
"Pagi, Semua!" Sapa Viona pada semua pelayan yang sedang berada didapur.
Para pelayan menunduk hormat. "Pagi, juga Nyonya!"
Viona berdecak. Dia sungguh tak suka dipanggil Nyonya. Dia bukan Nyonya dirumah ini. Melainkan pelayan. PELAYAN. Ingat itu! Hanya pelayan. Bukan Nyonya. Kesal juga dia jadinya. Tapi ya sudahlah! Para pelayan itu tak bisa diingatkan. Biarlah! Viona sudah cape juga memperingatkan.
"Biar aku yang masak" Viona merebut spatula dari tangan pelayan yang sedang mengaduk Sup iga sapi dalam panci.
Pelayan itu terkejut dengan tindakan Viona. Dia jadi tak enak hati. "Tidak usah Nyonya" ucapnya. "Biar saya saja yang memasak" dia menunduk. Tak berani menatap wajah Nyonya mudanya.
"Tidak apa. Aku saja. Kamu kerjakan yang lain saja" ujar Viona sembari mengambil alih pekerjaan memasaknya.
"Tapi ini sudah menjadi tugas saya Nyonya" ucapnya. "Biar saya saja yang memasak"
"Sudah. Biar aku saja. Kamu kerjakan pekerjaan lain!"
Pelayan itu tak membantah. Dia hanya menghembuskan napasnya kasar. Dia tidak enak hati dengan majikannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus mematuhi perintah majikannya. Dengan terpaksa, dia membiarkan Viona mengambil alih pekerjaannya, dan dia mengerjakan pekerjaan lain, sesuai perintah Viona.
Erni yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya di halaman belakang, dia terkejut begitu memasuki dapur. Matanya membulat sempurna. Lagi-lagi Viona mengerjakan pekerjaan yang tak seharusnya dikerjakan olehnya. Dia menghampiri Viona dengan terburu-buru.
"Nona, apa yang Anda lakukan?" Ucapnya membuat Viona langsung menoleh.
Yah, cuma Erni yang menurut pada Viona. Cuma Erni yang mengikuti keinginan Viona untuk tidak menganggilnya Nyonya. Tapi Nona.
"Anda tidak perlu melakukan semua ini. Biar yang lain saja yang--"
"Tidak apa Mbak. Aku sendiri yang mau melakukannya. Hanya memasak ini" sahut Viona santai sembari tangannya terus memasak.
"Tidak, Nona. Nona tidak boleh melakukan ini"
"Sudahlah, Mbak. Aku tidak apa-apa jika mengerjakan semua ini" kekeh Viona. "Aku'kan sudah bilang pada kalian. Aku ini hanya seorang pelayan disini, jadi sudah tugasku mengerjakan semua ini, bukan?"
Erni membuang napas gusar. "Nona itu Nyonya disini, bukan pelayan. Nona tidak seharusnya mengerjakan hal seperti ini. Sud-"
"Please, Mbak. Jangan anggap aku sebagai Nyonya. Aku bukan Nyonya kalian. Aku sama seperti kalian. Kita sama. Jadi jangan perlakukan aku seperti itu. Biarkan aku mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasku" nada bicara Viona meluapkan kekesalannya. Dia kesal. Kenapa dia terus saja dianggap Nyonya. Sudah jelas dia hanya dianggap pelayan. Marshal sendiri yang bilang begitu, bukan? Jadi sudah jelas, dia bukan Nyonya dirumah ini. Meskipun dia istri sah dari Marshal, tapi jika suaminya saja tak mengakui, maka Viona pun tak akan tinggi hati. Dia akan melakukan apapun atas apa yang Marshal tadahkan. Toh, dia menikah dengan Marshal juga bukan karena keinginan. Hanya balas budi. Ingat itu! Balas budi.
__ADS_1
Erni akhirnya pasrah. Viona masih bersikap sama seperti hari sebelumnya. Dia keras kepala. Akhirnya dia membiarkan Viona melakukan apapun yang menjadi kehendaknya.
....
Jarum jam dinding yang ada didapur menunjuk pada angka 6. Itu artinya Viona harus segera pergi ke kamar Marshal. Melayaninya. Menyiapkan air untuk mandi, menyiapkan baju.
Dia pergi ke kamar Marshal. Namun, saat akan menaiki tangga, Viona berpapasan dengan Marshal yang baru akan menaiki tangga juga. Tubuh Marshal penuh keringat sehabis olahraga. Bajunya terlihat basah, rambut berantakan dengan keringatnya yang bercucuran pada seluruh bagian tubuhnya. Uhhh.. terlihat sangat seksi.
Marshal melirik Viona yang terlihat canggung. "Kenapa diam? Ayo naik kemarku! Aku mau mandi" ujar Marshal sebelum akhirnya dia menaiki tangga, mendahului Viona.
Viona terlihat sangat canggung. Itulah yang selalu terjadi jika berhadapan dengan Marshal. Tapi dia tetap mengikuti langkah Marshal menuju kamarnya.
Viona akui jika dia terpesona melihat Marshal. Tak bisa Viona pungkiri jika pesona Marshal memanglah kuat. Dia sangat tampan dan tubuhnya terlihat gagah. Wanita mana yang tidak tertarik pada pria seperti Marshal. Viona wanita normal, dia juga punya hormon yang tak bisa dibohongi saat melihat tubuh kekar Marshal bercucuran keringat.
Sampainya di kamar, Viona langsung saja masuk ke kamar mandi, menyiapkan air. Setelah itu dia menyiapkan baju untuk Marshal bekerja, sembari menunggunya mandi.
"Mana bajunya?" Marshal telah selesai mandi. Dia menghampiri Viona diruang wardrobe.
"Ini tuan" Viona menunjukan baju yang sudah dia siapkan.
Seperti biasa, Marshal memakai dalaman dan celananya sendiri. Dan Viona akan berbalik badan menunggu Marshal bercelana. Meskipun sudah beberapa kali dia membantu Marshal berpakaian, tapi tetap saja, dia masih merasa malu. Dia selalu saja gugup. Dan selalu merasa tak nyaman melakukannya.
Yah, Viona hanya akan memakaikan kemeja, dasi, dan juga jas pada Marshal. Selain itu, Marshal lah yang memakainya sendiri. Viona masih tak berani memakaikan yang lain pada Marshal. Meskipun Marshal suaminya, namun tetap saja, dia tak bisa melakukannya.
Viona mengernyit dalam diam. Meskipun pikirannya bertanya, Untuk apa kerumah mertuanya? Dia tak buka suara. Tetap fokus mengancingkan kemeja Marshal sembari menunduk.
"Mama pengen ketemu sama kita katanya" lanjut Marshal seakan tahu pikiran Viona karena tak mendapatkan sahutan darinya.
Viona hanya mengangguk lemah. Dia sama sekali tak punya niat untuk buka suara. Lebih tepatnya, Viona masih canggung pada Marshal. Takut jika ucapan Viona salah jika berucap dan malah membuat Marshal tersulut emosi atau tak mengindahkannya. Terlebih lagi, posisi saat ini membuatnya semakin tak mau buka suara.
Mengancingakan kemeja selesai, Viona mengambil dasi. Untuk kemudian memakaikannya.
"Kamu nunduk terus" Viona tak menimpali. Dia melingkarkan dasi pada leher Marshal. Lebih tepatnya dibalik kerah kemeja.
"Kamu kenapa?" Viona hanya mendongak sejenak. Dia tersenyum. Kemudian menggeleng, pertanda bahwa dia tidak apa-apa. Lalu menunduk lagi. Fokus menjalinkan dasi.
__ADS_1
"Coba liat aku lagi!" Marshal meraih dagu Viona. Hingga Viona mendongak mempertemukan manik mata mereka.
Cup!
Viona membuka matanya lebar-lebar. Dia terkejut. Kenapa Marshal malah mencium bibirnya? Dan tanpa dosanya, Marshal malah menyunggingkan senyuman. Seakan dia tak melakukan apapun. Namun Viona, hatinya menggerutu tak jelas. Marshal selalu saja mengambil kesempatan untuk menciumnya.
"Kenapa sih?" Tanya Marshal membuat Viona jadi gelagapan. Viona memutus pandangannya lebih dulu. Dia beralih menatap arah lain.
Viona menggeleng. "Saya tidak apa-apa, tuan?" Ucapnya yakin.
Marshal hanya tersenyum. Dia menurunkan tangannya dari dagu Viona. "Beneran gak papa?" Tanya Marshal memastikan. Viona kembali menggeleng dan melanjutkan jalinan dasi dengan kedua tangan halusnya. "Saya tidak apa-apa, Tuan. Sungguh" ucapnya yakin disertai senyuman.
...............
"Erni!" Panggil Marshal pada Erni yang sedang berada didapur.
Dengan tergesa, Erni menghampiri majikannya yang sedang sarapan diruang makan. "Iya, Tuan?" Dia menunduk hormat.
"Mulai sekarang kamu tidak usah membersihkan kamarku lagi!" Ucap Marshal pada Erni.
"Baik, tuan" jawab Erni. "Tapi, jika bukan saya, siapa yang akan membersihkannya?"
Kamar Marshal hanya boleh dibersihkan oleh orang-orang tertentu saja. Tidak sembarang orang boleh masuk. Jadi tak sembarang pelayan juga yang ditugaskan membersihkannya. Selama ini hanya Erni lah yang membersihkannya. Karena Erni merupakan pelayan yang paling dia percayai, jadi Marshal tak pernah menyuruh orang lain untuk melakukan tugas itu.
"Mulai hari ini, dia yang akan membersihkannya" tunjuk Marshal pada Viona yang tengah menunduk sembari menikmati sarapannya dalam diam.
Viona mendongak pada Marshal. Batinnya bertanya 'Kenapa harus aku?' Tapi dia hanya bisa diam. Mendengarkan apa yang akan Marshal titahkan padanya.
"Mulai hari ini, hanya kamu yang boleh membersihkan kamarku! Kamu yang mengambil keranjang cucian dari kamarku! Begitu juga dengan menyusun semua keperluanku. Kamu paham?" Viona mengangguk memahami. "Oh, iya. Kamu juga harus selalu membawakanku minum ke kamar!" Viona mengangguk lagi.
"Yasudah. Kamu kembali bekerja!" Titahnya pada Erni. "Saya permisi, tuan" Marshal mengangguk sebelum akhirnya Erni kembali ke dapur, melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam kamarku, kecuali Rio!" Ujarnya pada Viona.
Viona lagi-lagi mengangguk. "Baik, Tuan"
__ADS_1
"Bagus! Kamu penurut juga" Marshal mengulurkan tangannya mengusap pucuk kepala Viona, membuat yang punya kepala merasa risih dengan tindakannya. Jika bukan Marshal yang melakukannya, mungkin sudah Viona patahkan tangannya. Kekesalannya ia redam. Meskipun risih dengan perlakuan Marshal, dia tetap menahan diri untuk tak berontak. Biasanya, setiap ada orang yang menyentuh tubuh Viona dengan seenaknya, tangan Viona akan terasa gatal. Ingin mematahkan tangan yang sudah lancang menyentuhnya itu. Sungguh, perlakuan seperti ini membuatnya tak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi, Marshal selalu saja seenaknya. Dan Viona tak punya cukup nyali untuk melawan Marshal. Jadi lebih baik dia diam saja.
BERSAMBUNG.....