
"Diam, Sayang!"
Viona tetap tidak mau dan ingin beranjak, tapi tidak bisa. Marshal terus menahannya untuk tetap diam. Padahal wajahnya sudah merona karena malu dengan apa yang barusan terjadi.
Terpaksa Viona memalingkan wajah saat Marshal menggapai dagunya. Mereka bertatapan dan sama-sama saling diam. Napas Viona terasa tercekat melihat manik mata suaminya yang menatap lekat. Tidak ada kata maupun gerakan yang Marshal lakukan, tetapi matanya berbicara lain. Viona tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya. Dia hanya melihatnya, dan diam tidak berusaha untuk beranjak lagi.
Dadanya tiba-tiba bergejolak saat lembutnya benda kenyal menyentuh bibirnya. Mulanya diam, lambat laun mulai bergerak dan semakin dalam menyesap. Viona hanya memejamkan mata menikmati apa yang suaminya lakukan.
Mata Viona perlahan terbuka saat Marshal melepaskan pangutannya. "Aku sayang sama kamu, Ra! Aku ingin kita tetap bersama, selamanya," ucap Marshal di depan bibir istrinya.
Viona mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat ujung jempol Marshal mengusap lembut bibirnya yang basah. Dia tidak tahu harus bereaksi apa pada suaminya. Biasanya kesal, tapi kali ini ... Viona tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskannya. Tatapan teduh yang dipancarkan oleh suaminya membuat Viona tidak bisa berpaling barang semenit. Pandangannya terkunci dan langsung kembali terpejam saat Marshal kembali menyentuh bibirnya. Kali ini dengan ujung telunjuk. Mengusapnya perlahan dan benda kenyal itu kembali mendarat di sana.
Penyatuan yang mulanya hanya pergerakan mulai menjadi sebuah ******* dan beraksi menjadi sebuah hisapan dan belitan di dalam saat sang istri juga merespon kemauan suaminya. Viona membalasnya saat Marshal mengigit pelan bibir bawahnya untuk terbuka. Mereka melakukannya penuh rasa sampai tidak sadar jika tangan Marshal mulai menjelajah tidak lagi di pinggang istrinya.
Punggung Viona berdesir merasakan usapan suaminya yang perlahan, namun penuh perasaan. Dia tidak tahan untuk melenguh saat Marshal mengusap tengkuknya di saat memperdalam ciuman.
"Engh ...." Tangan Viona mulai merambat pada kepala suaminya. Dia meremasnya pelan dengan masih menikmati apa yang suaminya lakukan. "Chal ... engh!" Napasnya mulai berkurang. Viona meremas pundak suaminya dengan lumayan kuat.
Marshal justru tidak menghiraukannya dan malah semakin liar. Dia memaksa lidah Viona untuk terus bermain dengannya. Memperdalam ciuman dan hisapan-hisapan bibir bawah dan atas bergantian. Viona semakin kewalahan menanggapinya. Dia meremas kembali rambut suaminya dan lenguhan kembali keluar dari mulutnya yang masih dibungkam.
"Amh hufhh ...." Viona mulai bisa bernapas kembali saat Marshal melepas pangutan bibirnya. Namun, dia malah kesusahan menahan bibirnya untuk tetap terkatup. Marshal malah menjelajahi rahang dan lehernya dengan lidah yang sangat lincah.
Basah, hangat dan geli Viona rasakan. Marshal memeluk erat pinggang istrinya supaya Viona tidak terjatuh. Dia kembali menjelajahi leher istrinya dengan pergerakan yang lambat. Namun, memabukkan sampai kepala Viona sedikit mendongak ke atas. Viona berusaha kuat menggigit bibirnya untuk tidak melenguh. Sangat geli, tapi dia tidak bisa menolak atau bahkan meminta Marshal untuk berhenti.
"Amhh, Chal ...." Lenguhan yang ditahan itu akhirnya lolos saat panas dan perih terasa di lehernya.
Marshal menyeringai puas melihat hasil karyanya. Dia memberikan kecupan kecil di atas tanda yang baru saja dia berikan pada istrinya. Ada perasaan bangga melihat leher Viona merah karena ulahnya. Dia kembali menyerang bibir istrinya dan menciumi seluruh bagian wajah Viona.
Berakhir dengan kecupan di kening, Marshal menangkup wajah istrinya. Ditatapnya dalam-dalam mata Viona yang terlihat sedikit meredup. Napas mereka bahkan masih terengah-engah dan masih membutuhkan banyak oksigen. "Kenapa bibirmu ini sangat manis, hm? Kamu selalu membuatku hilang akal, Sayang. Kamu sangat cantik dan ... begitu menggoda." Di akhiri dengan bisikan halus yang membuat bulu kuduk meremang.
Baru pertama kali Viona blushing di puji oleh suaminya. Dia menunduk, tangannya berada di dada Marshal dan mengusapnya pelan dengan gugup.
Marshal tersenyum hangat. Dia mengusap pipi istrinya dengan lembut dan mengambil satu kecupan lagi di bibir istrinya. "Aku sedang banyak pekerjaan. Bisakah kamu keluar dulu sebentar? Aku tidak yakin bisa fokus, jika kamu masih ada di sini."
Viona tersenyum canggung, dia mengangguk. Sedang di rumah saja, Marshal selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kadang Viona kasihan pada suaminya. Tidak di kantor, tidak rumah, pekerjaan masih saja membayangi pikirannya. Kadang Marshal seharian berada di ruang kerja, meskipun di hari libur.
__ADS_1
"Nanti kita lanjutkan lagi, kalo kamu masih mau. Sekarang aku harus menyelesaikan ini dulu, Sayang." Marshal terkekeh pelan mendapat pukulan kesal dari istrinya. Wajah Viona merona karena perkataannya. Hal baru. Benar-benar baru, karena Marshal tidak pernah melihat Viona bereaksi seperti saat ini, meskipun mereka sering berciuman. "Apa kita harus melakukannya lagi sekarang?"
Viona segera beranjak dari pangkuan suaminya. Marshal mulai menggodanya dengan alis yang naik turun. Dan jangan lupakan seringaian kurang ajarnya.
"Chal?"
"Apa, hm? Mau lagi?"
Viona menggeleng, berdiri di samping suaminya. Dengan kaget Viona malah kembali ditarik oleh Marshal untuk kembali duduk di pangkuannya. Viona meliriknya dengan susah karena posisinya yang membelakangi.
Pelukan Marshal terasa erat di perutnya. Viona hanya terdiam saat Marshal menumpukan dagu di pundaknya. "Sebenarnya aku tidak mau berjauhan. Kamu punya daya magnet yang sangat kuat, sampai aku sulit untuk menolaknya dan ingin terus menempel."
Sejak kapan Marshal mulai bisa merangkai kata seperti itu? Viona masih diam mendengarkan suaminya yang malah memberikan kecupan ringan di tengkuknya. Seketika bulu kuduk Viona berdiri kembali. Marshal bahkan mengembuskan napasnya dengan sengaja menerpa leher bagian belakangnya.
"Kamu wanita satu-satunya yang membuat aku gila, lupa diri, sampai lupa daratan. Pelet apa yang kamu gunakan untuk menjeratku? Kenapa aku sangat sulit sekali untuk berjauhan denganmu? Apa kamu memberiku pil kasmaran sampai pikiranku hanya dipenuhi oleh wajah istriku? Iya, hm?"
Mana ada hal seperti itu. Marshal bicaranya mulai melantur. Viona hanya diam dan mulai berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya yang malah semakin erat.
"Kamu sungguh keterlaluan, Sayang! Kamu membuatku ketergantungan sama yang namanya cinta. Kamu membuatku hilang akal, jika aku dekat denganmu."
Hening menyapa. Mereka sama-sama diam dan hanya terdengar napas yang teratur tepat di samping telinga Viona. Dia ingin melirik, tapi tidak bisa. Pundaknya berat oleh kepala suaminya.
"Chal?"
"Hm?"
Viona kira suaminya tertidur. Dia mengedikkan bahunya supaya Marshal bangun dan tidak lagi bertumpu di pundaknya. Tapi, Marshal malah membenamkan wajahnya tepat menghadap leher istrinya. Mengendus di sana dan pelukannya terasa semakin erat.
"Aku tidak bisa berkerja lagi. Sudah nyaman seperti ini."
Apa dia tidak pegal memangku Viona terus? Padahal sudah cukup lama, tetapi Marshal biasa saja. Viona yang merasa tidak nyaman. Dia takut membebani suaminya. Ingin beranjak, Marshal malah semakin menahan pinggangnya, sehingga Viona hanya bisa pasrah dengan apa yang suaminya lakukan.
"Diam dulu sebentar!" tahan Marshal pada istrinya yang mulai kembali bergerak untuk melepaskan diri. Viona mengembuskan napasnya kasar. Dia sudah pegal dalam posisi seperti itu. Apalagi dia merasa tidak enak berada di atas pangkuan suaminya. "Diam atau aku bawa kamu ke kamar sekarang?"
"Untuk apa ke kamar?" Dengan tidak berpikirnya, Viona melirik ke samping. Marshal mengangkat kepalanya dan mereka berpandangan. Viona tersadar dengan ucapan suaminya setelah melihat Marshal yang menyeringai. Dia menelan ludah. Viona tahu apa yang suaminya pikirkan saat ini.
__ADS_1
"A-aku mau ketemu Michelle," ucap Viona dengan buru-buru. Dia mengusap tangan Marshal yang masih melingkar di perutnya. "B-boleh, kan?"
Marshal malah menyipitkan matanya melihat Viona. Istrinya terlihat gugup, berusaha mengalihkan apa yang Marshal inginkan. "Untuk apa?"
"Ya, hanya bertemu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Sama mama juga. Aku kangen mereka."
Marshal terlihat berpikir. Pekerjaannya masih banyak yang harus diselesaikan. Tapi, dia tidak mau mengabaikan keinginan istrinya. Ya, meskipun dia sudah kesal karena kodenya tidak Viona indahkan. Tidak apa. Dia harus bersabar lagi, karena mungkin Viona belum siap. Padahal mereka sudah berkonsultasi ke dokter, Viona sudah mengatakan akan memenuhi kebutuhannya. Tapi, sampai saat ini, Viona masih terlihat ragu.
"Bagaimana jika besok?"
Sekarang sudah sore. Belum lagi masalah pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Marshal bisa saja membiarkan Viona pergi sendiri atau minta Rio yang mengantarkannya. Tapi, dia tidak mau Viona datang ke rumah Wisnu sendiri. Dia juga ingin menemaninya.
"Aku mau sekarang. Boleh, kan? Hanya sebentar, nanti Isya juga pulang. Oke?" Viona langsung memasang wajah cemberut melihat suaminya yang malah menggeleng.
Marshal mengubah posisi duduk istrinya menjadi menyamping masih di atas pangkuannya. Dia tidak tega melihat Viona yang terus berbalik ke belakang untuk bicara dengannya. "Besok saja, aku yang antar."
Viona terdiam dan malah menyandarkan badan di dada suaminya. Itu terjadi karena Marshal yang menariknya untuk semakin menempel di tubuh suaminya, bukan karena Viona yang melakukannya karena keinginan sendiri, meskipun sebenarnya dia suka jika bersandar seperti itu. Terasa sangat nyaman.
"Aku ingin pergi keluar, sudah bosan di rumah terus," ucap Viona dengan nada yang sedikit merajuk.
Marshal mengecup kepalanya. Senyuman manis tercipta di bibirnya yang baru saja membuat Viona kewalahan. "Mau jalan-jalan?"
Viona mengangguk pelan sambil mengusap tangan suaminya. Marshal sangat manis, jika Viona bersikap manja. Hal itu yang suaminya inginkan, bukan? Maka Viona akan bersikap manja padanya supaya diizinkan untuk pergi.
"Mau jalan-jalan ke mana?"
"Aku mau ke rumah mama aja, Chal. Ketemu sama Michelle. Kemarin aku teleponan sama dia. Michelle mau ada yang diomongin, katanya."
"Hm ... tapi, aku sedang banyak pekerjaan, Sayang. Besok saja, ya. Aku yang antar." Marshal mengusap kepala istrinya dengan lembut. Membuka rambut Viona yang digulung, jadi tergerai. Marshal sangat suka melihat rambut istrinya yang panjang itu menjuntai mengenai pundaknya. Marshal senang memainkannya.
Viona bangun dan melirik suaminya. Dia berpikir sejenak kemudian mengangguk. Saat ini mood suaminya sedang dalam keadaan baik. Jika Viona memaksa, mungkin Marshal nantinya akan kesusahan karena pekerjaannya tidak beres dan malah mengantarkannya pergi ke rumah Atma.
"Oh, iya, Sayang, aku ada paket untuk honeymoon. Kamu mau yang mana?" Marshal mengambil beberapa lembar kertas berdesain dari dalam laci.
Viona mengernyit, Marshal memberikannya beberapa brosur yang isinya mengenai liburan ke luar negeri. Seperti yang suaminya katakan, isinya paket honeymoon semua. "Kamu ngajak aku honeymoon?"
__ADS_1
Berangkat Honeymoon, jangan? Gimana menurut kalian? Lebih baik pergi atau tidak?