
Kesulitan bergerak adalah hal pertama yang paling mengesalkan bagi Viona. Itulah alasan dia tidak mau tidur dengan Marshal dan memilih tidur bersama adik iparnya. Karena setiap bangun, selalu saja seperti ini. Pelukan Marshal terlalu erat, padahal dia masih tidur. Viona susah untuk melepaskannya.
Setelah semalam sempat bertengkar akibat pemaksaan Marshal yang membawanya dari kamar Michelle sampai dia terjatuh, Viona kalah. Tidak mau membuat keributan lebih di tengah malam, takut membangunkan semua orang yang sedang terlelap. Dia terpaksa tidur bersama suaminya, namun lagi-lagi kesal yang menyambut bangunnya.
"Lepas, aku mau bangun!" Viona menggeliat-geliat dalam pelukan Marshal. Tapi, suaminya masih saja tidak mau melepasakan dan malah semakin kokoh mejerat tubuhnya. Viona yakin, Marshal pasti sudah bangun, makanya dia masih bisa menahan rontaan istrinya. "Lepasin!"
Marshal yang memang sudah sadar dari tidurnya, malah membuat Viona semakin kesal. "Jam berapa ini, Sayang?" gumamnya menyurukan wajah di leher istrinya. "Aku masih mengantuk."
"Udah subuh. Lepas, ih!" Viona menendang kaki Marshal di bawah selimut. "Lepas!"
Marshal meringis pelan dan melonggarkan pelukan. Setengah terpejam, dia memandangi istrinya yang terlihat kesal. "Kamu kejam, Sayang. Selalu saja menyiksa suami sendiri."
Viona cepat-cepat menggeser tubuhnya untuk segera pergi ke kamar mandi, namun dia malah terbaring kembali karena Marshal menariknya. "Aku mau bangun!"
"Aku masih ngantuk, temani dulu sebentar!"
Istri Marshal tersebut malah meronta dan berhasil untuk menghindar dari suaminya. Dia bangun dan segera turun dari ranjang. Marshal ikut bangun, menyusulnya dengan cepat. Mengangkat tubuh Viona yang tersentak kaget, kemudian membaringkannya kasar ke atas ranjang.
Viona meronta karena dia mengungkungnya. Marshal tidak suka Viona tidak menurutinya. "Aku bilang cuma sebentar, kenapa tidak mau?"
"Aku mau ke kamar mandi. Kalo masih ngantuk, kamu 'kan bisa tidur sendiri."
"Aku mau ditemani."
"Manja!" bentak Viona di depan wajah suaminya yang langsung melotot tajam. Berusaha terbebas dari kungkungan Marshal, Viona terus meronta dan memukul dada suaminya. Marshal tidak bergeming di atasnya, Viona terus saja berusaha terlepas.
"KAKAK ...!" suara teriakan histeris terdengar di depan pintu kamar.
Viona memekik karena Marshal menindih tubuhnya. Sampai sesak napas menahan bobot Marshal yang menimpannya begitu cepat karena terkejut mendengar suara teriakan yang melengking tersebut. Cepat-cepat Marshal kembali menopang tubuh dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri tubuh Viona. Suara pintu terbuka dan teriakan melengking kembali terdengar, mengalihkan pandangan mereka.
"Kak, kak Viona hilang!" Michelle muncul di balik pintu yang terbuka. Matanya langsung membulat sempurna dan menutup wajah dengan kedua tangan. "Ah, ma-maaf, aku tidak tahu," ucapnya tergagap, mengintip lewat celah jemari tangan, melihat ke arah ranjang. Adegan tidak senonoh tampak mengasyikan, namun Michelle malu melihat kakak dan kakak iparnya sedang dalam posisi seperti itu.
Viona segera mendorong tubuh Marshal. Dia bangun dengan wajah malu melihat Michelle yang terus menggumamkan kata "maaf" namun masih mengintip di celah jemari tangan. Dia melirik Marshal tajam. Suaminya hanya nyengir tanpa rasa bersalah.
"Ada apa, Chelle?" Viona mencoba setenang mungkin untuk menghidari rasa malu dan kagetnya. Turun dari tempat tidur mendekat pada Michelle yang masih berdiri di depan pintu.
"Kalian memakai baju, kan?"
"Astagfirullah, Chelle." Viona mengembuskan napasnya kasar. Michelle jadi salah paham.
"Aku kira Kak Viona hilang, makanya panik saat bangun tidur Kakak gak ada," ucap Michelle yang merona malu membuka tangan yang menutupi wajahnya.
"Aku yang nyulik," sambar Marshal, kembali berbenah dan menarik selimut sampai dada. "Sayang, sini, tidur lagi! Aku masih ngantuk."
Viona mencibir dalam hati. Bukannya malu pada Michelle, laki-laki berstatus suaminya tersebut malah seperti itu. Selain menyebalkan, Marshal juga tidak tahu malu. Viona tersenyum canggung pada adik iparnya yang mengulum senyum. Dia harap Michelle mengerti bagaimana sikap Marshal, sehingga Viona tidak perlu panjang lebar meluruskan kesalahpahaman adik iparnya.
__ADS_1
Namun, nyatanya Michelle tidak seperti apa yang diharapan. Perlahan Michelle berjalan mundur dan menutup pintu. "Lanjutkan! Maaf, sudah mengganggu." Tidak lama terdengar suara tawa dan langkah kaki yang semakin menjauh.
Viona bernapas lega dan kini memandang sebal pada suaminya yang sudah kembali tertidur. Ingin sekali dia membunuh suaminya saat itu juga, jika tidak takut dosa.
***
"Hari ini aku ke kampus," ucap Viona, memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya.
"Aku antar." Marshal merapikan anak rambut di dahi istrinya. Mengecup kening Viona tiba-tiba sampai istrinya terkejut dan memukul dadanya. "Cuma dicium kening sudah marah," ejeknya sambil terkekeh.
Viona malah mendengus, segera menyelesaikan jalinan dasi. Sebenarnya dia tidak mau memasangkan dasi itu, tetapi Marshal terus saja memaksanya. Mau tidak mau, dia kembali pada perannya, istri yang baik mengurusi suaminya sebelum berangkat bekerja.
"Kenapa belum siap-siap? Katanya mau ke kampus." Marshal melihat heran pada Viona yang malah duduk di tepi ranjang sambil menonton acara televisi, setelah dia selesai merapikan penampilan suaminya. "Ayo, aku bisa kesiangan kalo nungguin kamu, lama!"
"Berangkat duluan aja! Aku nanti agak siangan," sahut Viona dengan cuek. Fokus melihat layar televisi yang menayangkan anatomi lebah madu. "Aku nanti berangkat bareng Frans."
Marshal langsung mengalihkan pandangan dengan cepat dari ponsel yang sedang menghubungi asistennya. "Kenapa? Aku antar saja, ya."
"Gak usah. Udah kamu berangkat aja, nanti kesiangan."
Ikut duduk di samping istrinya, Marshal menyimpan ponsel ke dalam saku jas setelah selesai mengirim pesan pada Rio untuk menjemputnya. "Kamu tidak mau berangkat denganku? Kenapa?"
"Aku berangkat siang."
"Gak usah, repot-Ih, apa, sih?" Viona melirik Marshal dengan kesal, karena laki-laki itu malah mengusap-usap pipinya dengan jari telunjuk. "Chal!"
Dibentak malah terkekeh. Marshal sangat gemas melihat kekesalan istrinya. "Aku suka kamu manggil aku seperti itu, Sayang. Cup!" Satu kecupan berhasil dia curi dari bibir merah muda istrinya. Viona langsung memandangnya tajam seraya mengepalkan tangan di udara. "Katanya mau memperbaiki pernikahan kita, tapi sikapmu masih saja seperti ini," ejek Marshal, mengalihkan pandangan ke arah lain.
Viona tidak peduli dan melihat televisi kembali. Dia pura-pura tidak tahu, jika suaminya terus saja memandanginya dari samping sampai tersenyum penuh makna tersirat. Dia sebenarnya kesal, tetapi malas untuk memperingatkan karena Marshal memang mengesalkan orangnya. Susah jika diperingatkan dan itu hanya buang-buang waktu bagi Viona.
"Viona Azzahra Pratama memang sangat cantik. Tidak kalah dengan pesona ratu lebah," celetuk Viona pelan tetap melihat layar televisi dengan ekspresi datar.
Tawa Marshal pecah sampai terbahak-bahak. Beberapa kali menggelengkan kepala melihat kepercayadirian istrinya yang tinggi. "Iya, ratu lebahku sangat cantik," Marshal kembali terkekeh melihat istrinya yang malah menaikkan dagu dengan angkuh. Tidak kuat menahan kegemasan, Marshal mencium pipi istrinya berulang kali. "Aku adalah lebah jantannya. Lebah jantan biasanya mengawini ratu muda, apa kamu mau aku kawini, hm?"
Viona segera mendorong tubuh Marshal dan berdiri dengan cepat menghindari suaminya yang menakutkan. Marshal malah menyeringai penuh arti membuat Viona semakin was-was. "Gak mau. Awas!" Dia semakin kuat mendorong Marshal yang malah memeluknya.
"Biarpun lebah jantan tidak menjadi raja, tapi selalu bisa mengawini lebah betina dan bahkan bisa menaklukan ratu muda. Jadi, kamu termasuk salah satunya."
"Tidak!" Viona berontak dalam pelukan Marshal. "Aku tidak mau!"
"Hari bahagia, Sayang. Aku tidak jadi pergi ke kantor," bisik Marshal di telinga istrinya. Viona semakin takut dan terus meronta. "Aku pasti bisa menaklukan ratu lebah ini. Apalagi kita belum pernah melakukannya." Marshal mencium mesra pipi istrinya. "Biar kutunjukkan-"
"Sebenarnya apa, sih, lebah jantan ini?" suara seorang pengamat hewan terdengar dari televisi. "Lebah jantan berasal dari telur yang tidak dibuahi."
"Tuh, dengar!" Viona memalingkan wajah Marshal ke arah televisi. "Lebah jantan telur yang tidak dibuahi. Kamu telur tak dianggap."
__ADS_1
Marshal melotot tajam tanpa mau melepaskan istrinya. "Akan kubuktikan, lebah yang berasal dari telur tak dianggap ini bisa membuatmu terkapar, Sayang! Lebah jantan itu heb-"
"Lebah ini berfungsi sebagai lebah pemacek, yakni mengawini ratu muda. Jika beruntung, seekor lebah jantan hanya dapat kawin sekali selama hidupnya, karena setelah berhasil mengawini ratu, lebah ini akan mati. Karena sifatnya yang pemalas, pada saat krisis makanan, banyak lebah jantan dibunuh oleh lebah pekerja (Rusfidra,2003)"
Viona tertawa dalam pelukan Marshal. "Yakin mau mengawini ratu lebah? Lebah jantan cuma bisa kawin satu kali seumur hidup, lalu mati. Sudah sana, mending segera berangkat, nanti kamu dibunuh lebah pekerja! Dasar lebah pemalas!"
Marshal melepaskan istrinya dengan sebal. "Nyesal aku jadi lebah jantan," gumamnya, "malah diejek ratu lebah."
"Makanya ... sudah, sana berangkat! Tadi katanya gak mau kesiangan." Viona mendorong-dorong tubuh suaminya untuk pergi. Marshal semakin sebal melihatnya, namun dia malah menarik tangan Viona untuk keluar dari kamar. "Ke mana? Aku gak mau ikut."
"Sarapan."
Marshal menariknya tidak sabaran sampai Viona harus terseret-seret mengikuti langkahnya. Hingga semakin cepat Marshal berjalan, Viona tidak bisa mengimbangi langkahnya yang lebar dan,
Brugh!
Viona tersandung dengan kakinya sendiri. Limbung, sehingga tubuh Marshal terdorong olehnya dari belakang dan dia tersungkur ke lantai.
"Sshh... kamu, sih. Kalo jalan pelan-pelan!" Viona meringis sambil mengusap pinggangnya. Melihat Marshal dengan penuh kemarahan.
"Ya, maaf, Sayang." Marshal ikut mengusap pinggangnya, tetapi malah ditepis oleh Viona yang menatapnya tajam. "Maaf, Sayang. Apa perlu ke dokter?" ucapnya dengan penuh rasa bersalah dan khawatir melihat Viona yang terus meringis baru bisa bangun, setelah susah payah untuk berdiri serta menahan sakit di bokong dan pinggangnya, lagi. Sakit semalam saja belum reda, malah ditambah rasa sakit yang baru.
"Kamu kenapa?" Wisnu dan Rahma menghampiri Marshal dan Viona di dekat tangga. Mereka juga akan turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.
"Ini, Pa, sakit pinggang," sahut Marshal, memandangi Viona kasihan, tetapi istrinya langsung memasang raut tenang saat berhadapan dengan kedua mertuanya.
"Oh," Rahma yang di gandeng Wisnu, terkikik melirik anak dan menantunya. Mereka melihatnya heran, namun Rahma malah menepuk lengan Wisnu serta mengerlingkan matanya dengan geli. "biasa, Pa, mereka baru baikan. Pantas jika mantu kita sakit pinggang." Dia beralih menepuk pundak Marshal. "Makanya, jangan kasar-kasar!" Kemudian, menarik tangan Wisnu untuk segera turun. Tidak menghiraukan raut tidak enak dari anak dan menantunya.
Marshal dan Viona saling pandang, kemudian melihat kepergian mereka.
"Semoga cucunya cepat jadi, ya!" teriak Rahma yang sudah menuruni tangga.
Kedua manusia itu sama-sama diam saling berpandangan kembali. "Mama pikirannya ... ya, ampun!" Marshal menggeleng-gelengkan kepala pelan. Meraih tangan Viona untuk membantunya berjalan.
"Kamu, sih!"
Embusan napas Marshal keluarkan dengan kasar. Viona masih saja memarahinya. "Iya-iya, aku salah. Aku minta maaf. Sini, aku lihat. Takutnya memar."
"Tidak!" Viona langsung menghindar saat Marshal ingin melihat bagian yang sakitnya. "Aku tidak mau disentuh!"
Marshal mendengus pasrah. "Aku hanya khawatir, Sayang."
"Don't touch me! Kita bukan mukhrim." Viona menjauhkan tubuhnya.
Marshal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu jangan terlalu dekat dengan Michelle! Jadi seperti ini, kan."
__ADS_1