
"Yakin gak mau diantar? Nanti aku telepon Egi buat ngantar kamu ke kampus," ucap Marshal. Padahal Viona sudah mengatakan berkali-kali jika dia tidak mau diantar karena nanti akan berangkat bersama Frans yang akan menjemputnya. Namun, Marshal tetap saja bersikeras supaya Viona mau membawa supir pribadi.
"Kasihan Frans, aku udah janji mau berangkat sama dia." Viona merapikan dasi yang terlihat miring. Marshal tetap saja melihatnya tidak suka. "Pulangnya juga sama Frans lagi."
"Merepotkan temanmu. Sama Egi saja, ya?" Viona tetap tidak mau. Mendorong pelan tubuh Marshal supaya cepat pergi. Wisnu saja sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu bersama Michelle yang berangkat sekolah, tapi Marshal masih di rumah. "Sama Rio? Nanti kamu telepon dia, jika sudah mau berangkat. Biar Rio mengantarmu."
"Gak usah. Aku udah janji sama Frans. Gak enak kalo gak jadi."
Sedetik, dua detik, tiga detik ..., Marshal diam memandangi Viona dengan ragu. Di detik ke tujuh kemudian, dia akhirnya mengangguk dengan terpaksa. "Nanti langsung pulang, jangan ke mana-mana dulu! Jangan nongkrong sama teman!"
Viona berdecak kesal. Mendorong tubuh Marshal pelan. Suaminya itu tidak kunjung pergi, padahal dia sudah bosan melihatnya. "Rio susah menunggu, tuh."
Laki-laki yang disebut oleh Viona berdiri di samping mobil, menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Sok manis kamu!" ledek Viona disertai kekehan. Rio langsung menarik kembali lengkungan bibirnya dan memasang wajah datar.
"Ya, sudah, aku berangkat."
Viona menahan tubuh Marshal yang malah mendekat kembali padanya. "Apa lagi? Udah, sana!"
"Gak salim?"
"Eh?" Dengan cengo Viona menerima uluran tangan dari suaminya. Mencium punggung tangannya sebentar dan langsung dihadiahi ciuman hangat di kening. Cukup lama, Marshal tidak mau menghentikannya, sehingga Viona mendorongnya. "Menyebalkan!" gumamnya.
Senyuman manis terbit di bibir Marshal. "Aku yang menyebalkan ini tetap suamimu, Sayang!" Diusapnya pipi istrinya dengan lembut, Marshal mendekat dan mencium bibir istrinya.
"Argh!" Viona menggeram marah. Mengepalkan tangan dengan kesal melihat Marshal yang malah segera pergi dan melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Si menyebalkan ini akan merindukanmu, Sayang. Jangan macam-macam di luar! Awas jika melirik pria lain!"
__ADS_1
Viona hanya mendengus, memutar mata dengan jengah.
"Kami berangkat, Nyonya!" ujar Rio yang mengangguk dan tersenyum padanya. Viona hanya memandangnya kesal. Tidak menunggu mobil suaminya melaju, Viona masuk ke dalam rumah lebih dulu.
***
"Yakin?" tanya Frans yang malah meragukan keputusan sahabatnya.
Sepulang dari kampus, Viona mengajak Frans untuk pergi ke rumah sakit. Menjenguk Sendi dan mengatakan sesuatu padanya. Viona memang ragu, namun dia tetap harus melakukannya. Mau tidak mau. Makanya dia mengangguk pada Frans.
"Dia Sendi, lho, Vi," ucap Frans lagi dengan keraguan yang sangat besar. Viona lagi-lagi mengangguk. Dia tidak tahu apa yang menjadi alasan besar Viona melakukan hal ini. Namun, Frans harap, ini yang terbaik untuknya. "Lo gak bakal nyesal, kan?"
Viona hanya diam memandangi Frans. Mereka sudah berada di lobi rumah sakit, namun melihat Viona yang terlihat ragu, Frans pun merasa tidak yakin dengan keputusannya.
"Pikirkan dulu baik-baik!"
"Huhh... baiklah. Emang harusnya gue dukung keputusan lo." Frans menggandeng tangan Viona, memberikan kekuatan padanya supaya siap menghadapi keputusan yang sudah dibuatnya.
Viona sebenarnya tidak benar-benar yakin dengan keputusannya, karena juga tidak rela jika harus mengatakan untuk "melupakan" Sendi. Ya, tapi dia sudah berniat memperbaiki pernikahannya. Yang harus dia lakukan adalah yang terbaik dan sudah menjadi langkah awal untuk memulai kembali semuanya.
Keraguan semakin berat dia rasakan kala melihat kondisi Sendi saat ini. Laki-laki itu belum sembuh, namun sudah jauh lebih baik. Viona takut malah memperburuk kondisinya, tetapi dia sudah tidak punya waktu lagi untuk menunda semuanya. Dan Frans bilang, jika memang sebaiknya Viona mengatakan hal ini dikala kondisi Sendi sedang seperti sekarang adalah hal yang tepat. Sendi pasti tidak akan bisa berbuat banyak dengan keinginannya mempertahankan Viona. Kejam memang, tetapi ... sudahlah.
Niat baik harus segera dia lakukan, dan Viona berharap keputusannya tidak mempengaruhi kondisi Sendi. Semoga laki-laki itu bisa menerima keputusannya untuk memilih "menyudahi" semua yang pernah mereka lalui dan mereka rasakan selama ini.
***
"Gue gak tahu banyak, gimana rasanya patah hati," ucap Frans merangkul pundak Viona. "tapi sedikit banyaknya, gue paham apa yang lo rasain sekarang."
Viona hanya diam, menyandar di kap mobil bersama Frans. Keluar dari rumah sakit, dia banyak terdiam dengan perasaan tidak menentu yang malah membuatnya terpuruk. Frans membawanya ke sebuah tempat sejuk. Menikmati indahnya hamparan bunga-bunga dengan berbagai jenis dan warna yang sedang bermekaran, meskipun hari sudah menjelang petang.
__ADS_1
"Kadang kita tidak bisa paham apa maunya takdir," Frans masih merangkul pundak Viona, mengusap-usap bahunya pelan. "kadang kita juga tidak tahu bagaimana hati bisa memilih. Semua mengalir begitu saja, tapi tanpa kita sadari, apa yang kita pilih ... terkadang ada hikmah baik di baliknya. Mau itu hal baik atau buruk. Tapi, pasti ada sesuatu yang bisa kita petik untuk dijadikan pelajaran."
Viona masih diam, merasakan embusan angin yang menerpa kulit, menusuk sampai terasa sejuk. Frans benar, kita memang tidak paham dengan apa maunya takdir. Semuanya telah mengalir dan telah Viona lewati banyak hal dan inilah akhirnya. Jika dia memang sudah ditakdirkan untuk memilih Marshal, berarti jalan takdir sudah menunjukkan kebenarannya sekarang.
"Lupakan Sendi, Vi!"
Viona menghadap pada Frans. Masih diam dan Frans menatapnya dalam. "Bangun kehidupan baru sama tuan Marshal. Lo pantas bahagia dan hidup ini buat lo. Jangan jadikan rasa yang sekarang lo rasakan buat lo down! Tapi, jadikan semua ini pelajaran supaya lo bisa fokus meraih kebahagiaan." Frans memegang kedua bahu Viona. "Bahagia itu diciptakan, tidak akan datang sendiri. Lo udah memulai rumah tangga, maka jalani itu sepenuh hati. Gue yakin, hidup lo akan lebih baik lagi setelah ini."
Bibir Viona bergetar menahan tangis. Si playboy ini ternyata bisa bicara serius. "Tapi, Sendi ...."
Frans menggeleng tegas. "Gue bilang lupakan dia! Jika dia ditakdirkan buat lo, keadaannya pasti gak seperti ini ... percaya sama gue, ini yang terbaik." Frans merentangkan tangannya dengan seulas senyum manis terpatri di bibirnya. "Butuh pelukan?"
Dengan cepat Viona menyongsong Frans. Memeluknya erat dan menumpahkan tangisan berat yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Takdir memang tidak pernah salah membawanya untuk melangkah. Ini yang harus dia lalui. Ini yang terbaik. Viona harap perasaannya terhadap Sendi bisa hilang dengan cepat dan dia bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik lagi dengan Marshal, orang saat ini sedang terheran-heran melihat asistennya yang mengeluarkan tawa terbahak-bahak sambil melihat layar ponselnya.
"Kamu kenapa, Yo?" Marshal menyimpan kertas-kertas yang sudah dia periksa di atas meja.
"Ada hal lucu, makanya saya tertawa, Tuan." Rio susah payah menahan tawa, duduk di kursi depan Marshal yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Dia menunjukkan layar ponselnya pada Marshal. "Dari Nona Amanda."
Mata Marshal membulat tajam. Merebut ponsel Rio yang menampilkan sebuah gambar yang langsung memancing emosinya. Diperhatikan lagi dengan teliti gambar itu, amarahnya malah semakin meningkat dengan tangan yang mengepal kuat.
Sialan! umpatnya dalam hati.
Melihat majikannya emosi, Rio segera merebut ponselnya kembali. Dia tidak mau ponselnya terkena imbas amarah dan dilemparkan oleh Marshal hingga hancur berkeping-keping.
Rio hanya menghela napas sedalam-dalamnya, membuangnya secara perlahan untuk menenangkan Marshal. "Nona Amanda hanya mencoba merecoki kalian, Tuan. Jangan terpengaruh!"
"Merecoki apanya? Jelas-jelas istriku yang salah!" bentak Marshal menggebrak meja dengan kesal.
Sekali lagi, Rio menghela napas. Dia hanya menggeleng melihat Marshal yang penuh emosi setelah melihat foto kiriman dari kekasihnya itu. Jika menyangkut istrinya, emosi Marshal memang mudah terpancing tanpa memakai logika.
__ADS_1