Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Penangkapan Amanda


__ADS_3

"Chal!" Viona berlari cepat, menyongsong tubuh Marshal yang baru saja masuk ke dalam kamar. Raut wajahnya terlihat khawatir, dia hampir menangis karena tidak tenang memikirkan keadaan Marshal yang tidak jelas bagaimana. "Kamu gak apa-apa, kan?"


"Aku baik-baik saja, Sayang. Aku baik."


"Tapi, tadi ...."


"Ssst ... lupakan hal tadi. Aku baik-baik saja."


Viona semakin erat memeluk tubuh suaminya. Usapan lembut terasa di puncak kepala diikuti kecupan-kecupan ringan. "Aku tidak apa-apa." Marshal membalas pelukannya tidak kalah erat.


Ada rasa takut, khawatir dan semua rasa dia alami kini. Semuanya campur aduk. Marshal terus mengatakan, dia baik-baik saja sampai Viona terlihat lebih tenang, dia baru bisa menjelaskan semua yang telah terjadi. Viona terlihat kaget mendengarnya.


"Terus gimana?"


"Rio sudah menanganinya. Dia yang urus semua. Kamu tenang saja, Rio pasti bisa diandalkan."


Viona menatap dalam mata suaminya. Dia tersenyum miris melihat Marshal yang terus mencoba menenangkan. Semua akan baik-baik saja. Viona harus percaya akan hal itu.


"Jangan hapus riwayat panggilan misterius yang tadi. Itu akan menjadi bukti kuat nanti, jika dibutuhkan."


Viona mengangguk patuh. Membenamkan wajah di dada Marshal yang terasa nyaman, mentamarkan kegusarannya untuk saat ini. Sebelumnya dia tidak takut dengan apa yang akan Amanda lakukan. Tapi, jika tahu akan seperti ini jadinya, dia harus tetap ikut berjaga-jaga. Karena bukan hanya keselamatannya yang terancam, tapi nyawa Marshal juga. Dia tidak ingin suaminya kenapa-kenapa.


***


Dengan berbekal alamat yang dikirimkan oleh Viona dari penelpon misterius tadi, Rio dan orang-orang suruhannya kinu menuju alamat tersebut secara diam-diam. Dia juga membawa beberapa aparat kepolisian, setelah menyeret dua pembunuh bayaran yang hampir menembakkan peluru ke arah majikannya.

__ADS_1


"Jalan dari daerah sini memang terlihat sepi. Mereka memang sudah merencanakan hal ini dengan matang," ucap Rio pada beberapa orang yang kini bersamanya. Beberapa orang lainnya berpencar di arah lain, berjaga-jaga supaya tidak kehilangan jejak mangsa nantinya, jika mereka ada yang melarikan diri.


Untung saja Viona tidak pergi ke tempat itu. Di sana terlihat sepi, hanya terdapat jalanan lenggang dengan gedung-gedung yang sudah senyap di pinggirannya. Sangat menakutkan, seperti memang rawan tindak kejahatan dilakukan di sana.


Rio dan orang-orangnya bersiaga. Mereka melihat dua mobil hitam terparkir di samping salah satu gedung megah yang terlihat sudah tidak berpenghuni. Dia yakin itu milik mereka.


"Kepung gedung itu, perhatikan gerak-gerik mereka dahulu sebelum memastikan penangkapan." Rio mengangkat tangan, mengisyaratkan perintah pada anak buahnya.


Mereka mengangguk, membagi lagi menjadi dua kelompok. Separuh mengikuti Rio dan separuh lagi mengepung daerah sebrang gedung. Mengawasi mangsa yang sepertinya sedang menunggu kedatangan Viona. Mereka berjalan dengan hati-hati, menyelinap supaya tidak diketahui oleh lawan.


"Apa Nona yakin dia akan datang?"


"Aku sangat yakin. Dia begitu peduli pada Marshal, tidak mungkin dia mengabaikan berita darurat seperti itu."


Rio dan anak buahnya yang sedang mengendap-endap menyusuri gedung tersebut, kini merapat pada tembok, memelankan langkah supaya tidak dicurigai. Dia tahu betul siapa pemilik suara itu. Salah satu wanita yang gila karena cinta. Rio memang sudah tahu, semua ini merupakan sekenario darinya.


"Kau jangan menguap terus! Mangsa kita belum datang, jangan dulu lengah. Nanti saat dia datang, langsung kita eksekusi."


"Maaf, Nona. Saya sudah mengantuk. Hampir tiga jam kita di sini menunggu, target belum juga terlihat kehadirannya. Ini sudah malam. Apa dia akan datang?"


"Diam kau!"


Kemudian suasana kembali senyap. Hanya terdengar angin malam yang sunyi disertai aura mencekam dari penyelidikan. Rio merogoh ponsel dari saku celana, mengetikkan pesan pada pigak kepolisian yang berjaga di sisi yang berbeda. Dia sudah menyiapkan strategi untuk mengepung mereka, sehingga kemungkinan untuk ereka kabur sangatlah tipis.


"Sekarang!" Rio memerintah dengan bisikan.

__ADS_1


"JANGAN BERGERAK, KALIAN SUDAH TERKEPUNG!"


Tiga orang yang berpakaian hitam, terlihat kaget melihat mereka, sigap berlari. Tapi, kepungan segera menghambat laju langkah mereka yang terlihat panik dan ketakutan. Par polisi menodongkan pistol ke arah mereka bertiga, dan anak buah Rio semakin mendekat membentuk lingkaran supaya mereka tidak bisa melarikan diri.


Saat salah satu dari ketiga penjahat itu bergerak dan berlari untuk terbebas, Rio berteriak keras menyebut namanya. Yang berlari terlihat paling lemah, dia sangat ketakutan. Dan dia wanita. Si dalang dari semua kejahatan yang dia rencanakan untuk menghancurkan rumah tangga Marshal Syahreza.


"Menyerahkan diri atau pergi? Nona tidak akan baik-baik saja." Rio menyeringai melihat wajah pucat pasi di bawah keremangan malam ini. Wanita itu berbalik tajam, beringsut mundur karena kepungan kini mengelilingi tubuhnya, sedangkan dua orang suruhannya sudah berhasil diamankan oleh petugas kepolisian. Mereka diseret menuju mobil.


"Apa maumu?"


"Apa mau saya?" Rio kembali menyeringai, mendekati wanita itu. "Nona Amanda ... Anda salah lawan." Bibirnya membentuk senyuman miring melihat Amanda yang berontak dan berteriak histeris, mencoba melepaskan diri saat anak buah Rio menangkap dan menahan tubuhnya.


"Apa maumu keparat!" Amanda berontak di bawah tahanan dua orang suruhan Rio. Tatapannya tajam penuh amarah dan terlihat ketakutan. "Sialan, lepaskan aku!" Dia terus meronta, bahkan meludahi salah satu penahannya.


Namun, hal itu tidak menjadikan dirinya bebas. Tahanan tubuhnya malah semakin menguat dan terasa menyakitkan. Semakin dia berontak, maka cekalan dua orang berbadan gagah itu semakin menguat.


"Bawa dia!"


"Tidak! Rio sialan! Bastard! Keparat! Lepaskan aku!"


Rio tidak mempedulikan perotesan Amanda. Dia hanya tersenyum meremehkan wanita yang kini digendong oleh salah satu orang suruhannya. Amanda terus meronta membuat pengawal Rio merasa geram, sehingga dengan mudah dia menggendong kasar tubuh ramping Amanda dan memasukkannya ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke kantor polisi.


Rio tersenyum puas melihat mobil polisi itu melaju membawa mereka. Ternyata upaya penangkapan ini terlalu mudah, tidak mencekam dan membutuhkan tenaga lebih, karena lawannya tidak sebanding. Hanya seorang model kecil yang mencoba balas dendam, tapi tidak pinya nyali yang besar. Sama sekali tidak menakutkan. Dalam kasus ini tidak ada yang mencekam sampai.membuatnya tegang. Ini terlalu biasa. Tidak membuat debaran jantung menggila dengan ketegangan yang luar biasa. Lawannya lemah.


"Baik, Yo. Terima kasih. Biar besok aku ke kantor polisi. Istrahatlah! Kamu sudah cukup memuaskan."

__ADS_1


"Baik,Tuan. Selamat malam."


Memasukkan kembali ponsel ke dalam saku, Rio membuang napas lega. Akhirnya bedebah kecil itu bisa dia amankan. Tugasnya sudah hampir selesai dalam kasus ini. Tidak mungkin ada lagi yang akan mengancam majikannya. Dia bisa tidur nyenyak dan berharap hukum berjalan dengan baik, karena bukti yang mereka punya juga cukup banyak.


__ADS_2