Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Cucu


__ADS_3

Marshal tak henti-hentinya tersenyum melihat Viona yang sedang menggendong bayi perempuan anak dari Emeli-sepupu Marshal yang kebetulan berkunjung disana juga. Berhubung Emeli sedang ke kamar mandi, jadilah anaknya dititipkan pada Viona.


Paman, Bibi Niken dan juga Julian sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu. Tinggalah Emeli disana yang belum pulang, karena dia menunggu suaminya menjemput.


Sepulangnya keluarga lain, Viona dan Marshal bisa bernapas lega karena suasana menjadi tenang tidak sericuh dan seheboh tadi saat banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuat pengantin baru itu kebingungan untuk menjawab bahkan sampai kehilangan kata.


Viona terlihat sangat bahagia menggendong bayi itu. Terlihat dari aura senangnya juga bibirnya yang terus membentuk senyuman.


"Lucu ya, anaknya?" Rahma mendekat dan duduk disamping Viona.


"Iya, Ma. Pipinya gembil gini," Viona memainkan pipi Alyra, bayi yang baru berusia 3 bulan.


"Mama pengen punya cucu kayak gini, deh," Rahma melirik Marshal dan Viona bergantian. Memberikan kode atas keinginannya yang tersirat. Namun, pasangan pengantin baru itu terlihat acuh saja, tidak menanggapi ucapan Rahma.


"Chal, Mama pengen punya cucu kayak gini. Lihat! Lucu banget. Alyra gemesin," Rahma mengambil alih Alyra dari pangkuan Viona, guna kembali melancarkan kodenya pada Marshal.


"Mama 'kan udah punya cucu," sahut Marshal. Rahma memoncongkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk, "Itukan beda. Mama pengen cucu lagi dari kamu."


Rahma sebenarnya sudah punya cucu dari Miranda, anak sulungnya yang tak lain kakak dari Marshal, karena Rahma dan Wisnu punya tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki yaitu Marshal. Miranda sudah menikah, punya anak satu berusia tiga tahunan.


"Kalian kapan ngasih Mama cucu?"


Marshal memandang Viona yang kini sedang menunduk sembari tangannya memainkan tangan mungil Alyra yang masih digendong oleh Rahma.


Viona sendiri juga bingung harus menjawab apa. Dia belum pernah kepikiran untuk memiliki anak. Apalagi jika punya anak bersama Marshal. Pernikahan ini saja berawal dari keterpaksaan bagaimana mungkin Viona mengharapkan kehadiran anak dari pernikahannya.


"Ya ampun, Ma. Mereka baru juga menikah tiga hari, masa udah dimintain cucu," protes Wisnu membuat Marshal tersenyum. Karena secara tidak langsung Wisnu telah membantu Marshal menyanggahi ucapan Rahma.


"Mama 'kan cuman pengen punya cucu kayak Alyra gini, Pa. Lucu." Wisnu menghela napas dalam, menurutnya permintaan Rahma terlalu aneh, "Ma... "


"Udah, deh. Papa gak ngerti keinginan Mama." Wisnu membuang napasnya dengan kasar, wanita memang tidak bisa dilawan.


"Chal, kapan?" rengek Rahma menatap tajam pada Marshal.


Viona bersyukur dalam hati. Dia bisa bernapas lega karena Rahma selalu mengincar Marshal, bukan dirinya. Jadi dia tidak perlu repot menjawab ucapan Rahma yang sangat menuntut itu.


"Aduh, Ma... aku belum mikirin kesana. Mama tanyain aja sama menantu Mama, kapan dia siap punya anak?" Viona yang tadinya bernapas lega, kini nampak kaget dan langsung menatap Marshal dengan tajam.


Aih, kenapa jadi aku?


"Viona... kapan kamu ngasih Mama cucu?"


Nah, kan...


"Ah, itu... em..." Viona terlihat gelagapan, bingung harus menjawab apa. "Emm... mungkin secepatnya, Ma," lanjutnya dengan terpaksa.


"Nah, iya, memang harus secepatnya. Mama udah gak sabar pengen punya cucu lagi... " Rahma terlihat antusias, kegirangan. Sedangkan Viona merutuki mulutnya sendiri. Kenapa dia bisa berbicara seperti itu, harusnya dia tidak bilang seperti itu pada Rahma barusan.


Marshal tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan sekarang setelah mendengar ucapan Viona. Apa mungkin dia punya kesempatan untuk segera mengambil haknya? Bukankah saat malam pertama Viona menolak karena belum siap. Tapi sekarang Viona berkata demikian, apa itu termasuk lampu hijau untuknya? Ah, Marshal sangat senang mendengarnya.


"Ngomongin apa nih, kayaknya tante senang banget," Emeli yang baru kembali dari kamar mandi, ikut bergabung dan mengambil alih Alyra dari gendongan Rahma.


"Tante bakalan punya cucu lagi," sahut Rahma dengan antusias.


Emeli nampak terkejut melirik Viona dengan tajam, "Kamu udah hamil? Masa sih, bukannya kalian nikah baru tiga hari, kenapa kamu sudah hamil?"

__ADS_1


Viona menggeleng dengan cepat. Emeli salah paham, dan itu membuat Viona bingung, "Tidak, belum. Aku belum hamil."


"Tadi kata tante... " Emeli menatap pada Rahma meminta penjelasan. Rahma hanya tersenyum geli, "Belum Emeli, Baru akan." Emeli bernapas lega, dia kira Viona sudah hamil diluar nikah. Hampir saja jantungnya mau copot. Dia tidak bisa membayangkan jika sepupunya menghamili anak gadis orang diluar nikah.


"Kamu jangan menunda kehamilan, ya! Pokoknya harus segera punya anak!" tegas Rahma membuat mata Viona membulat. Bibirnya terasa kelu. Dia harus menjawab apa, dia belum siap punya anak. Mana mungkin dia secepatnya punya anak, berharap disentuh Marshal saja tidak, apalagi punya anak.


"Ma, jangan ngomong kayak gitu! Mereka pengantun baru , belum saatnya digertak seperti itu. Biarlah waktu yang memberi, jangan memaksa mereka seperti itu!" Lagi-lagi Wisnu membela anak dan menantunya, Rahma kembali memasang raut masam.


"Mama tenang saja, kalo Tuhan kasih kita kepercayaan, kita secepatnya akan kasih Mama cucu," entah dari mana timbunya kepercayadirian Marshal, tapi ucapannya membuat Viona melotot.


Apa tuan marshal ingin secepatnya punya anak? Tidak, aku tidak mau. Tidak boleh ada anak dari pernikahan ini! Batin Viona menyangkal.


Mata Rahma langsung berbinar. Memeluk Viona erat hingga menantunya itu terkejut. "Mama harap kamu scepatnya punya anak, ya," pelukan Rahma semakin erat. Viona susah bernapas, dia melirik Marshal meminta pertolongan.


"Ma, udah dong! Istriku gak boleh dipeluk seperti itu," Marshal beranjak dan duduk disamping Viona hingga pelukan Rahma terlepas dan digantikan dengan tangan Marshal yang memeluk pinggangnya erat, "cuma aku yang boleh meluk dia." Viona melirik Marshal tajam. Baru saja dia bernapas lega karena pelukan Rahma terlepas, kini sudah terjerat dengan pelukan Harimau yang sedang bersandiwara.


"Huh, dasar posesif," sindir Rahma.


Semua orang tertawa termasuk Marshal, berbeda dengan Viona yang kini menunduk dengan merona. Dia malu juga kesal. Dia tidak nyaman dipeluk dari samping seperti ini.


"Kayaknya malam pertamanya panas banget, ya. Ngeliat kemesraan kalian sekarang, aku yakin kalian menghabiskan waktu tiga hari ini hanya diranjang, pasti," ucap Emeli dengan kerlingan mata menggoda melirik Viona yang semakin menunduk menahan malu.


"Iyalah, pasti. Iya 'kan, Sayang?" Viona membelalak, Marshal berbohong, bukankah malam pertama mereka tidak terjadi apa-apa. Dan lagi yang membuatnya kaget, karena Marshal memanggilnya sayang.


"Iya 'kan, Sayang?" Marshal mengulangi ucapannya karena Viona tidak menyahuti. Viona hanya menunduk dengan diam karena dia merasa malu, sangat-sangat malu.


Marshal menyentuh pipi istrinya, hingga Viona melirik kearahnya dengan tajam, "Iya 'kan Sayang? Kita melakukan seperti yang Emeli ucapkan?"


Viona mengangguk dengan ragu dan sedikit tersenyum yang dipaksakan karena Marshal menatapnya dengan mengintimidasi hingga Viona tidak bisa berkutik selain mengangguk membenarkan ucapan Marshal yang padahal tidak benar adanya itu.


"Ah, sepertinya pengantin baru ini masih malu-malu." Semua orang yang ada disana tertawa lepas, kecuali Viona yang hanya tersenyum kikuk.


****


"Kalian nginap disini, kan?" tanya Rahma saat menata makanan di meja makan, dibantu oleh Viona dan satu pelayan lain.


"Tidak, Ma. Kita akan pulang saja," sahut Marshal yang sedang duduk bersama Wisnu, sudah siap untuk makan malam.


Mereka makan malam berempat, Emeli sudah pulang tadi, dijemput oleh suaminya dan Michelle-si bungsu yang manja, dia tidak kelihatan dari tadi. Katanya, sepulang sekolah dia langsung menelepon Wisnu untuk meminta izin. Dia menginap dirumah temannya untuk mengerjakan tugas dan tidak pulang dulu ke rumah. Jadi dia tidak tahu jika ada Viona dirumahnya. Padahal jika Michelle tahu dirumah ada Viona, dia pasti sangat senang sekali.


"Padahal menginap saja," Rahma duduk disamping Wisnu dan Viona duduk disamping Marshal yang bersebrangan dengan tempat duduk Rahma.


"Biar saya saja," Viona merebut piring dari tangan Marshal. "Hm," Marshal hanya bergumam mengizinkan Viona mengisikan makanan untuknya.


"Makasih." Viona tidak menanggapi, dia hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Ma, isiiin juga!" Wisnu menyodorkan piring kosongnya pada Rahma.


"Kan Papa bisa sendiri."


"Ambilin 'lah! Masa kalah sama menantu. Dia aja perhatian sama Marshal sampe diperhatiin makanannya," sindir keras Wisnu membuat raut wajah Rahma berubah.


"Yaudah, sini," Rahma merebut piring kosong dari tangan Wisnu dan menaruh makanan dengan sedikit terpaksa.


"Makasih Mama," Wisnu menerima piringnya yang telah terisi dengan senyuman mengembang yang sedikit menggoda namun Rahma malah memasang raut juteknya, "Iya," jawabnya dengan ketus.

__ADS_1


Marshal hanya geleng-geleng kepala melihat tingah kedua orangtuanya.


***


"Padahal nginap saja disini, Chal. Udah malam juga."


Setelah makan malam selesai, niatnya Marshal ingin segera pulang. Tubuhnya terasa sangat lelah. Tadi sebelum ke rumah Wisnu, Marshal mengerjakan banyak sekali pekerjaan dikantornya, dan itu membuat tubuhnya terasa letih sekali.


"Kamu nginap disini aja, ya," Rahma memelas menatap Viona penuh mohon. Viona melirik Marshal meminta jawaban apa yang akan dia lontarkan.


"Nginap disini aja, ya. Mama masih pengen sama kamu." Viona kembali melirik pada Marshal. Karena jawaban Viona tergantung keputusan Marshal. Jika Marshal putuskan untuk menginap, berarti Viona juga ikut menginap. Tapi jika bilang pulang, itu artinya Viona juga akan ikut pulang.


"Kita pulang aja, Ma," sahut Marshal santai sembari melihat isi ponselnya, "aku capek, mau istirahat. Pengen pulang aja."


"Kalo kamu capek, yaudah nginap disini aja, gak usah pulang. Langsung tidur aja dikamar," ujar Rahma, "lagian mantu Mama belum pernah nginap disini."


"Iya, menginap saja disini. Lagian kamu jarang tidur disini," ucap Wisnu.


Marshal melirik Viona, meminta pendapatnya. Tapi Viona malah diam saja menatap Marshal dengan datar.


Karena tidak berpendapat juga, Marshal bertanya, "Kalo menginap disini semalam, gak apa-apa?" Viona hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui.


Marshal pun ikut tersenyum, "Oke, kita nginap disini saja," putusnya sembari mengusap kepala Viona dengan sayang.


"Asyik, mantu Mama nginap disini," Rahma tersenyum kegirangan, "nanti kamu tidurnya sama Mama, ya." Viona hanya bisa tersenyum kikuk menanggapi ajakan Rahma.


"Ma, biarin Viona tidur sama Marshal aja," ucap Wisnu.


"Pa, biar Viona tidur sama Mama malam ini. Mama juga butuh pendekatan lebih dengan Viona. Kita belum banyak ngobrol-ngobrol. Jadi nanti kita bisa cerita banyak, Mama juga 'kan harus tahu gimana menantu kita."


"Gak boleh, Ma. Mereka itu pengantin baru, gak bagus kalo tidurnya berpisah."


"Iya nih, Mama. Katanya pengen cepat punya cucu lagi tapi kok malah dipisahin." Viona melotot pada Marshal. Dia kesal, kenapa Marshal jadi membahas masalah itu lagi. Cukup sudah Viona kelimpungan saat tadi siang, jangan dengan sekarang.


"Iya juga, ya. Yasudah kamu tidur sama Marshal aja, ya. Buat cucu untuk Mama." Viona hanya menatap Rahma dengan datar. Dia tidak mau menanggapinya, ucapan Rahma cukup membuatnya kesal.


"Yasudah, sana kalian segera ke kamar, istirahat!"


"Kamu ke kamar duluan! Aku mau nemuin Rio dulu," ucap Marshal pada Viona. Kemudian Marshal beranjak keluar dari ruangan itu meninggalkan Viona yang kebingungan. Dia tidak tahu kamarnya Marshal dimana.


"Maaf, Ma. Apa aku bisa minta tolong?"


"Kenapa, sayang?" Rahma menatap Viona dengan lekat, "minta tolong apa?"


"Emm... aku tidak tahu kamarnya." Rahma hanya tersenyum sebelum dia menarik Viona untuk mengikutinya ke lantai atas, tempat dimana kamar Marshal berada.


"Ini kamar Marshal," Rahma membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam diikuti Viona dibelakangnya.


Kamarnya luas, sama seperti kamar Marshal yang ada dirumahnya. Hanya saja ukuran ranjangnya yang berbeda. Ranjang yang disini hanya berukuran sedang berbeda dengan yang dirumah, ukuran king size. Namun tetaplah terlihat nyaman dengan dekorasi kamar yang manly.


"Marshal jarang pulang kesini semenjak pindah rumah, bahkan hampir tidak pernah menginap. Dia kalo kesini paling cuma mampir aja, gak pernah nginap," jelas Rahma. Viona hanya diam saja mendengarkan dan ikut duduk bersama Rahma ditepian ranjang.


"Ingat, ya! Bikin cucu buat Mama. Setelah Marshal kembali, kamu jangan biarkan dia tidur dulu. Kalian harus melakukan proses dulu sebelum tidur. Seenggaknya satu ronde lah, biar cepet jadi 'kan cucu Mama." Viona menelan ludahnya dengan susah payah. Masa iya dia harus mengajak Marshal melakukan itu.


Ucapan Rahma membuat perasaannya tidak karuan. Viona tidak mungkin melakukan apa yang Rahma perintahkan. Dia tidak akan melakukan apapun dengan Marshal. Tapi entah kenapa, jantung Viona jadi berdetak tidak beraturan. Apakah Viona taku Marshal akan mengajak untuk melakukannya?

__ADS_1


Tidak, tidak boleh. Kita gak akan melakukan apapun. Pernikahan ini tidak dilandasi cinta, dan tidak boleh terjadi hal-hal yang lebih. Lagian tuan Marshal juga tidak mungkin mau menyentuhku, kan. Jadi tidak akan ada anak diantara kami.


BERSAMBUNG....


__ADS_2