Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Isi Dompet


__ADS_3

Baru tersadar, Viona langsung membuka matanya lebar-lebar. Melihat ke samping dan segera mengintip tubuh di bawah selimut.


Dihelanya napas lega melihat pakaian yang masih lengkap di tubuhnya. Marshal masih memejamkan mata, tidur di sampingnya. "Chal?" Viona menggeliat pelan untuk menjauhkan Marshal darinya. "Bangun, udah siang!" Melihat jendela kamar yang terbuka, di luar masih saja hujan. Padahal hari sudah menjelang, berganti waktu menjadi siang.


Jam di kamarnya menunjukkan pukul sebelas. Ternyata Viona tidur sudah cukup lama, dan Marshal masih saja belum mau membuka mata.


"Mentang-mentang hari libur, dia malas sekali," gumam Viona mengangkat tangan untuk menyugar rambut suaminya. Wajah Marshal terlihat tenang dalam lelapnya. Viona mencubit hidung suaminya cukup lama sampai Marshal menggeliat, merasa tertanggu dan sulit bernapas. "Bangun, udah siang!"


"Mmhh..." Marshal malah kembali berbenah dan semakin menempel ke tubuh istrinya.


Viona hanya menghela napas, membiarkan Marshal tidur sepuasnya. Itu lebih baik, daripada mereka berdebat tidak jelas. "Chal, aku pengen ke rumah Mama." Tidak mendapat respon, Viona melirik ke samping. Marshal sudah kembali tidur dengan nyenyak membuat Viona mencebik kesal. Dia benar-benar tidak mau bangun.


Setelah lama terdiam sambil dipeluk suaminya, Viona baru tersadar, sejak kapan jendela kamarnya terbuka? Pantas saja udara terasa begitu dingin dan dia bisa melihat hujan di luar sana. Viona duga, Marshal yang melakukannya tadi pagi. Karena Viona ingat benar, jika dia tidak pernah membukanya.


Tubuh Viona tersentak saat tangan Marshal bergerak dari atas perutnya. Dengan segera Viona menahannya. Melihat suaminya kesal, Marshal tidak berniat mencari kesempatan, kan? Viona tidak mau itu terjadi. Dia merasa tidak nyaman disentuh seperti itu.


"Sayang ...."


Samar-samar Viona mendengarnya. Marshal masih terpejam, namun bergumam. Viona mengubah posisi tubuh yang semula terlentang, kini menyamping menghadap suaminya. Diusapnya rambut Marshal yang berantakan menutupi dahi, Viona menyisirnya dengan jemari tangan. Dalam keadaan tertidur saja, Marshal masih terlihat tampan. Viona tidak akan berkilah dengan fakta tersebut. Suaminya memang good looking.


"Chal, bangun!" Diuyel-uyelnya pipi Marshal, Viona terkekeh melihat mata suaminya yang terbuka setengah, lalu tertutup kembali. "Udah siang, kamu gak mau bangun?" Marshal tidak peduli dan malah menarik tubuh Viona untuk dipeluknya erat. "Aku mau bangun, lapar."


"Sebentar, aku masih ngantuk." Marshal menarik kepala Viona supaya terbenam di dadanya. Dia juga lapar, belum sarapan apapun. Tapi, matanya sulit diajak kerja sama, dan akhirnya Marshal kembali tertidur dengan pulas. "Jangan bangun mendahului aku, Sayang!"


Viona mencibir pelan medengar gumaman suaminya. Sedang tidur saja, Marshal masih sempat memperingatkan. Padahal Viona sudah bosan di tempat tidur. Jika sudah seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut lebih baik untuknya.


Satu jam berlalu, Marshal terbangun. Viona segera membebaskan diri dari pelukan suaminya. Masih sempat menggerutu pelan karena pegal. Selama Marshal tidur, dia hanya diam, tidak bisa melepaskan diri. Dengan mata yang terbuka dan akhirnya dia berpikir ke mana-mana sambil melamun.


"Tidur yang berkualitas, hanya bersamamu, Sayang." Marshal tersenyum senang, bangun dan merentangkan tangan yang terasa pegal tertindih kepala istrinya dalam waktu lama. "Terima kasih sudah mau menemani aku tidur."


Viona hanya bergumam dan segera bangun. Dia masuk ke kamar mandi meninggalkan Marshal yang masih menguap.


"Aku mandi di kamar kita, ya," teriak Marshal pada Viona yang baru saja masuk kamar mandi. "nanti aku tunggu kamu makan siang. Jangan lama-lama!"


***

__ADS_1


Selesai sarapan yang tertunda di siang hari, Viona kembali ke kamarnya. Dia belum sempat membereskannya, karena tadi Marshal memaksa untuk segera makan dengan alasan sudah sangat lapar. "Bagaimana jika aku mati kelaparan hanya karena menunggumu membereskan tempat tidur?" Begitu katanya. Viona hanya menuruti keinginan suaminya.


"Apa ini?" Viona mengernyit. Marshal masuk ke kamarnya, menyodorkan dompet kulit berwarna hitam padanya.


"Ambil yang kamu mau. Aku tidak mau kamu berbelanja dari orang lain lagi."


Viona menerima dompet tebal tersebut dengan bingung. Dia duduk di tepi ranjang dan membukanya perlahan. Begitu banyak kartu di dalamnya. Ada puluhan. Mulai dari kartu debit sampai kartu hitam yang sangat tidak bisa dibandingkan dengan kartu apapun. Suaminya benar-benar kaya. Selain itu, ada juga kartu tanda pengenal, kartu SIM dan kartu-kartu lainnya.


"Ini punya kamu semua?"


"Iya, itu punyaku. Ambil yang kamu mau, bebas!"


Viona melirik satu per satu. "Kartu per-"


"Itu punyaku semua, Sayang. Pribadi. Untuk pekerjaan, di simpan di tempat lain."


Viona terperangah mendengarnya. Kartu pribadi saja sudah sebanyak ini, belum lagi yang bersangkutan dengan pekerjaan. Marshal sangat tajir. Setelah lama melihatnya, Viona menyeringai pada suaminya. Memasang wajah seimut mungkin sambil mengerjapkan matanya.


"Jika aku mau semuanya, boleh?" Melihat Marshal yang terdiam, nampak ragu, Viona memberengut. "Tidak boleh, ya, sudah ...." Dia mengembalikan dompet itu ke tangan suaminya.


Benar juga. Viona kira Marshal tidak mau memberikan semuanya karena Marshal pelit. "Berarti boleh semuanya?"


Marshal mengangguk cepat. "Jika kamu mau, itu boleh. Tapi, tinggalkan kartu pengenal untukku."


Viona tidak menyangka Marshal akan menyetujui keinginannya. Padahal Viona hanya becanda, tapi Marshal menganggapnya serius. "Nanti kamu bangkrut kalo aku ambil semua."


"Tidak akan." Marshal tersenyum lebar dan kembali mengusap pipi istrinya. "Kata orang, jika aset dipegang oleh istri, akan terjaga dengan baik. Apalagi jika istri bisa bahagia, itu akan membuat rezeki yang datang semakin melimpah. Aku tidak takut miskin. Aku percaya, kamu mau menikah denganku bukan karena mau membuatku sengsara."


"Percaya sekali. Bagaimana jika aku menguras hartamu?"


"Sebelum kamu menguras hartaku, aku akan menghamili kamu dulu."


"Eh?" Viona segera menggeser tubuhnya sedikit menjauh. "Aku akan menghabiskan semua uangmu ini." Dia mendekap dompet Marshal di dadanya.


Marshal memeluk Viona cepat, dan mulai mendaratkam ciuman di seluruh wajah istrinya. "Aku sudah bilang sebelum kamu menguras hartaku, aku akan menghamili kamu dulu." Viona berusaha kuat melepaskan diri. Marshal malah semakin berani menyentuhnya. "Jika kamu hamil dan membawa pergi hartaku. Aku senang. Karena hartaku pasti dipakai oleh anakku sendiri."

__ADS_1


"Huh, tapi aku tidak mau hamil."


"Tidak bisa. Jika kamu mau hartaku, kamu harus hamil anakku." Marshal semakin mendesak tubuh Viona sampai berbaring di ranjang. Diambilnya dompet dengan paksa dan melemparkannya asal. Tidak peduli jika hilang, fokusnya saat ini hanya pada Viona. "Masih mau menguras hartaku, Sayang?"


Viona terkekeh geli, Marshal menciuminya tiada henti. "Oke, aku nyerah. Stop! Aku tidak akan mengurasmu." Kepala Viona menggeleng ke kanan dan ke kiri menghindari serangan suaminya yang semakin menjadi. "Chal, udah! Basah, ih! Chal, lepas!"


Setelah menggigit gemas pipi istrinya, Marshal bangun dari atas tubuh Viona. Membantu istrinya untuk duduk, Marshal mengusap pipi istrinya yang ternyata terdapat bekas gigitannya.


"Kanibal!" maki Viona meringis sambil mengusap pipinya dengan kesal.


Marshal jadi merasa kasihan. Menyingkirkan tangan Viona dari pipinya, dan dia mencium pipinya lembut. "Maaf. Aku gemas, jadi kelepasan."


Viona malah mendengus memandanginya tajam. Dialihkannya pandangan ke seluruh sudut ruangan. "Tadi dompet kamu mana?"


Marshal berdecak kesal. "Ternyata istriku suka harta? Aku baru tahu. Aku kira-"


"Dompetnya mana?" Viona mencarinya di atas ranjang, namun tidak ada. Dia melihat tangan Marshal, tetap tidak ada. "Mana?"


Marshal hanya menggeleng. Sikap Viona memang sulit ditebak. Dia tidak menyangka jika istrinya bisa terobsesi terhadap dompetnya juga.


"Chal, ih, mana?" Viona meraba lengan Marshal, namun tidak kunjung menemukannya. "Chal?!"


"Buat apa, Sayang?"


"Mana?"


Embuskan napas kasar, Marshal menunjuk arah kamar mandi. Viona mengikuti arah tunjuknya dan langsung membuka mata lebar. Dengan menggerutu dia berjalan ke arah yang ditinjuk oleh suaminya. Marshal sangat keterlaluan. Dia melemparkan dompetnya sampai sejauh itu. Padahal isinya sangat berharga, Marshal seperti tidak peduli dengan isinya.


"Kamu sungguh ingin menguras hartaku, Sayang?"


Viona tidak menggubrisnya dan malah membuka dompet itu dengan tidak sabaran. Setelah pengamatannya dikira benar, Viona melihat Marshal tajam sambil mengeluarkan sebuah foto kecil dari dompet tersebut.


"Ini ... kenapa ada di dompet kamu?"


Marshal tercengang dan langsung berdiri. Matanya membulat sempurna. Bagaimana bisa, Marshal lupa jika di dompetnya tersimpan foto Viona yang masih kecil.

__ADS_1


"Ini foto aku, kan?" Viona melirik lagi foto di tangannya. Dia yakin, itu adalah dirinya sewaktu kecil. Tapi, kenapa ada di dompet milik suaminya? "Chal?"


__ADS_2