
"Apa kamu termasuk wanita murahan?"
Viona langsung menoleh dengan kaget pada Marshal. Mereka sedang berada di dalam mobil sekarang. Rio yang tetap mengemudi. Marshal fokus melihat ke depan dan malah berkata datar seperti barusan membuat Viona mengernyit dalam.
"Maksud Tuan?"
Marshal menoleh sebentar dengan datar dan kembali melihat ke depan. "Banyak laki-laki yang mengaku suka padamu. Apa artinya itu ... jika bukan kau yang murahan?"
Viona membelalakkan mata. "Maksud Tuan apa? Tuan menuduh saya wanita murahan?" sarkasnya tajam. Tidak terima dengan ucapan Marshal yang merendahkannya seperti itu. Siapa Marshal sampai dia berkata seperti itu? Mereka belum lama kenal, tetapi Marshal sudah berani mengatainya kasar.
Duduk bersebelahan membuat Viona bisa melihat wajah Marshal. Meskipun dari samping, tapi dia bisa melihat Marshal tersenyum miring, meremehkannya, kah?
"Anak tuan Arga, kemudian Indra, lalu tiga laki-laki yang berpapasan di restoran. Dan tadi ... siapa itu namanya? Dia juga seperti itu padamu. Cih, kamu ini wanita penggoda?"
Plak!
Dengan beraninya Viona menampar rahang Marshal. Dia emosi dikatai kasar seperti itu. "Jaga mulut Anda, Tuan! Saya bukan wanita penggoda, kenapa Anda mengatai saya seperti itu?"
Marshal memegang rahangnya yang terasa panas. Dia kaget dengan sikap pemberani Viona. Dengan amarah yang memuncak Marshal mengunci pandangan Viona. "Berani sekali kau menamparku?"
"Itu karena Tuan tidak bisa menjaga ucapan Tuan. Saya bukan wanita murahan seperti yang Tuan katakan!"
"Aku hanya bertanya, bukan mengataimu!"
Viona semakin marah. "Tapi, ucapan Tuan itu menunjukkan seakan saya memang murahan. Kita baru kenal, tapi Tuan sudah seenaknya berkata seperti itu di saat Tuan sendiri bahkan belum mengenal saya dengan benar."
"Aku hanya heran, kenapa banyak yang menyukaimu, bukan mengataimu," elak Marshal lagi.
Viona mendengus kasar. "Memangnya kenapa jika banyak yang menyukai saya? Apa itu masalah bagi, Anda? Saya gadis cantik dan baik hati. Pantas jika banyak laki-laki yang terpesona terhadap saya," ucap Viona penuh percaya diri.
Marshal sampai menganga lebar tidak percaya mendengarnya. Viona sungguh berani sekali. "Tidak tahu malu!"
"Apa? Saya memang cantik dan mempesona. Jangan menyalahkan saya jika banyak laki-laki yang suka! Mereka menyukai saya bukan karena saya murahan, Tuan. Tapi, karena saya yang mengagumkan." Viona balas menatap tajam wajah Marshal. Dia berdecih. "Tuan mengatai saya murahan, lalu wanita yang di pangkuan Tuan itu apa?"
"Kau!" Marshal menunjuk wajah Viona.
Dengan tingkat keberanian yang tinggi, Viona menangkis tangan Marshal supaya tidak menunjuk wajahnya lagi. "Dituduh tanpa ada bukti itu menyakitkan, Tuan. Jangan sembarangan bicara!"
"Itu memang pantas untuk-"
"Apa? Tuan mau mengatai saya lagi?" potong Viona dengan cepat. "Sekarang saya mau bertanya pada Tuan. Kenapa Tuan mau menikahi saya, padahal banyak wanita lain di luaran sana?" Melihat Marshal yang hanya terdiam, Viona tersenyum sinis. "Itu artinya Tuan juga terpesona terhadap saya, kan? Makanya Tuan mau menikahi saya?"
Marshal menganga. Sama sekali tidak berkedip mendengar penuturan Viona. "Jangan asal bicara! Siapa yang terpesona denganmu?" elaknya langsung mengalihkan pandangan ke samping. Memang Marshal akui, tidak ada yang bisa menolak pancaran pesona Viona. Gadisnya Heru tersebut terlalu sempurna jika harus dicela.
Viona menggelengkan kepala melihat Marshal yang menghindarinya. Tadi Marshal mengatainya murahan karena berpikir jika Viona seorang wanita penggoda. Tapi sekarang, lihatlah dia yang malah terdiam, mengalihkan pandangan!
"Tuan bilang saya wanita penggoda," guman Viona yang masih bisa terdengar jelas oleh Marshal. "Tapi, Tuan sendiri malah ingin menikahi saya. Tuan terpesona terhadap saya, kan? Padahal saya tidak pernah menggoda Anda. Jadi, jangan salahkan saya jika banyak yang suka! Semua laki-laki sama saja. Tidak bisa menjaga perasaannya. Lihat perempuan cantik langsung suka. Tuan buktinya."
__ADS_1
Marshal terdiam tanpa melihat Viona. Semburat merah muncul di wajahnya. Jika dipikir ulang, ucapan Viona memang benar. Mungkin tidak seharusnya dia berpikir jika Viona wanita murahan sampai banyak laki-laki yang mengharapkannya. Karena Marshal pun sama demikian seperti para laki-laki yang mengejar Viona.
***
"Ayo masuk! Ibuku sudah menunggumu," ujar Marshal menarik tangan Viona memasuki rumah megah milik orangtuanya.
"Assalamu'alaikum, Ma ...!"
"Waalaikum salam. Eh, Ya Alloh calon menantu Mama udah dateng!"
Viona terdiam dengan syok disambut histeris oleh wanita paruh baya dengan penampilan yang terlihat glamour di usianya yang terbilang tidak lagi muda.
"Mamaku," bisik Marshal pada Viona yang langsung tersenyum ramah. Mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan calon mertuanya.
Perasaan gugup mulai hinggap. Viona canggung berhadapan dengan ibunya Marshal. Tidak tahu kenapa, dia jadi takut dan malu. Bagaimana jika ibunya Marshal tidak suka terhadapnya? Seperti yang orang lain bilang, menghadapi calon mertua sangatlah menakutkan. Apakah seperti ini perasaannya? Viona merasa tidak karuan.
"Ayo masuk, Sayang!" ajak ibunya Marshal dengan ramah. Rahma namanya. Dia menggenggam tangan Viona, mengajaknya untuk masuk ke dalam.
Diperlakukan demikian, perasaan Viona semakin tidak karuan. Ini adalah pertemuan pertamanya bersama Rahma. Belum pernah terbayang dalam benaknya, jika dia akan mengalami hal seperti ini. Bertemu calon mertua dengan perasaan gugup yang luar biasa. Pacar saja tidak punya, apalagi calon mertua. Pantas saja dia merasa sangat takut dan masih belum percaya dengan apa yang sedang dihadapinya. Dalam waktu seminggu, Viona sudah punya calon mertua. Hebat, bukan?
"Chal, calon mantu Mama cantik sekali."
Viona menautkan alisnya memandangi Marshal. "Chal?"
"Itu panggilan sayang dari keluargaku," sahut Marshal menanggapi tatapan bingung dari Viona.
Ya ampun, kenapa berhadapan dengan calon mertua terasa menegangkan seperti ini? batinnya.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Rahma yang sengaja duduk bersebelahan dengan Viona di sofa ruang tamu.
Viona tersenyum dengan manisnya. Sebenarnya dia kikuk. Belum lagi debar jantungnya mulai tidak normal. Viona tidak menyangka jika sikap Rahma akan begitu hangat padanya. Padahal baru pertama kali bertemu. Tadinya, Viona takut calon mertuanya itu akan mengejeknya atau bahkan bersikap ogah-ogahan padanya. Seperti di film dan yang dikatakan orang-orang. Tapi, setelah merasakannya sendiri, ternyata tidak semua calon mertua seperti itu. Mungkin dia hanya ketakutan saja.
"Alhamdulillah, kabar saya baik, Nyonya."
Rahma melototkan matanya. "Nyonya? Kenapa kamu memanggilku nyonya? Panggil aku mama! Kamu 'kan sebentar lagi menjadi menantuku."
Viona tersenyum kikuk. Dia ragu jika harus memanggil seperti itu. Selain karena baru pertama kali bertemu, Viona juga belum mengenal sosok ibu dari Marshal tersebut dengan baik. Dia hanya tahu sekikas dari Marshal. Itupun hanya diberitahu namanya juga sikap baik hati dari ibunya, tidak menceritakan hal lebih.
Dialihkannya pandangan pada Marshal yang hanya terdiam sambil senyum-senyum sendiri melihat interaksi Viona dan calon mertuanya. Viona meminta persetujuan Marshal lewat tatapan dan putra Rahma tersebut mengangguk, membolehkan.
"Chal sudah menceritakan semuanya tentang kamu sama mama. Ah, mama sangat senang sekali mendengarnya. Begitu beruntungnya mama jika punya menantu seperti kamu," ucap Rahma dengan antusias. Tangan Viona tidak pernah lepas dari genggaman tangannya.
Dia bahagia sekali setelah tahu jika Marshal akan menikah dengan Viona. Mendengar cerita dari putranya, Rahma yakin jika Viona memang wanita baik-baik. Melihat sikap Viona saat pertama kali bertemu pun, Rahma sudah bisa menyimpulkan jika Viona memang calon menantu idaman.
Selain tersenyum canggung, Viona tidak bisa berkata apa-apa. Dia jadi heran mendengar ucapan Rahma. Memangnya apa yang Marshal katakan pada ibunya sampai Rahma bisa berkata seperti itu? Viona rasa pujian Rahma terlalu berlebihan. Mereka saja baru kenal, tapi Rahma sudah memperlakukannya baik.
"Bagaimana persiapan pernikahannya? Apa semuanya berjalan dengan baik?"
__ADS_1
"Semuanya sudah beres, Ma. Tinggal acaranya saja. Persiapanya sudah hampir sempurna," sahut Marshal mewakili Viona yang memang tidak tahu apa-apa tentang persiapan pernikahan. Dia hanya menuruti apa kata Marshal dan menjadi memperlai wanita di hari pernikahan nanti. Tidak ikut campur dalam urusan persiapan.
Rahma hanya manggut-manggut serta tersenyum senang. Kembali memandang Viona dengan antusiasnya. "Bagaimana dengan fitting bajunya? Apa gaunnya cocok sama kamu? Mama yang memilihkannya untuk kamu, lho."
Viona meengangguk. "Bajunya cocok, Nyonya."
"Nyonya lagi? Panggil aku nama!" Wajah Rahma cemberut, tidak suka dengan panggilan calon menantunya.
Viona salah tingkah sendiri. Dia merasa tidak enak pada Rahma. "I-iya maaf, Ma."
Rahma pun tersenyum kembali dan mengelus pelan rambut Viona penuh sayang. Viona semakin gugup tidak karuan. Dia ingin menjauh dari Rahma sebentar. Kenapa rasa tegangnya tidak hilang juga? Viona tidak bisa berhadapan dengan calon mertuanya lama-lama. Statusnya sebagai calon menantu membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.
Dalam hari Viona menyemangati dirinya sendiri supaya tidak gugup. Mengehela dan membuang napasnya secara perlahan guna menghilangkan ketegangan. Namun, tetap saja. Perasaan yang tidak karuan itu tidak hilang-hilang.
"Ma," Viona memberanikan diri untuk berinteraksi lebih.
"Iya, Sayang?" Rahma tersenyum senang. Dipanggil mama oleh calon menantu menjadi membuat kebahagiaan tersendiri baginya.
Dia memang sudah punya menantu dari anak sulungnya. Tapi, itu menantu laki-laki. Dan sekarang ada Viona. Menantu perempuan yang bisa menjadi teman untuknya nanti. Rahma bahagia sekali membayangkan jika nanti dia dan Viona akan melakukan hal bersama. Uh, tidak sabar rasanya. Rahma akan punya menantu cantik sekaligus punya teman hebring yang baru.
"Em ...." Viona merutuki dirinya sendiri yang malah terasa semakin gugup untuk bicara. Di mana jiwa pemberanimu Viona? Menghadapi penjahat saja bisa, kenapa kamu kalah di saat menghadapi calon mertua?
Karena Viona terlihat ragu untuk berucap, Rahma langsung menyahuti dengan cepat. "Ah, kabar mama baik, Sayang."
Marshal tertawa melihat tingkah ibunya. "Mama ... Viona belum bertanya apa-apa," sahutnya dengan tawa yang mengejek.
Viona hanya mengulum senyum. Dia memang belum berkata apa pun. Tapi, Rahma langsung menyahuti, padahal belum tahu apa yang akan Viona katakan.
"Jangan ketawa!" Rahma menatap Marshal dengan kesal. Kemudian, memandangi Viona lagi. "Kamu tadi emang mau nanyain kabar mama, kan?" Mencari pembelaan terhadap calon menantunya.
Viona mengangguk pelan. Dia juga tidak tahu tadi akan mengatakan apa. Marshal menggelengkan kepalanya melihat sikap Rahma.
"Mama, sok tahu!" ejeknya pada Rahma yang langsung dibalas tatapan tajam.
Rahma berdecak kesal. Mengembalikan perhatian pada Viona. "Oh, iya. Bagaimana dengan orangtuamu? Mama ingin bertemu dengan mereka. Mengingat pernikahan kalian yang begitu dadakan, jadi keluarga kita tidak pernah bertemu, kan? Bagaimana kabarnya? Besan baik-baik saja, kan?"
Viona jadi malu sendiri mengingat sikap Rahma yang begitu padanya. Rahma bahkan sudah menyebut orangtua Viona sebagai besannya. Menurutnya itu terlaku berlebihan. Acara pernikahan belum diadakan, namun Rahma menganggapnya sudah terjadi.
"Alhamdulillah, baik."
"Syukurlah! Mama senang mendengarnya." Rahma mengusap lembut tangan Viona. "Ingin sekali Mama mengadakan makan malam bersama keluarga besan. Tapi itu kapan yah, Chal?" tanya Rahma pada Marshal yang hanya diam, kini sedang melihat-lihat isi ponselnya.
"Nanti aku atur jadwalnya." Fokus Marshal tetap pada ponsel. Terlihat sangat serius sampai tidak menoleh pada Rahma sedikit pun. Dia beranjak. "Aku ke atas dulu, ya, Ma. Mau mandi."
Rahma mengangguk. Marshal melirik Viona sejenak sebelum pergi. "Kamu mau ikut?" goda Marshal menaik turunkan alisnya.
Viona menggeleng cepat. Aneh melihat sikap Marshal yang menurutnya terlihat dari sisi yang berbeda. Marshal yang selalu terlihat berwibawa dengan kuasanya dan suka sekali mengatur hidup Viona, kini dia terlihat lebih hangat jika bersama keluarganya. Viona bisa melihat sifat aslinya sekarang. Dan Viona rasa, Marshal tidak terlalu buruk. Laki-laki yang suka melarangnya banyak hal itu pasti punya sisi baik yang menyenangkan. Hanya karena dia berkuasa saja, makanya sikapnya selalu membuat semua orang segan.
__ADS_1