
Marshal mengemudikan mobilnya seperti orang kalap. Pikirannya berkecamuk mencerna semua masalah yang dia hadapi. Dia tidak menyangka Rio akan jadi seperti itu. Rio sangat apik sampai Marshal tidak tahu siasatnya. Dan ternyata Rio sudah sejak dulu mengincar hotelnya yang ada di Surabaya.
"Sialan!" Marshal memukul bundaran stir penuh emosi. Masalah datang padanya bertubi-tubi. Belum lagi masalah Viona yang sampai saat ini masih tidak mau memaafkannya. Marshal tidak tahu harus bagaimana saat ini. Kepalanya semakin sakit seiring dengan darah yang mendidih dengan suhu yang semakin lama semakin naik.
Sampai di kediaman Pratama, Marshal turun dari mobil. Dia mengatur napasnya dengan gusar. Marshal harus bisa membujuk Viona untuk pulang. Dia hanya butuh dukungan dari istrinya untuk menghadapi masalah perusahaan.
"Assalamulaikum, Ma." ucap Marshal saat masuk ke dalam rumah di sambut oleh ibu mertuanya. Dia mencium punggung telapak tangan Lina dengan sopan.
"Waalaikumsalam. Masuk, Nak! Viona ada di dalam." Lina mengajak Marshal ke taman belakang. Katanya, Viona sedang menyiram tanaman di sana.
Marshal mengikuti mertuanya dari belakang, mengatur napas teratur. Dia harus bisa membujuk Viona untuk memaafkanya dan mau pulang ke rumah mereka. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Lina. Marshal terdiam kaku di tempat, menganga melihat ke arah kursi yang ada di taman.
"Viona! Apa yang kamu lakukan?!" Lina berteriak cukup kencang membuat orang yang ada di taman terkejut dan langsung memandang ke arah mereka.
Marshal tidak kalah kaget seperti ibu mertuanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak dengan napas yang berhenti berembus. Di sana, di kursi taman yang dekat dengan tanaman hias milik Lina, ada Viona yang duduk bersama laki-laki. Hati Marshal mencelos melihatnya. Saat dia dan Lina masuk ke sana, mereka melihat Viona sedang mencium pipi laki-laki itu. Mereka duduk bermesraan di tengah-tengah taman saling merangkul satu sama lain.
"Apa yang kamu lakukan?!" Lina mendekati anaknya penuh emosi. Kaget masih terlihat jelas di wajahnya.
"Ma-Mama?" Viona menunduk takut dan segera berdiri diikuti laki-laki yang sejak tadi duduk bersamanya.
"Apa-apaan ini, ha?!" bentak Lina menatap tajam dua manusia yang berbeda jenis kelamin itu bergantian. "Marshal datang ke sini mau jemput kamu. Dia khawatir sama kamu. Sedangkan kamu? Apa yang kamu lakukan sama dia?" Lina menunjuk laki-laki yang tadi mendapat ciuman mesra dari anaknya.
__ADS_1
Viona melirik ke arah pintu kaca yang membatasi rumah dan taman. Marshal masih mematung di sana dengan tangan mengepal kuat dan rahang yang sudah mengeras. Viona menunduk takut, sedangkan laki-laki yang sejak tadi hanya diam. Dia melirik Marshal penuh ejekan. Senyuman miring dia tunjukkan pada Marshal yang terlihat sudah semakin emosi.
"Chal?" Viona memanggilnya lirih.
Marshal perlahan mendekat tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari laki-laki yang sudah lancang menyentuh istrinya. Tatapannya tajam menghunus pada orang yang sangat dia percaya, namun ternyata tidak lebih dari seekor ular berbisa.
Marshal beralih menatap Viona yang menunduk sambil meremas jemari tangannya. Istrinya hanya diam dan laki-laki tadi justru dengan berani malah merangkul bahunya. Marshal semakin emosi melihatnya. Dia tidak tahan lagi dan langsung mendaratkan satu bogeman di rahang laki-laki itu.
"Apa lagi yang kamu mau, Rio!" Marshal menggeram marah. Laki-laki itu malah tersenyum, berdiri tegak lagi dan melingkarkan tangannya di pinggang Viona. Ingin Marshal untuk menghabisi Rio semakin menjadi kala melihat Viona yang hanya diam, tidak menepis tangan yang memeluk pinggangnya.
"Saya ingin Nyonya." Dengan penuh percaya diri, Rio berucap dan kembali tersenyum licik melihat Marshal yang terlihat begitu emosi.
Marshal dan Lina sangat terkejut mendengarnya. Dengan santainya Rio bicara seakan Viona adalah barang kecil yang bisa beralih dengan mudahnya.
"Saya hanya menginginkan dua macam ... hotel Surabaya dan juga istri Anda." Rio terlihat menjadi sosok lain di mata Marshal. Dia sudah mengenal Rio cukup lama, tidak pernah menyangka Rio punya pemikiran sepicik itu. Dan dengan beraninya, laki-laki itu mengusap wajah Viona. "Saya mencintainya, Tuan. Izinkan saya memilikinya juga."
Marshal berteriak keras sambil menggeram. Dia sudah tidak tahan menahan emosi yang terus menjadi melihat Rio yang semakin kurang ajar padanya. Dengan cepat Marshal mendekat ke arah Rio dan memukulnya dengan membabi buta. "Mati kau, Rio!" Marshal mendaratkan pukulan yang cukup kuat di rahang Rio sampai laki-laki itu limbung dan terjungkal ke belakang.
"Chal, jangan!" Viona menahan Marshal sekuat tenaga. "Jangan pukul Rio! Cukup! Chal, jangan! Aku mohon jangan!"
Marshal menghentikan pukulannya dan menghempaskan tubuh Rio begitu saja. Dia beralih menatap pada istrinya. Viona malah bersimpuh ke tanah dan membantu Rio untuk bangun. Melihat hal itu Marshal menggeram. Istrinya malah membela Rio membuat dada Marshal bergemuruh dan naik turun menahan kegeraman.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa? Bibir kamu berdarah, Yo."
Marshal melotot tajam melihat Viona yang khawatir terhadap keadaan Rio. Tangan halus istrinya itu mengusap penuh cemas pada luka yang telah Marshal berikan.
"Aku tidak apa, Sayang. Hanya sedikit perih." Rio tersenyum sambil meringis. Semua mata membulat melihat Rio yang mengecup pipi istrinya Marshal.
"Anj**g!" Marshal mendorong tubuh Viona dengan kasar supaya menjauh dari Rio. Dia tidak peduli Viona yang terjungkal ke tanah. Sasarannya hanya Rio dan dia ingin segera menghabisinya yang sudah berani mencium pipi yang seharusnya hanya milik Marshal. "Pengkhianat! Mati kau!" Marshal kembali mendaratkan pukulan pada Rio lagi.
Viona menjerit histeris. Segera bangun dengan susah untuk menghentikan tangan suaminya. "Chal, lepaskan Rio! Jangan pukulin dia lagi!"
Marshal tidak mendengarkannya dan malah menarik kerah baju Rio. Dia mengangkat tubuh Rio dengan kasar. Menatap matanya tajam yang malah dibalas tatapan penuh ejekan. "Apa maumu sebenarnya?! Rencana apa lagi yang kau buat, sialan?!"
Rio terkekeh sinis saat mendapat pukulan lagi. Dia melirik pada Viona dan tersenyum. "Sayang, suamimu marah," ucapnya disertai kekehan.
"Bullshit!" Marshal menghempaskan tubuh Rio sampai kembali terkapar di tanah. Dia mendekat pada Viona. Memandangnya tajam dengan dada yang semakin bergemuruh. "Sejak kapan?! Apa yang kamu rencanakan?"
Awalnya Viona menunduk takut, tetapi dia memberanikan diri untuk melihat suaminya. Dia membalas tatapan Marshal penuh rasa bersalah dan rasa takut yang berkecamuk.
Viona melirik pada Rio. Laki-laki yang dibuat terkapar itu juga melihatnya. Rio tersenyum manis dan menganggukan kepala, mengizinkan Viona untuk bicara. "Aku minta maaf, Chal! Sebenarnya ... aku ... aku menjalin hubungan gelap sama Rio. Kamu tahu sendiri 'kan, hubunganku sa-sama Rio lebih dekat daripada sama kamu. Kamu selalu sibuk, jarang ada buat aku. Sekalinya ada malah menyebalkan. Gak kayak Rio yang selalu bisa buat nyaman dan bisa buat aku bahagia. Ja-jadi ... jadi ... ya ... gitu."
Marshal tidak tahu harus merespon seperti apa. Amarahnya kian memuncak sampai kepalan tangannya memperlihatkan buku-buku jemari yang sudah memutih. Dunianya seakan runtuh saat itu juga mendengar pengakuan dari Viona. "Kenapa?! Kenapa kamu melakukannya di belakangku?! Apa kamu berniat balas dendam?!"
__ADS_1
Viona menundukkan kepalanya dengan takut. Dia meremas jemari tangan tidak nyaman dengan tatapan Marshal. "Aku mencintai Rio, Chal. Maaf."