangguk penuh ragu dengan pipi yang semakin merah. "I-ya" sahutnya lirih membuat alis Marshal terangkat sebelah.
Apa benar dia tidak pernah berciuman? Apa aku percaya, dia tidak pernah melakukannnya?..tidak mungkin. Dia gadis cantik, sangat menggoda iman. Dan banyak juga yang suka padanya. Aku tahu banyak pria yang mengejarnya, banyak pria juga yang menyukainya. Tidak mungkin dia tidak pernah melakukan kontak fisik dengan pria.. Pria manapun pasti terbuai dengan parasnya.
Oh, tidak. Marshal berpikir seperti itu? Apa Marshal juga terbuai oleh parasnya? Dia ini membicarakan pria lain atau curhat?
Alih-alih menjauh, Marshal justru malah mengulurkan tangannya kebelakang kepala Viona. Meraih tengkukknya. Dan kembali menyambar bibir Viona lebih dalam. Viona kembali dibuat terkejut.
Saat Viona kembali mendorong tubuh Marshal. Ciumannya terlepas kembali oleh Marshal. Kemudian dia memegang tangan Viona dengan erat. "Kenapa tidak mau? Aku kan suamimu, sekarang. Aku punya-"
"Bukan begitu, tuan"
"Lalu kenapa kamu menolak terus? Bukankah kita sudah menikah? Jadi wajarkan jika aku menginginkannya?"
"Tapi, tuan. Sa-.." dengan segera, Marshal menempelkan jari telunjuknya dibibir Viona hingga membuatnya langsung terdiam. "Sst.. Turuti saja mauku! Jangan membantah!" Sorotan matanya menghunus tajam hingga membuat Viona tak berkutik.
"Huhh!" Viona menghembuskan napasnya kasar.
"Jadi apa mau tuan?" Tanyanya ragu. Sebenarnya dia juga tidak berani berkata seperti itu. Dia takut. Takut Marshal malah memanfaatkan kesempatan ini dan dia meminta hal lebih pada Viona.
Marshal menyunggingkan senyuman. Matanya terlihat berbinar.
Apa dia akan melakukan apapun yang aku mau?
"Balas ciumanku!" Sahutnya cepat membuat mata Viona membulat pasti.
Saat Viona membuka mulut ingin berucap, Marshal kembali menyerang bibirnya. Dia tidak membiarkan kesempatan pada Viona untuk menolak. Sekarang Viona kembali terkejut. Dia menyesal telah bertanya apa maunya Marshal. Sepertinya dia sudah salah mengambil keputusan. Tidak seharusnya dia memberikan celah padanya. Itu sama saja dengan menyerahkan daging segar pada singa lapar.
Habis aku. Sepertinya aku salah ngomong. Dia pasti akan meminta lebih dari ini.
Karena tak kunjung mendapat balasan dari Viona. Marshal meraih pinggang Viona, memeluknya erat dengan tangan kanan dan tangan kiri dia selipkan kebelakang kepalanya. Dia menekan tengkuk Viona memperdalam ciumannya. "Balas ciumanku!" Titahnya kembali disela ciumannya.
Meskipun ragu, Viona mencoba membalasnya. Tapi dia sungguh ragu. Bagaimana pun juga ini adalah kali pertama dia melakukannya. Tapi dia tetap bisa membalasnya dan mengimbangi permainan Marshal yang semakin lama semakin menuntut.
Marshal tersenyum penuh kemenangan. Dia sangat puas mendapat balasan dari Viona. Tak disangka Viona menuruti apa yang dimaunya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, Viona menepuk-nepuk bahu Marshal. Dia sudah sulit bernapas. Ciuman Marshal sungguh rakus hingga membuat Viona kewalahan mengimbanginya.
Marshal melepas ciumannya. Napas keduanya terengah-engah. Viona menunduk malu. Wajahnya sudah merona. Dia tak mampu menatap Marshal.
Apa yang sudah kamu lakukan Viona. Kenapa kamu membalas ciumannya.
"Kamu berbohong padaku!" tuduh Marshal. Viona menatap Marshal dengan bingung. "Berbohong?"
Berbohong apa?
"Kamu bilang tidak pernah berciuman. Tapi kenapa permainanmu sangat lihai saat membalas ciumanku?" Wajah Viona semakin merona. Dia kini jadi malu atas apa yang telah dilakukannya. Bagaimanapun juga ini adalah kali pertama untuknya.
"Kamu berbohongkan?" Tuduhnya kembali.
"Ti-tidak, tuan. Saya memang tidak pernah melakukannya" lirih Viona sembari menggigit bibir bawahnya.
"Tapi cara berciumanmu itu pandai. Seperti yang sudah sering melakukannya. Dan aku yakin kamu memang sering melakukannya. Jadi kamu berbohong padaku, kan?"
"Tuan, jika hanya berciuman saya tahu caranya. Meskipun saya tidak pernah melakukannya, tapi saya tahu caranya" Marshal tidak memperdulikan alasan Viona. Dia malah membawa Viona naik keatas ranjang. Menidurkannya.
Viona yang kaget. Dia ingin berontak tapi Marshal malah mengunci pergerakannya. Menahan tangan Viona supaya tidak melawan. Dan dia kembali ******* bibir Viona dengan rakus.
Viona sudah harap-harap cemas. Dia takut kegadisannya hilang oleh Marshal. Dia belum siap jika harus melakukannya sekarang.
Viona mendorong dada Marshal supaya menjauh. Tapi Marshal malah semakin memperdalam ciumannya. Viona tak membalas ciumannya. Dia hanya ingin terlepas dari Marshal. Sungguh sangat tidak siap jika harus melayani Marshal sekarang. Meskipun mereka sudah menikah, tapi tetap saja, dia belum siap.
Marshal melepaskan ciumannya. Menatap Viona dalam. Menyunggingkan senyuman yang membuat perasaan Viona semakin tak karuan. Senyuman Marshal membuatnya semakin cemas. Takut Marshal memang akan melakukan hal lebih.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Jika-jika kamu lupa" Marshal mengusap bibir Viona yang sudah basah akibat ulahnya. Viona semakin merapatkan bibirnya. Tubuhnya sudah gemetar ketakutan. "Kita baru saja menikah. Dan malam ini malam pertama kita. Tidak mungkin kita tidak melakukan apapun" Viona terbelalak. Tubuhnya semakin gemetaran dengan debar jantung yang semakin tak karuan.
Apa dia menginginkannya? Apa kita harus melakukannya sekarang? Tapi aku tidak siap. Aku tidak mau..
Marshal meraih kancing piyama Viona. Ingin membukanya, namun tangan Viona dengan segera menahannya. "Tu-tuan.." lirih Viona dengan wajah yang memelas. Dia menggelengkan kepala. "Sa-saya belum siap" ucapnya lirih. Marshal hanya menatap matanya lebih dalam.
Dia belum siap? Apa aku harus menunggu dia siap?
Lama Marshal manatap mata Viona membuat Viona semakin cemas. Namun sedetik kemudian Marshal menyunggingkan senyuman. Dan kembali mencium bibir Viona.
Viona semakin cemas. Marshal tak menghiraukan ucapannya. Dia takut. Sangat takut jika kegadisannya hilang malam ini juga.
Tapi tak berapa lama kemudian, Marshal melepaskan ciumannya. Menyunggingkan senyum kembali. Kemudian dia mengecup kening Viona dan tidur disamping istri cantiknya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1