Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Malah Semakin Memperburuk Hubungan


__ADS_3

Marshal menggeram marah, mendorong tubuh Viona sampai terjerembab ke atas ranjang. Tangannya mengepal kuat mendengar istrinya yang lebih menganggap Sendi berarti daripada suaminya sendiri. "Berani kamu bicara seperti itu padaku! Semakin hari kamu memang semakin berani, ya." Marshal menahan Viona yang akan kembali bangun. "Ucapanmu sungguh tajam, Zahra. Kamu pikir aku ini apa sampai kamu berani bicara seperti itu?!"


Viona berontak untuk bangun. Dia mendorong kuat tubuh Marshal dan cepat berjalan menuju pintu. Bukan saatnya untuk meladeni Marshal saat ini, dia ingin cepat melihat keadaan Sendi.


Setengah berlari Marshal menyusul langkah istrinya. Mengangkat tubuh Viona dengan sekali gerakan. Viona berontak dan memukul-mukul tubuhnya. Rambut Marshal bahkan dijambak oleh istrinya. Marshal tidak peduli dan segera mengunci pintu dengan susah payah karena masih menggendong Viona kuat supaya tidak terjatuh. Dia mengantongi kuncinya dan membawa Viona menuju ranjang. Viona terus saja berontak minta diturunkan, namun Marshal tidak menghiraukan.


Dihempaskannya tubuh Viona ke atas ranjang. Marshal mengungkung tubuh istrinya dengan tangan di sisi kanan dan kiri. Viona terus saja meronta dan Marshal tetap tidak peduli. Dia malah semakin kuat menahan tubuh Viona.


"MARSHAL ...!"


Tersentak saat Viona berteriak di depan wajahnya. Pertama kali Viona menyebut namanya dan langsung dalam nada yang tidak enak di dengar. Dia menatap tajam istrinya yang sudah terlihat sangat emosi. "Menurutlah sedikit padaku! Aku hanya melarangmu pergi, tapi kamu bertingkah seolah aku melarangmu untuk bernapas."


"Aku hanya ingin pergi sebentar, Marshal. Bisa tidak kamu mengerti sedikit?!" Dada Viona naik turun seingin dengan luapan emosinya.


Marshal tercengang mendengar gaya bahasa Viona yang mulai berubah. Dia menahan kedua tangan Viona karena terus saja berontak dan memukulinya. Menahan tangan istrinya di sisi kanan dan kiri.


"Ah, lepas, Bastard! Aku ingin pergi."


Emosi Marshal semakin meningkat. Viona bahkan berani memakinya sekarang. Istrinya benar-benar sudah berani melawan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"


Viona semakin tidak terkendali. Meronta dan terus memaki suaminya sendiri. Dia sudah muak terhadap Marshal. Perlahan Viona melemahkan rontaan tangan dari cekalan Marshal dan menyiapkan kaki untuk menendang aset suaminya yang tepat berada di atas lututnya. Namun, belum Viona melakukan aksinya, Marshal sudah menyadari pergerakannya dan segera menggeserkan tubuhnya.


"Jangan coba-coba melawan dengan menyiksaku lagi!" Viona kembali berontak minta dilepaskan, namun Marshal tetap tidak membiarkannya bebas. "Diamlah! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menemuinya lagi!"


"Awas, aku mau pergi!"


"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi."

__ADS_1


Viona menyeringai membalas tatapan suaminya. "Kamu lupa aku yang memegang kendali sekarang? Jika kamu memperlakukan aku seperti ini, maka jangan cegah aku, jika aku menggugat cerai."


Seringaian licik terganti kini muncul di wajah Marshal. Dia memandang Viona dengan tatapan remeh. "Aku tidak peduli. Selama kamu berada di kamar ini, kamu tidak mungkin bisa ke mana pun. Jangankan menggugat cerai, keluar dari sini saja tidak bisa. Sudah, menyerahlah! Jangan mengancamku dengan alasan perceraian lagi! Karena itu tidak akan terjadi."


Sial, Viona mengumpat dalam hati. Cepat sekali Marshal berubah. Gertakan Viona tentang perpisahan sama sekali tidak membantunya untuk membebaskan diri. Tidak mungkin dia kalah dari Marshal. Tapi, ucapan Marshal membuatnya benar-benar mati kutu. Dia berada di dalam kamar dan pintunya terkunci, mana mungkin bisa membebaskan diri. Marshal jadi licik, bisa-bisa dia berubah jadi pintar di saat seperti ini.


Lebih baik Marshal aneh seperti tadi, dengan mudah Viona bisa mengendalikannya. Tapi, sekarang ... dia bahkan tidak bisa berbuat banyak.


"Marshal, lepas! Aku mau pergi." Sekali lagi Viona berontak. Dia pasti punya cara untuk terbebas dari suaminya. Namun, Marshal tetap kuat menahannya. "Lepas, sialan!"


"Diam atau kuperawani kamu sekarang juga!"


Viona langsung terdiam. Marah digantikan rasa takut mendengar ucapan Marshal barusan. Dia tidak mau terjadi hal buruk pada tubuhnya. Tapi, dia harus pergi sekarang juga. Dia jadi bingung harus bagaimana.


"Diperawani takut, tapi memaki suami tidak takut kamu, ya." Marshal menggeram rendah. Namun, batinnya menyeringai puas melihat Viona yang tidak terlalu berontak, meskipun tetap berusaha melepaskan diri. "Jangan pernah menemuinya lagi! Aku tidak suka."


Kenapa dia jadi mati kuti seperti ini? Di mana jiwa pemberanimu Viona? Kalahkan Marshal atau bunuh dia sekarang juga!


"Lepas, Marshal!" Viona kembali berteriak, saat matanya terbuka dia ketakutan karena Marshal menyeringai dan mengendus lehernya. Dia harus waspada karena berbagai kemungkinan bisa terjadi. Marshal benar-benar sudah kembali pada sifat aslinya. Bukan hanya tangan Viona yang ditahan, namun kaki juga ditahan oleh kakinya. Viona benar-benar kesulitan untuk melepaskan diri, tetapi dia harus bisa bebas dari suaminya. Bagaimanapun juga Marshal pasti punya titik lemah yang lain.


"Ah, tidak ... tidak jangan!" Viona menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Marshal mulai mengecupi lehernya, Viona semakin takut. "Berhenti, bodoh! Aku tidak mau." Sekuat tenaga dia kembali bergerak, namun hasilnya sama saja. Marshal benar-benar bisa mengunci pergerakannya sekarang.


"Biar kutunjukkan si bodoh ini juga bisa untuk menang." Seringaian licik kembali terukir pada wajah Marshal. Viona semakin tidak karuan untuk meronta. Dia harus bisa keluar dari cengkraman Marshal. "Mau menurut atau kuambil paksa, hm?"


"Tidak ... jangan! Aku mohon jangan-Marshal ... ah, bodoh, jangan!" Viona berteriak-teriak tidak karuan karrna Marshal kembali melanjutkan aksinya. "Terkutuk kamu Marshal! Brengsek!"


Marshal yang sedang asyik menjelajah leher istrinya mendongak, tersenyum licik melihat Viona yang semakin ketakutan. "Ini sudah menjadi hakku, tidak akan disebut brengsek. Ingat itu!"

__ADS_1


Viona mulai berkaca-kaca, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penuh ketakutan. Marshal tidak peduli dan terus melakukan aksinya. "Hanya suami bejat yang meminta haknya secara paksa!" ucap Viona dengan suara yang mulai melemah.


Marshal terdiam, sempat mencuri satu kecupan lagi di leher istrinya. Perlahan dia mengangkat wajah dengan panik karena isak tangis yang mulai terdengar pilu. Dia tercengang melihat buliran bening kembali merembes dari mata istrinya. Cengkaraman pada tangan Viona dia lemahkan. Perasaan iba hinggap pada dirinya melihat Viona yang menangis.


"Brengsek!" makian Viona kembali menyapa wajahnya. Tangisan semakin pilu terdengar, Marshal terdiam. Menelan ludah memandangi istrinya yang terus mengalirkan air mata.


Menggeserkan tubuh ke samping, Marshal melihat istrinya yang langsung menutup wajah begitu tangan yang baru saja dia lepaskan. Isakannya terasa menyayat hati, apa Marshal terlalu kejam pada istrinya?


Duduk menghadap Viona dan mengulurkan tangan untuk membuka wajahnya. Marshal memejamkan mata dengan batin sakit. Bisa-bisanya dia membuat Viona menangis. Tangannya terulur untuk mengusap wajah istrinya yang tergugu. Tatapan penuh kebencian Viona pancarkan sebagai bentuk kemarahannya pada Marshal atas apa barusan dia lakukan. Marshal merutuki dirinya sendiri karena telah hilang kendali. Seharusnya dia tidak seperti itu tadi, tapi perasaan cemburu membuatnya hilang akal. Dia hanya mau Viona kembali menurut padanya dan tidak menemui Sendi. Marshal tidak berpikir akan jadi seperti ini. Niat untuk meluluhkan hati istrinya, sudah dia rusak duluan padahal belum dia mulai. Jika sudah seperti ini, bukan hati yang Marshal dapatkan, tapi mungkin kebencian.


Viona bangun seraya mengusap wajahnya kembali. Marshal langsung memeluknya penuh rasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud ...."


Namun, Viona mendorongnya kuat dan cepat turun dari ranjang. Masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu dengan keras sampai Marshal tersentak dari kejauhan. Dia mengacak rambutnya dengan kesal, memaki dirinya sendiri. Viona pasti membencinya setelah ini. Hubungan yang baru saja kembali dijalin, sepertinya akan semakin memburuk, bukannya semakin membaik.


***


Keluar dari kamar mandi, Viona sudah tidak menemukan sosok suaminya. Tidak peduli ke mana. Memang lebih bagus jika dia tidak melihat Marshal lagi, selamanya. Viona benar-benar benci pada Marshal. Bisa-bisanya dia berbuat seperti tadi. Viona memang istrinya dan sudah kewajibannya untuk melakukan hal itu. Tapi, jika Marshal memintanya dengan paksaan, dia tidak rela. Viona masih punya harga diri. Dipaksa melakukannya, meskipun oleh suaminya sendiri, dia tetap tidak terima. Sama saja dengan dilecehkan karena tidak ada kemauan untuk melakukannya.


Untung saja saat ini Marshal tidak ada. Viona bisa bernapas lega. Kalau Marshal masih berada di kamar, emosi Viona pasti tidak tertahankan. Dia muak dan benar-benar benci pada suaminya sendiri. Biarkan saja dia disebut istri kurang ajar, yang terpenting dia tidak dilecehkan oleh Marshal. Jika Marshal suami yang baik, dia pasti tidak akan pernah memaksa Viona seperti tadi.


Berbagai umpatan kasar Viona gumamkan untuk memaki suaminya. Viona tidak tahu bagaimana jadinya, jika hal tadi benar-benar terjadi. Dia pasti akan membenci Marshal lebih besar lagi. Bahkan kalau perlu langsung membunuhnya saat itu juga. Untung saja aksi Marshal tidak berlanjut, Viona masih bisa selamat.


"Gila!" umpatnya lagi penuh kekesalan.


Viona melirik pintu sebentar, kemudian melihat jam di atas nakas. Sudah tengah malam. Jika pergi ke rumah sakit sekarang, pasti tidak bisa masuk. Tapi, perasaannya belum bisa tenang jika belum melihat keadaan Sendi secara langsung. Viona masih mengkhawatirkannya.


Terbersit dalam benak untuk melarikan diri. Langkah kaki membawanya ke arah pintu. Menggapai gagang pintu dan segera memutarnya, namun tidak bisa. Marshal pasti menguncinya dari luar. Suami sialan itu sama sekali tidak merasa bersalah padanya. Setelah berbuat kasar, dia justru malah menghilang. Viona semakin benci pada Marshal. Laki-laki itu ternyata sangat parah, lebih dari dugaannya. Marshal yang Viona kira tidak akan berbuat semena-mena lagi setelah dia memutuskan kembali, ternyata malah semakin gila. Viona harus mencari cara untuk pergi, karena jika tetap berada di sana, sama saja dengan memberikan kesempatan untuk Marshal kembali berbuat yang tidak-tidak.

__ADS_1


Pandangannya tertuju ke arah balkon kamar, Viona berjalan ke sana. Dia mungkin bisa melompat lewat pagar balkon, tidak peduli jika orang rumah akan geger karena ulahnya. Yang dia inginkan hanya melarikan diri. Namun, sial, pintu kaca menuju balkon ternyata dikunci juga oleh Marshal. Laki-laki menyebalkan itu sungguh mengurungnya di sana. Alih-alih meminta maaf, Marshal malah semakin membuatnya tidak suka dan membencinya semakin besar. Viona akhirnya menyerah. Dia tidak mungkin bisa keluar, jika semua akses terkunci. Marshal memang benar-benar membuatnya darah tinggi, Viona tidak akan memaafkannya lagi. Cukup sudah kesabaran yang dia tahan selama ini. Viona sudah tidak mau melihatnya lagi.


__ADS_2