
"Manda!" Marshal setengah berlari menghampiri Amanda yang baru saja keluar dari lift menuju ke ruangan Marshal.
Amanda menoleh dan tersenyum. "Ternyata kamu di sini..." Dia langsung memeluk Marshal sejenak.
"Kamu ngapain ke sini?" Marshal menarik tangan Amanda menuju ruangan rapat yang terlihat sepi, kemudian Marshal menutup pintunya.
"Kenapa harus ke sini? Kenapa gak di ruangan kamu aja?"
"Kita bicara di sini saja. Di ruanganku ada Maya sedang membereskan berkas," ucap Marshal berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan ada Viona di ruangannya, bisa-bisa Amanda marah besar. Jadi dia mengatakan ada Maya-wakil dari Rio yang sedang membereskan berkas supaya Amanda percaya dan tidak marah padanya.
"Kenapa tadi pagi aku telepon, kamu reject terus?"
"Tadi saat kamu menelepon, aku sedang sarapan sama keluargaku. Kamu tahu sendiri 'kan kalo aku gak mungkin angkat teleponnya didepan mereka."
Amanda mendengus kesal, raut wajahnya langsung berubah. "Setidaknya kamu kasih tahu aku. Kirim pesan kek, kalo kamu lagi sama mereka."
"Aku gak sempet. Waktunya gak tepat."
Amanda mendengus lagi, dia menatap Marshal dengan kesal. "Apa di sana ada wanita itu, sampai kamu mengacuhkan aku?" Marshal mengernyit sesaat. Dia menghela napas. "Namanya Viona."
Amanda mendecih, "Aku gak peduli sama namanya." Marshal diam, sepertinya Amanda sedang dalam mood yang kurang baik.
"Sampai kapan kamu akan bersama dia, huh? Aku capek kalo kayak gini terus. Aku mau kamu ceraikan dia secepatnya!"
Hela napas dalam, "Aku menikahinya baru empat hari, Manda. Masa aku harus secepatnya menceraikan dia?"
"Jadi kapan kamu menceraikan dia?"
"Tunggu setidaknya beberapa bulan lagi. Kita baru menikah, aku gak mungkin bisa cepat menceraikannya."
"Pokoknya aku mau kamu segera menceraikannya!" tegas Amanda, mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia teramat kesal pada Marshal.
"Manda..."
Amanda menepis tangan Marshal yang hendak menggapainya. "Aku kesal sama kamu," ucapnya ketus tanpa menoleh pada Marshal.
Marshal menghela napas kasar, diraihnya kembali tangan Amanda. "Aku dengar Prada baru mengeluarkan tas seri terbarunya, apa kamu tidak berniat memilikinya?"
Dan detik itu juga, Amanda langsung menoleh pada Marshal. Rasa kesalnya mulai melunak membuat Marshal tersenyum geli. Amanda selalu luluh jika diiming-imingi barang-barang mewah.
Melihat Amanda yang mulai tersenyum, Marshal melepaskan tangannya dan dia berbalik badan hendak keluar. "Tadinya aku akan memesannya langsung Seri Prada itu, tapi sepertinya kamu marah. Jadi aku urungkan, takut kamu tidakļ¼"
"Mau... babe, aku mau banget," Amanda langsung menahan tangan Marshal yang sudah membuka pintu, dia membalikan tubuh Marshal dan memeluknya erat. "Maaf, aku tadi sedang badmood. Harusnya aku gak kesel sama kamu. Harusnya aku memahami keadaan kamu."
__ADS_1
Marshal tersenyum, dia meraih wajah Amanda menghadapnya. "Kalo mau, kamu beli. Biar aku yang bayar. Tapi maaf, aku gak bisa nemenin, masih banyak urusan."
"Yah... padahal aku pengen jalan sama kamu, lho. Aku udah kangen. Kita pergi berdua aja, ya? Biar urusan kantor Rio yang urus."
"Gak bisa, Manda. Rio udah banyak handle pekerjaan aku hari ini. Dan aku juga ada pertemuan penting yang gak bisa ditinggalkan. Jadi gak bisa nemenin kamu." Amanda terlihat sangat kecewa. Dia cemberut.
"Maaf, ya. Lain waktu kita jalan lagi. Sekarang nggak dulu, aku banyak urusan. Mending kamu segera beli tasnya, nanti keburu habis, lho. Aku dengar Seri terbaru ini Limited Edition."
"Yaudah, aku pergi sendiri. Tapi kamu janji, lain kali sempetin waktu buat kita jalan berdua lagi!" Marshal mengangguk dan tersenyum. Dia mengelus rambut Amanda dengan lembut.
"Aku pergi dulu, ya." Mereka sudah berdiri didepan pintu lift.
"Nih, beli apapun yang kamu mau!" Marshal menyerahkan satu kartu gold-nya pada Amanda yang dterima dengan senang hati oleh kekasihnya.
"Mau aku antar sampai bawah?"
"Tidak usah. Kamu banyak kerjaan, kan? Aku bisa sendiri, kok." Amanda memeluk Marshal, kemudian mencium pipinya sebelum dia masuk kedalam Lift. "Bye, sampai ketemu nanti. Jangan kerja terlalu capek!" ucapnya sesaat sebelum pintu lift tertutup.
Marshal kembali lagi ke ruangannya. Terlihat, Viona masih duduk ditempatnya semula sebelum Marshal meninggalkannya.
"Kamu mau pulang sekarang?" Marshal kembali duduk disamping Viona, dan dengan segera Viona berpindah duduk pada sofa lain, membuat Marshal bingung melihatnya. "Kenapa pindah?"
Viona hanya diam, menatap datar pada Marshal, dia menggeleng.
Marshal melihat Viona dengan lekat, matanya memincing. Apa dia tidak mau dekat denganku? tanya batin Marshal.
Viona menggeleng dengan cepat. "Bukan begitu, Tuan. Saya hanya ingin berpindah saja," elaknya. "Apa Tuan tidak akan melanjutkan pekerjaan? Kenapa Tuan memilih duduk di sini?"
"Kamu tidak suka aku duduk di sini?"
Viona menghela napas, dia tidak merasa begitu, tapi hanya bertanya saja guna mengalihkan pembicaraan.
"Aku akan meenyelesaikan pekerjaan. Kamu tetap saja duduk di sini, tunggu Rio kembali." Marshal beranjak menuju meja kerjanya, dan mulai membuka pekerjaannya, sedangkan Viona, dia duduk di sofa dengan malas, hatinya menggerutu tak jelas.
Kabar terbarunya, Sendi udah pulang dari rumah sakit.
Viona bernapas lega membaca pesan dari Frans. Setidaknya Sendi tidak sakit parah sehingga bisa pulang dengan cepat. Tapi tetap saja, dia masih bingung harus bagaimana saat menghadapi Sendi suatu saat nanti. Dia bingung menjelaskannya pada Sendi. Bagaimanapun juga, Viona harus menjelaskan semuanya pada Sendi secara langsung, meskipun Aness dan Frans sudah menjelaskannya pada Sendi saat dirumah sakit mewakili Viona. Tapi, Viona rasa dia tetap harus menjelaskannya secara langsung supaya Sendi bisa memahami keadaannya.
Viona terus memandangi Marshal yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia ingin bicara pada Marshal, namun ragu.
Apa dia akan mengizinkan?
Merasa diawasi, Marshal melirik Viona sekilas. Istrinya terlihat gelagapan sudah tertangkap basah memperhatikan Marshal. Viona langsung mengalihkan pandangannya, merasa malu.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ha? Kenapa apanya, Tuan?"
"Kamu kenapa?"
Viona menggigit bibir bawahnya, dia ragu untuk berucap, "Em... Tuan. Apa saya boleh pulang sekarang saja? Nanti saya memesan ojek online saja. Menunggu Rio kembali terlalu lama," ucapnya penuh ke hati-hatian, memandang Marshal penuh harap. Semoga tuan Marshal mengizinkan.
"Ingin pulang sekarang?" Viona mengangguk. "Tidak bisa. Tunggu Rio kembali, aku tidak mengizinkan kamu pulang sendiri." Viona mendengus. Sudah dapat diduga, Marshal memang tidak akan mengizinkannya.
Tiga jam telah berlalu semenjak kepergian Rio dan sampai sekarang orang itu tidak kunjung muncul. Viona jadi bertanya-tanya sendiri, kenapa Rio lama sekali? Tadi Marshal bilang Rio akan kembali dalam waktu dua jam untuk mengantarkan file ke kantor cabang. Tapi kenapa sampai sekarang tak kunjung datang? Kemanakah Rio gerangan?
Tidak banyak yang Viona lakukan di sana. Dia hanya duduk, memainkan ponsel dan sesekali memandangi Marshal yang sedang fokus bekerja. Dia bosan, ngantuk, dan pegal, karena terlalu lama duduk. Mau berdiri hanya sekadar meregangkan otot pun Viona tidak berani, dia masih canggung jika berada bersama Marshal.
"Ayo!"
Entah sejak kapan Marshal sudah berada di depannya. Viona mendongak setelah sebelumnya dia fokus pada ponsel dipangkuannya. Dia mengernyit menatap Marshal dengan bingung. "Kemana, Tuan?"
"Makan siang. Ini sudah jam makan siang."
Viona melihat waktu dilayar ponselnya. Termagu begitu melihat waktu yang memang sudah menunjukkan waktu makan siang. Sudah sampai selama itukah dia duduk di sana tanpa aktivitas yang berguna.
"Ayo, makan siang diresto depan!" ajak Marshal kembali, Viona tetap diam memandanginya dengan tatapan terlihat masih bingung.
Kemana Rio? Sudah jam makan siang tapi Rio tidak juga kembali. Dia ingin segera pulang supaya tidak terus bersama dengan Marshal.
"Ah, Tuan!" Marshal langsung menarik tangan Viona hingga dia berdiri. Viona diam terlalu lama membuat Marshal tidak sabaran.
Viona mengikuti langkah Marshal dengan tergesa. Dia menatap punggung Marshal didepannya dengan makian terlontar dalam hati. Sungguh menyebalkan bagi Viona karena Marshal selalu memaksakan kehendaknya dan mau tidak mau Viona harus menuruti apapun yang Marshal lakukan.
Eh, kenapa liftnya naik?
Viona menatap Marshal penuh tanya. Tadi Marshal bilang akan makan siang ke restoran di depan, tapi kenapa malah membawa Viona ke rooftop?
Viona membeliakan mata melihat takjub sekeliling. Di sana ada sebuah Mushola yang lumayan besar dengan desain yang mewah, lantai marmer yang mengkilap disertai perpaduan warna biru dengan putih yang kontras, disebelah utara dan disebelah selatannya terdapat taman yang indah nan menyejukkan mata.
Banyak tanaman hijau dan bunga-bunga yang bermekaran yang tersaji di sana. Ditambah lagi pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang indah terlihat mata. Udara yang berhembus menambah kesejukan di rooftop. Viona tak menyangka jika kantor Marshal punya rooftop yang ditatap sedemikian menakjubkan seperti itu.
"Kamu suka?"
Viona mengangguk dan tersenyum, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Segar, tubuhnya merasakan kebebasan sekarang. Dia seakan lupa pada semua beban yang dipikul batinnya. Semua rasa bosan, keterpaksaan, juga kegelisahan lenyap dalam sekejap. Mood Viona terasa lebih baik merasakan betapa indah dan sejuknya suasana di atas gedung milik suaminya ini.
"Kita sholat dulu! Setelah itu baru makan siang," ucap Marshal menarik tangan Viona menuju Mushola, dengan akses masuknya melewati jembatan kecil yang dibawahnya terdapat kolam yang ditempati ikan-ikan mahal.
__ADS_1
Rasanya sangat menyenangkan saat melewati jembatan itu, karena jembatannya terbuat dari kaca tebal, transparan. Jadi saat melewatinya, kita bisa melihat ikan-ikan yang berenang di dalam kolam dibawah jembatan tersebut.
Selesai sholat, Marshal membawa Viona menuju restoran yang terdapat didepan kantornya. Mereka makan siang berdua, namun pikiran Viona tetap menanyakan kemanakah Rio? Kenapa dia belum juga kembali? Dia ingin menanyakannya pada Marshal, namun keberanian Viona tidak cukup besar untuk melakukan hal itu. Jadilah dia hanya diam dan menyimpan pertanyaan itu dalam kepalanya.