Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Mari Bersiap Bersama!


__ADS_3

Premature Rupture of Memberanes (PROM) atau sering disebut sebagai ketuban pecah dini. Dokter bilang, itu yang Viona alami saat ini. Marshal berdiri cemas di depan ruangan tempat istrinya kini ditangani lebih lanjut oleh dokter. Katanya, Ketuban pecah dini dapat dipahami sebagai pecahnya selaput ketuban sebelum waktu persalinan dimulai. Marshal cemas dan ketakutan mendengar hal itu. Seharusnya, bayi mereka lahir satu minggu lagi dari perhitungan. Sekarang belum saatnya, tapi ketuban sang bayi telah pecah akibat Viona yang terjatuh di kamar mandi tadi.


"Gimana keadaan Viona?" Lina mendekati Marshal yang sedang berdiri gelisah. Keluarga lainnya juga ikut menyusul satu per satu ke sana, setelah Rio mengabari jika Viona dilarikan ke rumah sakit pagi ini.


"Kita berdoa saja, Nyonya Viona sedang ditangani ulang oleh dokter." Selagi Marshal terlihat kacau, untung saja ada Rio yang bisa diandalkan. Dia melakukan semuanya dengan cepat dan sigap.


Marshal melihat Lina yang menangis, tak kuasa mendengar kabar buruk dari anaknya. Ada Rahma juga yang terlihat tidak tenang di dekap oleh suaminya. Dan Heru nampak lebih tenang, duduk di kursi tunggu dengan jemari yang bertautan. Dia hanya terlihat tenang, tidak mau terlalu ikut dengan suasana mencekam dan menegangkan seperti sekarang. Perasaannya kalang kabut.


Dokter keluar, mereka cepat menghampirinya. "Saya bisa bicara dengan suaminya? Atau siapa saja yang jadi wali pasien?"


Semua orang merujuk pada Marshal. Dia mengikuti langkah dokter tadi menuju ruangannya.


"Setelah melakukan pemeriksaan ulang, hasilnya tetap sama. Ketuban Nyonya Viona sudah pecah sebelum waktunya. Dalam kasus secara umum, bayi akan terlahir 24 jam setelah ketubannya pecah. Namun, dalam kasus ini berbeda, karena bayi belum benar-benar matang untuk usianya. Sesuai dengan jadwal, nyonya Viona seharusnya melahirkan satu minggu lagi."


Marshal menganggukkan kepala, membenarkan ucapan dokter barusan. Dia menyimak dengan serius, jangan sampai ada ucapan dokter yang tidak disimak baik dan terlewatkan. Ini mengenai kondisi dua orang tercintanya.


"Kami dari pihak spesialis kandungan akan mengusahakan yang terbaik. Mungkin prosedur selanjutnya adalah tetap mempertahankan bayi untuk berada dalam kandungan sampai dia benar-benar matang dan siap untuk dilahirkan. Ada cairan yang mirip dengan air ketuban yang bisa diberikan setiap harinya. Itu mungkin bisa jadi langkah terbaik untuk mempertahankan bayi tetap terjaga.


Namun, kembali lagi pada ketahanan si bayinya, Tuan. Jika dia sudah mendesak dan tidak bisa bertahan lebih lama lagi di dalam sana, maka kami akan mengambil langkah lain. Mau tidak mau bayi harus dilahirkan. Karena jika tetap dibiarkan tanpa kantung ketuban yang sempurna, banyak risiko yang akan terjadi pada bayi, begitu pun dengan kondisi ibunya."


"Apa harus di caesar, Dok?"


"Tidak juga, Tuan. Banyak langkah yang sebenarnya bisa jadi jalan. Caesar memang bisa jadi langkah selanjutnya. Namun, melihat ketahanan dari istri Anda, kami yakin dia bisa melahirkan anaknya dengan cara normal."


"Benarkah, Dok? Bagaimana prosedurnya? Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya. Lakukan apa pun, asal mereka berdua selamat dan baik-baik saja."

__ADS_1


Dokter wanita setengah baya itu tersenyum, memberikan anggukan samar. "Pasti. Kami pasti melakukan yang terbaik. Mungkin nanti langkah yang akan kami ambil, jika bayinya sudah waktunya dilahirkan, adalah dengan melakukan prosedur induksi persalinan supaya jalan lahir dari si ibu bisa mudah untuk bayinya keluar. Kita lihat perkembangan bayinya bagaimana, baru bisa mengambil langkah selanjutnya."


Mempercayakan semuanya pada ahli kandungan memang satu-satunya jalan terbaik. Marshal memaksakan senyum pahit melihat istrinya terbaring di atas ranjang perawatan. Dia baru saja keluar dari ruangan dokter dengan banyak pembahasan mengenai keadaan istrinya. Viona wanita kuat, tidak akan pernah lemah mengalami kondisi apa pun, walaupun itu berpotensi bahaya besar. Dokter juga mengatakan hal itu pada Marshal. Dan dia yakin, ucapan dokter tersebut bisa dibuktikan.


"Mama ...."


Marshal sigap mendekat, melihat istrinya meringis mengusap perut sambil berpegangan erat pada tangan ibunya. Sejak tadi Viona hanya boleh ditemani oleh salah satu wakil keluarga. Tidak semua orang boleh masuk ke sana. Hanya Lina yang setia menemani putrinya yang tengah berjuang menahan sakit yang melanda beberapa menit sekali.


"Apa yang sakit, Sayang?" Marshal mengecup pelipis istrinya, memberikan usapan lembut di rambutnya. "Gak papa, kalian akan baik-baik saja."


Dokter bilang, mendekati pematangan usia kandungan, ibu hamil memang akan mengalami beberapa kontraksi yang disertai mulas yang melilit. Dan saat ini Viona tengah mengalami itu. Marshal tidak kuasa melihat istrinya kesakitan seperti sekarang. Kening Viona berkeringat dingin dengan alis yang bertaut seiring dengan mulas yang melanda kian hebatnya.


"Maafin aku, Ma. Aku suka nyusahin Mama. Mama pasti berjuang lebih dari ini waktu lahirin aku. Sampein juga maaf aku sama papa ...." Viona memegang erat tangan Lina yang tidak pernah beranjak dari sampingnya. Mereka menangis, merasakan betapa beratnya perjuangan ibu yang akan melahirkan. "Sakit, Ma ...."


"Tahan, Dek! Jangan mengejam! Lawan rasa sakitnya. Itu cuma kontraksi palsu. Jangan mengejan, ya!"


Kehadiran seorang wanita yang lebih berpengalaman memang sangat penting. Marshal bahkan hanya membantu mendorong semangat untuk istrinya. Peran Lina memang lebih berarti demi kebaikan Viona saat ini. Hingga beberapa menit berlalu, Viona mulai terlihat tenang karena rasa sakitnya sudah berangsur berkurang.


Marshal dan Lina sama-sama tidak mau beranjak meninggalkan Viona sendirian. Mereka takut terjadi sesuatu. Hanya duduk saling bergenggaman tangan dengan Viona, memberikan support yang begitu besar. Seolah menyalurkan energi supaya Viona tetap kuat bertahan.


"Kamu harus makan, Dek. Makan dulu, ya?"


Marshal cepat bergerak mengambil makanan untuk istrinya yang sudah disiapkan di atas meja. Dia menyuapi Viona dengan telaten, sedikit memaksa saat istrinya menolak suapan. Viona harus sehat, harus kuat dan punya banyak tenaga sebelum pertempuran nyata itu tiba.


Dan mereka lalui hari-hari berikutnya seperti itu. Viona sudah tiga hari dirawat di rumah sakit dengan awasan dokter spesialis kandungan. Sering terjadi kontraksi sampai mulas yang tidak terperi membuat Viona menitikan air mata menahan rasa sakitnya. Marshal tidak pernah absen dari sampingnya, memberikan dukungan penuh. Viona bersyukur punya suami siaga yang sangat perhatian dan sayang terhadap dia dan anaknya.

__ADS_1


"Chal ...." Viona meringis lagi untuk ketiga kalinya hari ini. Dia mengusap perutnya yang terasa mulas luar biasa. "Panggil dokter! Aku gak kuat lagi!" Lina sedang tidak ada di sana, Viona hanya bisa mengandalkan Marshal untuk saat ini.


Marshal panik, segera memencel tombol darurat di samping ranjang istrinya. "Sabar, ya, sebentar lagi dokternya ke sini. Kamu kuat. Aku yakin."


"Cepat! Sakit! Aku gak kuat lagi!"


Marshal mengangguk-angguk dengan cepat, melirik pintu kamar dengan gelisah. Dia semakin tidak tega karena Viona sampai menangis lagi kali ini. Dia bergerak gelisah di atas ranjang dengan kaki mengangkang lebar. "Sayang ...." Marshal tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin menangis melihat istrinya kesakitan. Bisa dibilang saat ini adalah kontraksi paling dahsyat yang Viona alami. Marshal bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana urat-urat di leher istrinya sampai bertonjolan. Itu mengartikan, bahwa sakit yang mendera Viona sudah tiada tara bandingannya.


"Tetap temani nyonya di sini, Tuan. Nyonya butuh dukungan." Dokter datang, sigap menangani Viona, membuka selimut yang menutupi bagian bawah tubuh Viona yang memang sudah tidak memakai ****** *****, karena selalu basah akibat cairan yang keluar dari rahimnya.


"Sakit, Chal ...."


"Iya, Sayang, tahan." Marshal memegang erat tangan Viona, merasakan remasan kuat dari istrinya yang terus saja kesakitan. Beberapa kecupan Marshal berikan, berharap bisa menjadi penenang dan saluran tenaga untuk membuat istrinya bertambah kuat menghadapi sakit yang mendera.


"Ssst ... kamu kuat, Sayang. Kamu kuat." Marshal merapalkan dukungan, berbisik dan mengecupi pelipis istrinya.


"Tuan."


"Iya, Dok? Bagaimana keadaan istri saya?" Marshal sudah harap-harap cemas menantikan hasil pemeriksaan dari dokter. "Mereka baik-baik saja, kan? Apa yang terjadi?"


Dokter itu menghela napas sejenak, terlihat tenang, berbeda dengan dua manusia yang kini tengah berdebar menantikan penjelasannya. "Bayi sepertinya siap dilahirkan. Dia terus mendesak di dalam rahim, karena cairan ketubannya hampir habis. Kami tidak punya cara lain untuk mempertahannya lebih lama lagi, selain memaksanya untuk dilahirkan secepatnya. Kalau tidakļ¼"


"Lakukan! Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Dok!"


"Baik, Tuan. Kami akan melakukan langkah selanjutnya, induksi persalinan. Kemungkinan beberapa jam lagi istri Anda akan segera melahirkan, setelah dilakukan penanganan. Kita bersiap bersama, ya."

__ADS_1


__ADS_2