
"Tidak ada, Rio. Tadi dia bilang mau ke mana?"
"Tidak bilang ke mana-mana, Tuan. Hanya saya melihatnya pergi ke halaman belakang. Mungkin nyonya ingin melihat tanamannya."
"Coba tanya pada pekerja kebun! Siapa tahu mereka melihat Viona pergi ke mana lagi, setelah dari sana."
Rio pergi ke halaman belakang, menemui pekerja kebun yang ada rumah Marshal. Dia menanyakan keberadaan Viona, tapi mereka bilang tidak melihatnya dan tadi pagi Viona juga tidak pergi ke halaman belakang.
Rio menyampaikan informasi itu kepada Marshal. Majikannya semakin bingung karena Viona juga tidak ada di setiap sudut rumah. Entah ke mana perempuan itu pergi. Tidak bilang kepada siapa pun dan tidak ada yang tahu Viona sekarang berada di mana.
Marshal terlihat kebingungan juga panik. Sudah beberapa kali mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi tidak kunjung mendapat respon baik. Bahkan nomornya tidak aktif dan selalu saja tidak bisa tersambung.
"Mungkin sudah pergi duluan ke rumah sakit, Tuan."
Mendengar ucapan Rio, Marshal memastikannya dengan menghubungi nomor Michelle dan Miranda. Mereka sedang berada di sana, tapi mereka juga mengatakan Viona belum ada datang ke rumah sakit.
Lalu ke mana istrinya pergi?
"Kerahkan mereka untuk mencarinya, Rio! Segera! Aku yakin dia belum keluar jauh dari rumah."
Rio mengangguk patuh dan segera keluar dari rumah, memerintah beberapa orang untuk mencari nyonya mereka.
Marshal terus saja mencoba menghubungi nomornya, meski yang dia dapatkan adalah hasil yang sama. Nihil.
Belum lama dia keluar dari ruang kerja dan mengantarkan Rozer menuju pintu utama. Sahabatnya telah pulang, katanya ada urusan. Marshal kembali ke kamar, dia tidak menemukan istrinya di sana. Padahal dia akan mengajak Viona untuk pergi ke rumah sakit siang ini.
Ke mana istrinya pergi? Marshal masih belum mendapatkan kabar sampai saat ini. Sudah satu jam berlalu sejak dia menyuruh orang mencari istrinya, belum ada satu orang pun yang memberikan hasil yang dia harapkan.
Tidak lupa dia juga mencoba menghubungi kedua orangtua Viona, menanyakan hal yang sama, keberadaan Viona. Tapi, mereka sepertinya sedang sibuk dan tidak punya waktu menerima panggilan. Marshal menghubungi Vino, bertanya lagi dan menjadapat jawaban yang sama.
Ke mana istrinya pergi? Baru ditinggal beberapa jam saja dia sudah tidak ada. Marshal akan memarahinya habis-habisan, jika dia menemukannya nanti. Sudah pergi tidak bilang-bilang dan sekarang membuat panik semua orang.
__ADS_1
"Cari lagi di semua ruangan!" titahnya, pada semua pekerja di rumah yang sejak tadi mencari keberadaan Viona sudah seperti mencari anting yang hilang. Kalang kabut dan mengobrak abrik setiap ruangan di rumahnya.
"Ini nomor Frans, Tuan."
Marshal langsung menghubungi sahabat istrinya, ketika Rio menyerahkan sebuah ponsel padanya. Jawaban dari Frans membuatnya menggeram, tidak percaya jika keberadaan Viona saat ini sangat misterius.
"Cek CCTV!" perintah Marshal menggema membuat Rio terperanjat kaget dan segera menuruti perintahnya.
***
"Aku tidak berbohong, Erni. Aku kasihan melihat nyonya seperti itu, makanya aku diam saja."
"Bodoh! Seharusnya kamu bilang supaya tuan tidak seperti itu. Biar aku yang akan menyampaikannya."
"Tidak! Jangan! Nyonya sudah berpesan untuk tidak mengatakan apa pun. Nyonya menangis dan meminta supaya aku diam. Dia terluka karena tuan."
Langkah Rio terhenti di ruangan belakang yang dekat dengan gudang. Dia melihat ada Erni yang tengah berselisih dengan Egiļ¼sopir pribadi Viona. Dengan langkah cepat Rio menghampiri mereka dan segera membawa keduanya ke hadapan Marshal. Telinganya sangat jelas mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Ny-nyonya ke rumah orangtuanya, T-tuan."
Tidak berbicara lagi, Marshal langsung beranjak dan mengemudikan mobil sendiri dengan kecepatan tinggi. Lihat saja apa yang akan dia lakukan terhadap istrinya setelah ini. Viona sudah berani membuatnya panik dan cemas setelah mati, harus diomeli.
Namun, tubuhnya kaku begitu sampai di kediaman Pratama, dia melihat Heru yang bersimpuh di hadapan putrinya dan menggumamkan kalimat berkata "maaf" berulang kali. Viona terlihat terus memintanya untuk berdiri, tapi Heru tampak tidak mau dan terus mengucap kata maaf pada putrinya.
Perlahan Marshal melangkah maju. Ada apa ini sebenarnya?
"S-sayang?" Dia masuk ke dalam dan pandangan Viona langsung tajam melihat padanya.
Marshal terkejut melihat wajah Viona yang kacau. Air mata bersimbah dan tatapan penuh kebencian tertuju padanya.
Viona kembali menghadap pada Heru yang di hadapannya dan memaksa Heru untuk berdiri, tidak lagi seperti saat ini.
__ADS_1
Marshal semakin tidak mengerti. Ayah mertuanya terus menatap padanya dengan kepala yang menggeleng-geleng pelan dan tatapan sendu yang terlihat menyiratkan makna besar. Melihat lagi ke arah kursi, Lina duduk di sana tampak sama hancurnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi di sini?
"Masih berani menampakkan wajah di hadapanku?!"
Lagi-lagi Marshal terkejut mendapat bentakan dari istrinya.
"Dia," Tangan Viona menunjuk tajam pada Marshal, sedangkan pandangannya lurus pada Heru yang tampak terlihat merasa bersalah. "dia yang udah bikin aku seperti ini, Pa? Dia yang ngajakin papa buat bohongin aku, kan? Iya, kan?!"
Heru tidak menjawab apa pun. Hanya menatap pada Marshal yang semakin kebingungan dan tidak mengerti, kenapa istrinya berkata seperti itu.
"Aku ...," Viona terisak, mengusap kilat wajahnya yang basah oleh air mata. "BENCI KALIAN!" teriaknya dengan keras, membuat Heru segera meraih tangannya dan Lina mendekat sambil meraung meminta maaf.
Ada apa ini? Marshal masih belum mengerti. Dia melangkah semakin mendekat pada istrinya, tapi tangan Viona mengintrupsi untuknya tetap diam di posisi.
"Aku gak mau liat kamu lagi! Jadi jangan dekati aku!"
"Viona ...." Lina mencoba meraihnya, terlihat sangat hancur melihat anaknya yang murka seperti itu. "Maafin mama, Sayang. Mama gak berniat begitu. Sungguh!"
Viona tidak peduli. Dia masih sulit mengendalikan emosi dan tangisan yang malah membuat dadanya semakin sesak. Tidak tega melihat kedua orangtuanya yang seperti itu, Viona mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain. Tangannya tertarik oleh Lina dan Heru yang terus meminta maaf padanya. Viona tidak bisa memaafkan. Hatinya sudah begitu sakit mengetahui, jika orangtuanya bersekongkol dengan Marshal untuk membuatnya menjadi pengantin secara terpaksa.
"Sayang." Marshal mendekat, tidak memperdulikan larangan Viona untuk menjauh. "Kenapa ini, Sayang? Ada masalah apa?"
Tatapan Viona malah semakin menghunus. Marshal mendapat tamparan keras dari tangan gemetar Viona, membuat wajahnya berpaling ke samping.
"Berengsek!" teriak Viona, tepat di depan wajah Marshal.
Marshal masih tidak paham, mencari penjelasan pada mertuanya yang malah menangis. Tatapan Heru terlihat begitu dalam, merasa bersalah atas apa yang telah dia perbuat.
"Viona tahu kebohongan terbesar kita."
Marshal tertegun. Jadi karena itu istrinya murka dan memaki kasar? Kenapa dia bisa tahu? Apakah setelah ini Viona akan pergi meninggalkannya? Membencinya, lalu menghilang selamanya?
__ADS_1
Tidak. Marshal tidak mau hal itu terjadi.