Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bukan saya, sungguh!


__ADS_3

"Malam Nona!"


Viona urungkan niatnya untuk menaiki tangga saat suara Rio menyapa. Dia berbalik badan. Rio sudah tersenyum dihadapannya. "Lho, bukannya kamu ke luar Kota, ya? Kapan pulang?"


"Saya pulang tadi siang, Nona," ucap Rio.


"Tadi siang ...? Terus kenapa baru pulang ke rumah jam segi-" ucapan Viona terhenti dikala melihat Marshal yang menghampiri mereka.


Marshal baru pulang bekerja. Dia tidak masuk bersamaan dengan Rio karena saat akan memasuki rumah, Marshal menerima dulu panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Belum tidur?" tanya Marshal pada Viona. Dia menyerahkan tas kerjanya pada Rio.


Rio tidak banyak bicara, menerima tas kantor dari Marshal dengan segera. Dia tahu, secara tidak langsung, Marshal memintanya untuk menyimpan tas itu ke ruangan kerjanya.


Rio berlalu menuju ruangan kerja Marshal meninggalkan pasangan suami istri itu di dekat tangga tanpa berniat untuk menaiki tangga terlebih dahulu dari keduanya yang sama-sama terdiam saling pandang.


Viona memutus pandangan lebih dulu. Dia tersenyum pada Marshal yang dibalas dengan hangat oleh suaminya. "Ke kamarku!" ucap Marshal mendahului naik tangga yang segera disusul oleh Viona.


Marshal membuka pintu kamarnya, Viona tetap mengikuti setiap langkah Marshal dari belakang.


"Apa-apaan ini?"


Viona menggeser tubuhnya untuk melihat ke dalam kamar karena pandangannya terhalang oleh punggung Marshal yang berdiri di depannya.


Viona terbelalak melihat keadaan kamar yang berantakan. Barang-barang tidak berada di tempat yang semestinya.


Marshal membalik badan menghadap Viona. "Kenapa ini? Kenapa kamarku berantankan?" tanya Marshal dengan pandangan yang tajam. Viona hanya bisa membisu. Dia juga bingung, kenapa kamar Marshal jadi berantakan seperti itu? Seingatnya, kamar Marshal sudah rapih dan bersih saat Viona meninggalkannya tadi pagi setelah dia bereskan.


"Kamu tidak membereskan kamarku?Tapi, apa kamu..." Viona menggeleng, dia juga tidak tahu.


Marshal memandang Viona yang terbengong dengan intens. Tapi, jika Viona tidak membereskan kamarnya, keadaan kamar tidak mungkin seberantakan itu. 


Seberantakan apapun kamar Marshal, tidak pernah terlihat sekacau saat ini. Dia masih ingat, tadi pagi sebelum dia pergi bekerja, keadaan kamarnya tidak berantakan seperti sekarang, walaupun belum dibersihkan. Lantas, kenapa kamarnya jadi kacau balau begitu?


"Tuan, saya benar-benar tidak tahu," Viona menggelengkan kepalanya lagi. Dia sangat bingung dengan keadaan kamar Marshal. Dia yakin dan masih ingat jika kamar Marshal sudah dibersihkan dan tidak ada lagi yang masuk. Lagian siapa yang berani masuk ke dalam kamar Marshal? Viona saja berani masuk jika harus membersihkannya. Selebihnya dia tidak berani masuk jika tidak ada Marshal atau tidak disuruh.


Marshal masuk ke dalam kamar. Viona yang masih kaget juga bingung, dia hanya bisa mengikuti dengan diam.


Mereka melirik sekeliling kamar. Keadaan ranjang berantakan. Laci-laci nakas terbuka dan pintu menuju ruangan wardrobe pun tidak tertutup. Sungguh sangat kacau.


"Kamu apakan kamarku?"


"Tidak, Tuan. Bukan saya yang melakukan ini. Sungguh! Saya juga tidak tahu jika kamar Tuan beran-"


"Tapi hanya kamu yang masuk kamarku!" bentak Marshal.


Viona terlonjak kaget. Dadanya sampai berdebar. Kaget dan takut secara bersamaan. Apalagi melihat tatapan tajam Marshal, Viona jadi gelagapan.


"Hanya kamu yang kuizinkan masuk. Lantas ini ulah siapa lagi, jika bukan ulahmu?"


Viona menunduk dengan takut. Dia tidak berani bicara pada Marshal yang kini mulai emosi.

__ADS_1


"Kenapa kau berantakkan kamarku?!"


"Bukan saya, sungguh!" ucap Viona lirih. Marshal semakin emosi. Tidak mungkin ada yang berani masuk ke dalam kamarnya. Hanya Viona yang dia izinkan masuk. Jika bukan Viona pelakunya, lalu siapa lagi?


Pandangan Marshal tidak beralih sama sekali dari Viona yang terus saja menunduk, bahkan mulai mundur dua langkah menjauh dari suaminya.


Menghela napas dengan kasar. Diraihnya pundak Viona hingga bisa menghadap langsung padanya. "Maaf, aku barusan membentakmu. Kamu takut padaku?" ucap Marshal dengan lembut.


Viona hanya menunduk dalam diam. Dia memang benar-benar takut pada Marshal saat ini. Tapi dia juga ingin marah karena Marshal menuduhnya tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dulu.


"Jadi kenapa kamarku bisa seperti ini?" tanya Marshal dengan lembut. Viona belum berani bicara. Dia hanya terdiam.


"Kamu yang melakukan semua ini?" Viona menggeleng. Bukan dia yang melakukannya. "Lalu siapa yang membuat kamarku seperti ini? Hanya kamu yang kuizinkan masuk. Jika bukan-"


"Tuan, bukan saya. Sungguh, bukan saya." Viona memandang Marshal dengan yakin. "Bukan saya yang melakukan ini. Saya tidak masuk ke kamar Tuan lagi setelah membersihkannya. Tapi, tadi ada Nona Amanda yang-"


"Amanda?" Marshal terkejut mendengarnya.


Viona mengangguk dengan pelan. Memang terakhir kali yang masuk ke dalam kamar Marshal hanya Amanda. Tidak ada orang lain yang masuk lagi setelahnya. Dia juga tidak tahu jika kamar Marshal jadi berantakan. Viona rasa, Amanda lah orang dibalik kacaunya kamar ini.


Marshal memandang Viona tidak percaya. Ditatapnya lekat wajah Viona untuk meyakinkan.


Untuk apa Amanda datang ke sini? Apa terjadi sesuatu di antara mereka? batin Marshal.


"Kapan Amanda ke sini?"


"Tadi siang, Tuan," jawab Viona dengan lirih. Dia menundukkan kepalanya menatap lantai dengan takut.


"Mau apa dia datang ke sini?"


Marshal termagu. Dia tidak meminta Amanda datang, apalagi untuk menemui Viona. Marshal sama sekali tidak pernah menyuruh Amanda seperti itu.


"Amanda bilang aku yang menyuruhnya?" Viona mengangguk dengan yakin. "meminta menemuimu?" Viona mengangguk lagi.


Marshal semakin bingung. Kenapa Amanda bilang seperti itu? Bahkan hari ini mereka tidak bertemu, kapan Marshal menyuruhnya datang ke rumah? Bertukar kabar lewat telepon saja, tidak.


Viona menatap Marshal dengan bingung. Kenapa Marshal terdiam? Apa Marshal tidak tahu jika Amanda datang? Tapi Amanda sendiri yang bilang jika dia disuruh oleh Marshal untuk menemui Viona.


"Tolong bereskan dulu kamarnya! Aku akan mandi dulu." Marshal masuk ke dalam kamar mandi. Viona hanya mampu terdiam dan menuruti ucapannya.


Mashal memilih untuk berendam sejenak. Pikirannya sangat kacau saat ini. Banyak hal berkecamuk dalam kepalanya. Mengenai kedatangan Amanda dan juga kenapa Amanda harus berbohong dengan mengatas namakan dirinya? Apa terjadi sesuatu di antara istri dan kekasihnya? Apa mereka bertengkar? Atau bagaimana? Apa telah terjadi sesuatu saat Amanda datang sampai kamar Marshal berantakan seperti itu? Kenapa? Ada apa? Pikiran Marshal sungguh semberaut.


"Tapi Viona terlihat biasa saja. Tidak terluka sama sekali. Jika mereka bertengkar, sudah pasti akan terdapat luka atau mungkin, Viona akan terlihat sedih. Arghh.... apa yang terjadi pada mereka saat aku tidak ada? Kenapa Amanda datang ke sini?"


*****


  Terlihat Viona sedang membereskan ranjang saat Marshal baru keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Viona. "Biar kubantu." 


Viona terkejut mendengar suaranya yang tiba-tiba. Dia berbalik badan mendapati Marshal yang masih mengenakan bathrobe-nya.


Tumben pakai bathrobe, batin Viona nyinyir karena biasanya Marshal hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.

__ADS_1


"Eh, tidak. Jangan, Tuan!" Viona menahan tangan Marshal saat mengambil bantal yang berserakan di lantai. "Biar saya saja," ucap Viona merebut bantal dari tangan Marshal.


Marshal malah tersenyum. "Biar kubantu."


Viona menggeleng. "Tidak usah. Tuan segera berpakaian saja! Bajunya sudah saya siapkan."


Marshal menaikkan alisnya sebelah kemudian dia tersenyum. "Istri baik!" ucapnya. Dia mengulurkan tangan hendak menggapai kepala Viona untuk dielusnya. Tapi, Viona malah menepisnya dengan lembut dan tersenyum membut Marshal mengurungkan niatnya dan segera berpakaian.


Selama Marshal berpakaian, Viona membereskan kamar hingga benar-benar rapih. Viona senang, dengan alasan membereskan kamar, dia tidak perlu membantu Marshal berpakaian. Jadi, bisa bebas dari keusilan Marshal yang selalu nyosor saat dipakaikan baju.


"Sini duduk!"


Viona menutup laci-laci nakas. Setelah itu dia menuruti perintah Marshal untuk duduk di sofa. Marshal sudah duduk di sana sembari memegang macbook-nya.


"Duduk di sini!" titah Marshal supaya Viona duduk di sebelahnya, bukan di sofa yang berbeda dengannya.


Viona menggeleng dengan pelan. Dia tidak bisa menuruti perkataan Marshal. Tapi mau tidak mau, setelah Marshal menatapnya tajam, Viona akhirnya pindah duduk di samping Marshal walaupun tetap memberikan jarak.


"Tadi Amanda datang ke sini?" Viona mengangguk. Bukankah tadi Marshal sudah menanyakan hal itu? Kenapa malah bertanya lagi?


"Mau apa dia kesini?" tanya Marshal lagi.


"Nona Amanda bilang, dia suruh Tuan untuk menemui saya dan berkenalan dengan saya." Viona mencibir dalam hati. Tadi dia sudah mengataknnya, kenapa Marshal masih saja bertanya?


Marshal menghela napas kasar. Menyimpan macbook-nya di atas meja dan menghadap pada Viona yang langsung menunduk saat ditatapnya. "Aku tidak tahu jika Amanda datang menemuimu karena aku tidak menyuruhnya."


"Tapi, Nona Amanda bilang ..."


Marshal membuang napasnya kasar kembali. "Itulah, aku juga tidak tahu kenapa dia berbohong padamu. Tapi aku tidak menyuruhnya untuk datang ke sini," jelas Marshal. "Apa dia melakukan sesuatu padamu?"


Viona menggeleng. "Tidak, kami hanya berkenalan."


Marshal bernapas lega. Apa yang dicemaskannya tidak terjadi. "Lalu kenapa kamarku bisa berantakan seperti itu?"


Viona terdiam sesaat. Apa dia harus menjelaskan semuanya pada Marshal? Bagaimana jika Marshal tidak percaya padanya? Seperti tadi, Marshal tetap menuduh Viona yang melakukan itu, padahal kekacauan kamar Marshal bukanlah perbuatannya.


"Jelaskan padaku, supaya aku tidak menuduhmu lagi. Kamu tahu sendiri bukan, jika kamarku tidak mungkin dimasuki orang lain. Hanya kamu yang kuizinkan masuk."


  Baiklah, Viona akan menjelaskan semuanya supaya Marshal tidak menuduhnya lagi.


Viona menjelaskan semuanya pada Marshal. Jika yang terakhir kali masuk adalah Amanda dengan alasan ingin memastikan jika Viona dan Marshal tidak sekamar.


Viona tidak tahu jika Amanda membuat kamar Marshal berantakan karena saat Amanda memeriksa kamar itu, Viona hanya diam di luar kamar. Dia tidak berani masuk ke dalam kamar Marshal jika tidak ada keperluan, apalagi jika Marshal sedang tidak ada. Mana berani Viona masuk ke sana.


Viona juga menjelaskan pada Marshal jika kamarnya juga diperiksa oleh Amanda guna meyakinkan wanita itu, jika mereka benar-benar tidak tinggal dalam satu kamar.


Marshal benar-benar bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari istrinya. Dia bersyukur karena apa yang dia pikirkan tidak terjadi terhadap kedua wanitanya itu.


Tadinya Marshal kira telah terjadi perkelahian antara kedua wanita itu, seperti wanita-wanita di luaran sana. Ternyata tidak.


Dan lagi yang membuat Marshal semakin bernapas lega adalah dengan Amanda yang sudah mengetahui jika Marshal dan Viona beda kamar, Amanda pasti sudah percaya padanya dan Marshal tidak perlu meyakinkannya lagi.

__ADS_1


Karena alasan yang sebenarnya, Amanda yang meminta Marshal untuk tidak sekamar dengan Viona. Marshal menuruti saja keinginan Amanda, karena dia tidak mau Amanda marah padanya.


Ya, walaupun setiap malam mereka tetap tidur bersama. Tapi biarlah, Amanda tidak tahu tentang hal itu. Yang penting Amanda percaya jika mereka tidak tinggal satu kamar. Jika Amanda tahu Marshal dan Viona sering tidur seranjang, bisa hancur Marshal. Amanda pasti marah besar padanya.


__ADS_2