Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Bertemu Sendi


__ADS_3

Hari kedua tanpa Marshal. Semua berjalan seperti biasanya. Hanya saja Viona merasa sedikit bisa bebas melakukan apapun tanpa harus memikirkan kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak perlu repot-repot menyiapkan pakaian kerja untuk Marshal dan juga tidak perlu menyiapkan kotak makan siang.


Meskipun begitu, Viona tetap saja melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya. Ada atau tidak ada Marshal, pekerjaan rumah memang hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan guna menghilangkan kebosanan.


Saat ini Viona sedang berada di dapur bersama dua pelayan lainnya. Karena hari masih pagi dan dia sedang malas mengerjakan skripsi, dengan iseng dia mengajak pelayannya untuk membuat kue bolu sebagai kesenangan.


Di tengah aktivitasnya, suara seseorang masuk ke dalam rumah dengan memanggil namanya kencang. Viona menoleh, Michelle dengan senyuman lebar masuk ke dapur menghampirinya.


"Kakak ipar ...!" Dia merentangkan tangannya untuk memeluk Viona. Tapi, kakak iparnya malah mundur menghindari pelukan Michelle. "Kenapa?" Dia merasa heran melihat Viona yang menjauh.


Viona tersenyum dan menggeleng. Mengangkat tangannya yang blepotan penuh adonan. "Aku kotor, Chelle."


"Gak pa-pa. Aku kangen, pengen meluk." Michelle memeluk Viona dengan erat. Seperti teman yang melepas rindu, sudah lama tidak bertemu. "Kakak sedang apa?"


"Membuat kue." Viona melanjutkan membuat adonan untuk yang kedua kalinya. Setelah adonan pertama yang dia buat dengan penuh cokelat, yang kali ini dia akan membuatnya dengan rasa strawberry. "Tumben kamu ke sini pagi-pagi, Chelle? Emang gak sekolah?"


"Ih, kan, ini hari minggu." Michelle membantu menambahkan tepung pada wadah yang sedang Viona geluti. "O, iya, kak Chal ke mana? Kok, gak keliatan."


"Sedang tidak di rumah. Sibuk ngurusin pekerjaan."


"Hari libur gini dia kerja?" tanya Michelle dengan heran. Mana mungkin Marshal kerja di hari libur, kan? Yang Michelle tahu, Kakaknya itu memang sangat sibuk dengan pekerjaan tapi bukan berarti dia gila kerja.


Jika hari libur tiba, Marshal pasti meluangkan waktu untuk beristirahat.


"Sudah dua hari ke luar kota, Chelle. Urusan pekerjaan."


Michelle manggut-manggut. Memperhatikan tangan Viona yang lihat menambahkan bahan satu dan lainnya hingga menjadi sebuah adonan yang benar. "Berarti kakak dua hari di rumah tanpa Kak Chal?" Viona bergumam.


Tangannya sibuk dengan adonan. "Kangen gak sih, kalo ditinggal gitu? Pasti kakak kesepian ya, di rumah gak ada kak Chal?"


"Apa, sih, biasa aja. Lagian di sini juga banyak orang, kok."


"Ciee, pasti kangen, kan? Hayo ngaku, kakak kesepian gak ada kak Chal? Iya, kan?" goda Michelle menyenggol lengan Viona. Matanya mengerling lucu dengan senyuman jahilnya.


"Ih, apa, sih, Michelle. Gak juga." Viona tertawa menanggapi godaan adik iparnya.


Dia tidak merasa kesepian, apalagi rindu pada Marshal. Tidak sama sekali. Yang ada dia senang bisa jauh dengan suaminya. Michelle tidak tahu apa-apa. Pantas jika dia berkata seperti itu, karena pasangan umum lainnya pasti merasa kesepian dan merindukkan suaminya jika sedang berjauhan. Tapi Viona tidak merasakan hal demikian.


***

__ADS_1


"Kak, pakai yang ini aja, ya, biar kita samaan warnanya," ucap Michelle dengan antusias mengangkat sebuah midi dress sabrina berwarna gold pada Viona.


Mereka kini berada di salah satu butik milik Rahma. Ternyata Michelle mendatangi Viona karena diutus oleh kedua orangtuanya untuk memberitahu dan mengajak Viona datang ke pesta yang di adakan oleh Wisnu nanti malam, dalam rangka merayakan sekaligus dalam bentuk rasa syukur karena mertua Viona tersebut telah berhasil memenangkan tender real estate.


"Emm ...," kakak iparnya itu nampak sedang berpikir. "boleh. Yang ini bagus."


Michelle tersenyum lebar. Senang karena bisa memakai baju senada dengan kakak iparnya. "Oke, kita bawa yang ini aja, ya."


Viona mengangguk pada Michelle yang kemudian memberikan baju yang telah mereka pilih tadi pada pelayan butik. Dua midi dress sabrina dengan warna gold dominan.


Baju yang mereka pilih hampir sama modelnya, namun punya Michelle lebih pendek bagian bawahnya dan kerah yang sedikit turun. Sehingga jika dipakai akan menampakkan dada yang menggoda iman.


Viona hanya menggeleng pelan. Selera adik iparnya itu kenapa sangat minim? Sepertinya Michelle suka sekali dengan pakaian seksi, meskipun usianya masih anak SMA.


***


Malam tiba, Viona masuk ke sebuah taman yang sudah di dekorasi dengan indah. Tempat pesta Wisnu diselenggarakan. Pesta berkonsep outdoor dengan sepoi-sepoi angin malam. Banyak orang yang sudah hadir di sana.


Sebenarnya Viona tidak mau datang jika tidak bersama Marshal. Dia belum merasa akrab jika berada bersama keluarga suaminya tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin menolak ajakan Michelle yang merupakan titahan dari orangtuanya.


Meskipun merasa malu dan canggung, Viona menghampiri kedua mertuanya bersama Michelle.


Bukan hanya diberi baju, Viona juga diajak ke salon oleh Michelle. Dia tidak bisa menolak meskipun merasa tidak enak karena semuanya dibayar menggunakan kartu kredit milik Rahma yang sudah di bawa oleh Michelle. Khusus untuk mereka berbelanja dan bersenang-senang.


Pemberian menggiurkan sebenarnya untuk Viona yang memang sama sekali tidak punya uang. Tapi, tetap saja dia merasa tidak enak. "Makasih, Ma untuk semuanya."


"Sama-sama, Sayang. Kapan pun kamu mau, datanglah ke butik mama. Pilih baju mana pun yang kamu suka. Tenang, semuanya gratis untuk mantu mama yang cantik ini."


Viona tersenyum, bersyukur punya mertua yang sangat baik seperti Rahma. Meskipun dia menikah dengan terpaksa dan penuh sandiwara, tapi perlakuan mertuanya sangat baik padanya.


"Hei, menantu papa!" Wisnu menyapa Viona dengan senang setelah menyambut beberapa temannya.


Viona dengan segera meraih tangan Wisnu dan mencium punggung tangannya dengan sopan. "Selamat untuk tendernya. Papa memang hebat."


Wisnu tertawa renyah. "Kamu terlalu berlebihan. Terika kasih sudah mau datang. Tapi, sayangnya Marshal sedang keluar kota, ya."


"Iya, Pa. Mungkin besok atau lusa baru pulang."


"Oh, pulang besok, ya? Mama kira dia bakal pulang hari ini, hihihi ...." Rahma menyahuti dengan senyuman misterius mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Viona hanya tersenyum menanggapi. Dia mengangguk pada Wisnu yang mengusap lengannya. "Nikmatilah pestanya, meskipun tidak ada Marshal. Papa ke sana dulu." Wisnu mengajak Rahma, beranjak untuk menyambut kedatangan tamu lainnya.


Viona terdiam bersama dengan Michelle yang sibuk dengan ponselnya. Tampak senyum-senyum tidak jelas. Dia jadi penasaran, apa yang Michelle lakukan dengan ponselnya itu. Michelle nampak sedang bahagia.


"Chatingan sama siapa?" Viona mendekat. Mengintip sedikit pada layar ponsel Michelle.


"Apa, sih, Kak? Cuma chatingan biasa." Michelle menjauhkan ponselnya dari pandangan Viona. Dia kembali sibuk berbalas pesan entah dengan siapa. Viona hanya terdiam. Melirik sekitaran. Banyak tamu yang mulai berdatangan. Semuanya hampir seumuran dengan Wisnu karena tamu yang diundang ke pesta tersebut rata-rata teman bisnisnya.


"Kak, maaf, aku harus ke sana sebentar, ya. Gak pa-pa, kan?"


Viona melirik Michelle dengan pandangan tidak rela. Dia tidak bisa berjauhan dengan Michelle karena di sana dia tidak punya teman lain. "Eh, tapi aku gimana? Gak ada teman di sini."


"Sebentar aja, oke. Kakak nikmatin aja pestanya, aku harus ke sana dulu." Michelle pergi begitu saja meninggalkan Viona yang mematung dengan wajah tertekuk. Dia tidak mengenal siapa pun di sana. Viona bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang? Berada di sebuah pesta mewah sendirian. Dia sudah seperti anak yang tersesat. Celingukkan sana-sini dengan bingung.


"Viona?" Seseorang memanggil dari arah belakang.


Viona membalik badan. Langsung terbelalak melihat orang yang memanggilnya tersebut. "Sendi? Kenapa kamu di sini?"


Sendi tersenyum, semakin mendekat pada Viona yang masih terkejut melihat kehadirannya. "Takdir emang gak salah, ya. Kita emang ditakdirkan selalu bersama, Vi."


"Kamu ngomong apa, sih, Sen?" Viona melirik sekitaran dengan cemas. Takut keluarga Marshal melihatnya sedang bersama Sendi.


"Kenapa kamu di sini?"


"Papaku sama om Wisnu itu temenan. Pas tahu papa mau datang ke sini, aku maksa buat ikut karena aku tahu kamu pasti ada di sini. Dan ternyata benar, aku menemukanmu, Vi."


Tatapan Sendi berbinar melihat Viona. Dia sangat bahagia bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Beberapa hari ini Viona tidak bisa dia hubungi. Sepertinya nomor Sendi diblok oleh Viona, pikir Sendi.


Viona hanya tersenyum. Itupun terpaksa. Dia melirik pada Wisnu dan Rahma. Mereka sedang menyambut para tamu yang baru datang. Melirik ke arah kanan, Michelle ternyata sedang bersama seorang laki-laki yang masih muda. Mereka tertawa bersama. Viona menggelengkan kepala. Pantas saja Michelle memilih mengucahkannya. Adik iparnya itu sedang bermesraan dengan laki-laki.


"Vi, kenapa nomor kamu tidak bisa kuhubungi? Kamu tidak mengganti nomor, kan?"


Viona menoleh pada Sendi. Dia menggeleng. "Tidak. Nomorku tetap sama," jawab Viona seadanya. Dia masih cemas. Takut keluarga Marshal melihatnya. Jika keluarga Marshal tahu, takutnya mereka bilang pada Marshal. Bisa tamat riwayat Viona jika sampai suaminya mengetahui hal ini.


"Kamu selalu cantik, Vi. Apalagi malam ini kamu berdandan, aku makin sayang."


Viona melirik pada Sendi sejenak. Dia tersipu mendengar gombalan itu. Sendi tersenyum dengan lebar. Dia melirik kiri kanan. Mereka agak jauh dari banyak orang. Dia juga merasa lega karena tidak melihat suami Viona berada di sana. Makanya dia berani mendekati pujaan hatinya.


"Sayang, kamu di sini ternyata."

__ADS_1


Viona tersentak kaget saat seseorang memeluknya dari belakang. Dengan cepat Viona membalik badan. Matanya membulat sempurna melihat Marshal tersenyum lebar, kemudian mencium keningnya.


__ADS_2