
"Kok, pulang? Nginap di sini aja, ya!" bujuk Viona pada Marshal.
Pesta sudah selesai, para keluarga sudah membubarkan diri karena hari sudah hampir tengah malam.
"Pulang, aja, ya." Marshal mengusap rambut Viona yang masih terasa lembab setelah tadi mereka berenang dengan terpaksa.
Mereka memang tidak sempat ganti baju karena pesta yang malah berlanjut dan berakhir dengan berenang bersama dua keluarga. Vino, Marshal dan Viona yang usil justru menarik para orangtua mereka untuk ikut menceburkan diri ke kolam. Jadilah pesta renang yang sangat seru antara keluarga yang berbesanan tersebut.
"Nginep aja, ya! Aku capek." Viona bergelayut manja di lengan suaminya saat mereka menaiki tangga, setelah mengantar keluarga Atma untuk pulang. Keluarga Wisnu menolak untuk menginap di sana dengan alasan hari esok banyak kesibukan. Mereka memilih pulang setelah puas merayakan acara dadakan untuk Marshal.
"Ganti baju dulu, terus kita pulang!"
Viona tidak mau dan malah berdiri di ambang pintu. Marshal sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Viona tidak mau pulang, ingin menginap di sana. Dia jarang sekali berkunjung ke rumah orangtuanya. Ingin sering-sering menginap di rumah yang menjadi saksi bisu perkembangannya dari kecil sampai sebesar sekarang.
"Kamu tuh, ya ...." Marshal keluar dari kamar mandi, menghela napas kasar melihat Viona yang merajuk. Dia tidak jadi mandi dan malah mendekat pada istrinya. "Ya, sudah, kita nginap di sini."
Viona tersenyum senang dan segera berlari ke arah kamar mandi. Marshal hanya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol istrinya. Kebanyakan bersama kakaknya seharian ini membut sikap manja dan kekanakan Viona kembali lagi. Marshal suka melihatnya yang sangat menggemaskan. Tapi, dia sedikit aneh jika melihat Viona seperti itu. Apalagi jika sedang bersama Vino, istrinya terlihat seperti bocah labil yang sangat manja dan selalu ingin dituruti semua kemauannya.
***
"Nyari apa, Sayang?"
"Eh?" Viona berbalik badan dengan kaget. Dia sedang mencari sesuatu di laci nakas, namun tidak menemukannya.
"Nyari sesuatu?"
Viona kelabakan sendiri melihat Marshal yang baru saja selesai mandi, mendekat padanya. Viona masih mengenakan bathrobe sama seperti Marshal. Mereka mandi bergantian dan Viona belum juga berganti pakaian padahal tadi dia yang selesai mandi duluan.
"Ah, itu ... em ...." Dia bingung harus mengatakannya pada Marshal.
"Apa?" Marshal semakin dekat, melirik sekitar mencari benda apa yang Viona cari. Tapi, dia juga tidak tahu Viona mencari apa.
"Itu ... em ...," Viona menggigit bibir dengan gugup. Bagaimana dia mengatakannya? Dia tidak berani bicara pada Marshal. "Euh, itu ...."
"Apa, Sayang? Kamu nyari apa?"
Viona menunduk serta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi gelisah sendiri saat ini. Tidak mungkin dia mengatakannya, kan? "Ah, ti-tidak. Aku hanya lupa menyimpannya. Ka-kalo gitu aku ganti baju dulu, ya." Dia berjalan cepat menghindari Marshal.
Suaminya terlihat bingung. Dia memandang Viona dengan alis terangkat tidak mengerti. Ada apa dengan istrinya? Viona terlihat sangat gugup saat ini.
"Nyari apa, sih?"
Viona tersentak kaget saat Marshal tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dia sedang mengobrak-abrik tas miliknya, namun benda yang dia cari tidak kunjung dia temukan.
Viona terbelalak sendiri saat dia baru sadar, jika dia hanya membawa satu lembar dan lembar benda yang dia cari tadi ... tidak mungkin dia menanyakannya pada Marshal, kan?
"Sayang?" Marshal masih setia memeluk istrinya, tapi Viona malah mematung tampak kebingungan.
__ADS_1
Perlahan Viona berbalik badan. Dia memandang suaminya gugup luar biasa. "Chal,"-dia mengusap dada suaminya yang tertutup bathrobe-"ta-tadi ... tadi kamu kemanakan euh ... em ... itu ...."
"Apa, Sayang?"
"Itu, emm ... p-pil ... pil KB." Viona menunduk malu telah mengatakannya membuat Marshal semakin bingung.
"Kamu nyari itu dari tadi?"
Viona ingin mengangguk, tapi dia sangat gugup dan malu saat ini. Jadilah dia hanya menunduk, meremas bathrobe bagian depan yang dikenakan suaminya.
Entah apa yang Marshal pikirkan saat ini, tetapi dia nampak mengulum senyum. Marshal mengangkat dagu Viona supaya bertatapan dengannya. Mata Viona langsung terpejam tidak mau melihat Marshal. Wajahnya sudah merona, dia menggigit bibir dengan gugup.
"Untuk apa kamu mencarinya?"
"Emm ... ya ... untuk, untuk diminum," sahut Viona dengan pelan.
"Diminum?" Alis Marshal terangkat. Senyumannya jadi semakin misterius melihat kegugupan Viona.
Istrinya mengangguk samar, masih enggan membuka mata.
"Kenapa harus meminumnya?"
Viona menggigit bagian dalam bibir bawahnya dengan kalut. Apa dia harus mengatakannya? Dia tidak mau. Dia malu.
"Hm?" Marshal semakin mendesak. Wajahnya mendekat, menyamping di depan wajah istrinya. Dengan sengaja dia mengembuskan napas supaya menerpa wajah Viona membuat bulu kuduk istrinya meremang seketika. "Untuk apa, hm?"
"R-rio, Rio ...."
Viona segera membuka mata mendengar nada marah dari suara suaminya. Dia melihat Marshal yang sudah menekuk wajahnya dengan kesal. Viona menunduk kembali saat Marshal menatapnya tidak suka.
"Kita pulang!" Setelah mengatakan hal itu, Marshal langsung pergi untuk berpakaian.
Viona tercengang di tempatnya. Setelah melihat tubuh Marshal menghilang dari pandangannya, dia baru tersadar dan segera menyusul langkah suaminya. "Chal?" Marshal tidak menghiraukannya. Dia sudah terlihat kesal sekarang. "Chal? Kenapa harus pulang? Aku-"
"Jangan membantah!"
Glek! Viona menelan ludah kasar melihat suaminya yang kembali marah. Bukannya Marshal tahu ceritanya dengan Rio hanya sandiwara? Tapi, kenapa dia masih saja marah padanya?
"Cepat ganti baju! Kita pulang sekarang!"
Viona mematung melihat suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi lagi membawa pakaian ganti. Bahkan Marshal tidak meliriknya sedikit pun sebelum dia pergi. Viona jadi bingung harus bagaimana. Marshal tidak marah benaran, kan?
***
"Chal?" Viona menyusul langkah suaminya dengan cepat. Marshal tidak menghiraukannya malah terus berjalan masuk ke dalam rumah.
Mereka akhirnya pulang ke rumah Marshal, meskipun sudah tengah malam. Karena suami Viona tersebut sungguh tidak bisa dibujuk. Marshal masih marah padanya. Selama perjalanan pulang, dia tidak banyak bicara, sekalinya bicara malah terdengar dingin.
__ADS_1
Viona bingung melihatnya. Tapi, dia juga takut jika Marshal marah sungguhan. Dia tidak membalas dendam, kan? Viona mengira Marshal ingin mengerjainya balik. Tapi, dia ragu dengan perkiraannya sendiri, karena Marshal terlihat sangat kesal padanya hingga saat ini.
"Masuk!"
Viona mengernyit melihat Marshal yang membukakan pintu kamar untuknya. "Chal?"
"Cepat masuk!"
Viona menurut dengan bingung, masuk duluan ke dalam kamar. "Ah!" Dia terkesiap saat tiba-tiba Marshal mendorong tubuhnya ke ranjang, setelah pintu sudah dia tutup rapat, bahkan dikunci. "Chal?"
Suaminya malah menyeringai dan langsung menindih tubuhnya. Viona sudah harap-harap cemas melihat tatapan Marshal. Dadanya sudah berdebar hebat tidak bisa dikendalikan.
"Semua orang memberikan hadiah untukku," Viona menelan ludah mendengar suara Marshal yang sudah parau. Marshal masih berada di atas tubuhnya bertopang pada kedua tangan. "kamu tidak berniat memberikannya?"
"Aku ... a-ada." Viona jadi gugup lagi. Marshal memandangnya lekat membuat Viona hampir tidak bisa bernapas.
"Mana?"
"Emm ...." Viona tidak bisa mengatakannya. Dia takut, tidak berani untuk memberikan hadiahnya sekarang, meskipun dia sudah mempersiapkannya sejak tahu jika Marshal ulang tahun. "Ja-jangan sekarang, ya! Besok saja."
"Kenapa? Aku mau sekarang."
Viona menggeleng cepat, dahinya sudah mulai berkeringat. "Besok, ya." Wajahnya sudah terlihat pucat saat ini.
"Memangnya hadiahmu apa? Jangan bilang kamu belum menyiapkannya, ya! Kenapa harus besok?"
"Chal, eumhh ...." gugup Viona semakin tidak terkendali saat Marshal sudah menunduk, mengendus lehernya. Viona berdebar dan semakin meremang saat Marshal mengecup lehernya dengan mesra.
"Katakan, apa hadiah yang kamu siapkan!"
Viona menggigit bibir bawahnya. Dia menggeleng pelan serta menutup mata rapat menghindari tatapan Marshal yang sudah kelewat lekat.
"Kamu tidak menyiapkannya?"
Viona membuka mata, raut wajah Marshal kembali tidak enak. "S-sudah."
"Mana?"
"Itu ... em ... ya, s-sudah."
"Iya, mana hadiahnya?"
"Emm ... Chal. Euh ... itu, em ... aku, aku ...," Viona bergerak untuk sedikit bangun bertumpu pada kedua sikutnya karena Marshal masih berada di atasnya. Dengan setengah duduk, Viona menatap suaminya gugup. "malam ini ... aku ... aku em ...."
"Apa, Sayang? Katakan cepat! Mana hadiahnya?" Marshal sudah tidak sabaran menantikan hadiah dari Viona. Sejak tadi dia menunggu, tapi hanya Viona yang tidak memberikan hadiah padanya. "Katakan!"
Viona terkesiap saat Marshal mencium bagian dadanya di balik baju. "Chal!" Dia kembali ambruk terlentang, di bawah kungkungan Marshal. "Kamu ... kamu boleh, ahh ...." Viona benar-benar tidak bisa berkata dengan baik, karena Marshal sudah menikmati lehernya. "aku, emhh ... ingin jadi istri kamu seutuhnya, ammhh, Chal."
__ADS_1
Marshal berhenti dengan cepat. Dia tercengang mendengar ucapan Viona. "Katakan sekali lagi?" Takutnya dia salah mendengar. "Kamu bilang apa barusan?"
Wajah Viona sudah merona, dia menggeleng pelan.