Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Dasar gak peka!


__ADS_3

"Ikut, ih!" Viona tergesa menyusul langkah Marshal keluar dari ruangan. "Chal!"


Suaminya berhenti untuk melangkah ketika sudah membuka pintu. Viona memang tidak bisa membiarkannya bebas tanpa pengawasan langsung. Padahal Marshal sudah bilang, dia akan bertemu dengan klien di lantai bawah untuk membicarakan masalah pekerjaan yang penting. Istrinya tetaplah keras kepala, selalu ingin ikut dan memastikan Marshal membenarkan ucapannya.


"Jangan berlari seperti barusan lagi. Kamu sedang hamil." Marshal mengusap perut buncit istrinya, terlihat cemas. Viona ingin ikut sampai dia beranjak cepat dari sofa dan berlari padanya yang sudah akan keluar ruangan. Marshal menggandeng tangan istrinya untuk keluar. Raut wajahnya langsung memelas ketika bertemu dengan Rio. Dia menggelengkan kepala dengan mata lelah, seolah meminta pertolongan atau hanya sekadar mengutarakan, bahwa dia sudah tidak kuat lagi?


Rio hanya tersenyum menanggapinya. Justru terlihat senang jika Marshal tersiksa. "Padahal Mia ada, Nyonya. Dia tidak sedang sibuk. Mungkin lebih baik Nyonya menunggu dulu."


"Gak perlu, ah. Aku mau ikut Tuan. Lagian cuma ketemu klien sebentar. Iya 'kan, Sayang?"


Marshal mengangguk pasrah. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan sekarang. Dia pasti sudah lelah diikuti ke mana pun pergi oleh istrinya. Dan Rio pun tidak bisa mengalihkan Viona begitu saja. Tidak ada jalan lain, selain membawa Viona ikut serta untuk membahas masalah pekerjaannya.


"Kalau aku ganggu, kamu bilang aja. Kamu gak suka aku ikut. Aku tahu, Chal." Viona menunduk ketika mereka sudah berada di lantai bawah, menuju ruangan yang akan dituju sebagai tempat untuk membahas pekerjaannya.


Marshal perlu menenangkan diri lagi. Istrinya semenjak hamil memang punya mood yang selalu tidak tertebak. Tadi dia yang minta ikut, Marshal tidak melarangnya. Tapi, sekarang dia malah beranggapan seperti itu. Meskipun kenyataannya memang benar begitu, tapi Marshal mana mungkin tega melarang istrinya untuk mengintil. Selagi tidak memberikan dampak buruk, Marshal memang selalu membiarkan Viona ikut. Walau kadang harus berdebat dulu.


Untuk meredakan mood buruk istrinya, Marshal memberikan kecupan di pipi. Beberapa karyawan melihat hal itu, Marshal tidak peduli. Dia hanya tidak mau Viona merasa dirinya menjadi penghambat dan menganggu aktivitas suaminya untuk masalah pekerjaan saat ini.


"Kamu kenapa lagi, hm? Apa mau belanja saja? Diantar sama Mia?" Mia adalah wakil dari Rio. Biasanya Viona akan ditemani oleh wanita itu ketika datang ke kantor suaminya, kala Marshal sedang sangat sibuk dan tidak bisa menemaninya setiap saat.


"Kliennya wanita?"


Marshal termangu mendengar Viona yang malah mengalihkan topik. Menyangkal pun tidak guna. "Iya. Dia wanita dan ada pria juga. Mereka satu tim. Dari perusahaan ekpedisi. Kenapa? Apa aku tidak boleh menemui mereka?"


Viona menatap pada Marshal dengan pandangan yang sulit dimengerti. Tapi, dia memberikan gelengan pelan dan semakin mengeratkan rangkulannya di lengan Marshal. "Kamu boleh nemuin mereka. Aku gak bakal ganggu. Janji."


Senyuman Marshal terbit secerah mentari. Dia mengusap kepala Viona dan memberikan kecupan lagi untuk terakhir kali, sebelum mereka kembali melangkah untuk menemui klien yang ingin Marshal temui.


Viona sudah berjanji tidak akan menganggu dan itu memang yang terjadi. Viona hanya duduk di samping suaminya, menyimak dan menikmati cemilan dan jus yang sengaja Marshal sediakan untuknya. Hingga pertemuan itu selesai, Viona hanya diam dan sesekali menimpali saat ada orang yang mengajaknya berbicara. Selebihnya dia hanya terdiam, karena tidak paham dengan pembahasan pekerjaan yang Marshal rundingkan.


"Sudah diprediksi anaknya akan berjenis kelamin apa, Tuan?" Salah satu wanita bertanya pada Marshal. Dia terlihat ramah setelah sesekali mengajak Viona berbicara.


"Alhamdulillah sudah. Anak kami laki-laki, Insya Allah." Marshal tersenyum bangga sambil mengusap perut istrinya, menunjukkan kepada mereka, bahwa jagoannya berada di sana.


"Wah, selamat, ya." Satu per satu dari mereka memberikan selamat dan mendoakan yang terbaik untuk anak dan ibunya. "Pasti anaknya gagah dan tampan seperti ayahnya, ya. Saya yakin, pasti akan jadi penerus Tuan Marshal yang paling unggul. Sudah tentu akan mirip sekali."


"Oh, saya malah inginnya tidak seperti saya. Anak saya harus melebihi ayahnya dan tentu saja harus menuruni sifat baik dari ibunya. Itu lebih baik, bukan?" timpal Marshal disertai kekehan. Dia tahu betul, pembahasan barusan pasti sensitif di telinga istrinya. Apalagi sekarang Viona hanya menampilkan senyuman seadanya, terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


Dan benar saja. Viona terus diam sampai mereka pulang ke rumah. Marshal diacuhkan dan sama sekali tidak digubris oleh istrinya.


"Dedek mau bobok? Mama udah berbenah, pasti lelah, ya?" Marshal menunduk di samping tubuh Viona yang kini tidur menyamping sudah berganti pakaian dengan piyama tidur. Hari sudah malam, sudah banyak yang mereka lewati. Pantas saja jika Viona sudah lelah dan ingin istirahat. Tapi, sampai saat ini Marshal masih saja didiamkan olehnya. "Mama kamu kenapa, Nak? Papa salah apalagi?"


"Salah kamu, aku mau tidur malah digangguin!"


Marshal menyeringai, langsung menegakkan tubuh mendengar istrinya yang menyahut. "Bukan masalah sekarang, tapi dari tadi kamu diam."


"Aku capek berlebihan sama kamu. Cemburu sama kamu sebenernya gak ada gunanya. Aku baru kepikiran aja, ternyata aku udah keterlaluan, ya?"


Marshal terdiam, sulit menanggapinya. Sebenarnya dia senang-senang saja, jika dicemburu dengan sifat posesif istrinya. Dia merasa sangat dicintai dan dibutuhkan sampai Viona tidak mau kehilangan. Tapi, mengingat tingkah istrinya yang berlebihan, Marshal juga kadang kesal. Apalagi jika sedang ada urusan penting dan istrinya malah melarang banyak hal. Marshal pasti darah tinggi setengah mati.


"Nanti pas lahiran, aku mau ditemenin sama kamu. Boleh, kan?"


Viona bicara apa barusan? Mata Marshal hampir saja keluar karena kaget. Viona meminta persetujuan seolah Marshal adalah orang asing. Tidak diminta pun Marshal memang pasti akan menemaninya berjuang sampai semuanya baik-baik saja dan kedua orang tercintanya selamat.


Tangan Marshal ditarik oleh Viona, dibawa ke atas perut buncitnya. Kandungan Viona sudah berusia tujuh bulan, diperkirakan tidak lama lagi mereka akan melihat sang buah hati di depan mata. Marshal suka terharu mengingat hal itu. Rasanya dia sudah tidak sabar menantikan kehadiran jagoan mereka membuka mata untuk melihat dunia secara bersamaan.


"Dedek kangen Papa. Tapi gak mau dilongokin. Pengen diusap sampai mama tidur. Boleh, kan?"


Marshal tersenyum. Tangannya mengusap dan kepalanya mendekat untuk memberikan kecupan bertubi di perut istrinya. Dia suka Viona yang manja. Selalu terasa manis dan membuat hatinya berbunga-bunga.


Viona malah bergerak untuk bangun. "Aku mau pipis. Kebelet banget." Dia meringis, menahan sesuatu yang ingin keluar dengan segera.


Marshal sigap menggendongnya, tergesa menuju kamar mandi. Viona sudah sering seperti ini, selalu tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan air seni. Karena kadang seni dalam kantungnya yang berjumlah dua kali lipat sejak hamil, terlebih karena gerakan si Dedek yang kerap kali menjadi penyebab mulasnya perut Viona.


"Jangan buru-buru, Chal! Pelan aja jalannya!"


"Nanti kamu pipis kena celana lagi, Sayang."


"Nggak, ih. Pelan-pelan! Aku takut jatuh."


Langkah Marshal mulai pelan. Dia membawa Viona masuk ke dalam kamar mandi, tapi istrinya menolak untuk diturunkan ketika sudah sampai toilet. Viona malah melingkarkan tangan erat di leher Marshal dan kepalanya bersandar nyaman.


"Jangan dulu diturunin! Sebentar aja. Aku suka begini. Kerasa banget dada aku deg-degan kalau deket sama kamu, Chal."


Marshal tertawa geli, hanya menggelengkan kepala. Jangan sampai Viona kencing di celana lagi, karena dia menunda kebelet pipis akibat manja seperti ini.

__ADS_1


Viona baru mau turun ketika sudah tidak tahan lagi ingin mengeluarkan air seni. Dia kembali ingin digendong, saat urusannya telah selesai. Dengan senang hati Marshal menggendongnya kembali ke dalam kamar, dibaringkan secara hati-hati olehnya.


"Chal."


"Hm?"


"Aku masih cantik, kan?"


Alis Marshal naik tidak mengerti. Dia memperhatikan Viona tak acuh sambil menarik selimut menutupi tubuh istrinya.


"Aku makin gendutan semenjak hamil. Aku takut kamu malah kegoda cewek lain yang lebih seksi."


Marshal terkekeh, ikut berbaring di samping istrinya. Viona ada-ada saja. Mana mungkin dia tergoda wanita lain, sedangkan istrinya tengah mengandung anak mereka saat ini. "Kamu lebih seksi sekarang, Sayang. Itu aku jujur, ya. Kamu lebih berisi, aku suka. Dan ... kamu malah semakin cantik di mata aku."


"Bohong!"


"Serius."


"Cantik mana sama Amanda?"


"Cantik kamu!" jawab Marshal dengan cepat, meskipun dia sempat tertohok sesaat. "Sudah, tidur! Jangan bicara ke mana-mana!"


"Aku udah gak cantik, ya? Kamu bakal bosen pasti sama aku. Iya, kan? Apalagi setelah melahirkan, aku pastiļ¼"


"Ssst! Jangan banyak bicara yang tidak-tidak! Kamu itu paling cantik. Titik! Gak ada yang lain. Sampai kapan pun pasti malah semakin cantik. Apalagi kalau malam ini ngizinin aku sama dedek ketemu."


Alih-alih berhasil menggoda, Marshal justru mendapat pukulan di lengan dan cubitan di perut. Viona terlihat marah.


"Aku salah apa?" Marshal meringis pelan, tidak terima mendapat serangan kejam dari istrinya.


"Kamu salah! Pokoknya salah!" Viona membalikkan badan dengan cepat, memunggungi Marshal yang malah semakin bingung. "Harusnya kalo mau jenguk si Dedek gak usah bilang. Aku malu."


"Terus aku harus gimana? Biasanya juga kan emang gitu."


"Langsung beraksi, paham gak?" Viona menoleh tajam pada Marshal. "Jangan ngulur waktu, padahal aku udah nungguin kamu dari tadi! Dasar gak peka!"


Lah? Marshal terdiam memikirkan ucapan istrinya yang bilang si Dedek kangen papanya, tapi gak mau dilongokin.

__ADS_1


Mungkin bahasanya harus diganti dengan Mama kangen papa, pengen dikelonin? Begitu?


__ADS_2