Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Membujuk Lewat Lina


__ADS_3

Hari minggu masih berada di kediaman Pratama. Semua keluarga ada di rumah. Termasuk Marshal dan Vino yang kini tengah menemani Heru bermain golf di lapangan yang ada di belakang rumahnya. Meskipun tidak seluas lapangan golf yang biasanya, lapangan di rumah Heru cukup memuaskan dan lumayan luas. Mereka bermain di sana, sedangkan para wanita duduk di pinggir lapangan menyiapkan makanan yang baru saja selesai mereka sajikan.


Para wanita menyiapkan berbagai makanan yang nikmat dan segar. Menggelar tikar di atas rumput hijau. Anggap saja sedang rekreasi di tempat sejuk penuh dengan pemandangan bunga milik Lina. Sangat indah dan menyejukkan mata.


"Mars, kalahkan papa! Tunjukan kalau jiwa-jiwa muda ini bisa berjaya!" Vino menepuk dada penuh percaya diri membuat Marshal tergelak mengacungkan stik golf, menyiapkan anacang-ancang untuk bergilir permainan.


"Halah, paling meleset," ejek Heru meremehkan, "papa biarpun sudah tua seperti ini, tetap tidak akan kalah." Heru mengibaskan tangan di udara, sombong.


Di pinggir lapangan, Viona tersenyum lebar melihat kehangatan keluarganya. Dia ikut berdebar saat Marshal mengayunkan stik dua kali, menempelkannya pada bola yang sudah disiapkan dan diayunkan lagi hingga mengenai bola dengan keras dan bola terapung jauh. Dan ...


"Yah!" Viona ikut mendesah kecewa melihat bola tidak masuk ke lubang yang seharusnya.


Heru menepuk pundak Marshal sambil tertawa. "Papa bilang juga apa." Dia tertawa, memandang Vino penuh ejekan.  "Sini, biar bagian papa. Lihat, ya!" Dia mengambil alih posisi Marshal dan mengayunkan stik, mengambil ancang-ancang seperti yang Marshal lakukan.


Tepuk tangan dan sorakan riang terdengar, karena bola golf yang Heru tibas ternyata tepat sasaran. Pri paruh baya itu mengangkat dagu dengan sombong, tersenyum mengejek pada Vino dan Marshal.


Para wanita tertawa geli melihatnya. Kelakuan orang tua itu sangat memalukan. Bisa-bisanya dia bersikap angkuh di depan anak dan menantunya yang memang tidak lebih unggul darinya.


"Papa hebat!" teriak Viona memberikan tepuk tangan dan kecupan jauh dari pinggir. Dia ikut bersorak atas keberhasilan ayahnya membuat Heru semakin berlagak sombong dan sok berkuasa.

__ADS_1


Mereka semua tertawa. Larut dalam bahagia yang diciptakan sederhana. Semudah itu membuat sebuah tawa yang lepas. Cukup dengan kebersamaan, maka bahagia akan mengiringi mereka.


***


"Mama rasa, sih, lebih cepat lebih baik, Sayang. Menunda memang tidak salah. Tapi, mama kok jadi punya keinginan supaya kamu segera punya anak. Akan lebih baik memang seperti itu." Lina menggamit tangan Viona, mengusapnya lembut.


Senyuman tulus dari seorang ibu, tutur kata halus dan menenangkan yang selalu Lina berikan membuat Viona enggan untuk membantah. Tapi, dia tidak bisa. Viona belum siap. "Kenapa Mama gak minta aja sama kak Vino? Dia sudah siap punya anak." Berusaha mencari pembelaan untuk mengelak. Semoga saja, Lina tidak mencercar seperti yang Rahma lakukan padanya.


"Justru karena Vino sudah siap, Rena juga demikian. Mereka tidak perlu diminta. Sesegera mungkin pasti ngasih mama cucu, Dek." Diraihnya tubuh Viona, menyadarkan kepalanya untuk diusap dipangkuan. Viona hanya terdiam menerima usapan halus tangan ibunya. "Bukan mama memaksa. Bukan juga mendesak kamu untuk segera punya anak. Mama hanya berharap. Lagian, kamu sama Marshal sudah lebih dekat. Mama yakin, kalian pasti bisa menjadi orangtua yang baik. Bisa menyayangi anak kalian dengan penuh kasih sayang."


Lina tidak meminta, hanya menyarankan. Hanya berharap. Tapi, Viona menjadi gundah sendiri memikirkannya. Kemarin Rahma dan sekarang Lina. Terlebih Marshal memang juga menginginkan hal yang sama. Apakah egois bagi Viona, jika dia terus-terusan menolak? Tapi, dia benar-benar belum siap untuk punya anak. Masih merasa terlalu dini untuk menjadi seorang ibu. Bukan karena Viona tidak mau. Ini hanya masalah kesiapan.


Ketukan terdengar. Viona mengangkat kepala dari pangkuan Lina, melirik ke arah pintu. Marshal muncul di sana sambil tersenyum, setelah Lina mempersilakannya untuk membuka pintu.


"Kenapa, Chal?" Viona merapikan rambut supaya lebih tertata. Melihat suaminya yang sudah terlihat segar, dia tersenyum lebar. Tampan dan mandiri. Marshal tidak membutuhkannya untuk berpakaian dan menyiapkan alat mandi. Bagus. Viona jadi tidak merasa tidak terlalu terbebani dengan hal itu.


"Samperin dulu."


Viona melirik Lina, mengangguk. Tatapan Lina hangat dan mengintruksikannya untuk menghampiri Marshal yang masih berdiri di depan pintu kamar. Dia tidak berani masuk sepertinya. Jadilah Viona yang mengalah dan keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Lina tersenyum dan menganggukkan kepala pada Marshal yang akan menurup pintu. Satu jempol terangkat dan mengedipkan mata pada menantunya. Marshal bilang, terima kasih lewat gerakan bibir, tidak mengeluarkan suara, kembali tersenyum penuh arti dan keluar bersama istrinya.


Tadi pagi, Marshal mengatakan hal serupa dengan apa yang dia utarakan pada Rahma. Dan ternyata, tanpa diduga, ibu mertuanya memang bisa diajak kompromi. Tidak sesulit yang dibayangkan. Lina mudah diajak kerja sama, meskipun awalnya ibu mertua itu menolak. Lina tidak bisa memaksa Viona untuk siap, karena dia sangat paham dengan perasaannya. Tapi, dasarnya Marshal memang pandai membujuk. Berbincang sebentar, Lina langsung setuju untuk ikut merecoki pikiran Viona tentang anak. Dan Lina juga mau mendukung Marshal untuk membuat pemikiran Viona berbelok supaya cepat ingin punya anak.


Jalan curang. Marshal memanfaatkan ibu mertuanya untuk merayu Viona. Melihat istrinya sekarang yang hanya terdiam, Marshal yakin, omongan Lina sedikit banyaknya mempengaruhi pikiran Viona. Istrinya nampak enggan membuka suara dan hanya melamun memandangi televisi yang menampilkan sebuah sinetron siang.


Marshal juga merasa kasihan melihatnya. Dia memang egois, jika terus memaksakan keinginan untuk memaksa Viona siap. Tapi, jika tidak seperti itu, kapan Viona akan siap? Mau sampai kapan dia menunggunya? Sebuah kesiapan tidak akan pernah muncul sampai kapan pun, jika mereka tidak memaksakan untuk menghadapinya.


"Chal?"


"Hm?" Marshal mendekat pada Viona, memeluknya dari samping, memberikan kecupan ringan di pelipis. "Kenapa?"


Wajah Viona memang terlihat sedikit pucat. Dia tidak bergairah dan lemas. Selain karena kedatangan tamu bulanannya, Viona juga sepertinya kepikiran masalah anak, lebih tepatnya ucapan Lina. Seharusnya Marshal senang. Karena Viona sudah mulai memikirkannya dan berpotensi akan segera terwujud. Tapi, sekarang yang dia rasakan malah kasihan.


"Aku pengen rujak seger, yang pedas."


Alis Marshal bertaut, menunduk melihat pada Viona. "Kamu seperti orang ngidam. Di mana aku bisa mendapatkan rujak yang kamu inginkan itu, hm?"


Viona memutar pandangan, terlihat berpikir, lalu tersenyum melihat pada Marshal. "Bikin. Kalo beli bakalan lama."

__ADS_1


"Aku gak bisa bikin bumbunya. Nanti nyuruh siapa buat bikininnya?" Marshal tidak akan mengira Viona ngidam. Masih jauh. Dan itu tidak mungkin terjadi. Dia membuka segel belum lama. Kalaupun benihnya sudah ada yang jadi, Marshal rasa tidak akan berpengaruh seperti orang ngidam seperti itu. Terlebih, jangan lupakan, Viona sedang datang bulan. Orang yang sedang haid pasti menginginkan hal seperti itu, bukan? Tidak salah jika Viona meminta rujak pedas.


__ADS_2