
Rio bingung melihat Marshal yang melamun. Marshal merasa bersalah karena telah memutus panggilan sepihak dan malah mematikan ponsel Rio. Dia mengatakan untuk tidak mengaktifkan ponselnya dulu supaya Viona tidak meneleponnya. Rio justru tidak setuju dengan pemikiran itu.
"Justru nyonya akan semakin khawatir jika Tuan seperti ini. Lebih baik Tuan berterus terang supaya nyonya bisa sedikit tenang di sana. Tidak diberitahu saja nyonya sudah berpirasat seperti itu. Apalagi jika Tuan diamkan. Nyonya pasti semakin cemas dengan keadaan Tuan."
Marshal hanya diam saja. Dia sendiri pun tidak bisa mengatakannya. Dia tidak sanggup melihat wajah istrinya berlinang air mata. Hatinya merasa teriris melihat Viona menangis. Marshal tidak sanggup. Meskipun ucapan Rio memang dia benarkan, tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak tega melihat Viona khawatir padanya. Dia tidak mau Viona semakin memangis jika dia memberitahu keadaan yang sesungguhnya.
"Kasihan nyonya, Tuan. Dia pasti saat ini sedang bersedih."
Dengan berat hati Marshal mengambil kembali ponsel Rio. Dia menggunakan ponsel itu karena ponsel miliknya kehabisan daya. Marshal menghela napas dalam, menghidupkan kembali ponselnya.
Dia memandangi ponsel yang sudah menyala itu dengan ragu. Haruskah dia menghubungi istrinya? Marshal takut malah membuat tangisan Viona semakin larut. Dia tidak bisa melihat istrinya menangis. Viona wanita kuat, tapi Marshal sudah beberapa kali melihatnya menangis. Dari sama dia tahu, jika Viona tidak sekuat yang dia kira. Viona tetap wanita. Dia bermain dengan perasaan, sehingga bukan tidak mungkin jika dia menangisi keadaannya sekarang karena sangat khawatir.
"Sayang?" Marshal meremas tempat tidurnya saat Viona tidak menyahuti begitu panggilan tersambung. Hatinya sakit saat yang terdengar malah suara isakan. "Jangan nangis!"
Dia melirik pada Rio yang masih setia menjaganya. Rio terlihat menghela napas gelisah, ikut merasakan gundah yang Marshal alami saat ini.
"Ssst ... jangan nangis!"
"Chal ...." Tangisan Viona kembali pecah.
Marshal menghembuskan napas kasar mendengarnya. Sekuat hati dia menahan rasa sakit mendengar suara tangisan Viona. "Sudah, jangan nangis! Aku baik-baik saja."
"Aku khawatir."
"Iya, Sayang. Sst ... sudah jangan menangis lagi!" Jika Marshal sedang dekat dengan Viona, tangannya pasti terentang dan memeluk erat tubuh istrinya sampai tangisan mereda. Namun, sayang, mereka sedang berjauhan. Dia ingin memberikan pelukan, namun tidak bisa. Tidak mungkin dia memberikan pelukan pada Rio, kan?
"Kalo ada apa-apa bilang! Jangan bohong!"
"Iya, Sayang, maaf!" Suara mereka bersahutan dengan lirih penuh nada sedih.
__ADS_1
Marshal menghela napas dalam. Pikirannya kacau. Lebih kacau dari kerusakan akibat kebakaran. Di sana tangisan Viona sudah mereda, tinggal terdengar sedikit sisa isakannya. Dia sedikit lega mendengar Viona bisa berhenti menangis. "Kamu sudah makan?"
"Belum."
Marshal tersenyum tipis mendengar suara lirih istrinya yang terdengar manja di telinga. "Makan dulu, Sayang! Sudah malam. Kamu sudah pulang ke rumah?" Dia lupa jika tadi sore Viona meminta izin untuk main ke rumah temannya.
"Aku di rumah."
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang makan, ya! Aku sudah baik-baik saja."
"Kamu belum bilang, kamu kenapa?"
Setelah menghela napas dalam, Marshal menjelaskan semuanya. Dia yakin, Viona tidak akan berhenti mengincarnya, jika dia belum puas bertanya. Dan ternyata usulan Rio tidak buruk juga. Setelah Marshal selesai menjelaskan, Viona tidak menangis lagi dan malah mengingatkannya untuk beristirahat.
"Harusnya kamu gak masuk lagi. Biarin aja cincinnya."
Mudah sekali Viona berkata seperti itu. Marshal tidak pernah berpikir untuk meninggalkan cincin nikahnya. Benda itu sangat berharga dan bersejarah untuknya dan Viona. Sebuah simbol pernikahan yang sangat berarti.
"Tapi, kamu jadi kayak gini sekarang. Harusnya jangan diambil, biarin aja! Kamu tuh membahayakan diri sendiri cuma buat belain benda yang gak lebih berharga dari nyawa. Gimana kalo kamu tadi kenapa-napa lebih parah lagi?"
"Sayang, tidak bisa." Marshal memang memilih menyelamatkan cincinnya karena benda itu yang dia punya, sama berharga seperti nyawanya. "Coba kamu lihat cincin nikah kita yang kamu pakai!"
Marshal melepaskan cincinnya juga, melihat bagian dalamnya. Dia tersenyum memegang cincin tersebut dengan tangan kanan yang dipasang infusan, sedangkan tangan kiri memegang ponsel di depan telinga. "Coba kamu lihat, apa di lingkaran dalam sana ada ukirannya?"
"Eh, kok ada namanya?"
Marshal tersenyum pahit. Apa selama mereka menikah, Viona tidak pernah melihat cincin itu? Miris sekali. Jadi selama ini istrinya hanya memakai tanpa pernah memperhatikannya. Marshal kecewa. Padahal benda itu bukti bahwa mereka sudah terikat.
"Di punyaku kenapa ada nama kamu? Apa di sana terukir nama aku?"
__ADS_1
"Bukan. Dipunyaku tidak ada nama Viona."
"Huh? Serius? Terus kenapa punya aku ada ukiran mana kamu?"
"Karena aku suami kamu." Obrolan mereka mulai terasa ringan. Marshal bisa bersandar dengan tenang sekarang. Dia tidak perlu mencemaskan istrinya lagi, karena Viona sudah tahu semuanya dan bisa memahami keadaannya.
"Chal, ih, serius! Kamu emang selalu egois, ya. Masa mentang-mentang kamu suami aku, terus kamu ngukir nama di cincin aku seenaknya. Tapi, nama aku gak kamu ukir di cincin punya kamu."
Marshal terkekeh. Apakah dari ucapan itu menunjukkan bahwa Viona ingin sekali namanya terukir di sana? Raut wajah Marshal berkurang pucat karena tertawa mendengar omelan istrinya. "Tidak, Sayang. Bukan begitu. Nama Viona gak ada di cincin aku, tapi nama Zahra terukir indah di sana. Makanya aku gak rela kalo cincinnya terbakar. Nama kesayanganku tidak boleh rusak sedikit pun. Kamu belahan jiwaku. Aku harus selalu menjaga namamu, juga cintamu."
Lama tidak mendapat sahutan. Marshal mengulum senyum mengira-ngira bagaimana reaksi istrinya.
"Gombal terus, tapi gak pulang-pulang, Bang Toyib."
Tawa Marshal pecah menggema mengisi kehampaan kamarnya. Rio sampai melihatnya kaget dengan tatapan horor. Sejak tadi dia hanya memperhatikan Marshal berteleponan sambil sesekali mengupas buah untuk majikannya.
Dalam benak, Rio berpikir, apakah kepala Marshal terbentur saat dalam kepanikan? Rio takut ada yang bermasalah dengan pikiran Marshal.
"Kamu mau ngasih aku apa, kalau aku cepat pulang? Baru juga ditinggal sehari, kamu sudah rindu."
"Gak ngasih apa-apa. Harusnya kamu yang ngasih. Kamu katanya mau romantis, tapi sama istri aja gak pernah ngasih apa-apa. Ngasih bunga, kek, atau apa gitu."
Marshal terkekeh kembali. Dia tidak mempedulikan ekspresi Rio yang melihatnya aneh saat ini. "Kemarin aku kasih bunga, kamu rusakin. Sekarang minta dibelikan. Aku tidak mau membelikannya, nanti malah kamu injak-injak."
Rio lama-lama sebal mendengar suara tawa majikannya. Marshal asyik berteleponan dengan Viona menggunakan ponselnya. Dia sebagai pemilik ponsel dan juga sebagai pendengar setia, mulai merasa tidak nyaman. Dia jadi mengingat-ingat, kapan terakhir kali dia berteleponan dengan pacarnya, ngobrol mesra seperti Marshal dan Viona saat ini. Rasanya sudah lama sekali karena beberapa hari terakhir dia terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya. Hhh, dia jadi merindukan Lena. Sedang apa dia saat ini?
"Sayang, kamu tahu, wajah Rio masam mendengar kita yang romantis."
Lamunan Rio segera hilang mendengar suara Marshal. Dia menatap Marshal tidak terima. Ingin marah dia enggan dan akhirnya dia hanya terdiam saja.
__ADS_1
"Beginikah nasib menjadi bujangan?"