
"Kamu beneran gak mau ikut ke kantor?" tanya Marshal untuk kesekian kalinya.
"Tidak, Tuan. Saya pulang saja. Lagian ikut Tuan bekerja juga untuk apa?"
"Iya juga, sih." Marshal menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, melirik pada Rio yang masih fokus menyetir, "Antarkan dulu istriku, Yo!"
Rio menoleh dari spion. "Ya, Tuan?"
"Kita kerumah dulu, mengantarkan istriku pulang!"
"Tapi kita harus putar balik dulu, Tuan. Apa tidak masalah jika seperti itu, ada rapat setengah jam lagi soalnya"
Marshal menghela napas, "Tapi istriku mau pulang, katanya."
Viona memandang Marshal sejenak. Dia sangat keheranan mendengar Marshal menganggap Viona sebagai istrinya saat Marshal menyebutnya berkali-kali. Dan ini diluar sandiwara.
Apa aku tidak salah dengar? Bukankah aku hanya dianggap pelayan, tapi kenapa dia selalu menyebut 'istriku' barusan? Apa dia sekarang memang sudah menganggap aku sebagai istrinya?
"Tuan, jika kita putar balik maka Anda akan terlambat untuk rapat."
Marshal membuang napasnya kasar, "Baiklah kalo gitu kita langsung ke kantor," ucapnya pada Rio. "Kamu ikut ke kantor dulu, ya! Aku ada rapat penting setengah jam lagi, dan Rio juga harus menemaniku. Mau tidak mau kamu harus ikut saja dulu. Nanti selesai rapat, Rio akan mengantarmu pulang."
Viona terdiam. Dia sebenarnya tidak ingin ikut dengan Marshal, ingin pulang saja. Tapi apalah daya, dia tidak mungkin bisa membantah ucapan Marshal, meskipun dalam hatinya memang sudah membantah bahkan menggerutu.
Dan akhirnya Viona dibawa ke kantor.
Saat memasuki kantor, semua karyawan sudah berjajar dengan rapih di depan pintu masuk. Mereka membungkuk hormat bersamaan. "Selamat datang Nyonya!" ucap mereka serempak.
Viona melirik Marshal bingung. Kenapa semua karyawan menyambut 'Nyonya' bukannya 'Tuan' untuk Marshal?
Marshal yang menyadari tatapan istrinya, dia tersenyum dan berbisik pada Viona, "Mereka menyambutmu secara khusus."
Viona nampak terkejut, dia memandang sekeliling dengan bingung. Viona kira semua karyawan memang selalu berjajar seperti itu setiap hari guna menyambut kedatangan Marshal, tapi nyatanya bukan. Kenapa Viona harus disambut seperti itu? Apa mereka sudah diberitahu sebelumnya jika Viona akan datang sampai mereka sudah bersiap seperti itu? Tapi kapan mereka diberitahukan, bahkan Viona saja mendadak datang ke kantor itu karena terpaksa menuruti perkataan Marshal beberapa waktu lalu saat dalam perjalanan.
Banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepala Viona. Dia sungguh bingung dan tak tahu harus bagaimana, jadi Viona memilih diam.
"Kamu tega tidak menyuruh mereka berdiri?" bisik Marshal.
"Hah?" Viona melihat para karyawan yang masih pada membungkuk, dia bingung. Apa harus berlebihan seperti ini?
"Kamu tidak bicara, mereka akan terus seperti itu."
Viona mengigit bibir bawahnya, apa dia harus melakukan itu? Dia tidak ingin punya kuasa sejauh itu. "Tuan saja yang perintah mereka. Tuan 'kan atasan mereka," bisiknya pada Marshal. Dan suaminya malah tersenyum, "Jawab sapaan mereka dan suruh mereka berdiri! Semakin lama kamu mengulur waktu, maka mereka akan cuti besok, karena punggungnya encok akibat kelamaan membungkuk."
Viona memandang Marshal dengan lekat. Lagi-lagi batinnya bertanya, apa dia harus melakukan itu?
Marshal mengenggam tangan Viona, meremasnya kuat.
Viona berdehem. Dia memandang semua karyawan dengan ragu, dan mencoba tersenyum. "Se... selamat pagi semua! Berdirilah!"
Para karyawan berdiri. Terdengar banyak keluhan dari mereka. Ada yang mengusap-usap pinggangnya, banyak juga yang terlihat menghembuskan napas lega. Viona jadi merasa tidak enak hati melihatnya.
"Ayo!" Marshal menarik Viona untuk masuk, melewati para karyawan yang memancarkan senyuman pada Nyonya baru mereka.
__ADS_1
"Kalian boleh kembali bekerja!" ucap Marshal pada semua karyawannya.
Setelah Viona dan Marshal berlalu, terdengar bisikan-bisikan dari mereka.
"Ternyata benar, istrinya bos cantik banget,"
"Mereka terlihat sangat serasi... "
"Sepertinya Nyonya sangat baik hati..."
"Mereka romantis sampai bergandengan tangan..." dan banyak lagi celotehan yang mengagumi pasangan baru itu.
Rio membukakan lift khusus untuk Nyonya dan tuannya. Kemudian mereka masuk. Marshal dan Viona berada didepan, sedang Rio dibelakang.
Apa mereka akan menyebrang? Kenapa terus bergandengan tangan? Ini di dalam lift, buka jalan raya, batin Rio.
Rio tersenyum geli melihat punggung kedua majikannya, terlebih melihat tangan mereka yang bergandengan. Rio berdehem, jadi iri melihatnya.
Mendengar deheman kecil, Viona tahu, Rio pasti memperhatikan mereka dari belakang. Dengan segera Viona menarik tangannya, dan Marshal menoleh pada Viona dengan bingung. Viona hanya diam dan menunduk, dia takut Marshal akan bertanya lagi seperti tadi pagi saat dirumah Rahma. Dan dia tidak mau diingatkan lagi dengan kalimat, 'kita suami istri, kenapa kamu masih mencoba membatasi kedekatan diantara kita?'
Pintu lift terbuka, mereka berjalan beriringan menuju ruangan Marshal.
"Tunggu disini! Kalo ada apa-apa atau butuh sesuatu, kamu telepon aku atau Rio dengan segera. Tapi jika tidak terlalu penting, lebih baik kamu tidak usah menghubungiku, kamu lakukan saja sendiri! Bisa, kan?" Viona mengangguk.
"Jika mau keluar, boleh. Tapi jangan jauh-jauh dan harus segera kembali!" Lagi, Viona mengangguk.
Marshal tersenyum. Kemudian menyambar sebuah file dari atas meja kerjanya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Viona sendirian.
Viona memilih duduk disofa berwarna biru yang ada diruangan Marshal. Dia terdiam sembari menopang dagu dengan sikut yang dipijakkan diatas paha. Bukan kali pertama bagi Viona memasuki ruangan itu. Ini adalah kali keduanya kesini, dan semuanya nampak masih sama saja. Ya, apa yang akan berubah, Viona terakhir kali keruangan itu beberapa hari yang lalu, sebelum mereka menikah. Dan disaat yang sama, dia melihat Marshal sedang…
"ck, kenapa aku malah mikirin mereka. Bodo amatlah. Hubungan mereka yang jalanin, apa urusannya dengan aku?" Viona kembali terdiam, dia mengetuk-ngetuk meja kaca didepannya dengan jari. Melihat sekeliling ruangan guna mengalihkan pikiran dari hubungan Marshal dan Amanda.
"Huampp..." Viona menguap, sudah lima belas menit dia hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Viona mengambil ponsel dari tasnya. Dia bosan. Sangat bosan. Berada di ruangan kerja sendirian tanpa hal yang dilakukan membuatnya merasa ngantuk, tapi dia alihkan dengan mengecek ponsel. Menghubungi temannya dan melihat-lihat postingan orang lain.
Dia mendongak melihat kearah pintu saat terdengar ketukan disana. Viona bingung, dia harus mempersilahkannya masuk atau tidak? Ini ruangan Marshal dan Viona tidak punya kebebasan disana. Jika dia mengizinkan orang yang mengetuk itu masuk, apa itu tidak jadi masalah? Tapi bagaimana jika yang masuk itu orang penting yang ingin menemui Marshal, apa yang harus dia lakukan?
Suara ketukan terdengar lagi, kini disertai suara seseorang yang Viona kenal. "Nona, apa Anda masih didalam?" Itu suara Rio, dengan segera Viona berdiri dan membuka pintunya.
Rio tersenyum dengan membawa nampan berisikan minuman juga camilan diatasnya, "Apa saya boleh masuk?"
Viona menatap Rio dengan aneh, "Kenapa bertanya padaku? Ini ruangan tuan, kamu masuk saja. Aku tidak berhak melarangmu," ujarnya cuek, kemudian dia duduk kembali disofa dengan malas.
Rio geleng-geleng kepala mendengar nada bicara Viona yang kurang enak, kemudian dia menyusul Viona masuk kedalam dan menyimpan nampan yang dibawanya tadi diatas meja tepat dihadapan Viona. "Apa Nona merasa bosan?"
Viona melirik Rio sekilas, kemudian fokus pada ponselnya. "Tentu saja aku bosan. Sangat bosan malah."
Rio tersenyum memaklumi, "Diminum, Nona! Maaf saya harus segera ke ruangan rapat. Jika Nona membutuhkan sesuatu, panggil saja Maya yang ada didepan atau langsung menghubungi saya," pamit Rio.
"Kenapa tadi semua karyawan menyambutku?"
Rio menghentikan langkahnya yang baru saja akan membuka pintu hendak keluar. Dia berbalik badan dan menghadap kembali pada Viona. "Maaf Nona, tapi tuan yang meminta."
"Tuan yang meminta? Untuk apa? Aku bukan orang penting disini."
__ADS_1
"Tentu saja Nona orang penting, disini. Nyonya Marshal harus disambut dengan baik. Bukankah kali ini kedatangan Nona untuk pertama kali setelah menyandang gelar istri tuan Marshal? Jadi wajar saja jika mereka menyambut kedatangan Nona."
"Wajar apanya, Rio? Aku tidak suka diperlakukan seperti itu." Viona memoncongkan bibirnya, menatap Rio dengan kesal.
Rio hanya tersenyum membuat Viona semakin kesal padanya. "Saya permisi, Nona." Rio keluar dari ruangan.
"Cih, Asisten dan majikan sama saja. Sama-sama menyebalkan!"
*****
"Iya, nanti aku cek lagi. Kamu urus saja dengan benar!"
Viona mendongak mendengar suara Marshal. Dia melihat kearah pintu, terlihat Marshal disana. Tangannya masih memegang handle pintu namun nampaknya dia sedang berbicara dengan Rio dibelakangnya.
"Baik, tuan. Nanti saya kirimkan filenya pada tuan Suryo." kemudian Rio berlalu.
Marshal masuk kedalam ruangan, menutup pintunya dan tersenyum kearah Viona. "Sudah bosan?" tanya Marshal yang kemudian duduk disamping Viona.
Viona menggeser duduknya, dia tidak mau terlalu dekat dengan Marshal.
Marshal menatap aneh pada Viona, tapi dia yang mengerti dengan tindakaan istrinya justru malah tersenyum. Akhir-akhir ini Viona memang selalu menghindarinya. "Apa yang kamu lakukan selama disini?"
Viona menggeleng, "Tidak melakukan apapun, Tuan. Hanya memegang handphone saja"
"Kamu tidak bosan hanya diam sembari memegang handphone selama dua jam?" Viona menggeleng, padahal hatinya berkata 'sangat. Aku sangat bosan berada disini' tapi dia tidak mengatakannya.
"Tuan..."
"Iya?" Marshal menatap lekat Viona. "ada apa?"
"Kapan saya bisa pulang?"
Sebelah alis Marshal terangkat, "Kamu tidak betah berada disini?" Viona mengangguk. "Saya ingin pulang saja."
"Tapi Rio sedang keluar. Mungkin akan agak lama, dia mengantarkan file ke perusahaan cabang. Mungkin sekitar dua jam lagi dia kembali."
Viona terkulai lemas. Apa dia harus menunggu Rio kembali agar bisa pulang? Tapi itu sangat lama, dan Viona sudah ingin pulang sekarang juga. Suasana perkantoran sangat tidak Viona sukai. Lagian disana dia hanya diam dan melamun. Sangat membosankan.
Tadi sebelum kesini, dia bilang Rio akan mengantarkan aku pulang setelah selesai rapat, tapi sekarang apa? Rio tidak ada dan aku harus menunggunya? Sangat menyebalkan! batin Viona.
Dering ponsel Marshal berbunyi, dengan segera Marshal mengambilnya dari saku celana. "Ya, halo Rio?"
"Halo, Tuan! Apa Tuan masih di ruangan kerja?"
"Ya, ada apa? Apa ada yang ketinggalan?"
"Bukan, Tuan. Tapi saya barusan melihat Nona Amanda datang. Sepertinya dia akan menemui Anda."
"Apa? Beneran, Yo?"
"Benar, Tuan. Barus-"
Marshal mematikan sambungannya secara sepihak. Memasukan ponsel kembali kedalam saku.
__ADS_1
"Tunggu disini, jangan kemana-mana! Aku ada urusan sebentar," ucap Marshal sebelum berlalu keluar dari ruangan dengan tergesa.