
Plak!
Viona menoleh dengan cepat saat tamparan keras mendarat di pipinya. Dia terkejut melihat wanita yang baru saja memberinya tamparan adalah orang yang dia kenal.
"Siapa lo?!" Aness langsung menatap nanar pada wanita itu. Dia mengamankan posisi Viona supaya menjauh dari wanita yang kini malah menyeringai jahat.
Mereka sedang berada di sebuah parkiran salah satu restoran tempat mereka berkumpul untuk saling mengobrol sesama sahabat. Namun, seorang wanita tiba-tiba mendekat dan menampar pipi Viona dengan keras tanpa sebab yang jelas.
"Hanya tamparan tidak akan cukup baginya." Wanita itu tersenyum miring, terlihat penuh ejekan melihat istri dari Marshal Syahreza.
"Apa saya punya salah terhadap Nona?" Viona mengusap sejenak pipi yang terasa begitu panas dan perih. "Kita memang saling kenal, tapi tidak punya urusan, bukan? Jika Nona menampar saya karena masalah suami saya, tidak harus seperti ini juga."
Wanita itu malah tertawa penuh ledekan. "Kau tahu apa yang salah denganmu. Aku tidak perlu mengatakannya lagi."
Viona menghalau Aness yang berusaha melindunginya. Dia maju ke arah wanita itu dengan berani. "Nona Amanda Andorsen yang terhormat," Viona memberikan senyuman penuh artinya. "jika kita punya masalah, kita bicarakan baik-baik. Tidak harus langsung menyerang seperti ini," lanjut Viona dengan tenang.
Amanda menggertakkan giginya dengan geram. Dia sudah melayangkan kembali tangannya untuk menampar wajah Viona, namun tidak berhasil karena istri kekasihnya itu berhasil menahan tangannya.
"Kita wanita, tidak perlu memakai kekerasan, jika masih punya mulut untuk bicara."
Viona melepaskan tangan Amanda perlahan. Dia marah, karena Amanda tiba-tiba menamparnya. Namun, bukan berarti Viona akan meladeninya juga dengan kekerasan. Dia tidak tahu apa salahnya dengan Amanda, sampai wanita itu menamparnya. Namun, apalagi masalah mereka, jika bukan berusrusan dengan Marshal.
Viona menatap Aness, mengintruksikannya untuk diam. Sahabatnya itu terus saja menanyakan siapa wanita yang sedang berhadapan dengan Viona.
"Kau apakan Marshal sampai dia membuangku ke Milan?!"
Viona mengernyit tidak mengerti. Apa yang Amanda katakan barusan sungguh tidak Viona pahami sama sekali. "Urusan Nona mungkin dengan suami saya. Nona salah jika malah melabrak saya."
__ADS_1
"Tujuanku memang ingin melabrakmu," ucap Amanda dengan angkuh. "Marshal seperti sekarang itu karenamu, bukan? Kau apakan dia? Kau pasti tahu hubunganku dengannya belum selesai, tapi kenapa dia sampai mengendalikan agensiku untuk memindahkan kontrak kerjaku ke luar negeri? Pasti itu karenamu, kan?"
Viona tertegun mendengarnya. Ternyata hubungan Marshal dan Amanda belum selesai. Viona kira Marshal sudah menepati janjinya untuk melepaskan Amanda, tapi ternyata hanya menghindarinya.
"Anda salah paham, Nona. Saya tidak melakukan apapun. Apa yang suami saya lakukan, itu semua di luar kehendak saya. Dia mengendalikan agensi Anda, itu juga urusannya. Saya tidak tahu apa-apa. Anda salah jika malah menangguhkannya pada saya, karena saya sungguh tidak tahu mengenai hal itu."
Amanda melipat tangan di dada dengan penuh emosi. "Jangan mengira aku tidak tahu bagaimana siasatmu, ya. Kau yang merusak hubunganku dengan Marshal, dan masalah ini, pasti kau juga yang membuat Marshal melakukannya, kan?"
Viona menghela napas dalam. Menghadapi Amanda ternyata tidak mudah. Wanita itu tidak kunjung mempercainya, bagaimana Viona bisa menjelaskan semuanya dengan benar. Lagian, dia juga tidak tahu apa-apa masalah Amanda dengan suaminya.
"Kau licik!" Amanda menunjuk Viona dengan tajam, memandangnya penuh kebencian. "Kau pasti senang, kan, sekarang? Kau telah mengendalikan Marshal dan bisa mengusai hartanya? Itukan yang kau mau?"
Viona mengepalkan tangan di samping paha dengan geram. Tuduhan apalagi yang Amanda berikan padanya, sangat kejam. Viona bukan wanita seperti itu. Jika Amanda tahu, Viona bahkan tidak memegang uang sepeser pun dari suaminya, apakah wanita itu masih tetap mengiranya menikah dengan Marshal karena harta? Pasti wanita itu tidak akan pernah percaya dengan kenyataan yang ada.
"Cih, wanita murahan! Kau sekarang berhasil menguasai Marshal. Dia sekarang berpihak padamu. Kau memang benar-benar licik. Aku pikir kau wanita baik-baik sampai aku tidak pernah berpikir kau adalah sainganku." Amanda tertawa sinis. "Ternyata aku salah ... kau bahkan lebih munafik dari yang kubayangkan. Kau mengambil semuanya, kau haus akan hartanya, kan? Makanya kau sangat berambisi dan bertahan sampai saat ini berada di kalangan keluarga kaya seperti keluarga Marshal. Kau mau dinikahkan dengannya karena kau mau hartanya, iya, kan?"
Plak!
"Atas dasar apa Nona menuduh saya? Siapa Anda sampai berani berkata seperti itu?" Viona semakin berani, melangkah maju sampai berada tepat di hadapan Amanda yang masih meringis menahan sakit. "Nona mengatai saya hanya karena dia menghindari Nona? Nona merasa tersaingi oleh saya? Merasa kalah dari saya?"
Viona tersenyum miring melihat gigi Amanda mengetat, bahkan tatapannya terlihat nyalang penuh emosi. "Jangan menyalahkan saya jika Marshal memilih saya! Dia memilih saya, berarti dia berpikir saya lebih baik dari Nona, bukan? Apa salah saya, jika dia memilih istrinya?"
"Dia tidak akan memilihmu, jika kau tidak meracuninya."
"Nona salah, saya tidak pernah melakukan apapun padanya. Dia yang duluan mencintai saya dan sekarang memilih saya. Seharusnya Nona sadar sejak awal, dia berani menikahi saya, berarti dia memang serius terhadap saya. Sedangkan dengan Anda? Kalian hanya berpacaran tapi dia tidak melakukan pernikahan, bukan? Hanya masalah restu, seharusnya dia berjuang mendapatkan restu jika dia benar-benar ingin menikahi Anda. Asalkan Nona tahu, dia yang memaksa saya untuk menikah dengannya, bukan karena keluarganya yang menjodohkan kami."
Viona menghela napas dalam melihat Amanda yang terlihat kaget. Terpaksa dia melawan. Viona tidak akan diam jika dia sudah ditindas seperti sekarang.
__ADS_1
"Dia berani menikahi saya dan bertahan dengan saya. Apa Nona tidak juga sadar dengan apa yang dia inginkan? Dia ingin saya, bukan Anda. Sejak awal," lanjut Viona penuh penekanan.
Amanda terlihat semakin emosi. Dia berjongkok melepas sepatu heels miliknya. Dan begitu dia berdiri tegak, sepatu tersebut melayang sampai menghantam wajah mulus lawannya.
"Viona!" Aness terjengit kaget dan langsung menghampiri sahabatnya.
Viona justru terlihat mengernyit penuh kesakitan. Tangannya mengusap pipi dan dahi dengan sesekali meringis. Dia terkejut saat dahinya mengeluarkan darah. Sepatu mahal memang kuat. Ujung heels itu telah berhasil melukai kulit keningnya.
"Kau akan menyesal telah mengambil Marshal dariku."
Plak!
Viona masih merasa pusing akibat hantaman hils. Dia tidak mengira Amanda akan mendaratkan tamparan kembali di pipinya yang sudah terluka, sehingga dia tidak sempat untuk menghindar. Namun, perlawanan dengan cepat hinggap pada Amanda saat dia hendak pergi. Viona menarik tangan Amanda, tersenyum sebelum dia menarik tas mahal milik wanita itu dan menginjaknya dengan kasar. Amanda menjerit tidak rela. Itu tas kesayangannya, berisi barang-barang mahal yang berharga. Dengan teganya Viona melempar tas itu ke dalam selokan yang ada di ujung parkiran setelah dia menginjaknya dengan kasar. Tas itu masuk tepat sasaran, Amanda segera berlari untuk mengambilnya.
"Vi, lo gak pa-pa?" Aness merangkul pundak Viona. Sahabatnya itu masih meringis menahan sakit di keningnya sambil berjongkok menahan pusing. "Kita ke rumah sakit, sekarang!"
Viona hampir tidak sadarkan diri di mobil Aness. Di perjalanan Viona terus saja meringis dan berguman jika dia tidak apa-apa. Aness tidak menghiraukannya. Dia tidak bisa bilang Viona baik-baik saja, jika darah di keningnya tidak kunjung surut. Masih keluar, meskipun tidak deras, namun cukup banyak sampai turun mengenai matanya. Satu tangan Aness memegang setir dan satunya lagi mengusapkan tissue di dahi Viona. Membersihkan darahnya, namun masih tetap merembes.
Dasar wanita gila! Aness menyumpah serapahi Amanda yang entah bagaimana saat ini setelah Viona menghancurkan tas mahal yang tentu saja berisi barang berharga miliknya.
Aness semakin panik saat gumaman Viona mulai tidak terdengar. Sahabatnya menyandar dengan lemah di kursi samping.
"Aku pusing, Ness," lirih Viona terdengar lagi, sesekali meringis.
"Iya, sebentar lagi sampai rumah sakit, Vi. Jangan pingsan, lo kuat!"
Aness mendengus sebal saat mendengar Viona malah terkekeh. Viona memang kuat, tapi saat ini dia terlihat mulai lemah. Mungkin hantaman hils di kepala cukup memusingkan sampai Viona tidak berhenti meringis menahan sakit.
__ADS_1