Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Menjenguk Sendi


__ADS_3

Viona memandangi Marshal yang hanya terdiam. Mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, namun suaminya maupun Rio tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bergerak untuk turun. Pandangan Marshal terlihat bimbang, melihat ke depan. Beberapa orang lalu lalang, terlihat dari kaca depan mobil yang mereka tumpangi.


Akhirnya Viona memilih untuk turun duluan. Namun, baru membuka pintu, Marshal menahannya. Viona berbalik pada suaminya yang terlihat ragu untuk berucap. Dia heran, kenapa Marshal malah seperti ini, bukankah dia yang mengizinkan Viona untuk menjenguk Sendi? Sekarang Marshal seperti sedang memprotes Viona dan menyuruhnya untuk tidak jadi menjenguk Sendi.


"Sayang, aku tidak mau kamu menemui dia," ucap Marshal dengan lirih. Tatapan tidak rela begitu kentara dari matanya.


Viona memberengut memandanginya. Kebahagiaan yang semula dia rasakan, sirna seketika. Jika tidak benar-benar mengizinkan, kenapa Marshal membawanya ke rumah sakit? Viona memilih untuk tidak peduli dan membuka pintu, membiarkan Marshal yang terus menatapnya penuh ragu. Dia turun dari mobil, tidak lama Marshal pun ikut menyusulnya. Sebuah tangan menggenggam tangan kanannya dengan erat. Viona ingin menepisnya, namun tidak jadi.


"Kamu milikku, jangan pernah jauh dariku!" ucap Marshal, "Jika bukan karena aku yang mengizinkan, kamu tidak mungkin bisa menjenguknya."


Viona mengangguk pada suaminya yang terlihat cemas. Entah apa yang Marshal cemaskan, Viona tidak peduli. Yang dia pedulikan saat ini adalah Sendi. Ingin segera melihat keadaannya. Apakah dia sudah sadar atau belum? Viona sangat khawatir dengannya.


Jalan beriringan berdua, saling bergandengan tangan. Rio tidak ikut masuk, menunggu di dalam mobil. Setelah menemukan kamar tempat Sendi di rawat, mereka melihat Arga baru keluar dari kamar tersebut. Ayah Sendi terlihat sangat kaget melihat kedatangan mereka. Dia berdiri di depan kamar Sendi serta memasang senyuman seramah mungkin.


Mereka bertegur sapa seadanya. Arga mempersilakan mereka masuk. Betapa bahagianya Viona saat diberitahu, jika Sendi sudah sadarkan diri. Dia masuk dengan tidak sabaran, Marshal semakin tidak suka melihatnya. Viona begitu semangat untuk menemui Sendi dan malah mengacuhkannya begitu saja.


Tatapan kaget penuh rasa bahagia terpancar dari pasien yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Beberapa alat medis masih melekat di tubuhnya, namun dia tetap bisa menyunggingkan senyuman senang melihat pujaan hatinya datang. Sama dengan Viona, dia juga tidak terlalu meperhatikan siapa yang datang dengan perempuan itu. Sejak pintu kamar terbuka, tatapannya langsung terkunci pada istrinya Marshal.


Viona mendekat, berdiri di samping ranjang Sendi. Disentuhnya tangan Sendi yang masih terpasang infusan, dia tersenyum hangat. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?"

__ADS_1


Sendi tersenyum bahagia, membalas usapan tangan Viona dengan tangan satunya. "Sudah lebih baik."


"Syukurlah, Allah masih sayang sama kamu, Sen. Semoga cepat sembuh, ya." Sendi mengangguk, masih terlihat senang tanpa mempedulikan orang lain sekitar.


Marshal memandanginya tidak suka, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Arga di sana. Bagaimanapun juga, dia harus tetap memasang sikap hormat pada rekan bisnisnya. Jika sudah seperti ini, urusan hati harus ditutupi demi menjaga keharmonisan kerja. Panas memang, tapi Marshal benar-benar tidak bisa berbuat banyak.


Laki-laki setengah baya yang menjadi rekan bisnisnya tersebut, melihat Marshal tidak enak. Dia tahu Marshal pasti tidak suka dan mungkin hal ini akan membawa masalah baru bagi mereka tentunya. Sendi memang masih mencintai Viona sampai saat ini, Arga sangat tahu akan hal itu.


Marshal yang sedari tadi hanya diam bersama dengan Arga, menoleh ke samping. Entah sejak kapan Viona berada di dekatnya dan bahkan merangkul lengannya. Tatapan Viona terlihat beda, Marshal mengusap pipinya lembut. "Kenapa, Sayang?"


Viona memasang senyuman yang mampu membuat Marshal terpana, jika saja tidak ingat bagaimana siasat istrinya. Dia mengusap-usap pelan lengan Marshal. "Aku ingin bicara dengan Sendi sebentar, boleh, kan?"


Sudah Marshal duga. Selalu saja seperti itu. Viona bersikap manis hanya jika ada maunya saja. Dihelanya napas dalam, Marshal melirik pada Arga. "Apa boleh, Tuan? Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan," ucap Marshal penuh penekanan, tidak suka.


Marshal menarik tangan Viona. Istrinya begitu antusias untuk bicara dengan Sendi tanpa mempedulikannya. Bahkan rangkulan di tangan Marshal, terlepas begitu saja saat Arga sudah pergi. "Ingat, kamu istriku!" tegas Marshal memperingatkan, "jangan macam-macam di belakangku!"


Viona mengangguk dengan cepat. Kembali berbalik menghadap Sendi yang masih berbaring. Namun, Marshal menahannya lagi, terpaksa dia mengahadap pada suaminya kembali.


Marshal memeluk tubuh Viona cepat, istrinya sampai tersentak. "Ingatlah dengan statusmu saat ini! Ada aku yang masih perlu kamu perhatikan. Sayang, aku tidak suka kamu lebih mempedulikan orang lain daripada aku."

__ADS_1


Viona terdiam dengan kesal menjalar. Sejak kapan Marshal jadi melankolis seperti ini? Dia mencoba mendorong tubuh Marshal pelan, namun suaminya tetap saja tidak mau melepaskan. "Aku hanya ingin bicara sebentar, tidak akan macam-macam," ucap Viona dengan pelan.


Marshal baru melepaskannya. Memadangi istrinya dengan tidak rela. Dia melirik Sendi sejenak. Putra Arga Mahendra tersebut terlihat marah melihat padanya. Tatapannya sangat tajam pada Marshal yang dengan sengaja malah mengusap kepala istrinya penuh kelembutan. Mata Sendi membulat semakin tajam saat Marshal mencium bibir istrinya cukup lama. Viona bahkan tidak menolaknya, hanya meremas lengan Marshal dengan kuat.


"Apa aku perlu keluar, Sayang?" Marshal mengusap bibir Viona dengan jempolnya yang langsung digigit oleh istrinya. Marshal terkekeh, tidak menarik jempol yang masih tergigit, meskipun sakit. "Main gigit-gigitannya nanti saja di rumah," Diliriknya Sendi yang sudah memerah menahan amarah, Marshal meenyeringai puas. "ini rumah sakit, Sayang. Nanti beri aku gigitan jika sedang berdua, ya," godanya pada Viona yang kian emosi.


"Bicaralah sebentar dengannya, aku sudah tidak sabar menunggu gigitanmu. Aku keluar dulu, ya. Ingat, jangan macam-macam, Sayang!" Dengan cepat Marshal pergi setelah melihat tatapan tajam istrinya yang penuh kemarahan. Dia juga sempat melihat tangan Viona mengepal, sudah terangkat di udara. Sebelum bogeman melayang, lebih baik dia mengamankan diri. Istrinya sangat kejam jika sudak emosi, Marshal tidak mau nasibnya mengenaskan dan langsung berbaring seperti Sendi.


Sebenarnya dia tidak suka jika Viona bicara dengan dengan Sendi, terpaksa dia melakukan hal itu karena tidak mau istrinya marah jika tidak diizinkan. Mengalah lebih baik untuk sekarang, meskipun hatinya sakit. Marshal benar-benar tidak berkutik, takut Viona malah semakin membencinya. Belum lagi, seharian ini Viona tidak banyak bicara padanya. Kalimat yang keluar dari mulut Viona, masih bisa dia hitung dengan jari. Viona benar-benar sudah menutup diri dan belum membiarkannya masuk kembali.


"Semoga dia tidak bicara omong kosong. Eh, tapi," Marshal yang baru saja keluar dari kamar, kembali berbalik badan dan masuk ke dalam kamar. Viona dan Sendi melihat padanya dengan tatapan aneh, Marshal tidak peduli. "Sayang, jangan lama-lama, ya! Hanya lima men-"


Viona menatapnya tajam, Marshal sampai menelan ludah susah payah. Istrinya masih saja emosi, apa dia sedang kedatangan tamu, hari ini? Mudah sekali marah, padahal Marshal bicara dengan lemah lembut.


"Baiklah, aku tidak membatasimu." Mengalah lagi. Sampai kapan dia menahan panas di dada ini. "Ingat, kamu istriku, Sayang! Jangan macam-macam! Dia hanya teman, oke. HANYA TEMAN!"


Viona mengangkat tangan yang sudah mengepal. Sangat emosi melihat Marshal yang kekanak-kanakan. Benci semakin menjalar pada suaminya. Viona merasa, Marshal selalu sangat menyebalkan dengan sikapnya yang aneh itu. "Aku hanya menanyakan keadaannya, tidak usah berlebihan."


Marshal mendengus kesal, menutup pintu lumayan keras dengan masih bersungut-sungut tidak jelas. Viona menang lagi. Oke, dia harus banyak bersabar, karena tidak mau kejadian seperti semalam terulang lagi. Viona pasti akan semakin murka jika dia muncul kembali. Tapi, mau bagaimana lagi, Marshal sangat tidak rela Viona berduaan dengan Sendi. Dia tidak mau Viona dan Sendi saling pandang, bergenggaman tangan sambil membicarakan perasaan.

__ADS_1


"Oh, tidak-tidak ... dia tetap istriku." Marshal melirik sekeliling, mencari Arga untuk mengalihkan pikiran. Tapi dia tidak melihat keberadaannya. Marshal memutuskan untuk mencarinya dan bicara dengannya.


Sebelum pergi, Marshal masih sempat menoleh sejenak pada pintu kamar inap Sendi. Dia semakin cemas dan tidak rela membiarkan Viona. Terlebih dia takut menjadi duda, jika Viona membencinya dan memilih Sendi, lalu mereka berpisah. Marshal tidak mau jadi duda karena kalah bersaing. Viona tetap miliknya dan akan selalu jadi istrinya.


__ADS_2