
Rio hanya diam menyaksikan majikannya yang saling sindir menyindir. Sebenarnya dia ingin tersenyum, merasa gemas melihat interaksi aneh di antara mereka. Tapi, sebisa mungkin dia harus terlihat datar. Pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi dalam drama pagi di rumah tersebut.
Rio jadi membayangkan, bagaimana hangatnya rumah Marshal setelah hubungan mereka semakin membaik. Berbagai perdebatan dan sindiran pasti tersaji setiap saat menemani hari mereka. Kejadian manis pun pasti tidak luput untuk dipertontonkan. Akan jadi seperti apa keluarga mereka, jika majikannya punya anak nanti? Ah, pastinya sangat seru sekali. Rio akan menemani mereka bermain dan pastinya akan terus melihat perkembangan calon nona dan tuan mudanya. Rio sudah tidak sabar menantikan hal itu datang.
"Jangan banyak-banyak, Sayang!"
Lamunan Rio terganggu oleh perdebatan majikannya, lagi. Marshal menggantikan piring miliknya dengan milik Viona yang masih kosong, karena istrinya dengan jahil malah memasukkan nasi sampai penuh.
"Kenapa jadi harus aku yang makan? Ini terlalu banyak," protes Viona merebut kembali piring kosongnya dan menggeser piring yang penuh dengan nasi tersebut ke hadapan suaminya.
"Kamu yang ngambil. Sudah kubilang jangan terlalu banyak!"
"Ya, sudah tinggal di makan saja, kan. Gak terlalu banyak, cukup untuk mengganjal perut kamu sampai siang itu."
"Tidak bisa. Ini porsi untuk dua orang. Aku bisa kekenyangan terus mengantuk saat bekerja nanti."
Viona menghela napas dan kembali mengambil piring penuh nasi tersebut. Dia membagi dua nasi tersebut, separuhnya dia taruh di piringnya, kemudian menyodorkan piring tersebut pada suaminya lagi. "Impas. Sudah aku bagi dua."
Marshal mengambil piringnya. Dengan sabar, Viona mengambilkan lauk untuknya, meskipun masih menggertu pelan, "Huh, tadinya aku mau sarapan roti."
"Nasi dan roti sama-sama karbo, Sayang."
Viona mendelik tajam dan segera duduk setelah selesai melayani suaminya. Ditepisnya tangan Marshal yang ingin mengusap wajahnya. "Cepat sarapan, nanti kamu terlambat!"
Marshal hanya menggeleng melihat sikap istrinya yang terlihat berbeda. Semakin hari, perubahan dalam pernikahan mereka begitu terasa. Andai saja perubahan itu terjadi sejak ijab kabul terucap, maka rumah tangganya saat ini pasti sudah menemukan titik terang dengan bahagia. Tanpa sadar, bibirnya tertarik melihat Viona. Namun, tidak lama karena Marshal baru menyadari ada sosok lain di meja makan. Diliriknya Rio yang tersenyum sembari menyuapkan sarapan ke mulutnya.
Lagi-lagi Rio diberikan tontonan gratis. "Lain kali, bayar tiket jika mau melihat kita, Yo!"
"Kenapa?" Rio menatap Marshal tidak mengerti. Kunyahannya terhenti dan Rio baru paham, jika Marshal sudah menyadari kehadirannya. Dia pun tersenyum memaklumi sikap mereka dan kembali menikmati sarapan dengan khidmat.
__ADS_1
Selesai sarapan, Viona kembali ke kamarnya karena perlengkapannya untuk ke kampus ada yang tertinggal. Marshal kembali mengomelinya dan menyuruhnya untuk mengganti pakaian juga.
"Ganti dengan yang lebih panjang! Dress-mu sampai setengah paha seperti itu, aku tidak suka."
Viona menurut setelah berdebat panjang dengan suaminya guna membuat Marshal berhenti mengomel. Hari bisa beranjak siang, jika mereka terus saja berdebat, Marshal pasti akan terlambat.
"Kamu bicara apa saja pada istriku semalam?"
Rio baru saja akan keluar rumah, langkahnya terhenti mendengar suara Marshal. Dia pun kembali berbalik badan. "Kenapa, Tuan?"
Marshal melirik ke arah tangga, kemudian melangkah menuju pintu utama. Viona masih di atas berganti pakaian, lebih baik dia menunggunya di mobil, dan Rio mengikutinya dari belakang.
"Semalam istriku menanyakan hal yang aneh. Katanya, ada yang meneleponmu. Dia bilang selirku? Memangnya siapa?" Marshal masuk setelah Rio membukakan pintu untuknya. Rio pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Apa Amanda meneleponmu lagi?"
Rio melirik pada majikannya lewat spion tengah, dia mengangguk. "Sering, Tuan. Semalam, kebetulan saya sedang bersama nyonya di dapur. Nyonya bertanya dan saya jawab seadanya."
Rio terkejut mendengarnya. Dia tidak tahu jika Viona seperti itu. Saat bersama Rio, Viona terlihat biasa saja dan sedikit becanda dengannya mengenai kontak bernama selir tersebut. Ternyata tanpa sepengetahuannya, Viona telah terjebak dengan apa yang Rio harapkan. Senyuman pun terbit di bibirnya dan kembali melirik Marshal.
"Saya rasa, jika nyonya tidak suka Tuan punya simpanan, berarti sudah mulai ada benih kasih, bukan?"
Marshal mendecak. "Justru itu ... dia punya alasan lain. Aku kira akan seperti itu, tapi nyatanya bukan. Masih belum, Yo, mungkin sebentar lagi," ucapnya penuh percaya diri.
Rio mengangguk-anggukan kepala dan mengamininya dalam hati. Semoga saja apa yang Marshal inginkan segera terjadi. Jika majikannya bahagia, Rio pun ikut senang. Karena apa yang dirasakan oleh Marshal sangat berpengaruh untuk kelangsungan hidupnya saat bekerja. Majikannya sengsara, Rio pun lebih menderita menghadapinya.
Viona membuka pintu dan duduk di samping suaminya. Pakaian yang dia kenakan sudah berganti menjadi dress yang lebih panjang melewati lutut, berlengan panjang, berwarna putih.
Marshal tersenyum puas dan melepaskan cepolan di rambut istrinya. "Digerai lebih baik. Lehermu mengundangku untuk mendekat, Sayang," bisiknya saat merapikan rambut Viona.
__ADS_1
Putri semata wayang Heru Pratama hanya menatapnya datar, padahal dalam hati dia mengomel panjang. Suaminya memang selalu seperti itu, Viona mulai membiasakan diri dengan sikapnya.
"Ke kampus dulu, Yo!" titah Marshal pada asistennya yang sedang menjadi seorang sopirnya juga saat ini.
Rio mengangguk dan mulai menjalankan mobil. Berbeda dengan Viona yang melirik Marshal heran. "Kalo ke kampus dulu, kamu pasti terlambat. Antar kamu dulu aja ke kantor, terus Rio antar aku ke kampus."
Marshal menggeleng. "Tidak bisa. Aku harus memastikan istriku sampai tujuan dengan selamat. Sudah, jangan membantah! Nanti aku bawa kamu ke kantor jika tidak menurut. Jika sudah di kantor, aku tidak akan membiarkan kamu pergi ke mana pun. Mau?"
Viona menatap suaminya dengan kesal. "Aku tidak suka dikekang, Chal. Kalo kamu seperti ini, aku pasti gak nyaman."
Ditatapnya mata Viona dalam, Marshal terdiam. Dia melupakan sesuatu. Tapi, kenapa Viona juga selalu menurutinya, tidak membantah lagi, sehingga Marshal melupakan hal yang paling dibenci oleh istrinya.
Marshal menyentuh tangan Viona membuat pandangan yang semula berpaling ke arah jendela, kini kembali menatap padanya. Mereka sama-sama diam saling pandang. Marshal merasa tidak enak melihat istrinya yang kembali dingin.
Viona tidak suka dikekang!
Marshal harus terus ingat hal itu. Tapi, sangat sulit baginya membebaskan Viona begitu saja. Rasa takut kehilangan selalu membuatnya ingin tetap menguasai Viona untuk tetap berada di bawah kehendaknya, sehingga Viona tidak akan punya celah untuk pergi.
Viona menarik tangannya dari genggaman Marshal. "Nanti pulangnya jangan dijemput, ya. Aku mau kumpul dulu sama teman. Boleh, kan? Hanya sebentar saja."
Marshal diam karena tidak bisa menyetujuinya. Namun, dia juga tidak boleh terlalu mengekang istrinya. "Sama siapa?"
"Teman kampus. Hanya sebentar. Sebelum petang pasti sudah pulang."
Marshal terlihat berpikir sejenak. Dia melirik pada Rio yang masih menyetir dalam diam. "Jadwal terakhirku hari ini sampai jam berapa, Yo?"
"Aku sudah bilang, gak mau dijemput," sambar Viona tiba-tiba membuat Rio mengurungkan niatnya untuk menjawab. "Nanti aku pulang naik taksi atau minta Frans anterin."
Tatapan Marshal terlihat beda. Dia menahan diri sebisa yang dia bisa supaya tidak mengeluarkan fatwa yang membuat istrinya marah atau tidak suka. Tapi, tetap saja Marshal tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
"Telepon aku jika sudah ingin pulang! Aku tetap akan menjemputmu! Jika pun pekerjaanku belum selesai, ada Rio yang bisa menggantikannya."
Mendengar ucapan Marshal, Rio mencibir dalam hati. Selalu saja seperti itu. Dia lagi yang kena imbasnya. Pasti. Biarlah! Sudah nasib bekerja dengan majikan seperti itu, Rio hanya bisa menurutinya.