
Hari ini, Rahma sudah diizinkan untuk pulang. Viona menemaninya hingga sampai ke rumah, memastikan ibu mertuanya bisa istirahat dengan baik.
"Sayang."
Menoleh ke belakang, Marshal muncul dari celah pintu kamar Rahma. Dia masuk dan berjalan menuju Viona, merangkulnya dan tersenyum hangat. Viona malah memicingkan mata, seolah sikap Marshal sangat aneh di matanya.
"Mama istirahat, ya. Jangan dulu ke mana-mana! Biar cepat pulih," ucap Marshal, pada Rahma yang mengangguk patuh, berbaring di atas ranjang.
"Kalian nginap di sini, kan?"
Marshal melirik istrinya, Viona nampak ingin menginap. Dia hanya tersenyum merespon ucapan ibunya.
"Kamu mending istirahat juga, Viona. Terima kasih, kamu selalu jagain mama."
"Iya, Ma. Sama-sama. Mama istirahat, ya. Aku keluar dulu."
Rahma memberi anggukan, mempersilakan Viona untuk pergi. Istri Marshal nampak memberengut karena bau tubuh Marshal terasa menusuk indera penciumannya. Dia akan berakhir mual lagi, jika saja tidak segera menjauhkan diri dari suaminya. Untung Marshal tidak berkomentar, langsung sadar ketika istrinya menutup mulut dan hidung dengan sebelah tangan.
Mau sampai kapan mereka seperti itu? Marshal tidak pernah bisa berlama-lama dekat istrinya, selalu terhalang oleh mual yang datang tidak tahu waktu.
"Chal!" Viona berteriak sedikit jauh dari suaminya. Dia sudah akan masuk ke dalam kamar, menoleh ke belakang sejenak. Suaminya hanya terdiam, menunggu Viona untuk masuk ke dalam kamar duluan. "Aku lapar." Viona mengusap perutnya, mengisyaratkan pada Marshal untuk paham.
Marshal mendekat perlahan, tatapannya lekat, memastikan Viona tidak akan menolak keberadaannya. "Mau makan apa? Makan di kamar atau di bawah?"
Viona justru mundur lagi membuat Marshal menghela napas. Apa yang harus dia lakukan supaya kehadirannya tidak membuat Viona mual-mual lagi.
"Pengin makan di luar. Tapi, aku gak mau pergi sama kamu."
Lantas mau pergi sama siapa? Marshal tidak bisa mengizinkannya, dia memberikan gelengan halus. "Makan di rumah saja. Aku akan ambilkan. Mau makan apa?"
Istrinya mencebik, terlihat kesal. "Udah gak lapar."
Marshal hanya terdiam, menahan lelah melihat istrinya yang malah masuk ke dalam kamar. Dia menghubungi Rio dengan segera dan memintanya untuk mengantarkan Viona makan di luar. Pergi ke kamar adiknya meminta untuk menemani Viona, ternyata Michelle sedang tidak ada. Jika begitu, Viona harus pergi sama siapa? Tidak ada yang menemaninya dan Marshal juga tidak diinginkan kehadirannya.
__ADS_1
"Sayang." Marshal masuk ke dalam kamar, Viona hanya duduk di atas ranjang, memainkan ponselnya dengan wajah yang tertekuk. "Mau makan di luar, kan? Rio sudah menunggu. Kamu bersiaplah!"
"Aku udah gak lapar." Viona sama sekali tidak berniat melirik suaminya dan malah sibuk melihat ponsel yang hanya menampilkan beberapa postingan orang lain.
"Kamu bisa pergi sama Rio. Aku tidak akan ikut."
"Aku bilang, aku udah gak lapar!" Viona melihat pada suaminya, menatap garang.
Marshal sampai tercengang, mengerjapkan mata dengan gugup.
"Aku maunya tadi. Kamu gak ngizinin," gumam Viona, kembali melihat layar ponselnya. "Udah sana pergi! Kamu bau!"
Marshal merengut melihat Viona menutup hidung. Sekarang lebih buruk lagi. Biasanya wajah tampan Marshal yang akan jadi masalah, namun beberapa hari belakangan justru aroma tubuhnya yang selalu dipermasalahkan. Padahal Marshal sudah mengganti aroma parfumnya, tapi tetap saja Viona tidak suka. Pernah satu kali Marshal memakai parfum istrinya. Disemprotkan ke tubuh hanya untuk mengetes penciuman Viona dan ternyata tetap saja. Viona tidak suka dengan aroma tubuhnya, bukan dari masalah parfum yang dia gunakan.
"Pergi, Chal! Anak aku gak mau nyium bau kamu!"
Semakin buruk. Marshal tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jika sudah menyangkut anaknya. Lebih baik dia keluar sekarang atau Viona akan melemparinya bantal dan berakhir dengan omelan panjang.
"Nyonya sudah siap, Tuan?" Rio sudah berada di depan kamar ternyata.
Rio mengikuti langkah Marshal untuk turun ke lantai bawah. Pertanyaan banyak yang ingin Rio utarakan, tapi dia urung melihat Marshal yang terus muram. Setiap hari malah semakin muram dirasanya. Pasti istrinya semakin parah berulah.
"Nanti, jika anakku sudah lahir, kamu harus menjaganya, Yo! Dia pasti punya sifat yang tidak terduga, kamu harus memahami itu. Lihat saja ibunya sekarang! Setelah hamil ada saja kelakuannya yang kadang membuatku jengkel dan lelah secara bersamaan."
Tidak usah menyahut, cukup diam dan dengarkan setiap ucapan Marshal yang berisi keluhan. Rio mengikuti langkahnya masuk ke dapur, mengambil minuman dingin dari kulkas. Marshal mengambil dua dan satunya diberikan kepada Rio.
"Emosi nyonya naik-turun setelah hamil. Tingkat kecemburuannya juga hwaaaaah ... aku sampai tidak habis pikir, kenapa istriku sangat pencemburu. Sampai pergi bekerja saja aku tidak boleh terlihat rapi. Harus berantakan supaya tidak ada wanita yang melirik."
Rio terkekeh mendengar hal itu. Dia selalu menjadi saksi kegilaan hormonal sang nyonya. Pernah satu hari Marshal dan Viona bertengkar hebat di pagi hari, karena Marshal tidak boleh memakai pakaian formal. Viona menginginkan suaminya hanya memakai celana pendek dan kaos untuk pergi ke kantor. Tentu saja Marshal membantahnya. Dia akan bertemu dengan para petinggi perusahaan, tidak mungkin berpenampilan seperti seorang pengangguran.
Tapi, Viona dengan hormonal yang ajaib terus menolak dan malah berakhir dengan tangisan dan makian yang keluar dari mulutnya. Akhirnya, hari itu Marshal tidak jadi berangkat ke kantor. Semua agendanya dia batalkan dan lebih memilih menenangkan diri di ruang kerjanya. Dia terlihat jengkel, tapi tetap sabar menghadapinya. Semua karena Viona sedang hamil anaknya, tentu saja. Memangnya apa lagi yang bisa jadi penguat Marshal untuk tetap waras.
"Yo, boleh tidak aku menyerah atas anakku? Ibunya seperti itu. Didekati saja tidak mau berlama-lama. Aku takut, nantinya anakku sudah lahir, justru anak itu yang tidak mau dekat dengan ayahnya."
__ADS_1
"Tidak mungkin, Tuan. Hanya saat ini saja. Mana mungkin sampai seperti itu." Rio tertawa melihat wajah itu muram sarat akan rasa khawatir. "Anak Tuan pasti menjadi anak yang hebat nantinya. Melihat bagaimana hebatnya kelakuan nyonya, saya yakin anaknya lebih hebat lagi nanti."
"Iya, sepertinya akan seperti itu. Belum lahir saja sudah menyiksa ayahnya, apa lagi jika sudah lahir." Marshal tertawa membayangkan bagaimana sifat anaknya nanti. Apakah menurun dari sifat ayahnya atau sifat Viona?
***
"Makan, Sayang! Dari pagi kamu belum makan," bujuk Marshal, mendekat pada istrinya yang masih saja asyik menonton film.
"Jangan dekat-dekat, Chal!"
Lantas, Marshal mundur lagi dan sedikit menjauh. Memperhatikan Viona yang tersenyum melihat layar televisi, itu sedikit membuatnya lebih baik. Tapi, Marshal teringat lagi dengan tujuannya datang ke kamar. Viona belum mau makan sejak pagi tadi. Padahal dia terlihat sangat lelah menjaga Rahma dan sampai lupa dengan dirinya sendiri.
"Sayang, makan dulu! Nanti nontonnya dilanjut lagi."
"Iya-iya, sebentar. Si dedek lagi asyik. Pengen nonton ini dulu sampai selesai."
Si dedek adalah julukan untuk anak mereka. Viona selalu menyebutnya seperti itu, alih-alih dengan Marshal yang suka menyebutnya Chal Junior. Viona tidak setuju dengan panggilan itu, karena dirasa hanya menang di suaminya. Dia mengandung anak mereka, harus adil. Jadilah "si dedek" adalah panggilan kesayangannya, walaupun anak itu masih dalam kandungan.
"Kasihan si dedek, Sayang. Dia pasti lapar. Kamu sejak pagi hanya makan cemilan. Ayo, sekarang makan yang benar!"
Viona melirik pada Marshal, tersenyum. Tangannya mengusap perut dengan lembut. "Tapi, disuapin sama ayahnya, boleh? Si dedek mau disuapin, Chal," ucapnya, memasang wajah semelas mungkin.
Marshal terkekeh mendengarnya. Melihat tingkah Viona seperti itu, dia yakin, istrinya sedang dalam keadaan baik, tidak akan mengusirnya tiba-tiba.
"Ya, sudah, ayo makan! Kasihan si dedek sudah lapar, ternyata dijadikan Mamanya sebagai senjata." Tangan Marshal terulur, menggapai Viona yang langsung mencebik.
"Si dedek yang mau, Chal."
"Iya-iya, si dedek. Kalaupun Mama yang mau pasti papa turutin, kok." Marshal tertawa geli melihat Viona cemberut. Istrinya terlihat sangat lucu dengan ekspresi seperti itu. Rasanya dia ingin sekali mencium bibir Viona yang mulai sedikit manyun ke depan akibat merajuk.
"Ayo, Mama! Katanya mau makan disuapin papa."
Meskipun terlihat kesal, Viona tetap saja menerima uluran tangan dari Marshal. Dia bangun, malah merentangkan tangannya.
__ADS_1
Marshal menaikkan alis tidak paham, melihat tangan Viona dan wajahnya bergantian. "Apa maksudnya ini? Apa si dedek ingin digendong?"
Viona mengenyir lebar. "Bukan. Ini mamanya yang mau digendong."