
Maaf, dua hari cerita tidak di update. Tapi tenang, sudah saya ganti dengan tiga episode sekaligus.
Happy reading, guys!😘😘😊😊
___________
"Inget, jangan ngomong macam-macam sama Mama!" Viona menatap tajam kedua sahabatnya, memperingatkan. Aness dan Frans hanya mengangguk, mematuhi.
Setelah berdebat lama, Viona yang memang tidak punya uang dan tidak mau ditraktir oleh kedua sahabatnya, lebih memutuskan untuk pergi ke rumah Heru. Dia menjadikan kesempatan keluar dari rumah Marshal ini untuk berkunjung karena sudah sangat rindu dengan keluarganya.
Aness dan Frans mengikuti saja kemauan Viona. Mereka mengerti jika Viona pasti merindukan keluarganya setelah selama seminggu tidak bertemu. Dan di sinilah mereka berada, di depan rumah Heru yang megah.
Viona turun dari mobil, berjalan masuk ke dalam rumah diikuti kedua sahabatnya. Dari kejauhan beberapa orang yang bekerja di sana mulai berseru senang melihat kehadirannya yang memang sudah sangat dinantikan.
"Viona ...!" Lina tergesa menghampiri anaknya yang baru melangkah masuk saat pelayan membukakan pintu. Dia langsung menyongsong tubuh Viona, memeluknya erat, menyalurkan rasa rindu yang sama-sama besar di antara keduanya.
"Aku kangen," Viona sampai berkaca-kaca. Teramat senang bisa bertemu kembali dengan ibu tercinta. "Mama gimana kabarnya?" Dia melerai pelukannya, meskipun sulit. Rasanya tidak mau melepaskan satu sama lain.
Lina tersenyum dengan bahagia, tetapi air mata menggenang membuat Viona dengan segera mengulurkan tangan untuk mengusapnya. "Alhamdulillah, Mama baik. Bagaimana kabarmu? Mama rindu!" Mereka berpelukan kembali.
"Aku baik, Ma."
Aness dan Frans tersenyum. Sangat terharu melihat ibu dan anak itu melepas rasa rindu. Mereka saling tatap dalam diam. Kemudian, Aness mengangguk saat mendapat isyarat melalui tatapan Frans. Dan mereka berpamitan untuk pulang. Tidak mau mengganggu kehangatan antara Viona dan Lina. Biarlah mereka melepaskan rindunya dulu, tugas Aness dan Frans hanya sekadar untuk mengantarkan Viona pada kebahagiaannya untuk saat ini. Rencana ke salonnya biar di pending dulu saja, karena di sini ada yang lebih penting.
"Kok, pulang?" rajuk Viona saat Aness mengutarakan niat mereka. Viona memandang kedua sahabatnya tidak rela. Dia masih ingin bersama mereka, tapi Aness dan Frans terus bilang jika Viona butuh waktu untuk bersama dengan Lina. Dengan terpaksa Viona mengizinkan mereka untuk pergi.
"Sudah makan, Sayang?" tanya Lina. Setelah kepergian Frans dan Aness, mereka berjalan beriringan menuju dapur. Katanya, Lina sedang membuat puding kesukaan Viona karena setiap hari dia selalu merindukan putri semata wayangnya. Dan ternyata Viona malah datang hari ini tanpa memberitahu dulu. Lina senang dengan kejutan yang mengesankan itu. Dia memang sudah sangat merindukan Viona.
Setiap hari, dia membujuk Heru supaya berkunjung ke rumah Marshal, menjenguk Viona, tetapi Heru selalu sibuk dan tidak punya waktu untuk mengabulkan keinginannya. Jadilah kerinduan itu semakin hari semakin menggunung dan hari ini meletus dengan bahagia.
Viona menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum. "Belum, Ma."
Lina mengusap pipi anaknya dengan sayang. Meminta Viona duduk di meja makan, supaya makan. Tapi, Viona menolak. Dia lebih tertarik untuk membantu ibunya membuat puding yang rasanya sudah sangat dia rindukan. Mereka membuat puding bersama dengan perasaan bahagia yang tidak pernah pudar, bahkan keduanya tidak henti untuk bersenda gurau, melepas semua perasaan yang tertahan selama seminggu ini.
"Kamu bahagia berada di rumah itu?"
__ADS_1
Viona yang sedang memasukkan puding ke dalam kulkas, membalik badan menghadap Lina yang sedang menatapnya dengan hangat di meja makan. "Ya, aku bahagia, Ma," sahutnya disertai senyuman.
Lina mengucap syukur. Tapi perasaan bersalah pada anaknya masih bisa dia rasakan. Tidak seharusnya dia melakukan semua itu. Tapi, mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Mau tidak mau, rela tidak rela, dia hanya bisa berdoa semoga Viona bisa bahagia dan bisa memaafkannya. "Apa Marshal baik sama kamu?"
Setelah menutup pintu kulkas, Viona menghampiri Lina dan duduk di samping ibunya. "Dia baik, Ma. Kenapa memangnya?"
Lina menghela napas lega mendengarnya. "Mama cuma khawatir sama kamu. Mama takut-"
"Ma," Viona menyela ucapan ibunya dengan pelan, "Mama gak perlu khawatirin aku. Aku baik-baik saja di sana. Mama lihat sendiri 'kan, aku masih cantik," guraunya mendapat cubitan kecil di pipi dari sang ibu. Viona malah tertawa dengan renyah.
"Kamu tuh, ya ...."
Viona melirik sekitaran ruangan. Suasana rumah itu terasa sepi tidak seperti saat dia masih tinggal di sana. Heru sedang bekerja, begitu pun dengan Vino. Di sana hanya ada Lina dan beberapa pekerja rumah. Viona jadi merindukkan kehangatan rumah itu lagi. Padahal dia baru seminggu pindah dari sana, tapi rasanya sudah bertahun-tahun tidak pulang.
"Kamu merasakannya?" Lina tersenyum getir melihat pandangan Viona yang sibuk menyapu seluruh sudut ruangan. "Rumah sepi gak ada kamu. Mama kesepian ditinggal sendiri terus. Papa sama kak Vino sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, mama jadi gak ada yang nemenin."
Tidak tega rasanya melihat raut wajah Lina yang terlihat bersedih. Viona mengusap lengan Lina dan tersenyum padanya. "Maaf." Entah maaf untuk apa yang Viona ucapkan. Tapi dia merasa iba dan tidak enak hati melihat ibunya kesepian. "Aku janji, akan sering berkunjung ke sini!"
Lina mengangguk dan tersenyum. Dibawanya Viona untuk dia peluk. "Bahagia selalu, Sayang! Mama sayang kamu."
Viona mempererat pelukannya. Matanya selalu memanas jika mendengar ungkapan sayang dari ibunya karena itu juga yang dia rasakan. Cinta, kasih, sayang, dan pengorbanan selalu Lina berikan padanya. Viona bersyukur mempunyai ibu yang sangat menyayanginya. "Aku juga sayang Mama."
Viona mengangguk dan kembali duduk. Tidak berapa lama, mang Oding-salah satu pekerja di rumah itu menghampiri. "Ada kiriman, Nyonya," lapor mang Oding menyerahkan satu paper bag besar berwarna hitam dengan logo putih di depannya.
Lina merimanya dengan bingung. "Dari siapa?" Dia mengintip isinya sebentar.
"Dari besan, kata kurirnya."
Lina dan Viona saling pandang. Besan? Siapa? Mereka masih saling diam memperhatikan paper bag yang masih dipegang oleh Lina. Mang Oding pamit untuk kembali bekerja dan berlalu setelah Lina mempersilakan.
"Mertua kamu?" tanya Lina mendapat respon tak acuh dari Viona yang mengedikkan bahunya. Dia juga tidak tahu. Memangnya dari siapa lagi, besan mereka cuma orangtuanya Marshal, karena Vino belum menikah. Jadi, baru calon besan, sedangkan ini tadi mang Oding bilang dari besan. Berarti mertuanya Viona, kan?
Lina menyimpan paper bag itu di atas meja makan, membukanya dengan penasaran. Di dalamnya, terdapat sebuah gaun dengan warna perpaduan biru dan silver disertai beberapa manik kristal putih di depannya. Terlihat sangat cantik. Ada juga secarik kertas undangan kecil dengan coretan tambahan di baliknya, bertuliskan,
~Besan, tiga hari lagi acara Grand Opening cabang butik baruku. Datang dengan mengenakan gaun itu! Kita akan couple-an. Jadi, jangan lupa datang bersama keluarga kalian! Kehadiran keluarga besan sangat kami nantikan.~
__ADS_1
Rahma.
"Undangan Grand Opening butik mertua kamu."
Viona hanya diam memperhatikan Lina yang sedang membolak balikkan gaun pemberian dari Rahma tersebut. Dia tidak tahu jika hubungan Rahma dan Lina sudah terjalin sebaik itu. Entah dia harus bahagia atau ... entahlah. Dia sendiri masih belum bisa sepenuhnya dekat keluarga Marshal.
"Yuk, ke kamar Mama! Mama mau coba bajunya," ajak Lina dengan antusias. Menarik Viona dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menenteng paper bag. Viona hanya mengikuti dalam diam. Jika Lina bahagia, dia pun ikut bahagia melihat reaksi ibunya.
"Bagus, kan?" tanya Lina memutar-mutar tubuhnya yang sudah mengenakan gaun pemberian besannya itu di depan Viona yang sedang duduk di tepian ranjang.
Viona mengangguk dan tersenyum melihat wajah ceria ibunya yang teramat senang mendapat hadiah dari besannya itu. "Bagus, Ma!" pujinya, mengacungkan kedua jempol tangan. "Sejak kapan Mama akrab sama nyonya Rahma?" tanya Viona dengan penasaran yang malah dapat pukulan kecil dari ibunya.
Viona sampai tersentak saat Lina memukul lengannya. Salah dia apa?
"Kamu tuh, ya .... masa sama mertua manggil nyonya," omelnya disertai gelengan kepala.
Viona nyengir dengan polos. Selalu saja dia di omeli hanya karena panggilan. Dia 'kan belum terbiasa. Jadi, wajar saja jika selalu salah menyebut. "Mama sama mertuaku udah akrab banget kayaknya, sampe dikirimin gaun begini. Couple-an lagi."
"Iyalah, sejak kalian menikah, Mama sama Rahma itu sering banget komunikasi, bahkan kita sekarang satu perkumpulan, lho," jelas Lina dengan santai sambil mengganti kembali pakaiannya.
Viona menganga tak percaya mendengar ucapan Lina. Apa mereka sudah sedekat itu? Padahal baru seminggu mereka menjadi besan. Lina bahkan menyebut ibu mertua Viona itu langsung dengan nama tanpa ada embel-embel. Viona tidak menyangka jika hubungan Lina dengan Rahma sudah seakrab itu sampai satu perkumpulan ibu-ibu, sosialita tentunya. Dia saja yang sudah menjadi menantunya, belum merasa nyaman saat bertemu dengan Rahma. Tapi, Lina kini berteman baik dengan ibu dari suaminya itu. Kenapa bisa begitu?
"Oh iya, Dek," Lina yang baru selesai mengganti pakaian dan menyimpan gaunnya, duduk di samping Viona. "Mama penasaran, kalo bertanya sama kamu, boleh?"
Viona menautkan alisnya. "Kenapa, Ma?"
"Tapi kamu jawab jujur, ya!"
Dahi Viona mengernyit semakin dalam. Hal apa yang akan Lina tanyakan? Dia harus siaga. Mempersiapkan diri karena berbagai kemungkinan bisa saja Lina tanyakan dengan tidak terduga jika sudah seperti ini. Bisa saja pertanyaannya sangat sensitif atau membahayakan. Dia tahu betul bagaimana sikap ibunya jika sudah seperti ini.
"Apa kamu benar-benar sudah menerima pernikahan ini?"
Nahkan, apa yang Lina tanyakan cukup membuat Viona kelimpungan dalam diam. Tapi, dia berusaha untuk terlihat biasa saja di depan Lina. "Ya, aku menerima pernikahan ini, Ma. Lagian jika aku tidak menerimanya juga tidak ada gunanya. Pernikahan ini sudah terjadi, mau tidak mau aku menerimanya dan aku sudah menerimanya dengan ikhlas, Ma. Kenapa memangnya?"
Ditatapnya lekat wajah sang putri. Lina tidak melihat keraguan dari cara Viona bicara, tapi air mukanya sedikit terlihat lain. Dia mulai khawatir, membuat rasa bersalahnya kian terasa. "Benarkah?"
__ADS_1
Viona mengangguk dengan meyakinkan. Masih harus siaga. Dia belum tahu arah pembicaraan Lina akan ke mana menepinya.
Kini Lina yang terlihat ragu untuk berucap. Dia menatap Viona dengan lekat dan mengunci arah pandang putrinya. "Emm ... Dek, apa kamu sudah mencintai Marshal?"