
"Tuan... boleh tidak?"
"Pertanyaanku yang tadi belum dijawab, kamu malah kembali bertanya." Viona terdiam kembali. Dia ingin pergi ke kamarnya supaya tidak terus-terusan bersama dengan Marshal. Tidak mungkin dia utarakan, bisa-bisa Marshal berkata seperti tadi lagi.
"Sini, baring denganku!" Marshal menepuk bagian ranjang. Ponsel yang tadi dipegangnya kini sudah diletakkan di sampingnya.
Viona menatap Marshal kesal. Dia tidak mau. Ingin menolak tapi ragu.
"Sini!" Marshal menepuk ranjang kembali, Viona menggeleng. "Tidak usah, Tuan. Saya sedang tidak ingin berbaring."
"Sini!"
Viona menghela napas, dia menyimpan tas selempangnya, perlahan mulai membaring dengan kaki sama seperti Marshal, menggantung.
"Kamu masih ingat keinginan Mama?"
Viona tercengang mendengar ucapan Marshal. Sontak dia langsung bangun. Menatap Marshal dengan tajam.
Marshal malah tertawa, membuat Viona jadi kesal. Marshal senang jika sudah menggoda Viona seperti itu, sampai dia menggulingkan tubuhnya ke samping sambil tertawa.
Ya Alloh, kenapa dia kembali menyebalkan?...
*******
Suasana makan malam begitu hening. Viona canggung jika hanya makan berdua dengan Marshal. Rio tidak ikut makan, malam ini. Kata Marshal, Rio masih di luar kota, mungkin baru pulang besok.
Viona sedikit tidak nyaman, sedari tadi Marshal meliriknya yang sedang mengunyah membuat Viona jadi salah tingkah. Dia benar-benar tidak nyaman jika hanya berdua seperti itu. Hanya dengan Rio Viona tidak merasa canggung berbeda jika berada dengan Marshal. Viona mungkin belum terbiasa hingga masih enggan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
"Malam ini, kamu tidak boleh tidur di kamarmu!" ucap Marshal disela makannya.
"Kenapa, Tuan?" Viona memandangi Marshal dengan bingung.
"Tidur dikamarku!" Viona terbelalak. Harus tidur bersama Marshal lagi? Itu sangat menyiksa.
"Tapi, Tuan. Saya tidak bisa. Saya tidur di kamar saya saja, ya?"
"Tidak bisa. Kamu tidur di kamarku saja!" Marshal berdiri, makanannya sudah habis, dia beranjak ke luar dari ruang makan meninggalkan Viona sendiri di sana dengan rasa kesal yang mulai menjalar.
Viona membereskan meja makan dibantu oleh Erni. Tidak banyak pelayan di rumah itu karena Marshal mengizinkan mereka libur hari ini. Tapi tidak dengan Erni, dia masih bekerja karena Erni merupakan pekerja Marshal yang paling dipercayai dan juga dia pekerja yang sudah Marshal kenal lama.
Sebelum bekerja di rumah Marshal, Erni bekerja di rumah Wisnu. Disaat Marshal pindah rumah beberapa bulan lalu, Erni lah yang dia bawa untuk dipekerjakan bersamanya karena Marshal sudah kenal Erni dan yakin Erni bisa dipercaya.
"Kamu ngapain?"
Viona membalik badan, dia terkejut mendapati Marshal yang sudah ada di sana. "Tuan..."
Marshal mendekat pada Viona, berdiri di sampingnya. "Kamu ngapain di sini? Apa yang kamu lakukan?" Marshal melihat pada kitchen sink yang berisi peralatan kotor. Kemudian dia melihat pada tangan Viona, yang memegang spoon penuh busa.
"Saya mencuci piring, Tuan."
Marshal termagu ditempat. Dia melihat Viona tak percaya. "Ternyata benar kata Rio. Dia melakukan hal seperti ini. Apa aku tidak salah lihat? Ini anak Pratama, kan?" batin Marshal terkejut melihat apa yang Viona lakukan.
Erni menghentikan langkahnya saat memasuki dapur. Dia kaget melihat Marshal yang berada di sana. Dengan segera Erni membungkukkan badan, "Tuan..."
__ADS_1
Marshal langsung menoleh pada Erni dengan tatapan tajam. "Dari mana kamu?"
"Apa tuan akan marah melihat Nona mencuci piring?" batin Erni.
Erni menelan ludahnya kasar mendengar nada bicara Marshal yang penuh penekanan. "Saya dari belakang, membuang sampah sesuai perintah Nona, Tuan," ucap Erni pelan dengan takut. Dia takut Marshal akan marah padanya.
"Apa dia selalu melakukan ini?" Erni mengangguk dengan lirih. Dia tidak mungkin berbohong.
Viona menatap Marshal, aneh melihatnya. Kenapa Marshal terlihat tidak suka Viona melakukan hal itu hingga bertanya demikian pada Erni. Apa ada yang salah dengan apa yang Viona lakukan? Bukankah itu termasuk melaksanakan perintah dari Marshal, jika Viona seorang pelayan, berarti dia harus melakukan semua itu, bukan?
"Apa lagi yang dia kerjakan selain ini?" tanya Marshal pada Erni namun tatapannya tertuju pada Viona. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Erni melirik Viona sejenak. Dia ragu untuk berucap. "Nona banyak melakukan pekerjaan, Tuan. Saya sudah melarangnya tapi Nona bersi keras ingin mengerjakannya." Erni menghela napas sejenak. "Nona juga membersihkan rumah, mencuci pakaian, bahkan menata kebun belakang," lapor Erni dengan lirih. Entah mengapa dia jadi gugup. Berasa disidang didapur oleh majikannya sendiri.
Marshal yang tercengang membulatkan matanya, dia menggeleng. Sungguh tidak percaya. "Dia melakukan semua itu? Apa dia bisa?" Bingung Marshal dalam hati.
Viona yang kebingungan melihat Marshal, dia pun bertanya. "Kenapa memangnya, Tuan? Apa ada yang salah?"
Marshal tersenyum, kenapa istrinya ini sangat jauh dari apa yang dia pikirkan. "Kenapa kamu melakukan semua itu?"
Viona mengernyit, bukankah itu yang Marshal inginkan? Kenapa Marshal malah bertanya seperti itu?
"Tuan, bukankah tuan sendiri yang bilang saya ini pelayan? Kenapa Tuan malah-"
Marshal terbelalak mendengar ucapan Viona. "Jadi kamu melakukan semua ini karena ucapanku?" Viona mengangguk walaupun dia masih bingung dengan Marshal.
Erni malah terpaku di tempat. "Ternyata tuan beneran berucap jika Nona adalah pelayan? Aku pikir Nona hanya membual," batinnya, terkejut mengetahui hal yang menurutnya lelucon ternyata adalah kenyataan. Tega sekali Marshal sampai menganggap istrinya sendiri sebagai pelayan.
Marshal mendecak, dia sebenarnya tidak bermaksud benar-benar membuat Viona menjadi pelayan. Ada alasan lain saat dia mengatakan hal itu. Tapi jauh dalam hatinya, dia tidak sungguhan menjadikan Viona pelayan. Marshal tidak habis pikir, ternyata Viona sungguhan menjalani apapun yang Marshal katakan, bahkan menjadi pelayan sekalipun.
"Tapi, Tuan. Nanggung, biar saya selesaikan ini dulu."
"Tidak usah. Kamu ikut denganku! Erni, selesaikan pekerjaannya!" Marshal berlalu ke luar dari dapur.
Meskipun teramat bingung, Viona tetap melakukan apa yang Marshal katakan. Dengan segera dia mencuci tangannya dan menyusul langkah Marshal.
"Apa maksud tuan berkata seperti itu tadi? Bukankah dia sendiri yang bilang jika aku pelayan, tapi kenapa dia malah terlihat tidak suka aku melakukan hal tadi? Ada apa dengan tuan? Membingungkan," gumam Viona.
Terlihat Marshal menaiki tangga, Viona segera menyusulnya.
"Masuk!" Viona menurut, dia masuk ke dalam kamar Marshal disusul Marshal yang kemudian menutup pintunya.
"Duduk disana!" Tunjuk Marshal pada sofa. Viona pun menurut. Pikirannya masih kebingungan. Sangat bingung.
Marshal berdiri di depan Viona, tangannya melipat didada. "Kamu melakukan semua itu setiap hari?" Viona mengangguk seperti orang begi. Dia duduk dengan tidak paham sedangkan Marshal berdiri dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Viona merasa seperti anak kecil yang sedang diomeli oleh ibunya namun tidak tahu apa-apa.
"Kenapa melakukan hal itu?" Lagi, Viona semakin tak mengerti pada Marshal. Sebenarnya Marshal ini kenapa? Dia menganggap Viona pelayan, tapi saat Viona melakukan hal seperti itu, kenapa Marshal malah bertanya?
"Tuan, saya hanya melakukan pekerjaan saya-"
"Itu bukan pekerjaanmu!!" bentak Marshal tegas, jantung Viona sampai mau melompat dari rongga dada sangking kagetnya.
Viona mengatur napas sejenak. "Tuan sendiri yang bilang saya pelayan di sini. Jadi, saya melakukan pekerjaan itu. Lalu apa masalahnya, Tuan? Apa saya melakukan kesalahan?"
__ADS_1
Marshal menghela napas, meraup wajah dengan kasar. "Kenapa dia kelewat penurut..." gumamnya.
Marshal duduk di samping Viona. Ditatapnya lekat wajah sang istri. "Apa aku harus jujur padamu?"
"Maksud, Tuan?"
"Begini," Marshal membenah duduknya, "sebenarnya aku tidak sungguhan berniat berkata seperti itu. Kamu lupakanlah ucapanku! Aku tidak benar-benar menjadikan kamu pelayan. Kamu itu istriku di sini."
Viona terdiam. Dia mencerna kembali ucapan Marshal.
Dia tidak menjadikanku pelayan? Lalu kenapa dia bilang aku hanya dijadikan pelayan di sini?
"Maaf, Tuan. Tapi, saya sungguh tidak mengerti."
____________
"Rio, panggilkan Viona ke sini!" titah Marshal yang kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia baru saja pulang setelah mengantarkan Amanda ke rumahnya.
"Baik, Tuan." Rio berlalu menuju kamar Viona, menjalankan perintah dari Marshal.
Saat hendak masuk kedalam kamar mandi dan ingin membuka tuxedo-nya yang dia gunakan saat resepsi tadi, langkahnya terhenti. Marshal mendengar ponselnya berdering. Dengan segera dia menyambarnya dari saku celana.
"Halo, ada apa?"
"Apa kamu sudah sampai rumah?"
"Ya, kenapa? Apa kamu sudah rindu padaku? Baru saja kita bertemu beberapa menit lalu, kamu sudah rindu, huh?"
Terdengar gelak tawa di sebrang sana. Amanda, wanita yang menelpon Marshal. "Aku hanya ingin memastikan jika kamu tidak melakukan malam pertama dengannya? Aku mau kamu perlakukan dia dengan kasar."
Marshal tercengang mendengar ucapan Amanda. "Aku tidak bisa melakukan itu, Manda. Kamu jangan aneh-aneh!"
"Oh, jadi kamu mau melakukan malam pertama dengannya? Iya?" Marshal menghela napas kasar, nada bicara Amanda terdengar sangat emosi. "Bukan itu maksudku, aku tidak mungkin berbuat kasar padanya, Manda."
"Kamu tidak tega padanya? Apa kamu mencintainya?" Marshal menggeleng dengan cepat meskipun Amanda tidak bisa melihatnya. "Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku tidak mau berbuat kasar padanya. Bagaimana jika dia mengadu pada keluarganya?"
"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus kasarin dia. Beri dia kesan seakan kamu itu kejam, dan dia jadi merasa diperbudak. Sampai dia menyesal telah menikah dengan kamu."
Marshal kembali menghela napas kasar. "Manda sayang... aku tidak bisa-"
"Gak mau tahu. Pokoknya harus!"
"Tapi Manda..."
Terdengar ketukan dari pintu kamarnya, Marshal menoleh sebentar pada pintu yang belum terbuka. "Sudah dulu, ya. Ada orang di sini. Nanti kutelpon lagi," ucapnya pada Amanda.
"Tidak, jangan dimatikan! Aku mau mendengar kamu memperlakukan dia dengan kasar. Biarkan saja panggilannya tetap tersambung. Aku ingin mendengar semuanya."
"Baiklah." Marshal meletakkan ponselnya, dengan posisi ditelungkupkan diatas meja tanpa memutus sambungan.
Rio dan Viona masuk. Marshal menghela napas dalam. "Aku melakukan ini karenamu, Manda," ucapnya dalam hati.
"Kenapa kau lama sekali?" bentak Marshal membuat jantung Viona berpacu semakin cepat. Dia kaget. Marshal tiba-tiba bersuara dengan nada tinggi.
__ADS_1
_____