
Halo, Semua Reader yang terkasih! Apa kabar? Zhao harap kalian baik, sehat dan bahagia selalu, ya.
Zhao udah lama nih gak nongol wkwk. Mohon maaf, ya. Zhao menyelesaikan dulu sekolah, jadi tulisan terbengkalai. Sekarang Zhao kembali Insya Allah akan meneruskan apa yang sudah Zhao mulai.
Bagi kalian yang bingung dengan kelanjutan cerita ini, bisa baca dari bab sebelumnya yang trouble. Dari bab 183 yang sebelumnya bermasalah, sudah Zhao perbaiki semuanya, ya.
Happy reading!
______________________________________________
"Apa yang harus aku takutkan sekarang? Amanda sudah dipenjara, aku sudah aman."
"Jangan membantah, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa!"
Viona mendengus keras, memalingkan wajah kesal. Perkara pergi ke kampus saja masih harus dikawal. Jika awalnya dia mendapat pengawalan ketat karena berjaga-jaga dari ancaman Amanda, tapi jika saat ini apa gunanya pengawalan itu? Marshal berlebihan. "Aku mau berangkat sendiri!"
Marshal hanya memandangnya sejenak, keluar kamar begitu saja meninggalkan Viona yang berbalik tajam. Viona geram, mengepalkan tangan kuat meninju udara. Selalu saja seperti itu.
"Siapkan mobil yang baru! Berikan kuncinya pada nyonya! Dia ingin berangkat sendiri."
Viona tertegun mendengar suara Marshal. Baru saja dia turun dari tangga, terlihat Marshal sedang berbicara dengan asistennya di dekat ruang makan. Kenapa bisa semudah itu Marshal memberikan perintah? Reaksi Rio bahkan tak kalah terkejut dari Viona. Bukannya melaksanakan perintah, Rio malah memandang Marshal tidak percaya.
"Biarkan dia pergi sendiri. Aku lelah berdebat dengannya sekarang."
Perasaan Viona termangu mendengar ucapan Marshal. Ada ketidaknyamanan yang hinggap ke dalam hatinya. Viona tidak mampu melangkah lagi, hanya diam di ambang ruang makan melihat suaminya yang berjalan santai, kemudian duduk untuk memulai sarapan.
Bukankah tadi Marshal menegaskan bahwa dia hanya perlu menurut? Lantas kenapa sekarang dia diizinkan untuk pergi sendiri?
__ADS_1
Perlahan dia melangkah maju. Duduk di samping suaminya yang tengah mengunyah, Viona hanya terdiam. Ada yang aneh dari Marshal. Viona merasa tidak enak. "Chal?"
"Hm?"
Viona memandang Marshal tidak mengerti. Dia ingin mengambilkan air minum untuk suaminya, tapi Marshal malah menolak dengan intruksi tangan. Akhirnya Viona kembali diam memerhatikan.
"Cepat sarapan! Sebentar lagi kamu harus berangkat."
Hari ini jadwalnya untuk sidang. Viona memang harus berangkat cepat, tapi dia malah merasa tidak enak hati terhadap Marshal, setelah mendengar ucapannya yang tidak terduga beberapa saat lalu.
"Mau aku suapi?"
Viona menggeleng saat Marshal menyodorkan satu sendok penuh makanan ke depan mulutnya. "Aku makan sendiri." Dia membalik piring dan memulai sarapan dalam diam. Sesekali dia memperhatikan Marshal yang fokus dengan makanannya. Marshal terasa berbeda dengan keanehannya kali ini.
***
"Hati-hati di jalan, ya. Kalo ada apa-apa, segera hubungi aku!"
Harusnya dia senang sekarang, karena akhirnya dia bisa menyetir sendiri untuk bepergian. Tapi, yang dia rasakan tidak seperti itu. Viona malah ragu untuk berangkat tanpa orang-orang suruhan Marshal. "Chal?"
"Hm? Kenapa?" Marshal menampilkan senyuman manisnya, sudah siap berangkat bekerja. "Butuh sesuatu lagi?"
Viona menggeleng pelan. Tangannya menggenggam kunci mobil dengan erat. Entah mengapa dia tidak mau jika Marshal malah membiarkannya pergi sendiri. Dia merasa tidak dipedulikan oleh Marshal, melihat sikapnya yang berubah seperti itu. Padahal seharusnya Viona senang. Kesempatan itu akhirnya datang. Dia bisa pergi dan pulang menyetir sendiri. Tanpa batas waktu. Dan dia bebas dari kurungan Marshal.
"Terus kenapa lagi, Sayang? Apa tidak mau mobil yang itu? Mau pakai mobil yang mana?"
Viona mengikuti arah pandang Marshal pada sederetan mobil mewah yang berjejer di garasi rumahnya. Berpaling lagi pada Marshal, Viona tidak mampu mengatakan apapun. Apa yang dia rasakan sulit untuk dijelaskan saat ini.
__ADS_1
"Aku harus berangkat sekarang, Sayang." Marshal melihat jam yang melingar di pergelangan tangan. Dia tersenyum dan mendekat pada Viona. Meraih tengkuknya dan memberikan kecupan hangat di kening. Kecupannya beralih pada kedua pipi, hidung dan dagu. Terakhir Marshal menatap dalam sorotan mata Viona. Sebuah kecupan dalam menyentuh bibir istrinya dengan lembut. "Pergilah! Hati-hati di jalan."
Hati Viona mencelos, merasa Marshal tidak mempedulikannya lagi. Marshal terasa mengusirnya. "Chal ...." Viona menarik ujung bagian bawah jas Marshal, saat suaminya sudah berbalik hendak beranjak.
"Kenapa, hm?"
Viona tidak bisa mengatakan apapun. Bibirnya gemetar ingin berucap, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia hanya mampu menampilkan perasaan lewat tatapan dan Marshal tidak mengerti dengan hal itu. Marshal malah berpikir Viona masih membutuhkan sesuatu.
"Berangkatlah! Nanti kesiangan."
Viona terpaku di tempat saat Marshal mengusap lembut pipinya, sebelum dia beranjak. Melihat Marshal masuk ke dalam mobil, Viona masih terdiam. Hingga mobil yang ditumpangi suaminya melaju, Viona nampak semakin tidak karuan. Dia menunduk memandangi kunci mobil dalam genggaman. Helaan napas berat dia keluarkan. Bukankah ini yang Viona mau? Kenapa hatinya malah merasa tidak terima, jika Marshal membiarkannya begitu saja?
***
Sidang telah usai. Semuanya berjalan lancar dan pikiran Viona sedikit tenang. Dia tidak ingin pergi ke mana-mana lagi setelah ini. Aness dan Frans mengajaknya untuk pergi, sekadar nongkrong sebentar. Tapi, dia tidak mau. Jiwa dan raga hanya tertuju untuknya segera pulang.
Menyetir sendiri memang menyenangkan. Sudah lama dia tidak mengemudikan kendaraan sesuka hati. Mengatur arah dan kecepatan dengan tangan sendiri. Selama menikah, Viona tidak pernah memakai mobil dengan sopir tubuh sendiri, selalu saja disopiri. Dan saat ini adalah hari paling menyenangkan untuknya. Dia bebas. Dia bisa mengendalikan alur hidupnya, meskipun hanya satu hari. Dia sangat senang, seharusnya.
Tapi, bukan itu yang dia rasakan. Sejak keluar dari ruangan sidang, Viona mencoba menghubungi suaminya, sekadar mengabarkan, bahwa ia menjalani sidang dengan baik. Tapi, tidak satu pun panggilan yang Marshal terima. Entah dia sedang sibuk atau memang mengabaikan panggilan dari Viona. Hal itu membuatnya gundah. Dia tidak bisa merasa senang seperti hal yang seharusnya dia rasakan saat ini.
Hingga sampai di halaman rumah megah milik suaminya, Viona masih belum bisa berhenti memikirkan Marshal. Dia keluar dari mobil, menghirup udara sebanyak-banyaknya memenuhi rongga dada. Hatinya terasa aneh. Perasaannya gundah dan dia gelisah.
Mengabaikan perasaan tidak enak, Viona masuk ke dalam rumah. Hari sudah mulai sore, seharusnya sebentar lagi Marshal akan pulang. Itu pun jika suaminya berniat pulang cepat. Jika tidak, pasti dia akan pulang nanti malam seperti biasanya. Viona hanya perlu menunggu. Kapan pun Marshal datang, dia hanya perlu menyambutnya.
Dan benar saja, baru masuk ke dalam dapur untuk mengambil minuman, terdengar suara mobil terparkir di depan rumah. Viona tahu itu pasti suaminya. Dengan tergesa dia keluar, membawa sebotol air dingin yang baru saja dibuka, belum diteguk isinya. Senyuman langsung tercipta melihat Marshal yang baru saja turun dari mobil. Viona menyambutnya di depan pintu utama, tidak pernah melunturkan senyuman manisnya.
Diraihnya tangan Marshal, Viona mencium punggung telapak tangannya dengan sopan. Seketika hatinya mencelos. Marshal berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya, setelah Viona salim. Dengan heran Viona berbalik badan melihat punggung Marshal. Dia masuk begitu saja, bahkan tidak peduli dengan Viona yang menantikan kecupan hangat darinya seperti biasa yang dia lakukan kala pergi dan pulang bekerja.
__ADS_1
Ada apa dengan Marshal?