
Entah sudah berapa gaya yang mereka coba. Marshal hanya mengikuti semua kemauan istrinya. Saat Viona ingin gaya ini, dia akan patuh dan memasang ekspresi semenarik mungkin.
Rio memotrait dengan sabar, nampak senyam-senyum sendiri melihat bidik kamera di tangannya. Melihat ekspresi Marshal dan Viona yang nampak bahagia, Rio merasa ikut bahagia dengan profesi barunya sebagai seorang fotografer. Ya, mereka sedang berfoto, guys. Bukan Anuu ...
Di hadapan Tokyo Tower yang memancarkan cahaya indah dari lampu-lampunya yang seolah bergerak memperlihatkan cahaya yang elegan, mereka sekarang mengabadikan moment indah yang entah akan kapan lagi bisa mereka rasakan.
Marshal memeluk tubuh Viona dari belakang, kepalanya dia selipkan di dekat leher Viona, dan menempelkan bibir di pipi istrinya.
"Satu, dua ...." Dan Rio mengambil gambar mereka yang terlihat mesra.
Marshal mengurai pelukannya, memikirkan gaya apa lagi yang harus mereka posekan. Viona juga masih tersenyum, memegang tangannya sambil sesekali memperhatikan tower bercahaya indah di malam romantis saat ini.
Viona mendekat, berbisik pada Marshal sambil cengengesan. Marshal tentu saja terbelalak kaget. Setiap permintaan istrinya yang dibisikan, pasti dia akan syok dan hampir kena serangan jantung.
Viona meminta pose sambil berpelukan dan ... berciuman.
Marshal segera menggeleng tegas. Kasihan Rio yang memotraitnya. Dia pasti sudah iri sejak tadi, jangan sampai dia menahan iri lebih besar lagi, jika harus mengabadikan momen mereka berciuman di bawah rembulan malam.
Rio memang tidak jomblo, tapi tetap saja kasihan. Karena saat ini kekasihnya tidak ikut. Jika dia ingin, apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin Rio melampiaskannya pada tembok hotel, kan?
"Sekali aja," bisik Viona lagi, terlihat sangat jahil mengerlingkan matanya.
Marshal menggeleng lagi, segera meraih tangan Viona dan menciumnya dengan lembut.
Rio menangkap momen itu. Ketika Viona mendongak pada Marshal, memperhatikan tangannya yang menempel di bibir sang suami, dia tersenyum.
Uuh, kenapa mereka manis sekali? bisik Rio membatin, merasa iri melihat majikannya. Tahu akan seperti ini rasanya, mungkin Rio tidak akan menolak tawaran Marshal untuk membawa kekasihnya ikut liburan. Setidaknya, dia masih punya pasangan untuk menumpahkan rasa iri yang menjadi dengki saat ini.
"Kita kembali ke hotel, ya?"
Viona nampak tidak mau, bibirnya manyun lucu. "Masih betah, Chal."
__ADS_1
Sang suami hanya menghela napas, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah hampir pukul sebelas malam. Waktu tempuh untuk kembali ke hotel satu jam. Mereka akan beristirahat terlalu larut, jika Viona masih tidak mau pulang.
Cari cara untuk membujuk Nyonya!
Marshal tersenyum miring, menemukan ide yang bagus. Dia meraih tubuh Viona mendekat, memeluk pinggangnya erat. "Kita kembali ke hotel, Sayang. Sudah malam." Melihat Viona yang enggan beranjak, Marshal mendekatkan wajah ke telinganya. "Masih ingat permintaan kamu waktu makan malam di restoran tadi? Ayo, kembali! Kita akan melakukannya."
Marshal menganga lebar sampai berhenti untuk bernapas melihat istrinya tersenyum kegirangan, melepaskan diri dari pelukannya. Entah dia harus mengucap hamdalah atau beristigfar. Viona terlihat antusias, setelah mendengar bisikannya.
"Ayo!" Sekarang Viona yang malah melambaikan tangan, berjalan mendahului Marshal.
Semangat sekali wanita itu. Apa keinginannya untuk bercinta sangat besar? Marshal tidak pernah menduga, jika istrinya punya nafsu yang demikian.
Apakah wanita yang kini berjalan di depannya ini masih Viona yang dia kenal? Kenapa rasanya sangat berbeda?
Ah, sudahlah! Yang penting malam ini akan menjadi malam panjang bagi mereka. Apalagi Viona yang menginginkannya, sudah pasti Marshal tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Tapi ...
Tapi ...
Astagfirullah! Marshal menepuk jidat dengan kecewa. Lalu, bagaimana dengan rencana bercinta mereka? Dia sudah tegang sejak tadi, bahkan telah menyiapkan tenaga untuk berperang sampai subuh.
Menundukkan kepala, melihat bukti keperkasaannya. Marshal meringis pelan, wajahnya terlihat muram.
Nasib-nasib ... haruskah dia menahan ketegangannya sampai pagi? Jika seperti ini, dia pasti tidak akan bisa tidur, selain ... selain bermain solo di kamar mandi.
Tuhan ... betapa malangnya nasibku ini.
***
Lihatlah wajah cantik Nyonya Marshal! Dia menggeliat pelan dalam dekapan suaminya. Meski sinar pagi telah masuk ke dalam kamar, Viona tetap saja tertidur pulas. Marshal tidak habis pikir, kenapa istrinya bisa senyenyak itu? Tidak tahukah jika sang suami tersiksa semalaman?
__ADS_1
Viona tidur layaknya bayi polos tanpa dosa yang tidak akan pernah berbuat kesalahan. Namun, nyatanya bayi besar itu telah membuat Marshal menghabiskan tenaga sia-sia. Marshal mengutarakan permintaan maaf berkali-kali, meskipun Viona tidak mendengarkannya.
Terpaksa dia bermain di kamar mandi, karena sampai subuh tidak bisa menahan dirinya lagi dan gairah tidak kunjung turun.
Sebenarnya, bisa saja dia membangunkankan Viona dan meminta jatahnya, tetapi hal itu cukup membuatnya merasa tidak tega. Viona terlihat sangat kelelahan sekali. Dan berakhir dengan Marshal yang menggunakan sabun untuk memuaskan diri.
Kata maaf kembali dia rapalkan dalam batin. Dia merasa bersalah telah berbuat demikian. Dia sudah menikah dan Viona berada di dekatnya. Marshal sangat terpaksa melakukan hal itu. Dia sudah tidak tahan dan tubuhnya malah menggigil, ketika dia terus menahannya semakin lama lagi.
Lagian, dia bermain juga tidak lama. Karena dia tidak bisa mengacuhkan istrinya yang tengah tidur dengan memuaskan diri sendiri. Viona masih bermartabat daripada sabun cair di kamar mandi. Marshal hanya bisa terus meminta maaf, walaupun istrinya tidak tahu dan jangan sampai tahu.
Tapi, jika tidak tahu, Viona pasti akan menyiksanya lagi di kemudian hari. Meminta itu, lalu meninggalkannya. Sungguh, perasaan ditinggalkan tidur saat sedang ingin, terasa lebih menyakitkan daripada ditinggal Rio cuti selama seminggu. Marshal tidak ingin merasakan hal itu lagi, menyakitkan.
"Chal ...." suara serak yang terdengar seksi menembus telinga.
Marshal melihat istrinya membuka mata, senyuman terbit di bibirnya terlihat sangat manis. "Pagi, Sayang!" Kecupan ringan di kening adalah ritual wajib yang selalu Marshal berikan untuk istrinya. Jika tidak dilakukan, wajah Viona akan terlihat masam dan terkekuk seperti pakaian kusut. Namun, tetap terlihat cantik, tentu saja. Penjabaran cantik untuk sang Nyonya adalah hak paten. Marshal tidak akan pernah menghilangkannya.
"Bangun, Sayang! Hari ini kita akan beli oleh-oleh."
Mata Viona semoat tertutup, kembali terbuka dengan cepat. "Kok beli oleh-oleh? Kita di sini baru juga dua hari."
Marshal tersenyum, mengusap kepala istrinya dengan sayang. Viona salah paham. "Beli oleh-oleh dulu, sebelum lupa waktu. Setelah itu, kita jalan-jalan lagi sampai puas. Kita di sini hanya lima hari, Sayang. Setelah itu, kita akan pergi ke tempat lain."
"Ke mana?"
"Ada. Itu kejutan. Kita akan pindah negara?"
Wajah Viona bersinar bahagia. Memberikan pelukan erat dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di wajah suaminya. Rasa sayang terhadap Marshal semakin bertambah. Dia kira suaminya hanya mengajak berlibur di negeri sakura, tapi ternyata sudah menyiapkan rencana yang sangat luar biasa membahagiakan.
"Apa mau memulai serangan pagi?"
Viona berhenti untuk bertingkah gila terhadap wajah suaminya. Dia terdiam, wajahnya langsung bersemu merah saat Marshal mengatakan, jika semalam Viona meninggalkannya tidur dan harus menepati janji dan membayar ganti rugi di pagi ini.
__ADS_1
Ganti rugi atas sabun hotel yang dia habiskan, lanjut Marshal dalam hati, tidak berani mengutarakannya di hadapan sang istri.