
"Nyonya, ada kiriman lagi untuk Tuan kecil," lapor Erni, tergesa datang ke ruang olahraga, tempat Viona kini sedang latihan senam bersama suami dan instruktur pribadinya.
Viona tengah membungkuk, dipegangi oleh Marshal sesuai dengan arahan dari instruktur senam kehamilan. Dia menoleh sambil meringis dan segera menegakkan tubuh dibantu oleh suaminya. "Kiriman dari siapa lagi?" Hampir setiap hari ada kiriman untuk persiapannya melahirkan serta menyambut anak mereka yang tinggal beberapa minggu lagi akan hadir.
"Dari nyonya Rahma. Tapi, sebagian lagi malah datang dari nyonya Lina juga."
Marshal hanya terkekeh melihat istrinya yang pasrah. Kedua ibu itu memang selalu kompak untuk memberikan banyak hadiah untuk anak mereka, terlebih menjadi cucu yang paling dinantikan kehadirannya. Betapa beruntungnya anak yang lahir di antara keluarga tersebut. Pasti tidak akan pernah kekurangan apa pun. Terbukti dari belum lahir saja sudah dikirimi banyak hadiah dari mereka. Sampai Marshal dan Viona kadang bingung, apa yang harus mereka beli untuk persiapan persalinan? Sedangkan semuanya sudah ada di rumah, berkat Lina dan Rahma yang selalu antusias membelikan semua barang yang akan diperlukan.
"Tidak apa, Sayang. Rezeki si Dedek."
Viona mengangguk lesu. Menolak pun tidak bisa karena itu adalah bentuk kasih sayang dari para nenek anaknya. "Bilangin mama, udah cukup, gak usah beliin apa pun lagi. Di kamar si Dedek udah gak muat masukin barang lagi. Udah penuh, Chal."
"Iya, Sayang. Nanti aku bilang."
"Beruntung sekali anak pertama kalian ini, ya." Instruktur senam ikut menimpali. "Pasti anaknya nanti jadi primadona di keluarga. Tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Kalau materi jangan ditanya lagi, kan, ya." Perempuan lemah lembut itu terkekeh pelan dan pasangan suami istri itu mengamininya.
...***...
"Kayaknya ini kamar harus diubah jadi gudang, Chal. Barangnya kepenuhan."
Marshal baru saja selesai mandi, mengikuti istrinya masuk ke kamar yang memang sudah disiapkan untuk anak mereka. Seluas apa pun kamar yang dia siapkan, jika dua wanita tua itu tidak berhenti mengirimkan hadiah, pasti akan penuh juga. Benar kata Viona, kamar si Dedek malah terlihat seperti gudang. Berbagai mainan dan perlengkapan bayi, bahkan sudah tidak bisa ditata rapi. Sudah seperti toko khusus perlengkapan bayi, semua ada di dalam sana.
__ADS_1
"Nanti si Dedek bakalan gak nyaman kalau penuh begini. Bagusnya kita kemanain sebagian, gitu?"
Marshal menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil, memperhatikan sekeliling kamar. Dia juga tidak tahu harus dikemanakan barang-barang yang berlebihan tersebut. Belum lahir saja, anaknya sudah punya barang sebanyak itu, apalagi ketika dia sudah dilahirkan. Orangtua Marshal dan Viona pasti tidak akan berhenti untuk memanjakannya. Jika disumbangkan juga tidak mungkin. Itu akan melukai perasaan para ibu.
"Nanti aku sediakan dua kamar. Satu khusus mainan, satu lagi khusus untuk dia tidur dan perlengkapan pakaiannya. Tenang saja. Nanti aku urus."
Viona memanyunkan bibir, duduk di kursi warna biru sambil memandangi mainan bayi yang baru saja dia buka dari kiriman ibu dan mertuanya hari ini. Terlalu kebanyakan dan sangat berlebihan. Rahma dan Lina sepertinya selalu membeli apa yang mereka lihat, ketika sedang keliling di tempat belanja. Viona saja kadang tidak kepikiran sampai ke sana, tapi mereka sudah membelikannya. Bahkan ada kuda-kudaan yang bisa bergerak dan bersuara, digadang-gadang pemberian dari Rahma yang dia pesan dari Singapura. Anaknya masih lama untuk menunggangi kuda itu! Viona ingin meringis sambil berteriak melihatnya.
"Sudah makan?" Marshal menyampirkan handuk di tepi box bayi. Dia berlutut di depan istrinya, memberikan usapan halus di perutnya yang semakin membulat seperti bola. Dokter bilang, hanya tiga minggu lagi Viona akan menghadapi masa persalinan. Marshal terharu, tidak pernah menyangka waktu akan berjalan secepat ini. "Si Dedek kalau belum makan pasti nendang-nendangnya keras, ya, Sayang. Kamu jangan biarin dia kelaparan. Kasihan."
"Yaudah, aku makan sekarang." Viona berdiri berpegangan erat pada tangan Marshal. Bergerak saja sangat susah karena bebannya yang semakin meningkat. Bayi dalam perutnya terasa berat dan dia mulai kesusahan untuk beranjak sesuka hati. Harus selalu mencari pegangan supaya tidak limbung. "Tapi, aku mau kamu yang masak. Gimana?"
Tidak akan ada penolakan selagi Marshal bisa melakukannya. Dia menggandeng Viona untuk keluar dari kamar si jagoan. Dia suka jika Viona merepotkannya dengan berbagai keinginan dan Marshal selalu menunggu saat itu tiba. Tapi, istrinya tidak pernah punya keinginan yang menyusahkan, hingga Marshal kerap kali merasa kurang tertantang dengan ngidamnya.
"Tunggu di sini, ya."
Viona duduk di meja makan, mengambil apel dan menggigitnya sambil menunggu Marshal memasak untuknya. Dia suka dengan masakan Marshal, selalu menginginkannya. Untung saja Marshal baik hati selalu mengabulkan apa pun yang dia minta. Viona tidak perlu merengek atau bahkan memaksa, jika yang dia inginkan bisa Marshal lakukan secepatnya.
Hingga masakan western terhidang di depan mata, Viona memberikan senyuman lebar dan mengucapkan terima kasih banyak-banyak. Marshal meminta imbalan kecupan, dia berikan sebanyak mungkin di wajah suaminya. Marshal menang banyak, Viona hanya terlihat biasa saja kali ini.
"Perlu aku suapin?"
__ADS_1
Viona menggelengkan kepala, mengambil sendok sendiri dan mulai mencicipi makanannya dalam diam. Sesekali dia melihat pada Marshal yang setia menemani di sampingnya. Viona senang karena hari ini Marshal tidak keluar rumah, lebih tepatnya meliburkan diri karena ada jadwal untuknya melakukan senam kehamilan. Dan itu sangat bagus bagi Viona, karena Marshal tidak perlu melihat atau bertemu dengan banyak wanita di luaran sana.
"Chal, kamu udah siapin nama buat anak aku, kan?"
"Anak kita, Sayang."
"Iya, anak kita maksudnya." Viona memberikan cengiran lebar, meneruskan suapannya.
"Ada. Aku udah siapin nama yang bagus buat si Dedek." Marshal menggeser kursi duduknya, bergerak untuk menyentuk tonjolan bulat tempat tuan kecil tumbuh berkembang. "Namanya ...."
Viona menghentikan kunyahan, melihat Marshal dengan serius, menunggu nama yang katanya telah Marshal siapkan untuk anak mereka. "Siapa?" Marshal tak kunjung buka suara dan malah merebut sendok dari tangan Viona, mengambil makanan, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri. "Chal!"
Seolah tidak bersalah, Marshal hanya tersenyum misterius dan kembali menyuapkan makanan tidak peduli istrinya menggeram dan menunggu dengan debar jantung yang tidak karuan.
"Namanya siapa?!" Viona merebut sendok dengan cepat dari tangan suaminya, sampai makanan yang berada di sendok itu berceceran di atas meja. Viona tidak menyayangkannya. Yang dia inginkan hanya rasa penasarannya segera terpenuhi. "Ayo, katakan!"
"Katakan apa, Sayang?" Marshal terlihat pura-pura bodoh, mengambil tisu untuk membersihkan makanan yang berserakan di samping piring makan istrinya.
"Siapa namanya? Ayo, bilang! Jangan buat aku penasaran!"
"Kamu mau tahu?" Senyum Marshal melebar melihat istrinya mengangguk antusias. "Baiklah. Namanya adalah ...," Marshal sengaja mempermainkannya. Viona sampai berdebar menantikan nama istimewa yang akan Marshal berikan untuk si Dedek. "adalah ... siapa ya?"
__ADS_1
"Chal!"
Menurut kalian, nama apa yang cocok untuk Tuan Kecil? Siapa tahu sarannya bisa digunakan, ye, kan.😚