Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Berkencan


__ADS_3

Bahagia? Tentu saja. Viona bahkan tidak mau melepaskan rangkulannya di lengan Marshal. Hari ini adalah hari pertama kali mereka pergi berkencan. Berdua. Tanpa Rio yang menemani atau menyetiri. Semuanya mereka lakukan hanya berdua saja. Dan Viona senang, sampai senyumannya tidak pernah surut, terukir indah di wajah cantik sang nyonya.


"Aku suka filmnya, Chal. Keren dan gak ngebosenin. Kamu pinter milihnya."


Marshal hanya tersenyum menimpali. Mereka keluar dari bioskop, berjalan menuju restoran terdekat. Viona sudah mengeluh rasa lapar sejak film yang mereka tonton baru saja berakhir.


Hal pertama yang mereka lakukan adalah menonton film. Marshal sebenarnya tidak terlalu tertarik, jika harus menonton di bioskop. Dia bisa menonton film di rumah. Ada ruangan kosong di rumahnya dan dapat dengan mudah dia bisa menyulapnya menjadi bioskop pribadi. Tapi, istrinya tidak mengizinkan. Viona ingin pergi keluar dan tetap keukeuh untuk menonton di bioskop Mall.


"Mau makan apa?"


Viona masih membolak-balik buku menu. Duduk berseberangan dengan Marshal. "Samain aja sama kamu, deh." Tidak ada yang diinginkannya.


Marshal menghela napas, segera memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan datang, sesekali Marshal memperhatikan mata istrinya yang bereksplor ke sekitar tempat tersebut. Pandangan Marshal berbelok ke sudut kanan restoran, setelah melihat bibir istrinya tersenyum.


Mengikuti arah pandang Viona, Marshal tertegun. Diliriknya lagi wajah sang istri, masih tersenyum. Marshal tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Di sudut restoran dia dapat melihat dengan jelas ada sepasang manusia yang tengah tertawa. Apa itu yang Viona lihat dan membuat sudut bibirnya tertarik? Sangat mengejutkan. Marshal sampai tidak mengerti kenapa istrinya bisa terlihat senang melihat mereka tertawa, lalu si wanita menyupi prinya dengan penuh kelembutan.


"Sayang?" Marshal meraih tangan Viona, meremasnya pelan.


"Hmm ...." Viona tidak menoleh sedikitpun dan masih asyik melihat ke arah sudut sana. Senyumannya semakin terlihat lebar saat pemandangan itu semakin terlihat manis.


Laki-laki yang duduk di sana balik menyuapi wanitanya. Marshal sampai menganga tidak percaya, jika yang Viona senyumkan adalah kegiatan mereka. Apa Viona tidak merasa cemburu? Apa dia tidak patah hati? Hei, orang itu pernah dia tangisi. Tidak mungkin Viona bahagia melihat mereka berdua bermesraan seperti itu, bukan?


"Sayang?" Kali ini Viona meliriknya. Sisa senyuman masih jelas terlihat di wajahnya membuat Marshal semakin heran. "Apa kamu lihat?" Kali saja Marshal bermasalah dengan pandangannya.


Senyuman Viona malah kembali semakin melebar. Matanya berbinar memperlihatkan, jika sedang bahagia. Tidak terluka maupun terusik dengan pemandangan di sudut restoran. "Kamu melihatnya juga, kan? Aku senang Sendi bisa menata hidupnya lagi."

__ADS_1


Marshal menelan ludah pelan, kembali mengikuti pandangan Viona. Sendi dan pasangannya tengah duduk berdua di sana. Merekalah yang mereka saksikan sejak tadi. Makanya Marshal heran, kenapa Viona malah tersenyum bahagia melihatnya. Apakah dia tidak terusik? Itu Sendi yang dia lihat, bukan orang selewatan. Marshal jelas tahu bagaimana perasaan Viona terhadap laki-laki tersebut.


"Chal."


Marshal melirik sebentar pada Sendi dan pasangannya yang masih terlihat bergurau sambil menikmati hidangan. "Hm?"


"Sendi udah bahagia, apa aku juga bisa bahagia?"


Marshal mengangguk pelan, terlihat ragu-ragu memberikan respon. Tentu saja Viona akan bahagia, bersamanya. Tidak perlu bertanya seperti itu, Marshal pasti akan membahagiakannya.


"Apa jaminan aku bahagia?" Viona mengulum senyum melihat wajah Marshal yang bingung dan sepertinya masih mencerna apa yang terjadi.


"Tidak ada jaminan untukmu bahagia. Tapi, aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia."


Viona memandangnya senang, kembali melirik ke arah Sendi yang tengah menenggak minumannya. Dia beralih lagi pada Marshal merasakan remasan di tangannya semakin menguat. Viona tersenyum manis. "Aku percaya sama kamu, Chal. Jangan bikin aku kecewa!"


Semoga tidak ada Sendi lainnya di kemudian hari. Marshal tidak akan pernah membiarkan siapa pun merebut Viona. Karena cinta pertama dan terakhirnya hanya untuk sang istri. Nyonya Marshal, Viona Azzahra Pratama.


***


"Ke mana lagi?"


"Kamu maunya ke mana?"


"Emm ...." Viona nampak berpikir keras, menopang dagu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang es krim.

__ADS_1


Mereka sudah menghabiskan waktu hampir seharian. Banyak hal yang mereka lakukan dan bahagia tiada tara mereka rasakan. Setelah apa yang Marshal lakukan padanya hari ini, apa lagi yang dia inginkan?


Rasanya semua keinginan Viona sudah dituruti. Mulai dari menonton, makan enak, berbelanja, menghabiskan waktu di tempat bermain anak-anak-meski hanya melihat anak-anak berseru girang dengan permainannya, mereka tidak ikut bermain-tetapi cukup membuat Viona bahagia. Bahkan Marshal mau menggendong-berkeliling taman-saat Viona memintanya. Marshal menuruti semua keinginannya dan itu membuat Viona sangat bahagia.


"Mau apa lagi, hm?" Marshal mendekatkan wajah pada Viona. Tangannya terangkat dan tersenyum geli melihat noda es krim di sudut bibir istrinya. Dia ingin membersihkan noda tersebut, tapi Viona menyadari dan mengusapnya sendiri. Tidak jadi romantis. "Imut."


"Baru sadar?" Dengan penuh percaya diri Viona menengadahkan wajah, mempertontonkan leher jenjang mengundang Marshal untuk mengecupnya. Viona terkejut dan langsung merengut. Dia tidak suka dengan tindakan Marshal yang tiba-tiba. Mereka sedang berada di taman saat ini. Takut ada yang melihatnya. Tapi, setelah lirik sekitar, aman. Terlihat sepi di sana.


"Chal ...." Nada manja yang Viona keluarkan membuat pandangan Marshal langsung beralih. Padahal sebelumnya dia sedang memperhatikan sebuah tanaman indah yang ada di dekatnya. Dia melirik Viona dengan pandangan bertanya dan senyuman hangat. Viona memelas. "Kenyang ...." Dia menyerahkan es krim yang masih tersisa separuh pada suaminya.


Marshal mengambil es krim itu dari tangan Viona. Dia menghabiskannya sesuai dengan permintaan sang nyonya, meskipun dia juga sudah merasa kenyang. Karena sebelum duduk di taman, mereka sempat makan dan membeli makanan lain yang Viona inginkan.


Hari hampir senja. Marshal memasang senyuman manis, menghabiskan sisa es krim bekas istrinya. Tidak masalah makanan itu bekas, dia malah senang. Viona menatapnya serius sambil mengulum senyum. Dia terus memantau dan memastikan Marshal menghabiskannya, meski dia tahu Marshal sudah tidak sanggup memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Harus habis. Baru kita pulang." Sifat Marshal sepertinya sudah menular pada Viona. Dia mulai memaksa, memegang kendali atas semuanya. "Nanti ... aku ... em ... eh, gak jadi, deh." Viona malah tersenyum lebar melihat alis Marshal bertaut.


"Kenapa?" Marshal melihat Viona ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak mengutarakan apapun. Terlihat enggan. "Mau apa lagi, Sayang? Setelah ini mau ke mana?" Melihat Viona yang menggeleng, dia menghela napas panjang. Berdiri dan membuang bekas es krim ke tempat sampah terdekat, kemudian kembali masih bertanya dan penasaran dengan apa yang diinginkan istrinya.


"Aku belum pernah ke rumah kak Vino."


Marshal tersenyum mendengarnya. "Kamu mau ke sana?" Melihat Viona mengangguk, senyuman Marshal semakin lebar. Acara berkencan ala Viona memang tidak memusingkan seperti wanita lain yang pernah dia kencani. Malah terasa sedikit aneh dan melenceng. Tapi, bukan berarti Marshal akan menolaknya. Hari ini dia sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama Viona. Ke mana pun istrinya ingin pergi, dia akan menuruti. "Tapi, kita ke mobil dulu, sebentar. Atau cari tempat sepi dulu, ya."


"Kenapa?" Viona terlihat bingung, tapi juga ikut berdiri menyusul langkah suaminya. Dia merapat dan segera melingkarkan tangannya ke lengan Marshal. "Kita mau ke mana?" Bingung, karena langkah Marshal membawanya ke sebuah tempat sepi-lebih terpatnya belakang gedung yang dekat dengan taman.


"Aku tidak bisa menahan keinginan untuk mencium ini." Baru Viona akan bertanya kembali, Marshal sudah membungkam bibirnya duluan. Sepanjang hari berada di tempat umum membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Rasa es krim kini dia sesap lebih dalam dan semakin dalam hingga mendengar suara langkah kaki mendekat.

__ADS_1


"Ssst ... nanti ketahuan!" bisik Marshal membekap mulu Viona dengan tangannya. Viona nampak terkejut dan ketakutan. Suara langkah itu semakin lama semakin jauh terdengar. "Aman!" Mereka menghela napas lega bersama-sama. Hampir saja kepergok melakukan perbuatan mesum di tempat umum.


"Apa?" Pandangan Viona nampak garang melihat Marshal yang kembali ingin menyerang. Mendorong sekuat tenaga supaya Marshal tidak kembali menyambarnya. Inilah risikonya bermain di tempat yang tidak seharusnya. Mereka akan terganggu dan takut ketahuan orang lain. Walaupun mereka sudah menikah, tetap saja, bermain di tempat umum tidak akan terasa nikmat, sekalipun tempatnya sepi. Viona tidak bisa ikut meresapi, lebih baik segera pulang atau melakukannya di dalam mobil.


__ADS_2