
"Jika mencintai tidak mungkin mengekang," kata Viona, melepas pelukan Marshal secara perlahan. "Cinta itu membuat nyaman, bukan malah membuat seseorang yang digadang-gadang dicintai, menjadi tertekan."
Marshal hanya diam, tidak mencoba memeluk istrinya lagi. Viona sedang membahas cinta, hal menarik yang ingin dia dengar dari mulut istrinya. Dia ingin tahu, sejauh apa cinta yang Viona punya dan pandangannya seperti apa untuk mengungkapkan rasa cinta, sampai dia begitu kuat membentengi hatinya hanya untuk Sendi, sehingga tidak membiarkan Marshal masuk sedikitpun.
"Pikirkan dulu baik-baik," Viona berusaha untuk bangun. Sama sekali tidak mau menghadap pada Marshal dan duduk membelakangi suaminya yang masih diam, menyimak dan terus mengawasi gerak tingkah istrinya. "hanya ada dua kemungkinan yang kamu rasakan," Menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "kamu benar mencintaiku atau hanya terobsesi terhadapku?"
Setelah mengatakan hal tersebut, Viona tidak mau lagi berbicara dengan Marshal. Mereka menghabiskan malam dengan saling diam, meskipun awalnya Marshal terus saja mengoceh mengenai ini-itu. Marshal masih bingung, kenapa Viona malah mengatakan kalimat tersebut padanya.
Cinta atau obsesi?
Jelas, Marshal merasakan rasa cinta pada istrinya, tapi kenapa Viona malah mengatakan hal tersebut, seolah yang Viona rasakan hanyalah sebuah obsesi yang sampai dari diri Marshal.
Apa benar Marshal hanya terobsesi pada Viona? Dia sendiri tidak bisa menyimpulkannya. Karena keyakinannya hanya tertuju pada kalimat, rasa cinta terhadap istrinya itu memang ada, dan Marshal akui dia memang merasakannya.
Sampai saat ini kedua kata tersebut masih berkeliaran dalam benaknya, Marshal tidak bisa menyimpulkan apapun. Terlebih Viona yang memilih mendiamkannya membuat dia kurang suka. Marshal ingin memperbaiki hubungannya dengan Viona, tapi istrinya sudah membuat jarak untuk dia mendekat, sehingga Marshal sama sekali tidak bisa menjangkaunya.
Sudah beberapa kali dia membujuk Viona untuk sarapan, tetapi istrinya tetap tidak bergeming dan malah kembali menarik selimut menutupi kepala. Hari sudah mulai pagi, tapi Viona sama sekali tidak mau bangun lagi, setelah salat subuh tadi. Marshal sampai bingung sendiri, bagaimana cara membujuk Viona untuk mau bicara lagi padanya? Dia tidak bisa saling diam dengan istrinya, namun dia juga sadar dengan kesalahannya.
"Mau sarapan apa? Aku bawain ke sini, ya." Marshal hampir putus asa untuk mengajak Viona bicara. Viona benar-benar sudah menutup diri dan tidak mau melihat Marshal sama sekali. Akhirnya dia mengalah kembali dan keluar dari kamar.
Mungkin jika dibawakan sarapan, Viona akan senang dan mau makan, meskipun Marshal tidak yakin dengan pemikirannya sendiri. Tapi, dia tetap pergi ke ruang makan, Michelle sudah berada di sana untuk sarapan, hanya sendirian.
"Mama sama papa mana?"
Marshal mendekat pada adiknya yang sedang meminum susu putih di gelas kaca kesukaannya yang berwarna indah. Perpaduan biru dan ungu yang seolah melebur menjadi satu, namun masih terlihat jarak pemisah di antara keduanya. Di bagian tengah gelas, terukir nama Michelle disertai tanda love.
__ADS_1
Adik semata wayangnya itu sangat suka dengan gelas tersebut. Gelas itu adalah pemberian dari Marshal, yang dibeli dari Eropa dan dirancang langsung oleh seniman yang menggeluti seni lukis kaca terkemuka. Dia memberikan itu sebagai hadiah pada saat Michelle menginjak usia ketujuh belas, tahun lalu lebih tepatnya. Meskipun ukurannya hanya menampung 350 ml, namun siapa sangka jika harga gelas tersebut sama dengan satu unit apartemen mewah. Karena dirancang khusus dalam waktu yang singkat.
"Papa nemenin mama sarapan di kamar, masih belum sembuh." Michelle mengambil dua lembar roti dan mengoleskan selai strawberry di salah satu lembarnya, lalu kedua lembar tersebut disatukan dan dilahap dengan tenang olehnya. "Kak Viona mana? Gak ikut sarapan?" tanya Michelle di sela kunyahannya.
Marshal berdiri di depan meja makan, berseberangan dengan tempat Michelle duduk. "Di kamar, sepertinya kurang sehat," ucapnya pelan seraya melirik satu per satu menu masakan di atas meja.
Banyak yang tersaji di sana, mereka menyiapkan menu sarapan sebanyak itu supaya majikannya bisa memilih, apa yang ingin dimakannya. Marshal bingung harus membawakan Viona apa. Membawa nasi atau roti? Dia tidak tahu Viona sedang ingin makan yang mana.
"Kakak ipar sakit?" Melihat Marshal sambil mengungah, tatapan Michelle nampak terkejut. "Sakit apa? Semalam gak kenapa-napa pas minjam handphone aku."
Hanya mengedikkan bahu dan berjalan menuju kulkas, Marshal meminta pekerja dapur untuk membuatkan jus alpukat. Sering melihat istrinya meminum itu, Marshal sedikit yakin, jika Viona menyukainya. Dia berpikir untuk membawakan banyak makanan ke kamar, supaya Viona bisa memilih makanan apa yang mau dia makan. Belum lama tinggal bersama, Marshal kurang tahu pasti makanan kesukaan istrinya. Yang sering dia lihat, Viona memakan puding cokelat dan meminum jus alpukat, mungkin itu kesukaan Viona.
"Semalam aku dengar kalian bertengkar," bisik Michelle pada Marshal yang sedang mengambil makanan di atas meja makan. Marshal menoleh dengan kaget, namun sebisa mungkin memasang raut tenang. "pas aku lewat, kedengaran sekali, kalian memang ribut. Ada masalah apa Kakak sama kakak ipar? Bukannya baru baikkan, ya? Kenapa udah ribut lagi?"
Marshal memandang Michelle dengan intens. Dia lupa jika kamarnya yang di rumah itu tidak kedap suara. Apa Michelle juga mendengar teriakan dan makian Viona terhadapnya? Marshal jadi cemas dan takut Michelle mengadukan hal tersebut kepada orangtuanya. Bisa-bisa Marshal kena amuk Wisnu lagi.
"Masa?" Michelle meminum susu sejenak setelah sisa roti di tangannya ludes masuk mulut. "Kakak buat ulah apa lagi? Kak Viona sampai teriak-teriak gitu ... Kalo papa tahu, Kakak pastiļ¼"
"Ssst ... jangan bilang siapa-siapa, Chelle!" Marshal membekap mulut adiknya. Selai strawberry yang masih tersisa di sudut bibir Michelle, bahkan teras lengket ditangannya. "Kita tidak bertengkar, hanya sedikit beda pendapat saja," ucapnya penuh penegasan.
Michelle menyingkirkan tangan kakaknya dengan kesal. Jelas dia tahu mereka bertengkar, tapi kakaknya masih saja menyangkal. "Sudahlah, Kak, jangan buat Kakak ipar marah lagi! Kalian itu baru saja balikan, masa mau pisah lagi? Mama aja belum sembuh, gimana nanti kalo mama sama papa tahu kalian belum juga akur? Aku takut mama kenapa-napa."
Menghela napas sejenak, Marshal kembali mengambil makanan dan menaruhnya di piring yang sedang dipegangnya. "Makanya, jangan kasih tahu siapa-siapa! Lagian kita tidak bertengkar, Chelle," pungkasnya lagi.
Michelle mengalah, menghabiskan minumannya yang tinggal separuh gelas. "Iya, deh, aku percaya, kalian emang gak bertengkar," ucapnya dengan malas. "Tapi ingat, ya, kalo Kakak menyakiti Kakak ipar lagi, aku pastikan papa bakal coret nama Kakak dari kartu keluarga."
__ADS_1
Marshal malah terkekeh pelan, melirik adiknya sejenak dan kembali pada makanan. "Namaku memang sudah dicoret, bahkan dibuang dari kartu keluarga, Chelle."
"Apa?" Mata Michelle membulat tidak percaya. "Kapan? Kenapa aku tidak tahu?"
Marshal tidak langsung menjawab membuat Michelle semakin kalut dirundung penasaran. Dia hanya mengancam, tidak tahu jika nama Marshal ternyata sudah dicoret dari kartu keluarga Atmadinata.
"Kamu tidak sekolah, Chelle? Belum pakai seragam."
Michelle mendengus kesal. "Aku nanya apa, malah ngomongin apa. Lagian ini hari libur kali, Kak. Sekolah tutup."
Marshal baru ingat. Pantas saja Rio tidak merecoki paginya dengan ceramahan panjang supaya Marshal cepat bersiap bekerja. Dia lupa jika hari ini hari libur. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh Viona, Marshal sampai lupa pada hal lain.
Apakah benar dia hanya terobsesi pada Viona? Pertanyaan itu kembali hadir dalam benaknya. Marshal harus bisa mengenyahkan pikiran itu. Cinta, bukan obsesi. Marshal harus lebih menekankannya lagi.
Selesai dengan makanan yang dia siapkan untuk Viona, Marshal melihat Michelle sejenak. Adiknya masih setia mengawasi dengan raut yang tidak enak dilihat. Michelle pasti kesal padanya karena tadi sempat mengalihkan pembicaraan tanpa mau menjawab pertanyaannya.
"Sejak nikah, namaku memang dibuang dari kartu keluarga Atma, Chelle. Dipindahkan ke kartu keluargaku sendiri sama kakak iparmu. Aku 'kan sudah menikah, tidak mungkin masih satu kartu keluarga dengan kalian." Melihat Michelle yang hanya diam, Marshal mendelik. "Tuh, kan, kamu tidak mengerti. Sudah, intinya kamu tidak boleh bicara macam-macam sama mama maupun papa! Kita tidak bertengkar, selalu baik-baik saja."
"Apa, sih, gak jelas banget. Kakak menjelaskan masakah kartu keluarga, tapi ujung-ujungnya malah memberi peringatan," gerutu Michelle dengan kesal melihat Marshal yang malah pergi membawa banyak makanan.
"Dad sneakers Louis Vuitton, kalo kamu gak ngomong macam-macam sama mama dan papa," ucap Marshal sempat berbalik sebelum benar-benar pergi.
Raut kesal langsung terganti dengan binar senang. Michelle mengacungkan dua jempolnya melihat pada punggung Marshal yang semakin menjauh. "Siap, Kak, asal tidak merugikan," sahutnya dengan antusias.
Siapa yang bisa menolak, jika diberikan sepatu seharga sepeda motor tersebut? Michelle senang, jika Marshal berbaik hati. Ya, meskipun masih bernada ancaman, tapi dia tidak bisa menolak sogokan dari kakaknya untuk tutup mulut.
__ADS_1
Louis Vuitton adalah merek terkenal dengan harga yang fantastis. Michelle bahagia sekali, jika Marshal mau memberikannya sepatu mahal merek tersebut. Padahal dia tidak suka dan marah, jika Marshal berbuat ulah lagi. Dia tidak mau Viona disakiti oleh kakaknya untuk yang kedua kalinya. Tapi, lagi-lagi bayangan Louis Vuitton mengalahkan niatnya untuk mengadu pada Wisnu. Jika orangtuanya tahu, Marshal dan Viona bertengkar semalam, mereka pasti tidak akan tinggal diam atau mungkin menyuruh Viona menggugat cerai saja. Karena kesalahan pasti berasal dari Marshal lagi.