
"Pasien bisa pulang besok, kondisinya sudah mulai pulih."
Fatma mengangguk mendengar ucapan dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Sendi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya," dokter tersebut tersenyum dan keluar dari ruangan inap tempat Sendi kini dirawat.
Fatma duduk disamping ranjang Sendi, mengelus kepalanya dengan sayang, "Tadi dokter bilang kamu sudah bisa pulang besok," Sendi hanya tersenyum tipis menimpali ucapan ibunya.
Kondisi Sendi sudah mulai membaik setelah tadi dijenguk oleh Frans dan juga Aness. Kini hati Sendi yang teramat sakit merasakan patah hati karena ditinggal nikah oleh Viona, sang pujaan hati, kini dia mulai agak tenang setelah mendengar penjelasan dari sahabat Viona tersebut.
Memang Aness dan Frans tadi pagi menjenguk Sendi kerumah sakit, sesuai perintah dari Viona. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Sendi, begitu mereka tahu Sendi drop sepulang dari pernikahan Viona.
Dua sahabat dari istri Marshal tersebut datang bukan hanya untuk sekadar menjenguk, namun juga menjelaskan semuanya pada Sendi, perihal alasan Viona menikah dengan Marshal dan juga untuk menyampaikan rasa permintaan maaf pada Sendi, mewakili Viona.
Semuanya mereka tuturkan pada Sendi. Mulai dari alasan Viona menikah dan juga keinginan Viona agar Sendi tidak menemuinya lagi. Jelas Sendi tidak terima mengetahui hal itu, apalagi saat tahu jika Viona menikah dengan Marshal karena terpaksa, hal itu sangat disayangkan olehnya.
Tapi semuanya sudah terjadi. Namun, Sendi tidak berkecil hati, dalam relung hatinya masih menyimpan rasa cinta yang teramat mendalam untuk Viona. Dan dengan mengetahui hal ini, Sendi seperti punya cahaya terang kembali, bahwa dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan Viona, meskipun dia sudah menikah.
Karena Sendi tahu, jika Viona terpaksa menikah dengan Marshal dan tidak mungkin mencintai suaminya yang sekarang, kan? Dan besar kemungkinan jika Sendi masih bisa memiliki Viona kembali, pikirnya.
*****
Vino duduk bersama kedua orangtuanya dalam diam. Mereka makan malam dalam diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Gak ada si Adek rumah berasa sepi, ya..." celetuk Vino memecah keheningan.
"Iya, Mama jadi kangen Viona. Dia sedang apa ya, sekarang? Apa dia baik-baik saja?" mendengar ucapan Lina, mereka terdiam kembali hingga keheningan kembali terasa. Mereka menghentikan kunyahannya dengan wajah yang nampak muram.
"Harusnya kita gak bohongin Viona kayak gini. Papa jadi merasa bersalah banget sama dia," ucap Heru dengan lirih.
Hening kembali, hilanglah sudah nafsu makan mereka. Teringat kembali dengan malangnya nasib si bungsu yang terpaksa menikah dengan Marshal membuat mereka kembali merasa bersalah karena ada kebohongan besar yang tidak Viona ketahui dibalik pernikahannya.
"Kalian tenang saja, aku yakin Marshal memperlakukan Viona dengan baik, kok. Viona akan baik-baik saja disana," ucap Vino.
"Ya, semoga saja," Heru menganggukan kepala, menaruh harapan yang sama.
"Mama pengen ketemu sama Viona, Pa. Besok kita jenguk dia, ya!" Lina memegang lengan Heru, "Mama kangen sama dia."
Heru mengangguk dan kembali melanjutkan suapannya yang setengah lagi akan habis, "Ya, besok kalo Papa ada waktu, kita akan jenguk dia."
Mendengarnya, Lina tersenyum kegirangan, dia sudah teramat merindukan puteri bungsunya.
******
Marshal masuk kedalam kamar dengan tangan membawa dua paperbag berwarna cokelat.
"Lho, kamu belum tidur?" tanya Marshal pada Viona yang sedang duduk ditepian ranjang.
"Eh, tuan," Viona yang terkejut segera berdiri dan menundukan kepala.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Marshal kembali kemudian dia menghampiri Viona.
"Saya menunggu Anda, tuan," alasan Viona, sebenarnya dia merasa tidak nyaman berada dirumah mertuanya, dan lagi dia tidak mungkin tidur duluan mendahului Marshal.
__ADS_1
Marshal hanya menghela napas, kemudian dia memberikan satu paperbag kepada Viona, "Nih, baju ganti buat kamu tidur." Viona menerimanya dengan alis terangkat.
Aku tidak meminta dibawakan baju pada tuan Marshal, tapi kenapa dia malah memberikanku baju ganti?
Ah, tapi tak apa. Malah ini bagus, karena aku sedang membutuhkannya juga, batin Viona.
"Sini!" Viona terlonjak saat Marshal tiba-tiba menarik tubuhnya. "Buka bajuku!" Viona yang masih kaget, dengan gugup dia membuka satu persatu kancing kemeja Marshal.
"Aku mau mandi," Kemeja sudah terlepas, tinggal celananya saja. Marshal berjalan kearah kamar mandi diikuti oleh Viona dibelakangnya yang membawa kemeja Marshal.
Kenapa tidak dikamar mandi saja buka bajunya, kalo ujungnya dia ke kamar mandi juga, gerutu batin Viona.
Setelah selesai menyiapkan air dan handuk untuk Marshal, Viona hendak keluar, namun tangannya tiba-tiba ditarik oleh Marshal hingga menubruk tubuh kekarnya membuat Viona terlonjak kaget.
"Mau kemana?"
"Em... keluar, tuan," Viona menunduk tidak berani menatap bola mata tajam milik Marshal. Rasanya sangat gugup jika berada diposisi sedekat itu.
"Tidak sekalian mandi bersama saja denganku?" Viona mendongak menetap Marshal dengan mata membulat. Bagaimana mungkin dia mau mandi bersama dengan Marshal, itu tidak boleh terjadi dan Viona tidak mau itu terjadi.
"Tidak, Tuan. Saya nanti saja setelah Tuan." Marshal menatap Viona dengan lekat, bibirnya membentuk senyuman yang sulit diartikan.
Viona mundur dua langkah kebelakang. Dia ingin menjauh dari Marshal dan segera keluar. Namun baru dia akan berbalik badan, Marshal sudah menarik pinggangnya, dan,
Cup
Mata Viona membulat, Marshal mencium tepat dibibirnya.
"Yasudah, kamu boleh keluar. Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau mandi bersama." Viona masih diam, terpaku ditempatnya semula. Perasaan kaget juga kesal masih terasa. Kenapa Marshal selalu seenaknya mencium Viona tanpa izin dan lagi yang membuat Viona kesal, Marshal selalu bersikap biasa saja, seolah-olah dia tidak berbuat apa-apa.
Viona akhirnya tersadar, dengan segera dia membalikan badan, berjalan keluar dengan sedikit berlari. Marshal tersenyum, geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Saat keluar dari kamar mandi, terdengar suara dering ponsel. Viona segera mencari asal suaranya karena dia yakin jika itu dering ponselnya.
Dirogohnya tas selempang yang ada diatas nakas, samping tempat tidur. Ternyata benar, itu adalah dering ponselnya.
Tertera nama Ayahnya yang menelpon, Viona segera menggeser panel hijaunya. "Halo, Assalamualaikum, Pa?" sapa Viona dengan senang.
"Waalaikumsalam, Dek. Kamu lagi apa sekarang?"
"Gak lagi ngapa-ngapain, sih. Ada apa? Tumben Papa nelpon."
"Apa kamu baik-baik saja disana? Mama nanyain kamu terus. Kamu gak papa, kan?"
"Aku gak papa. Aki disini baik-baik saja. Kalian disana sehat, kan?"
"Alhamdulillah. Kami disini juga sehat."
"Syukrlah," Viona teramat sangat senang mengetahui jika keluarganya baik-baik saja. Dan Heru menanyakan banyak hak padanya. Mulai dari perlakuan Marshal terhadap Viona, apa dia diperlakukan baik atau tidak. Dan semuanya Viona jawab dengan jujur. Jika selama ini Marshal memang memperlakukannya dengan baik, terlepas dari perkatannya yang menyebut Viona pelayan, itu tidak Viona ungkapkan. Dia tidak mau jika ayahnya ikut sedih.
Perbincangan lewat ponsel tersebut berlangsung dengan penuh bahagia. Viona menceritakan semuanya pada Heru. Tentang rumah tangganya juga dan Heru mengingatkan Viona untuk menjadi istri yang baik dan berbakti pada suami.
Viona melirik kearah pintu kamar mandi yang terbuka. Muncul sosok Marshal disana menggunakan bathrobe berwarna hitam. Rambutnya yang masih kelimis membuat Viona terpesona sesaat.
__ADS_1
"Pa, udahan dulu, ya," ucap Viona pelan, "besok aku telpon lagi."
"Oh, Marshal udah selesai mandinya, ya? Yaudah, Papa tutup dulu. Inget, jadi istri yang baik!"
"Iya, Pa. Bye, aku sayang Papa."
"Bye, sayang. Sampaikan salam Papa buat Marshal. Assalaamualaikum."
"Waalaikumsalam," Viona mematikan sambungan panggilannya. Menaruh kembali ponsel kedalam tas.
"Telepon dari siapa?" Marshal berjalan menghampiri Viona.
"Papa saya, Tuan." Marshal hanya mengangguk kemudian duduk ditepian ranjang, masih menggunakan bathrobe-nya.
"Bajuku mana?"
"Eh, em, maaf Tuan. Saya belum menyiapkannya," Viona merutuki kelalaiannya. Kenapa dia bisa lupa untuk menyiapkan pakaian Marshal dan malah asyik bertelponan dengan Heru?
"Ambilkan bajunya!" Viona mengangguk dan segera mengambilkannya.
"Tadi Papa menitipkan salam untuk Tuan," ucap Viona dengan pelan saat mengancingkan piyama Marshal.
"Waalaikumsalam. Sampaikan juga salam balikku padanya." Viona mengangguk, "Baik, Tuan."
"Ayo, tidur! Aku capek," Marshal naik keatas ranjang, namun dia berbalik kembali karena Viona hanya dian ditempatnya. "kenapa? Ayo, tidur!"
"Emm.. Tuan, saya tid-"
"Kamu tidur denganku!" Marshal menarik tangan Viona untuk naik keatas ranjang. Namun, Viona malah menarik kembali tangannya dan menjauh membuat Marshal mengernyit keheranan, "Kamu mau membantahku? Aku 'kan sudah bilang, kamu tidur denganku. Kenapa malah-"
"Saya akan membesihkan diri dulu, Tuan." Marshal terdiam sejenak, "Yasudah, sana ganti dulu bajunya dan cepat kembali!" Viona berlalu ke kamar mandi dengan membawa paperbag pemberian dari Marshal tadi.
Viona keluar dari kamar mandi menggunakan gaun tidur berwarna baby blue dengan panjang hanya selututut.
Marshal mengalihkan pandangan dari ponselnya untuk melirik Viona sejenak, dia tersenyum, "Itu baju Rio yang milih padahal. Tapi kenapa pendek kayak gitu?"
Viona menatap Marshal bingung. Bajunya memang hanya selutut, tapi Viona rasa ini tidak terlalu pendek dan wajar saja. Dia bahkan punya gaun tidur yang lebih pendek dari baju yang dia pakai saat ini. Tapi kenapa Marshal melihat Viona dengan tatapan aneh. Apa ada yang salah dengan bajunya? Viona menunduk, memperhatikan bajunya.
Tidak ada yang aneh, batin Viona.
Marshal menjentikan jarinya, meminta Viona untuk mendekat. Tapi Viona hanya mematung ditempat. Dia bingung dan tidak mau tidur lagi dengan Marshal. Tapi kali ini dia tidak punya pilihan. Apa dia harus tidur disofa saja?
Sebenarnya Viona mulai merasa cemas jika harus tidur bersama Marshal. Terlebih jika mengingat perkataan Rahma, dia jadi takut sendiri. Apa dia harus melakukannya sekarang?
"Kenapa malah diam? Sini, aku sudah ngantuk," ucap Marshal sembari menyimpan ponselnya diatas nakas.
Viona mendekat pada ranjang. Namun dia hanya terdiam kembali sembari melihat Marshal yang sudah terbaring dan sedang melihat kearahnya. "Tuan, saya tidur disofa saja, ya," ucapnya dengan lirih.
Marshal melotot padanya, "Tidak. Kamu tidur disini!" Marshal menepuk bagian disisinya.
"Tidak, Tuan. Saya disofa saja, ya," mohonnya lagi. Namun Marshal terdengar menghela napas kasar, "Kenapa mau tidur disofa? Tidur diranjang lebih enak. Lagian ranjangnya juga masih luas untuk kita tidur berdua, Kenapa harus disofa?"
Viona terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan alasannya pada Marshal. Dan Viona tidak mau mengulangi yang sudah-sudah beberapa hari ini. Dimana jika tidur bersama Marshal, Viona pasti dipeluk dan Marshal selalu mencari-cari kesempatan untuk melakukan hal yang lebih seperti menciumnya. Hal itu membuat Viona sedikit cemas.
__ADS_1
"Kelamaan mikir. Sini tidur denganku!"
BERSAMBUNG.....