
Marshal segera membereskan barang-barang yang sudah berserakan itu. Dimasukkan kembali ke dalam kotak dengan cara melemparnya dengan tidak suka. Bahkan beberapa barang dia remas dulu sebelum dimasukkan. Kesal. Marah dan sangat kecewa. Dia membereskannya dengan penuh emosi.
"Hmm..." Viona menggeliat pelan dari tidurnya. Mengucek mata dan melihat sekeliling kamar dengan linglung. Dia tersenyum saat melihat langit-langit kamar yang bertuliskan namanya. Ternyata dia masih di rumah Heru.
Dia merubah posisi baringnya jadi menyamping kanan guna meregangkan ototnya.
"Lho, Tuan?!" Segera ia bangun. Sangat terkejut melihat Marshal yang sedang berada di samping meja rias sedang berjongkok.
Deg. Marshal langsung berbalik badan dengan panik saat mendengar suara istrinya. Dia mengerjap berkali-kali saat Viona tidak henti menatapnya kaget. "Kamu sudah bangun."
"Kenapa Tuan ada di sini?"
Menggaruk pelipis yang tidak gatal. Kenapa Marshal jadi kikuk? Harusnya dia mengeluarkan emosinya pada Viona, bukan malah gelagapan seperti orang yang kepergok tengah mencuri.
"Tuan? Sejak kapan Tuan ada di sini?" Rasa terkejutnya mulai bisa diatasi, Viona menyibak selimut dan turun dari ranjang. Tatapannya tidak lepas dari Marshal yang mematung dengan bingung.
"Kamu tidak kunjung pulang, jadi aku ke sini menjemputmu." Dia heran pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak jadi memarahi Viona? Padahal dari rumah dia sudah menyiapkan mental untuk memarahi istrinya. Tapi kini, rasanya sangat sulit untuk membentak Viona yang baru sadar dari tidurnya itu.
Viona hanya terdiam, melewati Marshal begitu saja menuju kamar mandi. Dia memijit pelan tengkuknya. Antara sadar dan tidak, Viona masih bingung dengan kehadiran Marshal. Kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena kelamaan tidur.
Mengusap wajah pelan dengan embusan napas kasar, Marshal duduk di tepian ranjang setelah Viona masuk ke dalam kamar mandi. Saat pandangannya kembali pada kotak besar itu, tangannya kembali mengepal. Rasa kesalnya datang lagi. Tapi, kenapa barusan dia tidak marah pada Viona? Seharusnya dia langsung mengomeli Viona yang sudah membuatnya kesal seharian ini.
Viona keluar dari kamar mandi dengan diam dan menghampiri suaminya yang juga menatapnya tajam. Dia sampai salah tingkah saat berjalan, karena pandangan Marshal terus tertuju padanya. Tapi, Viona sebisa mungkin harus terlihat tenang.
"Sini duduk!" titah Marshal dengan ketus.
Viona menautkan alisnya bingung, namun dia tetap menuruti perintah suaminya dan duduk di samping Marshal.
"Kenapa tidak bilang padaku?"
"Huh?" Viona tidak mengerti dengan ucapan Marshal, memandangi suaminya dengan bingung. "Bilang apa, Tuan?"
"Kamu tidak bilang akan berkunjung ke sini. Kenapa? Tadi kamu bilang akan pergi ke salon, lantas kenapa malah datang ke sini?"
Viona memutar bola matanya. Apa dia harus menjelaskan semuanya pada Marshal? Jika Marshal tahu Viona tidak jadi pergi ke salon karena tidak punya uang, apa kata Marshal nanti? Lebih baik dia tidak mengatakannya saja, daripada nanti diejek suaminya. "Tadinya memang mau ke salon, Tuan. Tapi, tidak jadi karena ...," Menggigit bibir bawah. Viona bingung harus memakai alasan apa.
"Karena apa?"
"Karena salonnya ramai pengunjung. Jadi, saya malas untuk masuk ke salonnya."
Alis Marshal naik sebelah. Alasan Viona terlalu sepele. Sebanyak-banyaknya pengunjung salon tidak akan seramai pasar malam. Jadi, tidak masuk akal jika Viona urung pergi ke salon hanya karena alasan ramai pengunjung. "Memangnya pengunjung salon seramai apa, sampai kamu tidak jadi perawatan?"
"Em, ya, mana saya tahu, Tuan." Viona mengedikkan bahunya, acuh. Dia kembali bangkit. Berjalan menuju jendela kamar.
__ADS_1
"Kenapa aku telepon tidak diangkat?" tanya Marshal. Masih duduk di tepi ranjang. Memperhatikan Viona yang sedang menutup gorden. Hari sudah mulai senja.
Viona hanya diam. Menyingkap-nyingkap gorden dengan pelan. Jika dia menjawab ucapan Marshal, sudah pasti dia akan dimarahi karena Viona memang sengaja mengaktifkan mode silent. Dia tidak mau diganggu siapapun, apalagi Marshal.
"Kenapa?" tanya Marshal lagi. Dia sebenarnya kesal, tapi entah kenapa sulit untuk mengeluarkan rasa kesalnya. "Kamu tidak sengaja mengabaikanku, kan?"
"Handphone saya mati, Tuan."
Jelas Marshal tidak akan percaya dengan ucapan istrinya. "Jika mati, panggilannya tidak akan tersambung." Dia bangkit mendekat pada Viona yang masih diam di dekat jendela. Gorden yang tadi sudah ditutup, dia sibak sedikit untuk melihat ke luar jendela yang menghadap halaman belakang rumah Heru. "Kamu sengaja tidak mengangkatnya?"
Viona terkesiap saat Marshal tiba-tiba memeluknya dari belakang. Refleks dia menoleh dengan kesal. "Tuan, lepaskan!" Mencoba menyingkirkan tangan Marshal yang melingkar di pinganggangnya. Tapi, Marshal tidak peduli dan malah semakin mengeratkan pelukan serta menumpukan dagunya pada bahu Viona.
"Tuan, ih."
"Diam!"
Apalagi yang bisa Viona lakukan, selain pasrah. Selalu saja seperti itu. Jika ucapan ibunya kembali teringat, Viona selalu mendengus pelan. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu, tapi ucapan Lina benar-benar menuntutnya untuk patuh. Sampai kapan dia harus menjadi manusia munafik? Viona tersiksa. Ingin terlepas dari jeratan Marshal, tapi sangat sulit dia lakukan.
Mereka sama-sama diam, melihat ke luar jendela. Cahaya senja sudah mulai menampakkan wujudnya, menambah kesan indah saat pandangan tertuju pada halaman belakang rumah itu yang berupa taman luas dengan berbagai tanaman indah koleksi ibunya Viona.
Banyak bunga indah, berwarna-warni dengan berbagai bentuk yang berbeda. Dedaunan dari pohon mangga melambai-lambai tertiup angin begitu pelan. Bahkan bunga-bunga kecil dari pohon yang siap berbuah itu, berguguran.
"Kenapa kamu masih menyimpan barang-barang itu?"
"Barang pemberian dari laki-laki itu." Marshal melepas pelukannya. Emosi yang dari tadi tertahan sekarang mulai kembali berkobar. Dia berbalik badan. "Itu," menunjuk kotak besar di samping meja rias. "kenapa kamu masih menyimpannya?"
Viona mengikuti arah pandang Marshal, kemudian mengatakan, "Oh." Dan kembali balik badan untuk menutup kembali gorden yang sempat ia buka tadi hingga menutupi jendela dengan rapi.
"Hanya 'oh' saja?" Marshal tidak mengerti kenapa Viona biasa saja seolah itu bukanlah hal yang mengusik. "Kenapa masih disimpan, huh?"
"Memangnya kenapa jika saya masih menyimpannya, Tuan?" ucap Viona dengan tenang. Memandangi Marshal yang mengetatkan giginya dengan tangan mengepal.
"Untuk apa? Tidak seharusnya kamu menyimpan barang itu. Cepat buang!"
"Kenapa harus dibuang?"
Emosi Marshal semakin naik menghadapi sikap tenang istrinya. Viona terlihat biasa saja tanpa menghiraukan ketidaksukaan Marshal terhadap barang-barang itu. "Kamu bilang 'kenapa'?" Marshal menatap Viona tajam. "Kamu itu istriku, seharusnya melupakan semuanya tentang dia. Jangan simpan barang-barangnya lagi! Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, huh?"
Viona tersenyum dengan geli. "Saya memang istri, Tuan. Tapi, apa masalahnya dengan barang-barang itu? Hubungan istri dan barang penyimpanan istri, itu bukan hal yang sama untuk dipermasalahkan. Memangnya kenapa jika saya masih menyimpan barang itu? Apa masalahnya dengan Tuan?"
"Aku tidak suka," ucap Marshal penuh penekanan. Dia sangat kesal dengan ucapan Viona yang seolah memberitahu bahwa apa yang Marshal katakan itu bukanlah suatu hal yang besar dan patut dipermasalahkan.
Kini istrinya tertawa. Menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang terasa sangat lucu itu. "Kesukaan kita beda. Jika Tuan tidak suka, maka jangan dilihat! Beres, kan? Jangan mempermasalahkan hal kecil seperti ini, Tuan! Itu barang saya, hak saya untuk menyimpannya atau tidak. Kena-"
__ADS_1
"Diam!" bentak Marshal dengan tatapan tajam.
Viona langsung terdiam. Dia membuang napasnya pelan. Sepertinya dia salah bicara, barusan. Kenapa juga dia bisa seberani itu mengejek Marshal yang terlihat kekanakan?
"Semakin hari sikapmu semakin kurang ajar, ya." Marshal mendekat pada istrinya. "Kamu semakin berani membantahku."
Viona menelan ludahnya dengan susah payah saat tatapan Marshal yang tajam itu tertuju padanya. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Marshal terlihat sangat marah.
"Buang barang itu semuanya!" titah Marshal dengan tegas. Berdiri menjulang di hadapan Viona yang masih terdiam. "Jangan pernah menyimpan barang-barang pemberian dia lagi! Aku tidak suka!"
Viona mendongak. Memberanikan diri untuk melawan tatapan Marshal. Dia tidak suka jika Marshal sudah mencampuri urusannya seperti itu. "Tidak bisa. Saya tidak akan membuangnya."
Kepalan tangannya semakin menguat sampai buku-bukunya memutih. "Kamu membantahku?!"
"Iya." Dengan berani Viona menjawab. Emosinya tersulut saat ini. Dia tidak bisa hanya diam jika privasinya mulai dicampuri orang lain. Apalagi Marshal sudah terlalu jauh mengatur hidupnya. "Maaf, Tuan. Kali ini Tuan tidak bisa memerintah saya untuk membuangnya."
"Kenapa? Apa karena barang itu pemberian dia?"
Ironisnya, Viona mengangguk dengan berani. "Banyak kenangan dari semua barang itu. Tidak ada alasan kuat untuk saya membuangnya."
"Statusku sebagai suamimu, apa tidak bisa menjadi alasan?" Sekuat tenaga Marshal menahan emosinya supaya bisa menghadapi sikap tenang yang ditunjukkan istrinya. Mereka bertatapan dengan tajam. Emosi di antara keduanya sangat terasa mencekam di ruangan itu.
"Maaf, tapi tidak bisa." Viona tersenyum penuh arti. "Status dan cinta itu berbeda." Dia berlalu menuju kamar mandi setelah mendengar suara adzan Maghrib. Meninggalkan Marshal yang mematung dengan tatapan marah dan sedihnya yang bercampur menjadi satu.
Setiap apa yang Viona katakan,apa yang Viona lakukan, selalu sukses membuat jiwanya campur aduk. Viona sangat lihai dalam mempermainkan perasaannya hingga Marshal sendiri bingung dengan sikap Viona yang entah akan seperti apa kelanjutannya.
Selalu saja dia yang tersiksa saat menghadapi sikap istrinya. Dia tidak suka jika Viona masih mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan Sendi. Tapi, Viona yang memang masih mencintai Sendi, tidak pernah sedikitpun mengerti dengan keinginan Marshal. Atau memang karena Marshal tidak bisa berterus terang, makanya Viona seperti itu? Yang jelas, Marshal sangat tidak suka jika Viona bersikap seperti barusan seolah dia bukan siapa-siapa. Dia tidak pantas mengatur kehidupan Viona. Tapi, dia suaminya.
Apa salah jika seorang suami merasa terusik di saat istrinya memilih mengingat laki-laki lain?
Itu hal wajar, bukan? Suami mana yang sudi melihat istrinya mencintai laki-laki lain? Semua suami juga pasti sama, tidak suka melihat istrinya lebih memilih laki-laki lain, bahkan masih menyimpan barang-barang pemberiannya dengan alasan karena banyak kenangan.
Kenapa Viona tidak juga mengerti dengan perasaannya?
______
Halo, guys! Apa kabar?
Jangan lupa like, vote dan comment, ya!
Kritik dan saran kalian selalu author nantikan. Jika ada kritikan pedas, maka sampaikan pada author! Dengan senang hati, saya akan menerimanya. Tenang, saya bukan orang jahat. Saya baik hati, kok. Jika tidak percaya, coba saja Anda ajak komunikasi. Lewat comment misal. Saya pasti menanggapinya.
Sehat dan bahagia selalu untuk kalian😊😘😘
__ADS_1