Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Berat Hati


__ADS_3

Hening. Sepasang suami istri yang baru saja larut dalam kesedihan, kini mereka tengah terlelap dalam posisi yang sama sekali tidak membuat badan nyaman.


Mereka duduk di sofa yang ada di kamar rawat tuan Atmadinata-yang kini sudah membuka sedikit pandang dan gerakan tangan yang lemah. Dia melihat ke sekitar yang nampak sepi. Lalu, pandangannya terkunci melihat anak dan menantunya yang memejamkan mata sambil bersandar satu sama lain di antara kepala mereka.


Marshal terlihat begitu menyayangi istrinya, tidak lepas memeluk tubuh Viona yang bersandar padanya dan tertidur pulas, sedangkan dia sendiri menyandarkan kepala di kepala istrinya. Matanya juga terpejam. Sepertinya mereka kelelahan.


"C-chal ...." lirih Wisnu, mencoba sekuat tenaga untuk mengeluarkan suara. Tapi, tidak bisa, karena suaranya tertahan oleh alat oksigen di mulutnya.


Dengan lemah, dia mencoba menggerakkan tangan yang terasa sangat sakit. Pertama mengangkat tangan, dia meringis sambil memejamkan mata, tidak kuat melakukannya. Mencoba lagi, dia tetap tidak bisa. Dan untuk ke sekian kalinya, Wisnu kembali mengangkat tangan, memaksa diri untuk tahan dengan rasa sakit dan membuka alat tersebut dari mulutnya.


"Chal ...." Dia mencoba untuk memanggil anaknya lagi. Marshal tidak merespon apa pun, tetap lelap dalam tidurnya. Maka, Wisnu mencoba beberapa kali lagi dengan suara yang dipaksakan untuk sedikit lebih keras.


Terlihat Viona menggeliat pelan, Wisnu kembali mengeluarkan suaranya. Viona nampak terusik dari tidurnya dan perlahan mengerjap.


"Papa?" Dia langsung sadar dari lelap dan bergerak cepat membuat pelukan Marshal terlepas dari tubuhnya dan Marshal ikut terbangun akan hal itu. "Chal, Papa, Chal. Bangun!"


Marshal terkejut mendapati wajah istrinya yang terlihat sangat kaget dan segera berdiri menarik tangannya. Masih dengan kesadaran yang belum pulih, Marshal terseok mendekati ranjang ayahnya. Dia turut senang dan segera memencet bel darurat di samping ranjang untuk memanggil dokter.


"Jangan di buka lagi, Pa!" Viona memasangkan kembali oksigen ke mulut mertuanya. Dia tersenyum getir melihat keadaan Wisnu saat ini. Banyak mengucap syukur karena akhirnya Wisnu bisa tersadar dari tidur lamanya.


Marshal pun demikian. Dia ingin memeluk tubuh ayahnya, tapi terhenti oleh intrupsi dari dokter dan perawat yang cepat tanggap masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka dipersilakan untuk keluar dan dokter memeriksa keadaan Wisnu dengan baik.


Tidak sia-sia mereka memilih menunggu Wisnu, bahkan tidak mau pulang karena merasa khawatir terhadap kedua orangtuanya. Beberapa kali mereka dibujuk oleh suami Miranda untuk pulang dan beristirahat, tapi mereka tetap memilih untuk berdiam di sana, memastikan keadaan Wisnu dan Rahma baik-baik saja.

__ADS_1


Marshal memeluk tubuh Viona, berdiri di depan kamar Wisnu. Mengucapkan beberapa doa terus berulang dan berharap keadaan ayahnya semakin membaik. Dan semoga, Rahma nuga segera sadarkan diri. Marshal tidak mau orangtuanya terus seperti itu. Dia sedih melihatnya dan sangat takut kehilangan mereka.


Hingga dokter mengabarkan Wisnu memang sudah berada dalam kesadaran yang baik, mereka bernapas lega. Setidaknya kecemasan mereka sudah mulai berkurang. Tinggal memulihkan keadaan Wisnu dan menunggu Rahma untuk cepat tersadar.


"Dokter bilang, papa harus istirahat dulu, Sayang," cegah Marshal, ketika Viona ingin masuk kembali ke dalam melihat keadaan ayah mertuanya. "Biarkan dulu! Nanti kita lihat papa."


Berat hati, akhirnya Viona mengangguk.


Masih terlalu pagi untuk orang-orang berlalu lalang. Disekitar ruangan rumah sakit masih terasa sepi, bahkan fajar belum menampakkan sinarnya. Viona membuka kamar Rahma, di sana terdapat Michelle dan juga suami Miranda yang berjaga. Viona tersenyum pada suami Miranda yang tengah melihat layar laptop di pangkuan. Sepertinya dia bekerja sambil menunggu Rahma yang ranjangnya berjarak lumayan jauh dari tempatnya duduk.


Kedua orangtua Marshal di tempatkan di ruangan VVIP yang teratas, karena itu adalah rumah sakit milik Wisnu. Di setiap kamar disediakan perlengkapan dan juga ruangan yang komplit. Mereka bisa menunggu pasien tanpa menanggu, karena tempat untuk istirahat yang lumayan berjarak.


Michelle tampak tertidur di sofa, handphone berada di samping kepalanya. Viona melangkah mendekati dan melepas jaket yang dia kenakan untuk menyelimuti adik iparnya.


"Viona, aku rasa lebih baik kamu sama Marshal pulang dulu. Tenang saja, di sini ada aku dan banyak perawat juga. Tidak usah khawatir lagi." Zibran-suami Miranda, lagi-lagi mengatakan hal itu. "Papa sudah sadar. Ada banyak perawat yang akan menjaganya. Pulanglah dan istirahat di rumah!"


Viona tidak mau. Marshal juga demikian. Tapi, dia tidak bisa menampik jika tubuhnya juga lelah. Baru pulang dari Jepang dan langsung menghadapi keadaan seberat sekarang.


"Kak Zibran kerja hari ini?"


Laki-laki yang tengah memangku laptop itu menggeleng. Melihat layar laptopnya sejenak, dia tersenyum tipis. "Aku bisa handle pekerjaan di sini."


Viona melihatnya iba. Mereka sama-sama menjadi menantu di keluarga Atmadinata. Tapi, bukan berarti mereka abai dan acuh dengan keadaan saat ini. Mereka menyayangi mertua, sangat. Sama-sama ingin menjaga, tidak mungkin bisa tenang meninggalkannya pergi.

__ADS_1


Kalau pun Viona dan Marshal pulang ke rumah, dia tidak yakin bisa beristirahat. Pikirannya pasti tertinggal di rumah sakit dan sudah pasti tidak akan pernah bisa memejamkan mata lagi. Maka Viona memilih untuk tetap berada di sana saja. Itu lebih menbuat pikirannya tenang dan dia lebih bisa menyembunyikan rasa lelahnya.


***


"Dek."


Marshal menoleh ke belakang, mendapati Heru dan Lina yang memanggil Viona. Dia memberikan senyuman sebagai sambutan, karena dia tidak bisa beranjak atau pun salim kepada mertuanya. Viona tertidur di pangkuan, terlihat nyenyak sekali sampai Marshal rasanya tidak tega untuk membangunkannya.


"Bagaimana keadaan besan?"


"Papa di masih perlu perawatan lebih, Pa. Mama belum sadar sampai sekarang," jelas Marshal dengan pelan, takut membangunkan istrinya.


Heru dan Lina duduk di sofa lain, merasa kasihan melihat Marshal yang duduk menahan kepala istrinya di pangkuan. Wajah Marshal terlihat sangat lelah ditambah rasa sedih, terlihat sangat kacau.


Mereka kini berada di ruangan yang khusus untuk petinggi runah sakit. Marshal akhirnya membawa Viona untuk beristirahat di sana, atas paksaan dari Zibran yang terus menyuruh mereka untuk beristirahat.


"Kenapa tidak pulang saja ke rumah, Nak? Kalian pasti sangat lelah. Kasihan juga Viona." Lina melihat putrinya yang menggeliat pelan, memeluk perut Marshal dan menyurukan wajah di sana. Viona bisa tertidur, tapi lihatlah wajah Marshal yang tampan itu kini sudah terkihat seperti pasien penderita lupus stadium akhir, yang terdapat di film-film. Pucat, kusut, matanya sayu, bibir kering dan terlihat muram. Terlihat sangat menyedihkan.


"Biar kami yang ganti menjaga mereka. Pulanglah dan bawa Viona! Kalian harus istirahat dengan baik. Jika hanya beristirahat di sini, tidak akan ada gunanya. Lebih baik ke rumah. Kalian butuh ruang untuk bernapas," ucap Heru, berusaha keras membujuk menantunya supaya menurut.


Dengan berat hati, Marshal pun menuruti perkataan ayah mertuanya. Dia menghubungi orang untuk menjemput ke rumah sakit dan menggendong Viona yang masih tertidur pulas. Viona terganggu dan malah terbangun. Meski begitu, Marshal tetap tidak membiarkan istrinya untuk berjalan sendiri. Dia mengubah gendongan istrinya jadi di punggung dan Viona menurut saja.


Mereka akan pulang dulu sejenak, setidaknya menyegarkan tubuh sedikit dan menenangkan pikiran terlebih dahulu. Marshal masih bisa memantau orangtuanya dari jauh. Mengakses rumah sakit milik ayahnya sendiri bukan hal sulit yang harus menjadi masalah besar untuknya.

__ADS_1


Sesuai dengan perkataan ayah mertuanya, dia harus mementingkan Viona untuk saat ini. Kasihan istrinya banyak pikiran dan kelelahan. Emosional Viona juga akhir-akhir sedang kurang stabil, sudah pasti akan memperburuk kondisi tubuhnya. Marshal tidak mau mereka juga ikut-ikutan sakit karena beban pikiran yang menekan kuat.


__ADS_2