Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Melepaskan


__ADS_3

"Ya, nanti aku bilang sama tuan supaya bonus kalian bulan ini ditambah lagi, oke."


Para pekerja di rumah Marshal bersorak girang dan berterima kasih pada Viona. Majikannya memang sangat baik sampai mau menambahkan bonus bulanan mereka.


"Nyonya mau minum apa?" Erni datang mendekat membawakan Viona beberapa pot bunga sesuai dengan permintaan majikannya.


"Siapkan banyak makanan dan minuman sega!. Kita semua akan kerja bakti membereskan halaman rumah tuan Marshal," ujar Viona disetai tawa renyahnya.


Beberapa pekerja rumah yang ikut membantu terlihat bahagia. Sengaja Viona mencairkan suasana untuk membuat mereka nyaman saat dekat dengannya. Viona merasa bosan jika hanya diam. Jadilah dia mengajak para pekerja untuk sedikit membenahi halaman belakang supaya terlihat lebih tertata lagi.


Di tengah-tengah keasyikannya menanan bunga pada pot besar, Viona dalam posisi sedang berjongkok. Tiba-tiba sebuah tangan mengusap kepalanya. Viona berbalik dengan kaget. Tidak mungkin ada pekerja yang berani melakukan itu padanya. Matanya langsung membulat dengan binar senang melihat Marshal berdiri di belakangnya.


"Kamu sedang apa?"


Viona berdiri dengan cepat. Dia menunjukkan tangannya yang kotor bekas tanah di depan suaminya. "Kapan kamu pulang? Kenapa tidak memberitahu?"


"Aku sengaja memberi kejutan." Marshal mencium kening istrinya yang berkeringat.


Viona menghindar untuk dicium kedua kalinya. "Aku kotor."


"Tetap cantik." Marshal mengusap wajah istrinya dengan lembut. Dia memperhatikan para pekerjanya yang sedang sibuk membenahi halaman belakang. Mereka semua menyempatkan diri untuk membungkuk hormat saat melihat kehadirannya. Marshal tersenyum, mengangguk kepada mereka dan menyuruh mereka untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Apa masalahnya sudah selesai?" Viona berjalan menuju keran. Dia mencuci tangannya sampai bersih.


"Masalahnya belum selesai. Aku sengaja pulang cepat karena tidak mau membuat istriku rindu lebih lama lagi." Marshal mengikuti ke mana pun istrinya beranjak.


Setelah mengeringkan tangan dengan menciprat-cipratkannya, Viona menggapai tangan Marshal dan mencium punggung tangannya dengan sopan. "Tadi kamu bilang belum selesai? Terus kenapa kamu pulang?"


Marshal merangkul bahu istrinya untuk masuk ke dalam rumah. "Aku sudah menemukan pokok masalah. Dan sudah menyerahkan masalah itu untuk ditangani oleh pihak berwajib. Tinggal menunggu panggilan untuk penyelidikan selanjutnya."


Viona menyuruh Marshal untuk duduk di ruang makan dan dia membuatkan minuman segar untuk suaminya. Marshal meminumnya sedikit dan menyimpannya kembali di atas meja. Viona duduk di sampingnya mendengarkan Marshal bercerita banyak tentang masalah yang terjadi. Viona sebenarnya tidak terlalu paham dengan masalah yang sedang ditangani oleh suaminya. Tapi, dia tetap mendengarkan dan menimpali seadanya guna membuat Marshal lebih nyaman. Supaya suaminya juga tidak terlalu stress memikirkan masalah tersebut.


"Sudah makan?" tanya Viona pada Marshal yang melepas jas blazer miliknya. Marshal terlihat sangat lelah saat ini.


Viona beranjak setelah melihat suaminya menggeleng. Dia ingin membawakan Marshal makanan, tetapi suaminya malah menahan tangannya dan meminta Viona untuk duduk kembali.


"Aku sudah pulang, katanya mau bicara. Apa yang akan kamu bicarakan?"


"Nanti saja. Mending kamu makan dulu, ya." Merasa Marshal masih butuh istirahat, Viona tidak langsung bicara pada suaminya. Dia ingin mengambilkan makanan, tapi Marshal menahannya lagi dan bilang jika dia ingin mandi.


***


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan? Apa mengenai masalah konsultasi ke dokter?" Marshal sudah selesai mandi, terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Nanti saja bicaranya. Kamu belum makan."


"Nanti kapan? Katakan saja sekarang! Aku bisa makan setelah kamu selesai bicara." Marshal malah duduk di samping istrinya.


Viona beranjak dari tepi ranjang dan menarik tangan Marshal untuk berdiri. "Ayo, kamu harus makan dulu!"


Marshal mengikuti langkah istrinya. Viona melayaninya mengambilkan makanan dan memaksa Marshal untuk segera makan. Padahal suaminya itu sudah tidak sabar menunggu hal apa yang akan dibicarakan oleh Viona. Karena sepertinya hal yang serius, sampai Viona terus mengulur waktu untuk mengatakannya.


Viona membuka mulut saat Marshal memaksa untuk menyuapinya. Dia tersenyum manis sekali pada Marshal. Terlihat aneh di mata suaminya. Marshal semakin penasaran, sebenarnya apa yang ingin Viona bicarakan? Istrinya terlibat begitu misterius saat berhadapan dengannya.


***


Hari sudah larut malam, tapi kantuk tidak kunjung menyerang.


"Sebenarnya, aku ingin kamu minta maaf sama mama," ucap Viona dengan pelan. Jemarinya menyisir rambut Marshal sambil memijatnya pelan.


Kepala Marshal berada dalam pangkuannya, mendongak melihat Viona dengan bingung. "Kenapa harus minta maaf?"


Viona pun menjelaskan apa yang terjadi saat di pesta maminya Frans. Dia menceritakan semuanya sampai Rahma yang menangis karena merasa sangat malu diolok-olok oleh teman sebayanya.


Raut wajah Marshal berubah seketika menjadi terlihat serba salah. Dia memainkan jemari tangan Viona dengan bingung. "Aku tidak tahu jika masalah ini masih dibicarakan oleh mereka."


"Itulah, makanya aku mau kamu minta maaf sama mama. Bukan hanya mama Rahma, tapi mama aku juga. Mendengar dari cerita mama Rahma, mereka ternyata sudah dua pekan sejak berita itu tersebar, sudah jarang berkumpul kadang bolos jika ada undangan harian untuk kumpul arisan. Mereka terlalu malu jika bersama temannya."

__ADS_1


Marshal terlihat merasa bersalah pada dua wanita paruh baya itu. Masalah sudah Marshal selesaikan dan berakhir, tetapi imbasnya masih saja menimpa keluarganya.


"Aku harus apa sekarang?"


Viona menunduk kembali melihat wajah suaminya. Dia mengusap dahi Marshal dengan tangan kanan, sementara tangan kiri dimainkan oleh suaminya. "Aku rasa, kamu salah jika tetap mengawasi dia. Masalah tidak akan berhenti jika kamu masih berurusan sama dia."


"Kamu ingin aku benar-benar melepaskan dia? Berhenti peduli padanya?"


"Em ...,"-Viona nampak berpikir, kemudian mengangguk-"mungkin."


Marshal terdiam sedang menimbang-nimbang. Dia tetap memainkan jemari tangan istrinya untuk sedikit membuatnya tenang. "Apa menurutmu mama akan baik-baik saja setelah ini?"


Viona mengangguk sambil mengusap kepala suaminya. "Mama pernah sakit hati sama nona Amanda. Dan itu bukan terjadi satu kali, tapi berkali-kali. Mama membencinya. Dan mengetahui hal itu, teman mama malah semakin membicarakannya. Mama pernah dimaki sebagai ibu yang tidak tahu diri dengan melarang anaknya berhubungan dengan wanita lain, oleh Amanda."


Marshal tercengang mendengarnya. "Dari mana kamu tahu itu?"


"Mama Rahma yang bilang. Amanda mengatakan itu di depan temannya mama. Kamu pikir, apa mama akan menerima perlakuan seperti itu?"


Marshal terdiam. Cerita tersebut baru dia dengar. Marshal tahu, Rahma memang sangat tidak menyukai Amanda, tapi dia tidak tahu jika ucapan Rahma tentang Amanda itu adalah benar adanya. Selama ini Marshal hanya menganggap ucapan Rahma hanya angin lalu. Rahma menjelekkan Amanda karena dia tidak suka Marshal menikahinya. Tapi, ternyata ...


"Apa mama juga pernah bilang jika dia tahu Amanda pernah tidur dengan laki-laki lain?"


Viona mengangguk dengan cepat. "Kamu juga tahu?"


"Awalnya aku tidak percaya dengan ucapan mama. Tapi, kemarin, saat Amanda marah, dia mengatakan semuanya, Sayang. Apa yang aku dengar membuat keputusanku bulat untuk memutuskannya. Ya, dia sudah tidak gadis lagi. Dia bilang sama aku dan semua kelakuannya di belakangku, dia juga mengatakannya."


Viona memijat dahi suaminya yang mengerut mengingat rasa kecewa. Ditatapnya mata Marshal lekat, Viona melihat ada rasa sedih di sana. "Terus kenapa kamu tidak percaya dengan ucapan mama?"


"Entahlah. Dulu aku terlalu menyayangi Amanda sampai aku tidak mendengar apa yang mama dan papa ucapkan. Sekarang, semua yang mereka katakan malah jadi timbal balik. Aku mulai kepikiran tentang Amanda setelah nikah sama kamu. Aku mulai membandingkan kamu sama Amanda. Karena melihat keluargaku yang langsung menerima kamu sejak pertama kali dikenalkan. Berbeda dengan Amanda. Tiga tahun aku berjuang meraih restu, mereka malah dengan sengaja menghiraukan apa yang aku mau."


Viona mendengarnya ikut merasa iba. Marshal bercerita banyak padanya hari itu. Semua tentang Amanda dan bagaimana sikap keluarganya. Dari sana Viona jadi paham, Marshal memang begitu menyayangi Amanda sampai dia buta dengan orang di sekitarnya.


"Apa kamu menyesal sekarang?"


Marshal menggeleng, mengusap wajah istrinya yang selalu menunduk melihat padanya. "Aku tidak pernah menyesali apa yang sudah aku lakukan. Setidaknya dengan mengenal Amanda dan tahu bagaimana sifatnya, aku jadi tahu seperti apa wanita yang baik untuk dijadikan istri yang bisa diterima keluargaku."


Mereka tertawa bersama setelah Marshal mengatakan, "Iya."


"Chal?"


"Hm?" Marshal baru saja mengubah posisinya menjadi telungkup di samping istrinya. Dia mengangkat wajah untuk bisa melihat pada Viona.


Orang yang dilihat malah nampak  ragu untuk berucap. Viona memandangi Marshal lekat, dia tersenyum canggung pada suaminya. "Em ... jika aku bertanya dan punya keinginan, apa kamu akan menanggapinya?"


Marshal langsung mengubah posisi jadi menyamping. Istrinya terlihat begitu serius membuatnya jadi penasaran. "Kamu ingin apa, katakan!"


"Em ... Jika ... aku meminta kamu untuk melupakan Amanda, apa bisa?" Viona menggigit bibir bawahnya. Dia menunduk saat Marshal memandanginya dengan tatapan yang penuh dengan rasa aneh.


Heran memang jika Viona tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Terlebih, selama ini Viona tidak pernah mau membahas masalah Amanda. Tapi, melihat dari raut wajahnya, Viona memang serius mengatakan hal itu barusan padanya.


"Kenapa memangnya?"


"Aku ...," Viona menunduk dengan posisi sedang duduk. Jemarinya saling bertautan di atas pangkuan. "aku hanya ... aku sebenarnya sangat ingin jika kita hanya fokus dengan hubungan kita. Tidak memikirkan lagi orang lain. Aku sudah melakukannya terhadap Sendi, dan aku maunya, ya ... itu pun jika kamu mau dan bisa melakukannya. Tapi, aku tidak memaksa. Aku hanya berharap saja."


Marshal langsung bangun dari posisinya. Dia duduk berhadapan dengan Viona yang masih menunduk. Diraihnya tangan Viona untuk dia genggam, Marshal mengusapnya perlahan penuh kelembutan. Dia juga inginnya seperti itu, tetapi dia tetap masih saja merasa harus peduli terhadap Amanda.


"Lihat aku!"


Viona mengangkat wajah untuk membalas tatapan suaminya. Mereka terdiam saling pandang dengan pikiran yang masih berspekulasi sendiri.


"Aku hanya ingin ... tidak akan memaksa," ucap Viona pada suaminya yang masih terdiam. "Aku tahu, pasti sangat sulit  melakukannya. Tapi, aku sangat berharap kita bisa saling paham, meskipun mungkin aku belum bisa mencintai kamu, tetapi apa salahnya jika aku menginginkan hal itu, kan?"


Marshal masih terdiam memandangi istrinya. Perasaannya memang senang mengetahui jika kini Viona sudah mau memikirkan untuk kebaikan hubungan mereka. Tapi, rasa sulit memang begitu terasa. Bukan karena Marshal mencintai Amanda, tetapi karena dia masih peduli pada wanita itu. Amanda tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi ...


Marshal tersenyum dan mengecup tangan Viona yang berada dalam genggaman tangannya. "Aku ingin melakukannya. Lagian, sekarang Amanda berada jauh dari kita. Aku rasa, aku akan mencobanya."


Viona memandang Marshal tidak percaya. Semudah itu Marshal menyetujui keinginannya? “Kamu yakin?”

__ADS_1


“Saat kamu memutuskan untuk melupakan laki-laki itu, apa kamu langsung merasa yakin?”


Viona mengernyit dalam sebelum dia memahami maksud dari suaminya yang malah balik bertanya. Mulanya, memang tidak yakin. Tapi, keyakinan itu bisa diwujudkan jika Viona tetap berusaha untuk melupakannya dengan tidak mengingatnya lagi.


“Chal!”


“Hm? Bagaimana? Apa kamu mendapatkan jawabannya?”


Viona tersenyum tipis. “Sebenarnya, apa yang kita rasakan itu berbeda, tapi apa yang kita alami hampir sama. Kita sama-sama menjalani pernikahan di saat hati kita masih tertuju pada orang lain. Sekarang, kita ingin memperbaiki pernikahan, dan harus belajar untuk mencintai dari awal.”


Marshal terkekeh pelan. “Bukan seperti itu. Kasusnya berbeda. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, Sayang. Sekarang, yang aku rasakan terhadap Amanda hanya sikap peduli. Aku masih merasa ingin menjaganya karena dia sudah tidak punya keluarga lagi.”


***


"Kamu menelepon siapa?"


Marshal berbalik badan. Viona muncul di balik pintu balkon menemuinya yang baru saja selesai menghubungi seseorang.


"Aku menghubungi Vennay, menanyakan bagaimana kabar Amanda. Katanya dia sudah membaik dan mereka akan pindah ke Milan dan menetap di sana. Kontrak kerja Amanda yang Rio buat akan berlaku mulai bulan depan. Dia akan bekerja di sana dengan jangka waktu yang lama."


Viona mengangguk paham. Dia duduk di kursi yang ada di balkon kamar mereka, sedangkan Marshal menyandarkan pinggang di pagar. "Hanya menghubungi Vennay? Tadi aku dengar kamu menghubungi beberapa orang."


"He'em. Aku juga menghubungi orang suruhanku yang mengawasi Amanda. Aku menghentikan mereka untuk terus memantau. Berakhir dan aku sudah benar-benar melepaskan Amanda untuk hidup bebas di luar sana. Aku dengar juga dari Vennay, dia akan menjodohkan Amanda dengan pengusaha cosmetics ternama di Milan. Aku tenang, dia sudah bisa memulai hidupnya kembali di sana."


Viona tidak percaya jika suaminya akan cepat bertindak. Marshal sungguh menuruti semua permintaannya untuk berhenti berurusan dengan Amanda.


"Sayang?" Marshal bersimpuh di hadapan istrinya setelah dia menyimpan ponsel di atas meja, samping kursi tempat Viona duduk.


"Kenapa?" Viona melihat heran pada Marshal yang menggenggam tangannya dengan erat.


"Masa lalumu sudah bertunangan, dan Amanda sudah aku bebaskan untuk memulai kehidupan baru di sana." Marshal menatap lekat mata istrinya yang bulat dan bersih. "Apa kita juga bisa memulai kehidupan yang sesungguhnya setelah ini?"


Viona tersenyum geli. "Kamu ingin memulainya dari mana lagi? Kita sudah sampai di tengah perjalanan. Pilihannya hanya dua, mundur untuk kembali memulai dari awal, atau meneruskan jalan sampai menuju titik tujuan?"


"Jika kita mundur dan memulainya dari awal, ceritanya pasti tidak akan seperti ini."


Viona mengangguk dan memberikan senyuman kembali. "Lebih baik meneruskan apa yang sudah kita mulai. Setidaknya kita sudah tahu, apa yang sudah kita lewati dan bisa memprediksi kemungkinan yang akan terjadi. Jalan pasti semakin berlintang. Berkelok-kelok dan entah apa yang akan terjadi di jalan tersebut nantinya."


"Mungkin kita akan tetap melewatinya sampai rintangan itu berubah menjadi jalan mulus yang di samping jalannya terdapat memandangan indah yang menyenangkan."


Viona tertawa mendengarnya. Dia mengusap rahang suaminya dan mencubitnya dengan gemas. "Kamu ini sedang bercerita dongeng apa? Jika kita terus menempuhnya, Rio pasti lelah menyetir."


"Kenapa Rio?"


"Bukankah jika kita pergi, selalu dia yang mengemudi?"


Marshal menggelengkan kepala dan ikut tertawa. Viona malah menyamakan jalan kehidupan dengan jalan raya yang sering mereka lalui. "Itu beda, Sayang."


Viona terkekeh geli melihat suaminya yang tertawa. Harusnya romantis, tapi mereka tidak bisa melakukannya.


"O, iya, kapan kita ke dokter?"


Viona mengedikkan bahu. Dia lupa akan hal itu. Untung saja Marshal mengingatkannya. "Bagaimana jika besok? Kamu libur, kan?"


Marshal menganggukkan kepala. Tapi, dia berpikir kembali. "Jika aku libur, dokter juga libur, kan? Mereka tidak bekerja di tanggal merah."


"Berarti kita perginya lusa."


Marshal nampak terdiam. Dia menyeringai. "Tidak. Malam ini saja. Aku punya kenalan dokter obgyn. Kita bisa pergi ke tempatnya nanti."


"Lusa aja. Kalo malam, aku malas pergi."


"Tapi, aku mau kita memulainya malam ini, Sayang."


Ambigu. Viona terdiam. Dia tidak tahu maksud "memulainya" menurut ucapan Marshal yang kali ini terarah ke mana. Dan, seketika takut menghampiri saat Marshal mendekat dan berbisik padanya,


"Aku mau kita memulai ibadah pernikahan malam ini."

__ADS_1


__ADS_2