Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Membujuk Marshal Yang Sakit


__ADS_3

"Sshh... ergh ...."


Viona menggeliat dari tidurnya mendengar suara ringisan, kadang juga erangan. Dia melihat ke arah samping karena ada pergerakkan yang terasa sangat mengganggunya. Saat melihat Marshal yang membolak-balikkan badan dengan tidak nyaman sambil meringis, Viona segera membuka mata lebar-lebar. Dia merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia malah terhanyut tidur, setelah tadi Marshal memaksanya. Tadinya dia hanya ingin pura-pura, tapi malah kebablasan.


"Chal?" Viona bangun, menyentuh wajah suaminya. Dahi Marshal mengernyit menahan sakit. Tubuhnya juga terasa semakin panas. Lebih panas dari keadaan tadi. "Kita ke rumah sakit aja, ya?"


Marshal malah menggeleng lemah dan berbalik. Dahi dan pelipisnya terlihat berkeringat. Wajahnya juga terlihat pucat. Viona semakin cemas melihat keadaannya yang seperti ini. Dengan cepat Viona meraih ponselnya di atas nakas. Dia menghubungi dokter yang dia kenal untuk segera ke rumah Marshal. Tidak peduli suaminya melarang, Viona hanya khawatir padanya.


"Sayang ...." Marshal membalikkan badan, dia kembali mengerang. Viona bingung harus bagaimana. Dia tidak tega melihatnya yang kesakitan.


"Kita ke rumah sakit aja, ya. Kamu makin parah demamnya."


Marshal malah menolaknya lagi. Viona hanya bisa menghela napas. Dia turun dari ranjang untuk mengambil termometer. Setelah menemukannya di tempat khusus peralatan kesehatan, Viona menggunakannya pada tubuh Marshal. Dia menyelipkannya di ketiak Marshal dan menunggu beberapa saat.


"Ya, Alloh, Chal!" Viona terkejut melihat suhu tubuh suaminya yang mencapai 38,8℃. "Udah, kita ke rumah sakit aja, ya. Ini panas banget, lho. Kamu harus segera diperiksa."


Marshal menahan tangan Viona yang baru saja akan beranjak. "Tunggu dokter aja," ucap Marshal dengan lemah.


"Gak, Chal. Dokter pasti masih lama. Kita ke rumah sakit sekarang. Biar aku suruh Rio nyiapin mobilnya, ya." Marshal menahannya lagi, dan menggeleng keras. Dia tidak mau. Tapi, Viona sudah sangat cemas dengan keadaannya. Marshal harus segera diperiksa dan tangani dengan baik. "Jangan nolak terus! Pokoknya kita ke rumah sakit!"


"Tidak perlu, Sayang. Tunggu dokter aja."


Haruskah Viona mengalah di saat darurat seperti ini? Dia sudah sangat khawatir dengan keadaan Marshal, tapi suaminya itu tetap saja tidak mau.


"Ya, sudah, bentar, aku ambil kompresan dulu, ya. Sambil nunggu dokter." Lagi-lagi Viona tidak jadi beranjak. Marshal menahannya dan meminta Viona untuk tetap berada di sampingnya. "Biar badan kamu gak terlalu panas, Chal. Aku kompres."


Marshal malah menggeser tubuhnya lebih ke dekat Viona. Dia memeluk tubuh Viona dengan erat, menyurukkan wajah di perut istrinya dan menjadikan paha Viona sebagai penyangga kepala. Melihat Narshal yang malah seperti itu, Viona hanya bisa pasrah. Dengan pelan penuh rasa khawatir, Viona mengusap kepala Marshal. Suhu tubuhnya sangat panas, seharusnya dibawa ke rumah sakit sekarang juga. Tapi, Marshal terus saja menolak, Viona hanya bisa diam menunggu dokter yang sangat terasa lama datangnya.

__ADS_1


"Sayang ...." Marshal meringis pelan, tangannya melingkar di perut Viona dengan lemas.


"Kenapa?" Viona semakin tidak tega melihatnya. "Apa yang sakit?" Diusapnya pelan kepala. Viona memijat pelan dahi suaminya. Merapikan rambut yang lepek karena keringat dingin. Suaminya mengatakan jika kepalanya terasa sangat sakit sekali. Terasa seperti ditusuk-tusuk. "Kita ke dokter aja, ya. Biar kamu gak nahan sakit kayak gini." Marshal tetap saja tidak mau.


Lama menunggu, akhirnya dokter datang. Viona ingin beranjak, mempersilakan dokter memeriksa suaminya. Tapi, Marshal tidak mau Viona jauh darinya. Jadilah dia tetap berada di samping Marshal, menemaninya yang sedang diperiksa dengan telaten oleh dokter laki-laki yang tadi dia panggil.


Setiap apa yang dokter katakan, selalu Viona dengarkan dengan baik. Dokter bilang, Marshal terlalu lelah dan banyak pikiran. Dia juga kurang istirahat dan pola makannya yang memburuk membuat kondisinya seperti sekarang.


"Ini resepnya, bisa ditebus di apotek." Dokter tersebut memberikan secarik kertas pada Viona, setelah dia selesai memeriksa Marshal. "Mulai sekarang, tuan harus jaga pola makan dengan baik dan teratur. Saya sarankan juga supaya tuan jangan terlalu stress dan banyak-banyaklah istirahat!"


"Iya, dokter. Saya akan memperhatikannya lebih baik lagi. Terima kasih sudah memeriksa suami saya." Viona yang menyahuti karena Marshal malah membenamkan wajah di pinggang istrinya yang duduk di pinggiran ranjang, berbicara pada dokter. Selesai diperiksa dokter, Marshal kembali memeluh tubuh Viona sembari berbaring miring.


"Jika begitu, saya permisi, Nyonya, Tuan." Dokter itu tersenyum ramah sebelum dia berpamitan.


Viona memanggil Rio untuk mengantarkan dokter tersebut dan juga memberikan resep obatnya pada Rio. "Kamu yang tebus obatnya, ya."


"Sebentar, ya. Rio ambil obatnya dulu." Viona mengusap-usap kepala Marshal yang masih terasa panas.


Sejak tadi, Marshal sama sekali tidak mau berjauhan dengannya. Dia hanya melepaskan diri dari Viona di saat dokter memeriksanya. Setelah dokter selesai dengan pemeriksaannya, dia kembali memeluk istrinya erat, sangat enggan untuk berjarak. Marshal sudah seperti anak kecil yang butuh perlindungan pada ibunya, jika dia sedang sakit. Sangat manja. Viona hanya bisa cemas melihatnya. Marshal tidak terlihat berkuasa jika sedang seperti sekarang, melainkan terlihat sangat lemah dan ringkih, butuh perhatian penuh.


***


"Makan, Chal! Abis ini kamu harus minum obat. Makan sedikit aja, ya," bujuk Viona, lagi, sembari menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut suaminya.


Marshal hanya mau makan satu suap, itu pun dia keluhkan karena terasa pahit di lidahnya.


"Chal, kamu harus banyak makan. Biar cepat sehat. Makan lagi, ya!" Viona sudah seperti membujuk anak kecil yang merajuk. Dengan penuh perhatian, dia menemani suaminya yang sedang sakit. Dia tidak bisa beranjak sedikit pun dari Marshal. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, Marshal sudah mengingatkannya supaya hanya pergi sebentar.

__ADS_1


Rio masuk ke dalam kamar dengan membawa plastik putih berisi obat untuk majikannya. "Ini obatnya, Nyonya." Dia menyimpan bungkusan itu di atas meja yang sudah disiapkan untuk menyimpan keperluan dan makanan Marshal.


"Makasih, ya, Rio."


Asisten Marshal mengangguk dan kembali keluar ruangan. Dia berpamitan untuk mengurus masalah di luar yang tadi Viona perintahkan padanya. Memang perintah itu tanpa sepengetahuan Marshal, tapi Rio juga menjalankannya demi kebaikan majikannnya sendiri.


"Ayo, makan lagi! Terus minum obat, ya!" Viona kembali menyodorkan sendok yang penuh ke depan mulut suaminya.


Marshal mengatupkan bibirnya dengan rapat. Dia tidak mau makan lagi. Rasanya tidak enak. Tapi, Viona terus saja memaksanya.


"Ayo, Sayang, makan!"


Wajah pucat yang selalu menolak suapan, kini berbinar. Seulas senyum terbit di bibirnya yang terlihat pias. Ucapan Viona sangat lembut, seperti alunan melodi di telinganya. Apalagi panggilan baru yang sangat Marshal sukai. Terasa seperti memenangkan tender real estate. Rasanya bahagia sekali.


"Makan lagi, ya!"


Marshal justru malah diam. Dia memberengut kembali dengan wajah lesunya. Bujukan Viona memang manis. Tapi, rasa bubur itu tidak akan terasa semanis ucapan istrinya. Pasti sangat pahit sampai di lidahnya.


Dihelanya napas kasar, Viona sudah kehabisan akal untuk membujuk Marshal supaya mau makan. Tapi, dia tidak boleh menyerah. Bagaimanapun caranya, Viona harus bisa membujuk Marshal. Demi kesehatannya juga.


"Chal, ayo, makan lagi! Sesendok lagi, aja, ya."


Dengan sengaja, Marshal malah menggeleng. Dia malah senang mendengar bujukan Viona. Marshal merasa menjadi suami yang sangat haus akan perhatian. Dia suka cara Viona membujuknya. Jarang-jarang Viona begitu peduli padanya.


"Aku tidak mau makan lagi, Sayang. Jangan memaksa!" ucap Marshal dengan lemah. Tubuhnya terasa sangat tidak enak untuk dirasakan. Terasa pegal, berat, dan lagi suhunya yang masih sangat panas, membuatnya semakin kesakitan. Tadinya, Marshal ingin menolak lagi untuk makan. Tapi, dia berpikir ulang dan malah menyeringai dalam hati saat mendengar istrinya membujuk lagi.


"Sayang, makan, ya! Nanti aku kasih ciuman, kalo kamu mau makan."

__ADS_1


__ADS_2