
"Hufhh ...." Helaan napas Rio terdengar begitu keras saat masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana?" tanya Marshal pada asistennya.
"Sudah beres, Tuan. Mereka sudah pergi. Dan semuanya sudah ditangani dengan baik," sahut Rio menoleh sebentar ke belakang.
Viona memandangi mereka bergantian. Penasaran masih menyelimuti dirinya. Sebenarnya apa yang terjadi? Marshal dan Rio terlihat tegang sekali saat kembali.
"Chal, apa yang terjadi?" desak Viona lagi pada suaminya yang tidak kunjung menjelaskan.
Marshal meliriknya dan memberikan senyuman kembali. Selalu senyuman, padahal yang Viona inginkan hanya penjelasan. Karena suaminya tidak kunjung buka suara, Viona memalingkan wajah dengan kesal. Dia mendengus saat Marshal mendekat dan meraih tangannya. Viona tidak peduli.
"Nanti aku jelaskan jika sudah sampai di rumah." Kemudian, Marshal memerintah Rio untuk segera melajukan mobilnya.
Pandangan Viona melirik ke samping. Marshal kembali mendesah lelah seraya menyandar. Dia memijit keningnya perlahan terlihat sekali jika dia masih tertekan. Viona jadi tidak tega untuk kesal lebih lama. Melihat suaminya dan Rio seperti itu, dia yakin hal besar terjadi dan membuat mereka sampai stress seperti saat ini.
Disimpannya ponsel karena Marshal malah menggeser duduknya mendekat kembali pada Viona. Dia bersandar di bahu istrinya dan mulai memejamkan mata. Marshal meraih tangan Viona dan mengarahkannya pada kepala. Dia ingin di usap-usap oleh tangan istrinya.
Mengerti dengan keinginan suaminya, Viona pun melakukannya. Dia menyisir rambut Marshal dengan jemari. Memijatnya pelan, terasa sangat nyaman, sehingga Marshal hampir saja terhanyut ke dalam mimpi. Dia baru tahu jika tangan Viona pintar memanjakkan kepala. Pijatan-pijatannya terasa seperti terdapat teknik tersendiri yang membuatnya mulai merasa tenang.
Kenyaman itu berhasil membuat Marshal terlelap, sehingga dia tidak sadar jika mobil yang Rio kemudikan sudah terparkir di depan rumahnya. Mobil berhenti dan Rio turun duluan daripada mereka. Viona mencoba membangunkan suaminya, tetapi Marshal malah melingkarkan tangan di tubuh istrinya.
"Chal, bangun, sudah sampai!" Viona mengusap rahang suaminya. Dia mendongakkan wajah Marshal, perlahan mata suaminya mulai terbuka. "Sudah sampai."
Marshal mengerjapkan mata. Dia bangun, melihat sekeliling dan memberikan senyuman lagi pada istrinya. "Makasih pijatannya."
Viona hanya mengangguk dan turun dari mobil diikuti Marshal. Mereka masuk ke dalam rumah. Marshal memerintahkan Rio beberapa hal yang Viona sendiri tidak tahu mengenai masalah apa. Namun, asistennya itu terlihat mengangguk dan berlalu pergi menuju kamarnya. Marshal dan Viona pun menaiki tangga untuk segera beristirahat.
"Sayang, aku mau mandi," ucap Marshal pada istrinya.
__ADS_1
Viona melihatnya sejenak dan menyiapkan keperluan Marshal. Suaminya ingin berendam air hangat, Viona menurutinya dan mendapat balasan ciuman bertubi dari Marshal.
"Tunggu aku sampai selesai! Nanti aku akan menjelaskan semuanya." Marshal mengusap wajah Viona dengan lembut sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.
Viona duduk di atas ranjang dengan kaki yang berselonjor. Bantal barada di pangkuannya. Dia menunggu suaminya selesai mandi, sangat lama sekali sampai satu sinetron di televisi yang ia tonton telah usai. Marshal tidak kunjung keluar. Viona jadi khawatir dengan keadaannya.
Satu jam lebih Viona menunggunya. Marshal keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe berwarna hitam. Dia melirik pada istrinya yang juga melihat padanya.
Seakan mengerti dengan maksud suaminya, Viona menunjuk arah ruang ganti. "Sudah aku siapkan di sana," ucapnya pada Marshal yang kemudian masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk.
Viona masih sabar menanti sampai Marshal selesai berganti pakaian. Suaminya ikut naik ke atas ranjang, dan memposisikan diri untuk berbaring dengan paha istrinya sebagai bantalan. Tidak ada penolakan dari Viona. Istrinya itu malah mengusap rambut Marshal yang masih sedikit basah, dan menyisirnya dengan jemari tangan.
"Jadi ... apa yang sudah terjadi?"
Marshal mendongak untuk bisa melihat wajah istrinya yang menunduk. Dia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Viona, tetapi bagaimanapun juga, istrinya pasti tetap ingin tahu.
"Amanda bunuh diri."
"Hal bodoh apa, Sayang?" Marshal memposisikan tubuhnya untuk menyamping, memeluk perut istrinya.
"Chal, jangan bohong! Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu, kan? Mana mungkin dia berani bunuh diri."
Marshal bergumam, semakin erat memeluk perut istrinya. "Dia memang tidak mungkin berani melakukan itu, tapi dia hampir saja melakukannya?"
Viona terdiam untuk mencerna ucapan suaminya. Dia melihat Marshal dengan bingung sekarang. "Jadi, dia itu bunuh diri atau tidak? Kenapa kamu bilang ...?"
Marshal mendongak, melihat wajah Viona yang sangat kebingungan. "Dia tidak jadi bunuh diri, Sayang."
"Tadi kamu bilang, 'Amanda bunuh diri'. Dan sekarang kamu bilang tidak. Jadi, bagaimana?"
__ADS_1
Alis Marshal bertaut melihat istrinya. Dia sedikit pusing saat ini. Lama dia terdiam untuk akhirnya menyahuti ucapan Viona. Dia kembali terbenam di perut istrinya, memberikan pelukan yang begitu erat. "Aku mungkin salah bicara tadi. Amanda tidak bunuh diri. Tapi, hampir bunuh diri, jika Vennay, manager Amanda dan orang suruhannya tidak datang menolongnya."
Meskipun Marshal mengatakan jika Amanda hampir bunuh diri yang berarti tidak jadi, Viona tetap terkejut mendengarnya. Dia memaksa Marshal untuk melihat padanya dan kembali meminta penjelasan.
Marshal mengembuskan napasnya kasar. Dia mengubah kembali posisinya terlentang dengan masih menjadikan paha istrinya sebagai bantalan. Satu kaki dia tekuk, Marshal pun mulai bercerita pada istrinya.
Semuanya Marshal jelaskan pada Viona. Amanda hilang kontrol sampai mau Marshal menghamilinya, dia juga mengatakan hal itu. Setelah Marshal berhasil menahan Amanda untuk tidak membuka baju, Amanda menjerit histeris dan meronta untuk dilepaskan. Marshal tidak membiarkan dia terlepas dari cengkramannya karena dia tahu Amanda sangat nekat, jika sudah seperti itu.
Wanita model itu menangis dan menjerit sekeras yang dia bisa. Dia berontak pada suaminya Viona dan terus memaki laki-laki itu. Marshal sudah mencoba untuk menenangkannya sekuat tenaga, namun tetap tidak bisa.
Amanda marah pada Marshal. Dia sakit hati dan merasa sangat kecewa jika hubungan mereka berakhir begitu saja. Amanda juga mengatakan jika dia tidak mau hidup sendiri. Selama ini hanya Marshal yang menjadi temannya untuk bisa dia jadikan alasan untuk tidak mengakhiri hidupnya. Hanya Marshal yang tulus menyayanginya dan mau menjaganya. Amanda tidak punya orang lain lagi yang paling dia cintai melebihi Marshal.
Setelah lama meronta, namun tidak bisa terlepas, Amanda akhirnya melemah. Dia mulai pasrah saat Marshal menggendongnya untuk duduk di sofa. Dia hanya menangis tanpa banyak bergerak lagi. Marshal terus meminta maaf padanya dan tidak henti mencoba untuk menenangkan Amanda. Laki-laki itu merasa sangat bersalah melihat reaksi Amanda. Dia kasihan dan tidak tega melihatnya. Tapi, sebisa mungkin dia harus tetap pada keputusannya. Marshal tidak boleh seperti ini terus. Dia harus bisa berbuat lebih supaya hubungannya dengan Viona tidak lagi terasa sangat rumit.
Amanda mulai tenang, Marshal pun duduk di sampingnya, setelah sebelumnya dia bersimpuh di depan wanita itu. Marshal memeluk Amanda yang masih menangis dan terus mengatakan jika dia tidak ingin Marshal memutuskannya. Marshal hanya terdiam, tidak lagi mengeluarkan suara dan tetap mengusap kepala Amanda. Dia tidak mau Amanda kembali berbuat lebih buruk lagi, jika tahu bahwa Marshal tidak mungkin mengubah keputusannya.
Lama dalam posisi itu, Amanda terlihat sudah lebih baik. Tangisannya mulai mereda, meskipun masih terdengar dia tersedu-sedu. Marshal menemaninya. Dia mengusap kepalanya, membiarkan Amanda memeluk dan bersandar di dadanya.
Marshal menunduk, melihat mata Amanda yang mulai terpejam dengan napas yang masih belum teratur. Dia mengusap pipi wanita itu dengan lembut. Amanda terlelap. Perlahan Marshal bergerak untuk menggendongnya. Dia membawa Amanda ke kamar dan membaringkannya. Saat Marshal akan beranjak, Amanda menahan tangannya dan bergumam supaya Marshal menemaninya.
Laki-laki itu melakukannya. Dia duduk di tepi ranjang. Tangannya bergenggaman dengan Amanda sampai wanita itu kembali terlelap. Marshal menarik selimut menutupi tubuh Amanda sampai di atas perutnya. Dia melihat wajah Amanda yang terlihat mengernyit beberapa saat. Kemudian, terlihat tenang.
Dihelanya napas dalam, Marshal bangun. Dia berdiri di samping ranjang melihat Amanda yang terbaring dengan posisi menyamping ke arahnya. Wanita itu terlalu lemah. Amanda sangat butuh sandaran untuknya berlindung. Jika Marshal memilih untuk pergi, pasti Amanda akan sendiri. Sebenarnya dia tidak tega melakukannya. Amanda butuh seseorang yang benar-benar bisa menjaga dan menyayanginya. Marshal berjanji, dia akan tetap mengawasi Amanda dari jauh sampai wanita itu mendapatkan orang yang bisa dia jadikan sebagai teman hidupnya.
"Maafkan aku, Manda!" ucap Marshal dengan lirih. Dia enggan beranjak. Hatinya terenyuh melihat wanita itu. Kenapa begitu sulit untuk melepaskannya? Dengan mata terpejam, Marshal menghirup udara sebanyak-banyaknya memenuhi rongga dada. Perlahan dia membuangnya dengan gusar. Sulit dihadapi, namun tetap dia harus bisa melakukannya.
Setelah memastikan jika Amanda aman dengan lelapnya, Marshal berbalik badan. Dia keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya perlahan. Sangat takut jika Amanda menyadari kepergiannya.
Marshal mengambil ponsel untuk menghubungi manager Amanda. Namanya Vennay. Wanita itu telah lama mengenal baik Amanda selama menjadi modelnya. Selain pada Marshal, yang dia tahu, Amanda juga sangat dekat dengan Vennay, bahkan mereka sudah seperti keluarga.
__ADS_1
Mengatakan hal yang terjadi dan menitipkan Amanda pada Vennay adalah tujuannya. Setelah Vennay mengatakan akan segera datang ke sana, Marshal menutup sambungan. Vennay sebentar lagi akan sampai, karena sebenarnya wanita itu juga satu gedung apartement dengan Amanda. Hanya berbeda unit saja. Marshal melirik lagi pintu kamar Amanda. Dia berharap wanita itu tidak histeris saat bangun tidak menemukannya.
Baru Marshal ingin melangkah pergi, suara barang pecah terdengar dari ruangan yang baru saja dia tinggalkan. Dengan langkah cepat, Marshal masuk kembali ke dalam.