
"Itulah... makanya aku mengkasarimu. Tapi sungguh, aku tidak berniat melakukan itu padamu."
Viona tak habis pikir dengan Marshal. Dia sungguh marah pada Marshal setelah mendengar semuanya. Jadi Amanda dibalik semua ini. Pantas saja Viona merasa agak heran dengan perlakuan Marshal padanya. Keesokan harinya setelah Marshal membentak, mengkasari bahkan mengatakan Viona adalah pelayannya, dia tidak pernah bersikap kasar lagi pada Viona. Bahkan Marshal lebih manja dan cenderung ingin terus berdekatan dengan Viona meskipun Viona tidak suka dengan perilakunya. Ternyata hanya karena Amanda.
"Tapi kamu tenang saja, Amanda tidak mendengar saat kita berciuman. Karena sebelumnya aku sudah mematikan sambungan saat Rio membawakan aku kopi," jelas Marshal lagi. Viona mengingat-ingat kembali malam itu. Dan dia ingat betul saat Marshal memainkan ponselnya meminta dibawakan kopi hitam pada Rio. Dan Viona jadi malu mengingat pertama kali mereka berciuman.
Marshal memegang tangan Viona. "Maaf, aku tidak bermaksud menjadikanmu pelayanku. Sungguh!"
Viona hanya diam. Rasa kesal, tak percaya plus terkejut sangat membuncah membuat amarahnya kian meluap. Tapi dia tidak mungkin memperlihatkannya pada Marshal. Padahal ingin sekali dia memaki Marshal atas apa yang telah dia perbuat waktu itu.
Lama Viona terdiam, hingga membuat Marshal tahu jika Viona teramat marah padanya.
Marshal mengusap punggung telapak tangan Viona dengan pelan, ditatapnya lekat wajah Viona yang penuh kekesalan. "Ingat, kamu bukan pelayan di sini! Lain kali jangan melakukan pekerjaan seperti itu lagi. Di sini banyak pekerja, kamu bisa menyuruh mereka."
"Tidak, Tuan. Saya melakukan semua itu juga karena keinginan saya. Saya tidak apa-apa jika harus melakukannya."
"Baiklah jika itu maumu, tapi jangan terlalu banyak melakukannya. Jika hanya sekadar membantu sedikit tidak apa, tapi jangan sampai apa-apa kamu kerjakan sendiri seperti tadi. Aku tidak mau nanti Ayahmu berpikir yang tidak-tidak." Viona mengangguk saja. Apalagi yang selalu dia lakukan untuk merespon ucapan Marshal yang cenderung terdengar seperti perintah itu, selain dari anggukan.
"Mau tidur sekarang?"
"Huh?" Viona membeliakan mata mendengarnya. Dia baru ingat jika saat ini dia sudah berada di kamar Marshal.
Apa aku harus tidur dengannya lagi?
"Aku ke kamar mandi dulu, tolong kamu siapkan baju tidurku!" Marshal berlalu begitu saja setelah berucap.
Viona berdecih, menatap Marshal dengan mengejek. "Katanya tidak menganggapku sebagai pelayan, tapi dia menyuruhku seperti itu," gumamnya. Kemudian dia menyiapkan piyama tidur untuk Marshal.
Viona memalingkan muka saat Marshal melepas pakaiannya di depan Viona. Senyum samar Marshal tampilkan. Dia heran melihat Viona yang masih saja enggan jika melihat Marshal tidak memakai baju, padahal Viona sudah sering melihatnya bukan hanya sekali dua kali, tapi setiap hari.
"Bajunya..." Viona menoleh dan memberikan piyama pada Marshal.
Pipinya memanas, Viona kira Marshal memakai handuk atau jubah tapi ternyata hanya memakai boxer saja didepan matanya.
"Kenapa? Masih malu melihatku seperti ini?" Viona semakin blushing mendengarnya. Dia terdiam, enggan berucap karena sudah tanggung malu.
"Bagaimana bisa mengabulkan keinginan Mama jika baru melihatku seperti ini saja kamu tidak mau."
Viona menunduk. Ucapan Marshal selalu mengarah lagi kesana.
"Maksudnya apa coba dia ngomong seperti itu? Kenapa dia selalu membahas hal itu? Aku tidak mau. Belum siap jika harus melakukannya," batin Viona.
"Sini, pakaikan bajuku!" Viona menurut, dia memakaikan baju bagian atasnya.
__ADS_1
Marshal yang sudah berpakaian, siap untuk segera tidur, dia menarik tangan Viona menuju ranjang. Masih, Viona menarik tangannya dari genggaman Marshal.
"Masih begini sikapmu padaku? Apa kamu sangat tidak mau aku sentuh?"
Marshal menatap tajam pada Viona. Dia kesal, kenapa Viona masih saja membatasi jarak di antara mereka.
"Bukan, Tuan. Saya mau ke kamar saya-"
"Aku 'kan sudah bilang, kamu tidur disini!" sambar Marshal cepat membuat Viona harus menghela napas kasar. "Saya akan membersihkan diri dan berganti pakaian dulu, Tuan."
"Oh, yasudah. Cepat kembali!" Marshal langsung memalingkan wajahnya. Naik ke atas ranjang. Dia jadi malu, ternyata pemikirannya salah. Dia kira Viona masih mau membatasi jarak.
Viona keluar dari kamar Marshal menuju kamarnya. Di balik pintu kamar Marshal dia menghela napas lega. Setidaknya dia menjauh sejenak.
***
"Apa aku masih perlu minum obat, Ma?" tanya Sendi pada Fatma yang menyodorkan beberapa obat padanya.
"Iya, Nak. Walaupun kamu sudah dibolehkan pulang oleh dokter, tapi tetap saja, kondisi kamu belum sembuh dengan baik. Jadi kamu masih perlu menghabiskan obatnya."
Sendi mendengus, dengan terpaksa dia meminum kembali obat pemberian dari dokter.
"Ma, kayaknya aku masih bisa mendapatkan Viona," ucap Sendi saat menyerahkan gelas kosong pada Fatma, selesai minum obat.
Sendi menggeleng. Dia tersenyum pada ibunya. "Nggak, Ma. Sendi yakin Viona gak bakal bisa bahagia dengan pernikahannya."
"Hush, kamu gak boleh ngomong kayak gitu! Harusnya kamu doakan Viona bahagia."
"Aku yakin Viona gak bahagia sama pernikahannya. Alasan dia menikah saja sudah begitu jelas. Jadi, Viona tidak akan bahagia dengan pria itu. Aku akan menyelamatkan Viona dari jeratan pria itu dan dia bisa kembali lagi padaku."
Fatma mengernyit. "Maksud kamu?"
Sendi tersenyum misterius, hingga Fatma melihatnya penuh bingung.
"Tunggulah aku, Viona! Kita akan tetap bersama ..."
****
"Masuk, tidak? Masuk, tidak..."
Viona berdiri di depan pintu kamar Marshal. Dilihatnya gagang pintu berwarna putih dilapisi marmer itu dengan lekat. Dia mengangkat tangan di udara hendak memegangnya, namun dia urungkan. "Masuk gak ya?" Dia terdiam lagi.
"Aku gak mau tidur dengannya lagi. Tapi kalo gak masuk, dia pasti marah. Duh, gimana dong, nih ...."
__ADS_1
Dia angkat lagi tangan ke udara, sesenti lagi menyentuh gagang pintu, dia urungkan kembali. "Balik ke kamar ajalah, ya..." Viona balik badan. "Tapi, nanti dia marah. Aaa... tapi, tidur dengan dia itu berbahaya, aku gak mau."
Viona memutuskan untuk masuk ke kamar Marshal setelah lama termenung. Hela napas dalam, dibukanya perlahan pintu kamar, tersenyum canggung saat Marshal yang sedang duduk di atas ranjang melihat ke arahnya.
"Kenapa lama?"
"Maaf, Tuan." Viona menghampiri ranjang. Terdiam, melirik Marshal yang sedang memperhatikan ponsel di tangannya.
"Naik, sini!" ucap Marshal tanpa melihat padanya. Viona pun menurutinya. Menyibak selimut dan duduk di samping Marshal. Dia menunduk, memainkan jemarinya di pangkuan yang dilapisi selimut.
"Tidur duluan! Aku harus membalas pesan Amanda dulu," ucap Marshal.
Viona melirik Marshal sekilas. Ada keraguan jika harus tidur duluan. Bagaimana jika Marshal melakukan hal yang tidak-tidak saat Viona sedang tertidur? Disaat Viona sadar saja, Marshal selalu melakukan hal-hal yang tidak Viona sukai, apalagi kalau dia tidur.
"Baiklah, kamu tidak mau menuruti ucapanku," Marshal menaruh ponselnya di atas nakas. Dia menghadap pada Viona. "Kita tidur, aku sudah selesai dengan Amanda."
Marshal meminta Viona berbaring seperti dirinya. "Jika aku mengatakan tentang Amanda, apa kamu marah?" tanya Marshal. Dia membuat Viona risih seperti biasanya. Bukan ucapannya, tapi perlakuannya. Dia memeluk Viona dari samping serta menempatkan wajahnya di ceruk leher Viona.
"Saya tidak marah, Tuan. Untuk apa saya marah?"
"Benarkah?"
"Iya, Tuan."
"Baguslah, jika kamu tidak marah. Tapi jika kamu tidak suka aku membahas Amanda, kamu bisa bilang padaku. Dan aku tidak akan pernah mengatakan nama Amanda di depanmu."
Viona hanya menganggukan kepala. Lagian untuk apa dia marah? Hubungan Marshal dan urusan lainnya bukan urusan Viona. Mau Marshal dengan siapa pun, Viona tidak akan ikut campur, selama itu tidak membawa namanya. Bukankah bagus jika Marshal dan Amanda semakin dekat, dengan begitu Viona akan dicampakkan dan segera dilepaskan.
Jujur, Viona masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. Keinginan mempunyai rumah tangga yang dilandasi cinta, masih menjadi hal yang ingin dia gapai. Tapi untuk pernikahannya ini, bahkan Viona sama sekali tidak mencintai Marshal dan tidak pernah berpikir untuk mencoba mencintainya.
Jadi, jika suatu saat nanti, Marshal melepaskannya, dengan senang hati Viona menerimanya. Karena hal itu lebih baik daripada menjalani rumah tangga seperti ini.
*****
"Maaf, Nona. Ada yang mencari Nona di luar." Erni melapor pada Viona yang tengah sibuk memasak untuk makan siang dibantu oleh beberapa pelayan.
"Siapa?" Viona masih mengenakan apron berdiri di sembari mengiris sayuran.
"Non-"
"Aku yang ke sini." Tiba-tiba seorang wanita berparas cantik dengan pakaian selutut berwarna merah menyala, menghampiri Viona.
Saat menoleh, mata Viona membulat sempurna dibuat terkejut melihat wanita itu. "Dia kan..."
__ADS_1
"Halo, aku Amanda Andorsen."