Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bukan balas dendam


__ADS_3

"Tuan, bisa tidak, jangan tidur dalam posisi seperti ini? Saya tidak nyaman. Tolong lepaskan!" Viona menggeliatkan tubuhnya untuk terlepas membuat Marshal tersadar dari lamunannya.


"Aku mencintai Amanda," ucap Marshal dengan tiba-tiba.


Kalimat yang keluar murni dari hatinya. Bukan bermaksud balas dendam, dia memang mencintai Amanda dan juga,


Tidak mau kehilangan Viona.


Sulit dimengerti memang, tapi itulah kenyataan yang dia rasakan. Perasaaan yang semberaut terus menuntut dirinya menjadi seorang pria yang egois setelah dia bisa menikahi Viona.


Awalnya Viona bingung. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum pada Marshal saat dia melepaskan diri dari rengkuhan Marshal dan langsung terduduk. "Apa saya boleh menanyakaan sesuatu?"


Marshal yang semula kaget dengan ucapannya sendiri karena dia juga tidak sadar saat mengatakan hal itu, kini mulai mengernyit menatap pada Viona. "Bertanya tentang apa?"


Sebelum bicara, Viona membenahkan dulu posisi duduknya menghadap pada Marshal yang masih berbaring, terdiam menunggu pertanyaannya. "Tentang Nona Amanda," ucap Viona membuat Marshal menyeringai.


Apa dia akan marah karena aku bilang mencintai Amanda? Dia cemburu? batin Marshal senang. Tapi perkiraannya salah karena Viona malah berkata, "Nona Amanda sangat baik, cantik juga pintar, sangat cocok dengan Tuan. Kalian saling mencintai dan saya berharap kalian akan selalu bersama. Kenapa kalian tidak menikah saja?"


Melongo. Marshal tidak tahu apakah ada makna tersirat dari ucapan Viona atau memang begitu maksud sebenarnya. Tapi Marshal heran, kenapa Viona malah mengatakan hal seperti itu? Apa Viona tidak marah atau cemburu padanya?


"Kenapa kamu bilang seperti itu?"


Dia menautkan alisnya dalam. "Memangnya kenapa, Tuan? Apa ucapan saya ada yang salah? Saya hanya mengungkapkan harapan supaya Tuan dan nona Amanda bisa terus bersama,"


Dan segera melepaskan aku dari pernikahan ini, lanjut.Viona dalam hati.


"Kamu mendukungku dengan Amanda?"


Viona mengangguk yakin sambil mengangkat tangan kanannya. "Saya mendukung hubungan kalian. Dan saya janji tidak akan pernah mengganggu hubungan kal-" ucapannya terhenti karena Marshal segera meraih tangan Viona, diturunkan dan diletakkan di atas dadanya.


Dengan segera Viona menarik kembali tangannya. Dia menatap Marshal dengan tajam karena tidak suka dengan perlakuannya.


"Kenapa kamu begitu mendukungku?" tanya Marshal dengan tenang. Tetap berbaring menatap Viona di depannya. "Harusnya kamu marah bukan mendukungku seperti itu."


Hela napas dalam. Viona menatap Marshal dengan jengah. Bukannya Marshal yang bilang jika Viona tidak boleh mencampuri urusannya? "Kenapa saya harus marah, Tuan? Bukan hak saya untuk melakukan hal itu. Tuan sendiri yang bilang jika urusan Tuan bukan urusan saya. Jadi, tidak ada sangkut pautnya dengan saya," ucap Viona dengan tenang.


Marshal hanya tersenyum senang punya istri yang bagus ingatannya dan juga penurut. Itu berarti dia masih bisa berhubungan dengan Amanda tanpa takut diamuk Viona.

__ADS_1


Tapi, hati kecilnya tetap ingin jika Viona marah dan cemburu padanya, seperti yang dirasakan Marshal saat ada Sendi. Namun, Viona sepertinya memang tidak peduli membuat Marshal sedikit bingung juga kecewa.


"O iya, Tuan," ucap Viona lagi, "Sudah berapa lama Tuan berhubungan dengan Amanda?"


Marshal terdiam. Batinnya mencibir sambil melihat Viona dengan sebal. Bukankah barusan Viona bilang tidak akan mengurusi hubungannya dengan Amanda. Tapi, sekarang Viona malah bertanya sudah berapa lama. Itu namanya mencampuri, bukan? Atau lain judul jika berhadapan dengan wanita?


Melihat Marshal yang terdiam, Viona malah terkikik sambil meminta maaf pada Marshal dan berkata, "Harusnya saya tidak bertanya seperti itu karena bukan urusan saya."


Marshal tersenyum heran. Tidak ada salahnya juga jika Viona mengetahui semuanya termasuk hubungannya dengan Amanda. Toh, Viona juga tidak keberatan dengan hal itu.


Uluran tangan Marshal yang menggapai tubuhnya membuat Viona menatapnya tidak paham. "Sini, biar kuceritakan," ucap Marshal.


Viona semakin heran. Apa Marshal akan menceritakan tentang Amanda pada Viona? "Cerita apa, Tuan?"


Marshal malah tersenyum. Menepuk dadanya supaya Viona menyandarkan kepalanya di sana. Tapi Viona tetap diam. Tidak paham dengan apa yang Marshal perintahkan. "Sini, kamu mau tahu tentang hubunganku dengan Amanda, bukan? Akan aku kasih tahu semuanya." Marshal kembali menggapai Viona yang masih terdiam dengan bingung.


Dengan terpaksa Viona menuruti perintah Marshal. Dia jadi gugup sendiri saat menyandarkan kepala di dada bidang suaminya yang sampai terdengar detak jantungnya ditelinga Viona.


Marshal menceritakan semuanya pada Viona sambil merangkul tubuh istrinya.


Marshal dan Amanda sudah menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya. Mereka saling mencintai. Marshal mengenal Amanda saat dia sedang berada di Ausie untuk menjenguk temannya yang sedang berada di rumah sakit akibat kecelakaan.


"Berarti sampai sekarang Tuan sangat mencintai Nona Amanda?" potong Viona, mendongak untuk bisa memandang wajah Marshal.


Apa dia akan marah? Atau dia tidak suka jika Marshal mencintai Amanda? Alangkah senangnya jika memang itu yang Viona rasakan, tapi sepertinya tidak mungkin. Viona terlihat biasa saja saat menanyakan hal itu. Tidak terlihat marah ataupun cemburu sama sekali. Marshal rada kecewa melihatnya.


"Ya, aku sangat mencintainya," jawab Marshal sembari mengelus kepala Viona.


"Lalu, kenapa Tuan malah menikahi saya? Harusnya Tuan menikah dengan Nona Amanda," ucap Viona yang sangat-sangat dirundung rasa penasaran karena pertanyaan itu sudah lama dia pendam dalam benak dan berharap akan segera terpecahkan.


Marshal terdiam memandangi Viona. Jika harus mengatakan alasannya sekarang, sudah pasti semuanya akan terbongkar. Banyak kebohongan yang sudah dia lakukan dan jika dia menjelaskan semuanya pada Viona, dia tidak yakin jika Viona akan tetap bersamanya.


"Tuan?" Viona merasa geram saat Marshal malah terdiam. Dia sudah sangat penasaran menantikan jawaban tapi Marshal tak kunjung buka suara. "Tuan, jadi kenapa ...?"


"Kenapa apanya?"


Viona mendengus pelan. Kenapa Marshal malah balik bertanya disaat Viona sendiri masih menantikan jawabannya.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi, lain waktu aku janji akan mengatakan semuanya padamu."


Viona memincing melihat Marshal dengan tajam. Sepertinya ada yang Marshal sembunyika darinya. Tapi, apa? Kenapa Marshal tidak mau menjawab pertanyaannya disaat Viona sudah menunggunya buka suara?


Sadar istrinya menatap tajam, Marshal jadi salah tingkah. Dia tahu jika apa yang dia katakan tidak bisa membuat Viona yang dirundubg penasaran merasa puas. Tapi, dia benar-benar tidak bisa mengatakannya sekarang. Ya, walaupun semua kebohongannya juga akan terkuak dengan perlahan.


"Tanyakan hal lain saja, aku akan menjawabnya." Marshal langsung mengalihkan pembicaraan karena merasa tidak enak saat diperhatikan terus oleh istrinya yang terdiam sembari menatapnya tajam.


Viona semakin yakin. Dari awal dia sudah menduga jika ada yang Marshal sembunyikan darinya karena pernikahan mereka membuat kepala Viona pening diserbu dengan banyak pertanyaan.


Kenapa Marshal hanya meminta menikahi Viona, tidak meminta hal lain saat membantu perusahaan Heru?  Kenapa Marshal malah menikahinya disaat dia masih punya kekasih yang bahkan masih berhubungan baik dengannya? Kenapa Amanda mengizinkan Marshal menikahi Viona? Apa dia tidak marah? Dan banyak lagi hal yang belum bisa Viona pahami.


Yang dia tahu, menikah dengan Marshal karena sudah membantu keluarganya yang sedang kesusahan. Masalah alasan lainnya masih cukup membingungkan buat Viona yang memang tidak tahu sama sekali tentang pemikiran Marshal yang telah melakukan semua ini.


****


"Aku berangkat." Marshal memandangi Viona yang tengah tersenyum.


Viona mengulurkan tangannya yang membuat kening Marshal mengkerut dalam. "Tuan ..." Sebenarnya Viona ingin salim tapi Marshal tidak paham dengan yang Viona lakukan, dia hanya memandangi Viona dengan bingung.


  Apa yang akan dia lakukan? Untuk apa mengulurkan tangan padaku? Meminta uang kah?


  Karena Marshal hanya terdiam, Viona meraih tangan Marshal dengan cepat dan mengecup punggung tangannya. "Salim," lirihnya menunduk. 


Marshal tertegun dengan tindakan Viona. Dia kaget. Tindakan Viona sama sekali tidak terduga. Entah mengapa dia bisa memberanikan diri mencium tangan Marshal untuk pertama kalinya disaat Marshal akan berangkat bekerja.


  Ah, bodo. Dia tidak mau juga. Tetap saja dia suamiku, sudah sepantasnya aku mencium tangannya, batin Viona.


Marshal berdehem. Tidak tahu kenapa bisa jadi gugup seperti ini. Debar jantungnya mulai dag-dig-dug. Apa mungkin karena kaget dengan tindakan Viona yang menghormari suami?


"Ekhem." Sekali lagi Marshal berdehem. Tiba-tiba saja kecanggungan tercipta di antara mereka. "Baiklah. Aku berangkat dulu." Viona mendongak dan tersenyum simpul dengan pipi yang entah sejak kapan sudah merona.


  Marshal membalas senyumannya dengan ragu. Kemudian dia berbalik badan menuju mobil yang di dalamnya sudah ada Rio yang siap mengemudi. Namun, dalam sedetik kemudian Marshal kembali membalikkan badan. Menghadap Viona. Dan mengecup keningnya lembut.


  Dia langsung berlalu masuk ke dalam mobil dengan tergesa. Merasa malu atas tindakannya barusan. Entah terbersit dari mana ide untuk mencium kening Viona. Yang jelas sekarang debar jantungnya makin tidak beraturan.


  Sedangkan Viona masih mematung. Tangannya mengusap kening bekas kecupan Marshal. Pipinya semakin merona. Dia tak menyangka Marshal akan melakukan tindakan sejauh ini.

__ADS_1


"Ayo berangkat!" Rio mengangguk dan mulai melajukan mobilnya setelah mendapat intruksi dari sang tuan.


  Viona tersenyum. Menundukkan kepala sampai mobil Marshal benar-benar hilang. Keluar dari gerbang besar rumahnya.


__ADS_2