Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Manda, berhenti mengatainya!


__ADS_3

Marshal melangkah dengan pikiran gusar yang sudah tidak bisa dikendalikan dengan baik. Bimbang, tidak yakin dan tidak tega sudah tentu dia rasakan saat ini hingga dia tidak sadar jika langkahnya sudah sampai di depan unit milik orang yang dituju.


Dia ragu untuk masuk. Entah harus bersikap seperti apa saat berhadapan dengan Amanda nanti. Marshal tidak mungkin tega melihat reaksi Amanda di saat dia mengatakan untuk mengakhirinya setelah lama mereka tidak bertemu.


Tapi, bagaimanapun juga, Marshal harus bisa melakukannya. Ada Viona yang harus dia prioritaskan untuk menjadi pendamping hidupnya. Sudah saatnya Marshal berteguh pendirian untuk hal yang lebih baik, jika tidak mau suatu hal yang tidak diinginkan datang pada rumah tangganya.


Tanpa sadar, dia berdiri lama di depan pintu unit tersebut. Tiba-tiba tubuhnya tersentak kaget. Ada yang memeluknya dengan begitu erat. Kesadaran Marshal kembali, dia melihat Amanda sudah menyongsong tubuhnya dengan begitu antusias.


"Kamu ke mana saja? Sudah lama kita tidak bertemu, aku rindu."


Marshal hanya diam dengan tubuh yang kaku untuk digerakkan. Tidak tahu apa yang yang harus dia lakukan, Marshal hanya memandangi Amanda dengan tatapan dingin.


Amanda terus saja mengatakan kalimat kerinduan dengan penuh manja sebagai ciri khasnya. Marshal tetap diam menerima apapun yang Amanda lakukan. Hatinya berperang hebat untuk bisa berani mengatakan apa yang sudah dia rencanakan dan dia katakan kepada istrinya.


Diam Marshal tidak berlangsung lama karena Amanda yang mencium rahangnya dengan begitu agresif. Kesadaran Marshal kembali sepenuhnya. Dia menatap Amanda dan memberikan senyuman padanya.


"Kita bicara di dalam!"


Dengan senang Amanda menarik tangan Marshal untuk masuk ke dalam apartemennya. Dia terlihat sangat bahagia melihat kekasihnya datang. Apalagi Marshal sudah lama tidak mengunjungi apartemennya semenjak dia menikah. Dirangkulnya lengan Marshal dengan manja, Amanda mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Kamu pasti sangat merindukanku, bukan? Rasanya sangat lama sekali kita tidak bertemu."


Marshal mendorong pelan tubuh Amanda saat kekasihnya itu ingin memberikan ciuman lagi padanya. Wajah Amanda terlihat kecewa. Marshal harus bisa untuk terlihat cuek padanya, meskipun dia tidak tega melihatnya seperti itu. Demi Viona, dia akan tetap menguatkan diri, walaupun sangat sulit untuk dia lakukan.


"Ada yang ingin aku bicarakan, Manda," ucap Marshal mencoba setenang mungkin. Padahal debar jantungnya sudah tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Perasaannya berkecamuk dengan gelisah.

__ADS_1


Amanda masih saja terlihat manja. Senyuman terus terpatri di bibirnya. Dia memandangi Marshal dengan tatapan penuh cinta dan tidak henti mengatakan kata-kata manisnya. Namun, Marshal tidak terlalu menghiraukannya. Karena dia tidak mau terhanyut dalam sikap Amanda yang seakan terus menariknya untuk menyayangi wanita tersebut.


"Kamu tahu, aku hampir saja mati karena tidak bisa bertemu denganmu. Aku bahkan tidak bisa tidur, Honey. Akuļ¼"


"Iya, Manda, aku tahu. Tapi, saat ini bukan itu yang ingin aku bahas denganmu," potong Marshal dengan nada lembut. Dia sangat takut ucapannya menyakiti Amanda, meskipun nantinya, Marshal yakin jika Amanda tidak akan terima dengan apa yang menjadi keputusannya.


Amanda membenahkan duduknya lebih rapat pada Marshal. Tangannya tidak lepas untuk merangkul lengan kekasihnya yang kekar dan sangat dia rindukan.


"Aku ingin bertanya padamu," Marshal melirik pada Amanda. Pikirannya semakin tidak bisa dikendalikan. "kamu apakan istriku tiga hari yang lalu?" tanya Marshal dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Amanda.


Sehati-hati apapun yang Marshal lakukan dalam setiap ucapannya, Amanda tetap saja tidak terima dan kini malah terlihat meradang. Dia paling tidak suka Marshal membahas Viona dan sekarang, kekasihnya itu sudah menyebut Viona sebagai istrinya, di hadapan Amanda yang sangat begitu membenci wanita tersebut.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Ada apa dengan wanita itu?" ucap Amanda dengan ketus, memalingkan wajah ke samping. Hatinya panas jika Marshal membawa wanita itu dalam obrolan mereka.


"Aku hanya bertanya, Manda. Apa yang kamu lakukan dengan istriku tiga hari yang lalu?"


Dalam hati, Amanda memaki istri kekasihnya. Viona pasti mengadu pada Marshal sampai laki-laki itu sekarang menanyakam hal ini padanya. Kebencian Amanda terhadap wanita itu semakin besar. Selain sudah membuat Marshal menjauhinya, Viona juga sudah berani mengadu padanya. Amanda tidak menyangka Viona akan berubah seperti ini. Awalnya dia mengira Viona wanita baik yang tidak akan pernah berbuat macam-macam dengannya.


Saat Amanda tahu jika Viona tidak pernah mempermasalahkan hubungannya dengan Marshal, dari sana Amanda mulai berpikir jika Viona tidak akan berbahaya untuknya. Dia terkesan diam dan acuh saja terhadap hubungan mereka. Namun, Amanda tetap waspada karena takut sewaktu-waktu Viona bisa bersikap di luar ekspektasinya. Dan ternyata benar. Semakin lama, hubungan Amanda dan Marshal bahkan semakin merenggang karena kehadirannya.


Marshal menghela napas dalam melihat perubahan sikap Amanda. Kekasihnya itu selalu terlihat manja di hadapannya, tapi kini malah mulai emosi. Marshal kecewa mengetahui hal itu yang mengartikan jika ucapan istrinya memang benar. Viona mengatakan jika Amanda tidak suka padanya dan mulai menunjukkan perlawanan sebagai musuhnya.


"Istriku terluka di bagian wajahnya. Kamu pasti tahu itu, kan?"


Mata Amanda melotot tajam. "Kamu menuduhku melukainya? Oh, Honey, Please! Apa yang kamu katakan? Kamu menuduhku?"

__ADS_1


Marshal menggeleng pelan. Masih terlihat tenang, meskipun dia sudah tidak tahan ingin segera menyelesaikan semua ini. Tapi, tidak begitu mudah untuk dihadapi. Berhadapan dengan Amanda memang butuh kesabaran ekstra. Amanda bukan Viona yang bisa berkesan langsung pada permasalahan dan penyelesaian. Dia berbeda dan Marshal sangat paham bagaimana sikap Amanda terhadapnya yang memang sulit sekali untuk dia tegasi.


"Aku bukan menuduhmu, Manda. Aku hanya bertanya."


"Tetap saja kamu menuduhku, bukan? Kalau kamu tidak menuduhku, untuk apa kamu menanyakannya? Aku bahkan tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku tidak mungkin bisa melukainya, Marshal."


Sekali lagi, Marshal menghela napas dalam. Amanda tidak mau mengakuinya, dia hanya bisa tetap bersabar supaya tidak ikut terhanyut dalam emosi.


"Pasti dia yang membuatmu menuduhku, kan? Dia bicara apa saja sama kamu? Apa dia menjelekkan aku di depanmu? Cih, dia ternyata memang wanita munafik. Kelihatannya saja baik, padahal dia sangat licik."


"Manda, berhenti mengatainya!" bentak Marshal keras sampai Amanda tersentak, mengerjapkan matanya dengan kaget. "Jangan pernah kamu mengatai dia seperti itu! Viona bukan wanita seperti apa yang kamu katakan. Aku hanya bertanya baik-baik sama kamu. Kamu tinggal jawab dengan jujur, apa susahnya? Aku tidak berharap kamu mengatai istriku seperti itu. Aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Itu saja."


Pandangan Amanda mulai tidak bisa dilunakkan lagi. Selain terkejut karena Marshal membentaknya, dia juga kesal dan sakit hati karena Marshal malah membela istrinya. Marshal benar-benar sudah berubah karena wanita itu.


"Aku tidak suka jika kamu seperti ini, Manda. Aku selalu memanjakanmu, bukan berarti sikapmu bebas untuk tidak terkontrol seperti itu pada orang lain." Marshal memandang kekasihnya dengan tajam. Dia tidak tega sebenarnya melihat Amanda yang sudah nampak emosi akibat ucapannya. "Kamu melukai istriku di parkiran restoran tiga hari lalu. Kamu tahu, dia terluka lumayan parah akibat tanganmu. Aku diam saja, padahal aku sangat marah. Saat tahu kamu pelakunya, bukan berarti aku tidak emosi. Aku tetap tidak terima mengetahui istriku dilukai orang lain. Aku ingin menemui kamu dan memberi kamu hukuman. Tapi, istriku menahan dan bilang dia tidak apa-apa."


Kedua telapak tangan Amanda mengepal kuat di atas pangkuannya. Dengan mata mulai memburam, Amanda terlihat menahan emosi. Terlihat dari tahangnya yang mulai mengetat.


"Kamu salah, Manda. Aku hanya ingin mengingatkanmu supaya tidak berbuat buruk pada orang lain. Apa yang kamu lakukan sudah keterlaluan. Kesalahan apa yang istriku perbuat sampai kamu melukainya? Dia bahkan tidak pernah mengataimu. Membicarakanmu saja tidak pernah. Tapi, apa yang kamu lakukan padanya?"


"Tapi, dia sudah merebutmu dariku!" Air mata Amanda menetes. Wajahnya memerah menahan sakit hati dan emosi yang kian memuncak. "Kamu membuangku karena dia. Kamu bahkan sekarang bersikap tidak peduli terhadapku, Marshal. Apa aku harus diam saja? Aku menemuimu saja susah. Kamu lebih memilih bersama dengannya, apa aku harus tetap diam? Atau aku harus memakluminya karena dia istrimu?"


Marshal meraup wajah dengan kasar. Embusan napasnya terdengar seperti sebuah semburan. Kembali hatinya berkecamuk melihat Amanda yang menutup wajah dengan kedua tangan. Isakan pilu mulai terdengar dari balik telapak yang tidak kunjung membuka. Bagaimana jika Amanda tahu, bahwa sebenarnya semua itu terjadi bukan karena Viona, melainkan karena Marshal sendiri yang melakukannya. Marshal yang sengaja menghindarinya.


"Aku mencoba sabar saat tahu kamu menikah, Marshal. Aku sabar, saat kamu bilang keluargamu menjodohkanmu. Aku terima, walaupun sebenarnya aku terpaksa."

__ADS_1


Tangisan Amanda semakin terdengar keras. Marshal menggelengkan kepala yang terasa berat. Dia paling tidak bisa bertahan untuk tegas, jika Amanda sudah mengeluarkan air mata.


__ADS_2