Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Keberhasilan


__ADS_3

Maaf, jika part-nya kurang terasa enak dibaca atau cacat logika. Zhao belum berpengalaman, jadi tidak tahu apa-apa. Ini hanya mengira-ngira. Ingat, ya, "Hanya mengira-ngira"!


Salam hangat dari Zhao๐Ÿ˜˜


Ingat, hanya mengira-ngira! Zhao malu karena punya perkiraan seperti ini. Padahal belum pernah ngelakuin wkwk. Dah, ah, malu! Pengen tenggelam๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


___________________________


"Sayang ...." Marshal melirik punggung polos istrinya, mengusapnya lembut dengan jemari tangan. Dia tersenyum penuh kemenangan. Apa yang saat ini dia rasakan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sangat-sangat bahagia! Karena bukan hanya Viona yang pertama untuknya, namun juga dia pertama untuk Viona.


Dia gugup, sudah pasti. Makanya dia memilih untuk melakukannya di bawah lampu temaran untuk menyembunyikan kegugupannya. Dia juga sempat ragu untuk melakukannya. Dia takut tidak sesuai dengan keinginan istrinya, tidak bisa memuaskan Viona. Tapi, ternyata semuanya berjalan baik, meskipun hal itu pertama kali bagi mereka.


"Kenapa?" Marshal membenarkan selimut menutupi tubuh polos Viona. Dia memeluknya dari belakang. Sejak apa yang mereka lakukan selesai, Viona tidak mau berbalik padanya lagi. Dia enggan melihat Marshal dan malah memilih untuk memperlihatkan punggung polosnya. "Kamu tidak menyesal, kan?" Marshal jadi cemas sendiri jika Viona tetap seperti ini.


"Sayang?" Marshal tidak enak hati karena istrinya tidak kunjung menyahuti. Dia membalik tubuh Viona supaya berhadapan dengannya. "Sayang, kamu kenapa?" Dia sangat terkejut melihat Viona ternyata menangis saat menghadap padanya.


Viona menggeleng, mengusap air mata dan memeluk tubuh suaminya yang sama masih polos di bawah selimut.


Marshal mengusap punggungnya lembut, jadi khawatir. Dia memberikan kecupan-kecupan ringan di kepala istrinya. "Kenapa? Apa masih sakit?" tanyanya penuh cemas. Mungkin saja jika Viona masih merasa sakit. Marshal masih ingat bagaimana raut kesakitan yang muncul di wajah cantik istrinya kala dia mencoba untuk menyatukan tubuh mereka. Dia takut sakitnya berkepanjangan dan Viona menyesal telah melakukannya.

__ADS_1


"Sayang?" Marshal memaksa Viona untuk melihat padanya. Namun, Viona kembali menangis, meskipun tidak terdengar isakannya membuat Marshal jadi merasa bersalah. "Masih sakit, ya? Aku harus gimana biar gak sakit lagi?"


Viona memilih membenamkan wajah di dada bidang suaminya. Jika Marshal terus bertanya seperti itu, Viona jadi malu. Dia menangis karena masih belum percaya jika dia istrinya Marshal. Viona tidak percaya jika dia sudah berhasil menjadi istri seutuhnya. Dia tidak gadis lagi. Dia sudah dimiliki oleh Marshal, tidak mungkin bisa lepas darinya. Ada rasa terharu dan bahagia. Viona tidak menyesal sama sekali, seperti apa yang suaminya tanyakan. Dia hanya tidak menyangka, dia akan memberikan segalanya untuk Marshal. Jiwa dan raga.


"Sayang?" Viona mendongak, Marshal mengusap wajah istrinya. Menyeka air mata dan keringat di dahi istrinya. Marshal merapikan rambut Viona di pelipis yang lepek, menempel dengan keringat. Dia mencium keningnya hangat dan mengucapkan terima kasih. "Apa masih sakit?"


Viona menggeleng, memberikan senyuman tipis. Dia mendorong bahu Marshal saat suaminya ingin kembali menyambar bibirnya. "Aku capek, Chal," keluhnya dengan nada serak.


Marshal mengangguk, tersenyum memaklumi. Dia memeluk tubuh Viona erat, memberikan kecupan dikepalanya dengan sayang. "Tidur, ya!"


Viona mengangguk karena dia sangat kelelahan saat ini. Malam sudah berganti, sebentar lagi subuh akan tiba. Dia sangat lelah dan ingin istirahat. Untung saja Marshal mau memahami keadaannya, sehingga dia tidak memintanya lagi. Jujur saja, Viona malu jika mengingat hal yang terjadi pada mereka barusan. Dia sulit melupakannya dan masih bisa merasakan bekas inti Marshal berada di dalam tubuhnya.


"Kenapa, Sayang?" Marshal yang sudah memejamkan mata, malah terusik dengan kepala Viona yang terus menggeleng-geleng di dadanya. Pelukan Viona juga semakin erat membuat Marshal jadi mikir kejauhan. "Tidur, ya. Sudah subuh, satu jam lagi pasti adzan. Aku mau tidur sebentar. Nanti bisa dilanjut pagi-pagi. Bagaimana, hm?" Marshal terkekeh mendapat cubitan sebal di pinggang. Dia tahu, wajah Viona pasti memerah, jika dia berkata seperti itu. Sama seperti saat Marshal meminta untuk mengulanginya lagi dan lagi, tadi.


Viona mengusap bekas cubitannya di pinggang Marshal, yang telat mengaduh. Saat sudah lama, Marshal baru mengatakan jika cubitan Viona sakit. Dengan pelan Viona mengusap bekas cubitan sampai kantuk menyerang. Dia harap saat bangun, pagi menyambut dengan riang dan Marshal masih setia bersamanya, merasakan pagi yang hangat tanpa cela.


Namun, harapannya tidak terwujud. Saat bangun tidur, Viona tidak melihat suaminya. Dia mengernyit karena cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden sangat menyilaukan mata. Melirik jam, dia langsung terperanjat bangun sampai selimut melorot dari tubuhnya, menampilkan dadanya yang masih polos.


Setengah delapan. Viona bangun kesiangan. Tadinya dia berniat tidur satu jam, tapi nyatanya dia kebablasan.

__ADS_1


"Uhh ...." Viona menggerakkan badannya yang terasa remuk. Pegal luar biasa. "Chal!" Dia memanggil suaminya karena butuh bantuan. Tapi, Marshal tidak kunjung menyahuti. Apa dia berada di kamar mandi? Jika benar, kenapa Marshal tidak membangunkannya tadi. Viona jadi kesiangan untuk sholat subuh.


Sudah memanggil beberapa kali dengan nada keras, Marshal tidak kunjung datang. Viona jadi kesal. Ke mana suaminya? Apa dia sedang sarapan di bawah?


"CHAL ...!" Viona berteriak lagi dengan lebih keras. Tapi, percuma jika Marshal berada di luar kamar. Sekeras apapun dia berteriak, Marshal tidak akan mendengarnya karena kamar mereka kedap suara.


Terpaksa Viona beranjak sendiri. Dia mengeluh pegal dan sakit saat bergerak. Belum lagi rasa tidak enak di selangkangannya sangat mengganggu. Dia sulit berjalan. Sangat pelan sekali dia sampai di kamar mandi karena harus tertatih-tatih menahan rasa tidak nyaman yang sesekali masih terasa perih. Hhh, ternyata seperti ini rasanya. Viona kira akan enak seperti yang orang katakan. Tapi, yang dia alami sangat menyiksa. Tubuhnya bagai ditumpuk gundukan batu, mungkin. Sakit-sakit dan sangat pegal.


Keluar dari kamar mandi, dia masih tidak menemukan suaminya. Viona mendesah lelah melihat kamarnya yang baru dia sadari, ternyata sangat berantakan. Pakaiannya dan Marshal masih berserakan. Belum lagi keadaan ranjang yang mengenaskan. Viona bingung harus membereskannya dari mana.


"Chal!" Dia berdecak kesal karena suaminya tidak kunjung terlihat. Viona tidak bisa berjalan dengan baik, masih terasa tidak enak. Dia butuh bantuan, tapi Marshal malah meninggalkannya.


Angan Viona ingin seperti pasangan yang diceritakan. Mereka bermesraan di pagi hari. Disambut hangat oleh suami dan digendong ke mana-mana setelah melakukan malam pertama. Huh, nyatanya dia tidak seperti itu. Marshal tidak tahu diri, entah ke mana perginya. Viona jadi kesal sendiri di dalam kamar. Mau bergerak pun susah.


Semburat merah kembali muncul di wajah Viona kala melihat noda darah di sprei ranjangnya. Hhh, dia jadi teringat kembali keganasan suaminya tadi malam. Betapa dia pasrahnya di cumbu dan malah bersuara menjijikan, bahkan jeritan tak elak keluar dari bibirnya. Viona pasti sudah gila. Bisa-bisa dia mengingat permulannya dengan Marshal tadi malam. Otaknya mulai terganggu, apalagi mengingat wajah Marshal penuh kepuasan, Viona merasa bangga pada dirinya sendiri.


"Hufhh, Astagfirullah!" Viona menggelengkan kepala mengusir bayang-bayang semalam. Dia malah kembali kesal karena suaminya tidak kunjung datang. Entah ke mana suaminya itu. Lama sekali tidak muncul juga. Lihat saja nanti jika Marshal datang, Viona akan ....


Akan apa hayoo?

__ADS_1


__ADS_2