
Jika pusing dengan ceritanya, kalian bisa baca ulang dari bab trouble sebelumnya, dari Bab 183 yang sudah Zhao perbaiki. Terima kasih. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.😊
_____________________________________________
Mungkinkah Marshal marah, karena tadi pagi Viona ingin pergi sendiri? Bisa saja. Karena perubahan sikap Marshal berawal dari sana. Saat Viona mengatakan hal tersebut.
"Mau mandi sekarang?" Viona mencoba untuk berbaur dengan sikap aneh suaminya. Dengan berani dia mendekat pada Marshal yang sedang membuka jas dan dasinya. Marshal tidak menolak saat dia membantu membukakan. Bahkan hanya diam saja hingga Viona selesai membuka semua kancing bajunya.
"Tidak usah, Sayang. Aku bisa sendiri."
"Oh?" Viona berbalik cepat. Baru saja dia akan masuk ke kamar mandi menyiapkan keperluan suaminya, Marshal melarang. Dia tersenyum manis sambil menganggukkan kepala.
Marshal hanya membalas senyuman tipis, mengusap kepala istrinya saat lewat dan masuk ke dalam kamar mandi.
Viona termenung melihat pintu tersebut tertutup. Dia tidak mengerti kenapa Marshal jadi berubah seperti ini. Mungkin saja karena dia yang tidak mau dikawal. Tapi, kenapa harus sampai bersikap dingin seperti itu? Viona merasa Marshal memang lebih baik banyak menuntut daripada mendiamkannya. Itu terasa menyakitkan.
Tidak lama, Marshal keluar sudah terlihat segar. Viona mengikutinya masuk ke ruang ganti. Dia menyiapkan pakaian yang akan suaminya kenakan. Tapi, saat dia ingin membantunya berpakaian, Marshal malah mengintruksikan lain.
"Terima kasih, Sayang. Mandilah! Aku tahu kamu pasti baru pulang juga, kan? Aku bisa berpakaian sendiri."
Marshal tidak membutuhkannya lagi. Itulah yang Viona asumsikan saat ini. Lagi-lagi dia tertegun menerima sikap lain dari Marshal. Kenapa sampai dibantu untuk berpakaian saja Marshal menolak? Padahal biasanya dia yang memaksa untuk dibantu mengenakan pakaiannya.
Lama terdiam melihat Marshal yang mulai berpakaian, Viona akhirnya keluar dengan perasaan heran. Sakit menyelimuti dirinya, meskipun dia tidak tahu apa sebab pasti yang membuat Marshal seperti itu.
***
"Tidurlah! Aku ada kerjaan sebentar."
"Chal ...."
"Hm?" Marshal baru akan keluar dari kamar, berbalik badan. Dipandanginya Viona yang terlihat tidak mau jika dia pergi. Lantas dia pun berjalan mendekatikanya. Tatapan Viona sulit diartikan untuk hal lain. Hanya terlihat begitu tidak mau, jika dia berjauhan dengan suaminya. "Kamu kenapa? Sudah malam, lebih baik tidur, Sayang."
__ADS_1
Viona menggelengkan kepala pelan. Marshal menggapai tangannya, perlahan membawa Viona menuju ranjang. "Tidurlah!"
Bukannya menurut, Viona justru memandanginya serius. "Kamu kenapa?"
"Kamu yang kenapa?"
Alis Marshal terangkat, bingung. Mereka bertatapan dalam diam. Sama-sama tidak mengerti dengan perubahan sikap masing-masing.
Dihelanya napas dalam, Marshal meraih tubuh Viona untuk dipeluknya. Viona menurut. Bahkan melingkarkan tangan erat membalas pelukan Marshal.
"Aku ingin tidur," ucap Viona pelan, menyurukan kepala di dada suaminya.
Marshal hanya mengangguk dan membimbing istrinya untuk berbaring. "Tidurlah!" Dia mengusap-usap kepala Viona penuh kelembutan. Melihat mata istrinya yang mulai terpejam, Marshal tersenyum tipis, memberikan kecupan ringan di kening. "Tidur yang nyenyak. Aku ke ruangan kerja dulu. Ada beberapa berkas yang harus aku periksa."
"Chal ...," Viona membuka mata, menarik baju Marshal yang akan beranjak turun. "Temenin ...."
Marshal terkekeh dan kembali menaikkan kaki yang baru sebelah turun dari ranjang. Dia ikut berbaring di samping istrinya yang selalu saja merengek malam ini. Viona memang terlihat tidak mau ditinggalkan. Dengan penuh sayang, Marshal memeluk istrinya. Menarik kepala Viona untuk terbenam dalam dada.
"Jangan acuhkan aku!" suara Viona samar-samar terdengar dalam dada. Marshal mengusap-usap kepalanya, sesekali memberikan kecupan di puncaknya. Viona kembali terdiam. Pelukannya terasa semakin erat, seolah tidak akan pernah membiarkan Marshal lepas darinya.
"Aku tahu kamu kesal. Tapi, jangan acuhkan aku!"
Terdiam sesaat mencerna ucapan Viona, Marshal tidak mengerti. Dia menunduk, meraih wajah Viona untuk melihat padanya. Ternyata Viona memang belum terlelap sejak tadi. Pantas saja dia tahu saat Marshal hendak beranjak dan langsung menahannya.
"Aku gak suka kamu acuhkan. Aku gak suka sikap dingin yang kamu tunjukin seharian ini. Kamu marah sama aku karena aku gak bisa nurut sama kamu, kan? Aku tahu itu. Tapi, jangan beginu, Chal. Aku gak suka."
Melihat tatapan sedih yang Viona tunjukkan, Marshal semakin tidak mengerti. "Apa maksud kamu, Sayang? Memangnya aku kenapa, hm?"
"Kamu marah sampai gak peduli lagi sama aku, kan? Kamu-"
"Hei, ssst ... kapan aku tidak peduli sama kamu?" Marshal terkejut mendengarnya. Dia tidak merasa seperti itu. Viona kenapa sampai dia berkata jika Marshal tidak peduli terhadapnya?
__ADS_1
Dengan nada manja penuh kesedihan, Viona mengatakan semuanya pada Marshal. Setelah paham, Marshal meminta maaf. Dia tidak pernah bermaksud seperti itu. "Mungkin aku terlalu lelah, Sayang. Maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengacuhkan kamu."
"Setiap hari kamu lelah pulang bekerja, gak pernah sampai tidak peduli sama aku, kan. Terus, tadi pagi kenapa kamu bilang sama Rio, nyuruh nyiapin mobil buat aku pergi sendiri. Kamu gak mau debat sama aku?"
Marshal diam sejenak. Diusapnya pelan wajah Viona, dia memberikan senyuman tipis. "Aku memang tidak mau berdebat denganmu lagi. Aku lelah berdebat. Dan tadi, aku memang ingin membuat kamu senang. Bukannya kamu yang mau pergi sendiri? Aku membiarkan itu karena aku berpikir kamu akan senang mendapatkan apa yang kamu mau. Bukan karena aku udah gak peduli."
"Tapi, aku gak suka kamu begitu."
"Hm?" Marshal mengernyit. "Bukankah itu yang kamu mau?"
Viona menunduk, menyurukan wajah di dada Marshal. Memang benar itu yang dia mau. Tapi, setelah Marshal memberikan kesempatan itu, Viona merasa tidak terima. Ternyata bukan itu yang dia mau. Dia hanya terobsesi untuk keluar dari bayangan Marshal, dia ingin bebas. Tapi, kenyataannya dia tidak bisa.
Mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan Viona, Marshal hanya bisa tersenyum. Dipeluknya Viona erat, mengusap punggungnya, berharap.sang istri bisa cepat terlelap. Viona malah mendongak membuat tatapan mereka bertemu.
"Chal."
"Hm?"
"Ternyata aku mulai terbiasa dikekang sama kamu. Saat kamu bebasin aku, aku malah merasa kamu udah gak peduli."
Marshal tersenyum. "Itu artinya kamu memang nyaman dengan segala perbuatanku. Kamu juga pasti sadar, aku melakukan semua itu demi kebaikan kamu."
"Nyaman?" Viona mengulanginya. Jemari lentik menyusuri dada Marshal. Jika benar dia nyaman dengan perbuatan Marshal, tidak mungkin dia suka membantahnya, kan? Viona rasa itu bukan nyaman. Lalu apa namanya?
"Sayang?"
Viona kembali memandangi mata Marshal membuat tatapan mereka semakin lekat. Marshal memberikannya kecupan hangat di kening.
"Hati-hati dengan hati! Dia kadang merasakan apa yang kamu tolak, namun sebenarnya itu yang kamu inginkan."
"Maksudnya?" Viona memandang Marshal tidak mengerti.
__ADS_1
"Maksudnya ...," Marshal menyeringai. Tangannya menyusup, merayap ke tubuh Viona. Dia menunduk, kemudian berbisik, "Aku ingin memakanmu lagi, malam ini."
"Chal!" Viona melotot tajam, memukul dada Marshal.