Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Ketahuan


__ADS_3

"Honey, lepaskan aku!"


"Diam, Manda! Kamu harus pergi dari tempat ini secepatnya." Dengan tergesa dia menarik Amanda. Namun, karena di sana banyak orang yang hadir, sehingga jalanan yang dia lalui sedikit sulit untuk dilewati dengan cepat karena selalu berpapasan dengan orang lain.


Bruk!


"Marshal!" Amanda menjerit. Dia terjatuh. Otomatis Marshal yang sedang menarik tangannya ikut terseok dan menimpa kakinya. Jeritan semakin kencang dikeluarkan oleh Amanda karena kakinya sakit tertindih tubuh kekar kekasihnya.


Langkah Marshal terlalu cepat sehingga dia tidak bisa mengikutinya dengan benar. Karena dia juga terus berontak sehingga keseimbangan kakinya untuk berjalan jadi oleng.


Segera Marshal berdiri dengan masih panik. Beberapa orang memperhatikan mereka dengan kaget. Dari kejauhan, Viona yang memang sedari tadi hanya diam memperhatikan, dia berlari segera menghampiri.


"Lihat 'kan, aku jadi terjatuh?" Amanda meringis. Matanya sudah berkaca-kaca membuat Marshal merasa bersalah dan panik secara bersamaan. Marshal membantunya untuk berdiri.


Karena kaki Amanda yang sakit akibat tertindih oleh Marshal dan keseleo, dia tidak bisa berdiri dengan tegak. Tubuhnya kembali terhuyung. Marshal cepat menahannya. Merangkul pinggang Amanda supaya tidak kembali ambruk.


"Sakit ...." ringis Amanda melingkarkan tangannya di leher Marshal saat dia dibantu untuk tetap tegak berdiri.


Marshal semakin merasa bersalah. Dia merangkul Amanda erat dan berniat untuk segera membawa kekasihnya menjauh dari tempat itu. Tidak mau sampai ketahuan orangtuanya karena telah membuat keributan. Beberapa orang mendekat menanyakan keadaannya dan Amanda. Tak terkecuali Viona.


Marshal hanya mengatakan, "Tidak apa-apa." Dan segera memapah Amanda untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti saat suara orang tercinta memanggilnya dengan kencang. Tubuh Marshal kaku seketika. Langkahnya terhenti. Dia tidak berani membalik badan karena sudah tahu siapa pemilik suara menggelegar itu.


"CHAL ...!"


Shit! umpatnya.


Napas Marshal tercekat. Wanita tersayangnya memanggil dengan sangat kencang membuat tubuhnya semakin tegang.


"Kenapa ada wanita itu di sini?" suara gelegar itu kembali memenuhi pendengaran.


Dia membalik badan perlahan dengan ragu. "Ma-Mama ...." Marshal sangat takut melihat sosok malaikat dalam hidupnya itu kini menatap tajam padanya dan Amanda. Marshal melepaskan rangkulannya dan sedikit menjauh dari Amanda. Entah sejak kapan ibunya itu sudah berada di sana melihatnya. Perasaan Marshal mulai kalut. Dari sorotan matanya, dia tahu jika Rahma akan sangat murka.


"Kenapa dia ada di sini?" Rahma menunjuk Amanda yang masih meringis. Tatapan matanya sangat mencekam seperti ingin menelan Amanda hidup-hidup.


Perlahan kakinya mendekat ke arah Rahma, meskipun masih takut. "Ma, aku bisa jelaskan. Amanda ke sini-"


"Tante?"


Marshal tertegun melihat Amanda mendekat pada Rahma dengan kaki tertatih. Cepat-cepat Marshal menarik tangan Amanda untuk kembali mundur. Mendekat pada Rahma sama saja dengan mencari mati, jika Amanda berani kembali melangkahkan kakinya. Marshal tidak mungkin membiarkan kekasihnya berbuat berlebihan untuk sekarang. Keadaan Rahma pasti sedang panas, tidak mungkin mau meladeni Amanda yang sangat tidak disukainya.


Amanda menepis tangan Marshal. Tidak peduli dengan larangannya. Dia harus menjalankan rencana mulai saat ini. Terpaksa untuk terlihat baik serta memasang senyuman seramah mungkin. Bagaimana pun caranya, dia harus bisa mendekati serta mampu meluluhkan hati Rahma supaya bisa menerimanya kembali. "Tante, apa kabar?" Amanda mengulurkan tangannya, tetapi dengan cepat ditepis oleh Rahma.

__ADS_1


"Apa? Enyahlah dari pandanganku!" Tatapan tajam Rahma begitu kentara jika dia tidak menyukai wanita itu. Dari dulu sampai sekarang, pandangannya terhadap Amanda tetap sama. Dia tidak pernah bersikap baik pada kekasih anaknya tersebut.


"Om Wisnu mana, Tan? Aku ingin mengucapkan selamat pada beliau. Aku dengar om Wisnu memenangkan tender real estate?" Mengalihkan pembicaraan, Amanda tidak mempedulikan sikap ketidaksukaan Rahma.


"Jangan bicara omong kosong! Untuk apa kau di sini?"


Amanda tetap menampilkan senyuman. Perlahan mendekat pada Rahma. Namun, ibu kekasihnya itu malah mundur serta mengibaskan tangannya. "Enyahlah! Jangan mendekat padaku!"


"Tante, aku mau meminta maaf," ucap Amanda dibuat selembut mungkin. Dia tetap harus bisa meluluhkan wanita paruh baya itu. "Aku datang ke sini dengan niat baik guna memperjelas hubunganku dengan Marshal yang-"


"Apa?" Mata Rahma membulat sempurna. Kini tatapannya beralih pada Marshal. "Kamu masih berhubungan dengannya?" Rahma memandang Marshal dengan nanar. Kepalanya menggeleng pelan. Kaget dan benar-benar marah melihat kelakuan anaknya yang ternyata masih berhubungan dengan perempuan yang sangat dibencinya.


"Ma, aku-"


Plak!


Satu tamparan mendarat dengan mulus di rahangnya. Marshal terdiam. Syok. Memandangi Rahma dengan takut dan kaget. Alunan musik yang meriuhkan pesta kini terasa senyap, digantikan oleh bisik-bisik para tamu yang kini mengerumuni mereka.


"Ma ...." Viona yang sedari tadi hanya terdiam karena bingung harus melakukan apa, dia mendekat dengan cepat. Menahan tangan Rahma yang sudah melayang di udara siap menambah tamparan di rahang anaknya.


"Apa kamu tahu jika Chal seperti itu? Kenapa kamu diam saja melihatnya merangkul wanita iblis itu?" Rahma menunjuk tajam pada Marshal dan Amanda, namun pandangannya bertanya pada Viona.


"Ada apa ini?"


Tubuh Marshal semakin menggigil, takut mendengar suara ayahnya. Dia tidak bisa melakukan apapun selain terdiam.


"Ma, Chal, ada apa ini?" tanya Wisnu yang masih tenang. Melihat satu per satu orang. Matanya membulat tajam saat melihat Amanda. Melirik pada Marshal yang hanya terdiam, kemudian melirik Viona dan Rahma.


"Anak ini masih berhubungan dengannya, Pa," adu Rahma dengan marah membuat rahang Wisnu mengeras.


"Chal?" Wisnu menatap tajam pada Marshal. Meminta penjelasan.


"Pa, aku ...." Marshal kembali terdiam memandangi ayahnya. Tatapan yang sulit diartikan karena semua perasaan singgah bersamaan dalam dirinya. Takut dan cemas semakin mendominasi saat Wisnu langsung menarik tangan Marshal menjauh dari area pesta. Tidak peduli dengan ocehan para tamu. Dia membawa Marshal keluar dari sana sebelum semuanya meluap di depan para tamu terhormatnya.


Ayah dari tiga anak itu sudah mengerti penjelasan yang tersirat dari tatapan Marshal. Tanpa Marshal bicara pun, dia sudah tahu jika apa yang diadukan oleh Rahma adalah sebuah kenyataan. Tatapan Marshal yang ketakutan semakin membuatnya yakin jika anak tengahnya itu membuat kesalahan.


Marshal hanya pasrah dan mengikuti langkah Wisnu yang sedang membara. Rahma saja sudah sangat murka, apalagi ayahnya. Besar kemungkinan jika riwayatnya akan tamat di tangan ayahnya sendiri. Wisnu bukanlah orang yang mudah luluh. Kemarahannya akan setara dengan hukuman mati jika dia mengetahui sebuah kesalahan, apalagi yang melakukan kesalahan itu adalah anaknya sendiri. Wisnu pasti tidak akan memaafkannya begitu saja.


***


Bugh!

__ADS_1


Itu adalah suara pukulan ke tiga yang Wisnu layangkan ke rahang anaknya.


Dia membawa Marshal ke dalam gedung, dekat dengan taman yang menjadi tempat pesta diadakan. Di sana hanya mereka berdua karena semua orang berada di area pesta.


Marshal kembali meringis. Ayahnya itu murka tanpa memberikannya kesempatan untuk bicara. Wisnu sangat tahu dengan karakter anaknya. Tanpa mendengar penjelasan anaknya pun, dia tahu jika Marshal memang masih berhubungan dengan Amanda. Karena bukan sekali Wisnu menegurnya tentang hubungan itu. Sudah lelah dia mengingatkan Marshal untuk tidak berhubungan lagi dengan Amanda karena menurutnya Amanda bukanlah wanita yang baik.


Perasaan lega pernah dia rasakan semenjak Marshal bilang akan menikah dengan Viona. Wisnu pikir Marshal memang sudah menjauhi Amanda, makanya memilih menikahi Viona. Dan itu memang lebih baik baginya.


Tapi, ternyata semuanya salah. Sudah menikah saja, Marshal masih berhubungan dengan wanita lain. Apa yang ada di dalam otak anaknya itu, sampai berbuat hal yang sangat tercela di belakangnya. Wisnu tidak habis pikir, kenapa Marshal masih berhubungan dengan Amanda? Wisnu kira dia sudah memutuskan wanita itu sebelum Marshal berani menikahi Viona. Tapi, ternyata kelakuan anaknya itu di luar dugaan.


"Apa istrimu tahu, jika suaminya seperti ini?" bentak Wisnu tepat di depan Marshal yang berdiri di depannya dengan pandangan menunduk. Marshal anak penurut sebenarnya, tetapi kenapa dia bisa melakukannya diam-diam? "Di mana otak kamu Chal, sampai melakukan hal itu dibelakang papa?"


Marshal tidak menjawab. Tetap menunduk menahan sakit di rahangnya. Tidak bicara pun, Wisnu sudah kalang kabut, apalagi jika Marshal mengatakan kenyataan yang sebenarnya, Wisnu pasti langsung memenggal kepalanya.


Viona dan Rahma menyusul masuk ke dalam gedung setelah mengusir Amanda dengan bantuan petugas keamanan yang Rahma perintahkan. Viona sangat cemas mengingat Marshal yang dibawa oleh Wisnu yang terlihat sangat marah tadi. Mau bagaimana lagi, jika sudah terlihat seperti ini, Viona tidak bisa melakukan apapun. Cepat atau lambat kekuarga Marshal memang akan mengetahuinya. Dan sekaranglah tanggal mainnya. Semua terbongkar secara terang-terangan.


Viona meringis saat Marshal menoleh padanya dengan wajah yang sudah lebam di sana-sini, bekas pukulan. Dia kasihan melihat Marshal sebenarnya, tapi dia juga tidak bisa membantu apa-apa. Hanya diam yang bisa dia lakukan. Mengeluarkan suara pun, dia tidak tahu harus bicara seperti apa. Jika dia membela Marshal, sama saja dengan membohongi kembali keluarga suaminya. Tapi, jika dia mengatakan kebenarannya, dia takut Marshal akan marah padanya.


"Viona," Wisnu melirik pada Viona yang mematung memperhatikan Marshal. "kemari, Nak!"


Viona melirik pada Rahma. Ibu mertuanya itu mengangguk, supaya Viona menuruti titahan Wisnu.


Dengan ragu Viona mendekat pada mertuanya. Menunduk dengan cemas. Kenapa semuanya jadi tidak enak seperti ini? Viona tidak menyangka akan jadi mencekam jika keluarga Marshal mengetahui hal itu. Tapi, kesalahan yang Marshal perbuat memang sangatlah tercela dan patut untuk diberi hukuman yang kejam.


"Apa kamu tahu jika dia berhubungan dengan wanita lain?"


Viona meremas jemari tangannya mendapat pertanyaan seperti itu. Apa yang harus dia katakan sekarang? Kenapa dia harus berada dalam posisi yang tidak mengenakan seperti ini? Lebih baik Viona pingsan saja daripada harus sesak napas berhadapan dengan mertuanya itu.


"Viona?" Wisnu sudah tidak sabaran mendapat jawaban.


Viona melirik pada Marshal. Suaminya itu menggeleng. Viona tidak paham dengan arti dari gelengan tersebut. Apa dia harus mengatakan tidak, untuk tahu jika suaminya berhubungan dengan wanita lain atau tidak, untuk tidak boleh menjawab saja?


"Jadi kamu tahu, jika dia-"


"Dia tidak tahu, Pa," sambar Marshal dengan cepat membuat semua orang menatapnya.


Viona memandangi Marshal semakin tidak paham. Kenapa Marshal malah kembali berbohong? Jelas, Viona mengetahui dan bahkan mengijinkan Marshal berhubungan dengan wanita lain. Tapi, kenapa Marshal malah mengatakan 'tidak'?


Wisnu membuang napasnya dengan kasar. Kelakuan Marshal sudah benar-benar kelewatan. Dia melirik pada Rahma yang sedari tadi hanya terdiam. Jika suaminya sedang marah, Rahma memang tidak pernah terlalu banyak bicara. Biarkan saja semuanya diselesaikan oleh Wisnu. Suaminya itu pasti akan mengambil langkah yang sekiranya tepat dan memang pantas untuk dilakukan. Seperti barusan, Wisnu menghajar Marshal. Rahma tidak akan melarangnya, karena Marshal memang pantas menadapatkan itu, bahkan seharusnya lebih dari itu.


"Ma, bawa Viona pulang! Jauhkan dia dari Marshal! Biarkan anak ini menelan kesalahannya sendiri."

__ADS_1


__ADS_2