Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Mereka Sama-Sama Tersiksa


__ADS_3

"Mama udah bilang, makanya makan!" Lina mengomeli Viona yang masih saja mual di kamar mandi.


Setiap hari selalu saja seperti itu. Viona mual dan sakit perut karena tidak mau makan. Tidur tidak dengan pola yang baik dan pikirannya juga tidak tenang. Jika Viona terus seperti itu, Lina merasa cemas, takut anaknya terkena penyakit parah.


Viona memang selalu terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain. Dia juga terlihat kejam dengan mengajukan cerai untuk Marshal. Namun, siapa sangka, jika dia juga terluka dan tidak mau hal itu terjadi. Viona hanya menyiksa dirinya sendiri jika seperti ini.


"Pusing, Ma," keluhnya lagi sambil memegang kepala.


Lina membantunya untuk berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya sampai ke perut. "Setelah ini kalau mama suruh makan, ya, makan! Jangan nyiksa diri sendiri!"


Viona hanya bergumam, menutup mata dan berharap sakit di sekujur tubuhnya bisa berkurang.


Saat Lina membawakan makanan, dia ingin menolak tapi Lina memaksanya. Viona makan dengan terpaksa, meski hanya sedikit, Lina sangat senang melihatnya.


"Mama panggilin dokter, ya."


"Nggak usah, Ma. Nanti juga baikan."


Lina menghela napas kasar, selalu saja begitu. Viona keras kepala. Padahal tubuhnya terlihat sangat lemah dan butuh perawatan.


"Aku mau tidur, Ma."


Lina menuruti maunya dan mengusap kepala Viona yang membalik badan untuk memunggunginya. Viona mencoba untuk terlihat tidur, meskipun dia tidak bisa memejamkan mata tanpa ketenangan.


Lina khawatir melihatnya. Viona memang tidak mau mengakui ketidakmauannya berpisah dengan Marshal, karena rasa kecewa telah dibohongi begitu mendominasi. Tapi, keinginan untuk kembali terlihat jelas di matanya. Dan harapan itu memang ada.


***


"Ma, kapan Mama sadar? Aku butuh bantuan Mama. Viona ingin perceraian, tapi aku tidak bisa. Aku menyayanginya. Mama juga menyayanginya, kan? Ayo, bangun, Ma! Bantu aku bujuk Viona!" Marshal menggenggam tangan Rahma dengan erat, selalu seperti itu setiap hari. Mencurhatkan semua keluh kesah dan kegusaraannya pada raga yang bahkan tidak bisa merespon dengan apa pun. "Cepat bangun, Ma ...."

__ADS_1


Setetes air mata kembali meluruh mengenai tangan Rahma. Tidak akan pernah ada yang menduga Marshal akan jadi selemah itu sekarang. Bahkan pekerjaan terbengkalai, dia malas untuk mengurusinya, terlalu sibuk memikirkan Viona.


Dia ingin menemui Viona kali ini. Tapi, Rio bilang nyonya tidak ingin ditemui. Viona menepati ucapannya untuk tidak mau melihat Marshal lagi, selain saat sidang perceraian nanti. Itu pun terpaksa, katanya.


Viona tidak suka dibohongi. Marshal selalu merasa hancur mengingat kalimat itu. Dia telah membohongi istrinya sendiri. Selama pernikahan mereka.


"Ma ... bilang sesuatu! Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membujuk Viona! Dia menantu kesayangan Mama. Mama tidak mau kehilangannya, kan? Bantu aku untuk membuatnya luluh!"


Marshal sudah seperti orang bodoh. Setiap hari menyisihkan waktu untuk melihat keadaan ibunya dan berbicara, mengeluarkan semua yang ada di dalam kepala. Semua itu tidak akan ada gunanya. Rahma koma, mana mungkin bisa menolongnya. Hanya sia-sia. Tapi, setidaknya Marshal masih bisa mengeluarkan keluh kesahnya supaya tidak cepat gila. Meskipun tetap akan gila, jika dia terus-terusan seperti sekarang.


***


Pagi cerah untuk perasaan yang indah. Itu untuk orang lain, tidak untuk dirinya. Viona berdiri di depan toilet, setelah mengeluarkan semua makanan dari dalam lambungnya.


Asam lambung sialan! Selalu saja membuatnya kelelahan hanya karena bolak-balik ke kamar mandi. Beberapa hari ini dia selalu seperti itu. Sepertinya karena terlalu banyak pikiran dan jarang makan. Kepalanya juga terasa pusing.


Melihat tanggal dan bulan di screen ponsel, Viona termangu. Sudah tiga minggu dia dan Marshal berpisah rumah. Bagaimana keadaan mertuanya saat ini? Dengar dari Heru, katanya Rahma masih belum sadarkan diri, sedangkan Wisnu telah pulih, meskpun masih dalam asuhan perawat dan dokter. Ayah mertuanya sudah kembali bisa mengurusi pekerjaan yang bisa dia lakukan di rumah, hanya sedikit karena belum bisa banyak bergerak dan gampang lelah akibat lukanya.


Viona ingin sekali melihat keadaan mereka. Dia merindukan wajah Wisnu yang sangat ramah juga berwibawa dan merindukan Rahma yang selalu banyak bertanya padanya.


Semoga mereka cepat sembuh. Viona ingin menjenguk, tapi takut bertemu dengan Marshal. Dia sangat membenci laki-laki itu. Jika melihat gambarnya saja Viona akan mual dan berakhir dengan lemas di kamar mandi, akibat terlalu banyak muntah yang tidak perlu.


Mual kembali melanda. Viona berlari ke kamar mandi lagi dan memuntahkan cairan dari dalam perutnya. Kepalanya kembali pusing, jika dia mengingat Marshal. Laki-laki itu selalu menyiksa batin dan juga tubuhnya. Viona sudah lelah dengan penyakit yang disebabkan akibat pikiran ini. Jika Lina tahu pagi ini dia sudah muntah lima kali, maka ibu dua anak itu pasti akan mengomel panjang dan mencekokinya dengan obat lambung dan makanan yang banyak.


Mual itu masih ada, meskipun di dalam perutnya sudah tidak ada lagi apa-apa untuk di keluarkan. Mungkin lebih baik dia berbaring lagi. Setidaknya bisa mengurangi denyut nyeri di kepalanya.


Selama berbaring, pikiran Viona berkelana jauh entah ke mana. Tiba-tiba dia teringat dengan tanggal kembali dan tertegun sendiri.


Tidak-tidak. Jadwal bulanannya memang sudah terlewat satu minggu, namun bukan berarti seperti pemikirannya. Mungkin karena dia stress, makanya hormon di dalam tubuh tidak stabil.

__ADS_1


Tapi, dia gelisah dengan hal itu. Bahkan sampai dua hari tidak bisa tidur lagi hanya menambah pikirannya saja. Akhirnya Viona memutuskan untuk pergi ke apotek membeli tes kehamilan tanpa sepengetahuan ibunya.


Saat dia kembali ke rumah, ibunya juga belum pulang dari pengajian. Viona bernapas lega, setidaknya Lina tidak ada di rumah. Sebelum pergi, dia sempat berpesan pada pekerja di rumahnya untuk mengatakan pada orangtuanya, jika Viona memang pergi ke apotek membeli obat maag untuk menghilangkan mualnya. Tidak mengatakan ingin membeli sebuah alat tes kehamilan.


Dengan perasaan yang berkecamuk, Viona membuka bungkusan benda kecil tersebut. Dia ragu jika dia hamil. Tidak mungkin. Karena dia tidak pernah lupa untuk meminum pil selama masih bersama dengan Marshal. Dan di bulan sebelumnya pun, Viona masih sempat datang bulan, sebelum mereka pergi bulan madu.


Haruskah dia mencobanya? Ada dorongan di dalam dirinya untuk mencoba benda itu dan memastikan kegelisahannya. Tapi, dia sangat yakin tidak mungkin hamil. Dan seharusnya memang seperti itu. Mereka akan berpisah, jika Tuhan berkehendak lain, maka ... Viona sangat yakin, jika dia tidak hamil.


Tamu bulanannya hanya telat satu minggu, bisa jadi disebabkan karena pola hidupnya yang tidak baik akhir-akhir ini. Sejak zaman gadis pun, Viona sering bahkan pernah sampai tiga bulan tidak mendapatkan haid.


Sudah jelas, tidak mungkin. Viona meyakinkan dirinya lagi.


"Dek!"


Buru-buru Viona menyelipkan tespack di bawah bantal, ketika mendengar suara ketukan dan Lina yang segera masuk ke dalam kamarnya.


"Mama udah pulang." Viona terlihat gelagapan, menggeser tubuh tidak tenang. Jangan sampai Lina mengetahui, jika dia baru saja membeli benda tersebut.


"Kata Mbak, kamu baru pulang dari Apotek. Beli apa?"


Viona sudah tegang, takut ketahuan. Tapi, dia mencoba untuk memberikan senyuman yang malah terlihat sedikit aneh. Lalu, dia menunjukkan kantong kresek putih yang berisi obat Maag, anti mual dan obat untuk pusing.


"Kan gak diresepin dokter, Sayang. Kenapa beli ini?" Lina melihat satu per satu obat dari dalam kantong tersebut.


Viona semakin tegang, namun tetap tersenyum dengan wajah pucatnya. "Itu yang aku rasain, Ma. Jadi, aku beli itu saja."


Lina hanya memberikan senyuman, mengusap tangan Viona. "Ya, sudah, diminum obatnya. Nanti kalau ada efek samping atau masih saja seperti itu, kita pergi ke dokter, ya?"


"Iya, Ma." Viona mengangguk, bernapas lega karena Lina tidak lagi banyak bertanya.

__ADS_1


__ADS_2