
"Tuan mau ke mana?" tanya Rio dengan heran melihat Marshal yang keluar dari kamar inapnya sudah terlihat sangat rapi. Padahal hari baru menjelang pagi.
"Aku ke sana sebentar. Bosan juga berada di kamar. O, iya, semua bukti sudah dikumpulkan? Hasilnya gimana?" Marshal membenarkan jam tangannya yang terasa kurang nyaman. Dia melihat sekitaran resort yang sudah kembali lebih baik, walaupun dia belum membuka kembali untuk para pengunjung datang.
"Hasilnya masih belum bisa diprediksi sempurna. Kemungkinan terduga kebakaran memang terjadi karena kesengajaan."
Marshal memandang Rio serius. "Sengaja ada yang membakar maksud kamu?"
Rio pun mengangguk cepat dan mengambil ponsel dari saku celananya. Dia mengusap-usap layarnya sebelum dia perlihatkan pada Marshal. "Ini rekaman CCTV taman belakang, di dekat kolam. Mereka pria misterius yang menyusup lewat gerbang belakang resort. Kemungkinan terbesar mereka pelakunya."
Marshal mengambil ponsel Rio, memperhatikan layarnya dengan sangat serius. Di sana terlihat dua orang pria mencurigakan yang berlagak seperti pengunjung resort, namun sangat aneh dengan melirik-lirik sekitaran. Salah satu dari mereka juga membawa sebuah koper besar.
"Kenapa kamu yakin mereka pelakuanya?" Marshal masih serius memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.
"Saya sudah mengecek ke resepsionis. Mereka tidak pernah mengangsurkan id card pada resort kita. Dan tidak ada tempat di resort kita yang terbukti disewa oleh mereka," jelas Rio serius dengan nada pelan.
Marshal mengembalikan ponselnya ke tangan Rio. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana sembari menatap lurus ke depan. Matanya menyipit, sedang berpikir serius. Seingatnya, dia tidak punya saingan yang membahayakan. Persaiangan dalam dunia bisnis memang ketat, tapi Marshal tidak yakin ada yang mau merusaknya secara terang-terangan. Mereka hanya bersaing sehat, tidak ada yang bermain kotor seperti itu.
"Selidiki terus kasus ini supaya cepat selesai. Aku sudah merindukan nyonyaku. Ingin segera pulang. Jadi kamu harus cepat mengurusnya supaya aku tidak semakin lama menahan rindu."
Rio sebal melihat majikannya. Disebut Dilan dan Milea bukan, disamakan dengan Cinta dan Rangga juga tidak bisa. Marshal semakin parah tingkat kebucinannya. Selama dia mengenal Marshal, dia tidak pernah mendengar Marshal mengatakan kalimat menggelikan seperti itu.
"O, iya, aku belum memberikan hukuman padamu, Yo."
Rio mengernyit tidak mengerti mendengar ucapan majikannya. Memangnya dia salah apa sampai harus dihukum oleh Marshal?
"Kejadian dua hari lalu. Kamu sudah mengerjaiku. Kamu ingin aku kasih hukuman apa supaya kamu jera dan tidak menuruti perintah papa untuk membuatku gila lagi?"
Rio menelan ludah seraya mengusap lehernya. Dia menunjukan lukanya yang masih ada pada Marshal, mengingatkan jika hukuman itu sudah lebih dari cukup untuknya. Saat itu Rio sudah pasrah dengan hidupnya, jika dia harus mati ditangan Marshal hanya karena mengerjainya yang sedang berulang tahun. Tapi, untungnya Tuhan masih sayang padanya, sehingga dia tidak meregang nyawa saat itu juga. Meskipun tetap terluka karena pisau yang Marshal pegang menggores kulitnya.
__ADS_1
Majikannya memang menakutkan jika sedang marah. Rio tidak pernah melihat Marshal membunuh orang. Namun, ironisnya malah dia sendiri yang hampir terbunuh untuk menjadi orang pertama yang kehilangan nyawa mengetahui amukan majikannya.
***
"Chal, aku mau pergi sepulang kuliah. Gak apa-apa, kan?" Viona membenarkan poni di layar ponsel yang menampilkan wajah suaminya. Mereka sedang terhubung lewat panggilan vidio saat ini.
"Mau ke mana?" Marshal yang kala itu sedang menikmati suasana sore di resort mewah miliknya. Dia duduk di pinggir kolam, melihat betapa luas dan indahnya aset itu. Namun, sayang beberapa bagian hangus terbakar dan harus mengalami renovasi besar-besaran. Termasuk kerugian. Karena merenovasi harus mengeluarkan dana yang sangat besar. Apalagi kerusakan akibat kebakaran itu sangat banyak, hampir sebagain dari luas resort-nya.
"Mau ke rumah Aness. Aku udah lama gak main ke rumah dia. Boleh, kan?"
Marshal terdiam dengan mata yang menoleh ke arah lain. Dia ingin mengatakan "tidak" dengan tegas, namun dia masih memikirkan bagaimana perasaan Viona, jika hanya bermain ke rumah temannya saja Marshal masih tidak mengizinkan. Dia tidak mau Viona mengangapnya sebagai suaminya yang suka mengekang, meskipun kenyataannya memang seperti itu.
"Boleh, kan?"
"Pergi sekarang?"
"Heem. Tapi, pulangnya jangan larut malam."
"Baik, Tuan. Nanti aku pulang tepat waktu." Viona mengangkat tangan, hormat pada suaminya dengan antusias. "Kamu kapan pulang?"
"Sepertinya besok. Tidak apa, kan?"
"Gak apa-apa. Urus aja masalah di sana sampai selesai. Gak usah mikirin aku di sini. Fokus sama urusan kamu aja." Viona berkata lembut. Tidak mau membuat Marshal terus khawatir dengan keadaannya dan bisa fokus dengan urusan di sana.
Tapi, Marshal mengartikan hal lain dari kalimat yang Viona lontarkan. Dia berpikir Viona kesal karena dia terlalu lama berada di sana. "Aku janji, besok benaran pulang. Jangan marah seperti itu!"
"Siapa yang marah?"
"Kamu."
__ADS_1
Viona tertawa renyah. "Aku gak marah, Sayang. Aku cuma bilang kamu fokus aja sama masalah di sana. Gak usah mikirin aku di sini, biar kamu fokus sama masalah. Nanti cepat pulang ke rumah kalo masalahnya udah selesai."
Percakapan berlanjut sampai Marshal mengantuk. Dia pamit pada Viona untuk beristirahat sejenak. Istrinya mengizinkan dengan cepat karena dia juga mau pergi ke rumah Aness. Marshal tertawa gemas. Viona selalu manis kalo ada maunya.
Marshal masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia merebahkan diri merasa lelah badan dan pikiran. Untung saja Viona menghubunginya, sehingga kelelahan Marshal sedikit terobati dengan melihat senyuman Viona. Meskipun hanya sebentar, dan Viona menelepon hanya untuk meminta izin untuk pergi.
"TUAN KELUAR SEKARANG ...! API! KEBAKARAN!"
Baru saja Marshal merebahkan diri dan menutup mata, dia mendengar suara asistennya berteriak di luar kamar. Tiba-tiba asap masuk ke dalam kamar lewat jendela yang terbuka. Dia terperanjat kaget, meskipun sedang dalam keadaan mengantuk. Buru-buru Marshal bangun dan berlari keluar dari kamarnya. Tidak lupa dia mengambil barangnya yang sudah berada dalam satu tas kecil yang sengaja dia satukan, berisi surat-surat penting. Dia mencari ponselnya dengan cepat dan keluar dari kamarnya yang sudah dipenuhi asap.
"Cepat lari ke arah sana! Tuan harus cepat, sebelum apinya merambat!"
Baru membuka pintu Marshal langsung syok melihat api berada di sekeliling kamarnya. Dari jarak dekat, dia bisa melihat Rio terus berteriak supaya dia segera berlari menjauhi kubangan api.
"Cepat, Tuan! Seluruh kamar di sisi kanan sudah terbakar. Cepat, berlari keluar!"
Dengan panik Marshal berlari mengikuti intruksi Rio. Dia melihat para pekerjanya yang panik ikut membantu untuk memadamkan api yang malah semakin merambat.
"Hubungi pemadam, cepat!" Marshal berteriak keras. Kepada siapa saja yang mendengar suaranya. Semua orang terlihat panik, berlarian ke sana ke mari. Ada yang mencari bantuan dan ada juga yang berusaha memadamkan. Merasa tidak ada yang mendengarnya, Marshal berinisiatif untuk menghubungi pemadam sendiri. Dia tidak mau resort-nya habis terlahap api, jika bantuan tidak datang dengan cepat.
Saat dia melihat ponsel hendak menghubungi pemadam, dia melihat jari manisnya yang kosong. Seketika dia membeliak panik. Sial! Barangnya tertinggal di dalam kamar. Secepat kilat dia berlari ke arah kamar untuk mengambil cincin nikahnya yang tadi sempat dia lepas sebelum tidur, karena dia merasa rindu dengan istrinya. Marshal memainkan cincin nikahnya sampai dia tertidur nyenyak.
"Tuan, jangan!" Rio berteriak keras pada Marshal yang sudah berlari ingin masuk ke dalam kamarnya. Kamar tempat Marshal memang belum terbakar. Tapi, disebelahnya sudah terdapat api yang berkobar-kobar akan segera melahap bagian kamar Marshal. "Tuan, cepat kemari!"
Marshal tidak menghiraukannya dan malah semakin cepat berlari masuk ke dalam kamarnya.
Rio panik di tempat, dia ingin menyusul Marshal dan menariknya keluar. Napasnya terhenti sesaat melihat majikannya yang baru akan masuk kamar, melewati kobaran api.
"TUAN ...!"
__ADS_1