
Marshal mencoba menenangkan Amanda yang mulai meraung. Tangisannya kembali pilu dengan maki-makian kasar tertuju padanya. "Manda ... Manda, dengarkan aku! Lihat aku!" Diraihnya wajah Amanda, Marshal menatapnya dalam. Namun, Amanda terus saja menangis dan memaki-maki dirinya. "Hei, Manda, stop! Lihat aku! Lihat aku, Manda!"
Amanda berhenti memaki. Membalas tatapan Marshal dengan dalam penuh rasa sakit. Dia menangis masih di pangku oleh suaminya Viona. Dengan lembut, Marshal mengusap air mata di wajahnya.
"Manda," lirih Marshal, memberikan tatapan yang sangat menangkan. "Hei, lihat aku!" Marshal kembali mengarahkan pandangan Amanda yang sempat berpaling untuk kembali menatap padanya.
Pandangan Amanda melunak. Suara tangisannya perlahan mulai mereda, meskipun air mata itu tidak kunjung surut juga. Mereka sama-sama diam saling pandang. Tidak ada yang bergeming sampai seringaian Amanda kembali muncul dan menyerang Marshal lagi dengan ciumannya.
Marshal mendorong pelan tubuhnya, Amanda mendengus menahan kesal. Giginya mengetat dengan amarah yang membuncah. "Kamu benar-benar sudah tidak peduli padaku?!"
"Bukan," Marshal menggelengkan kepalanya cepat, "aku tetap peduli padamu. Aku peduli padamu, Manda. Aku hanya ingin hubungan kita-"
Amanda menjerit. Terdiam sejenak dan kembali memberikan seringaian liciknya. "Kamu mau hubungan kita berakhir? Iya?" Dia tersenyum miring, mengusap rahang Marshal dengan penuh kelembutan. "Baik. Aku akan terima, jika kamu mau kita berpisah. Tapi, aku mau kamu menuruti satu kemauan terakhirku!"
Marshal terdiam menanti hal apa yang Amanda inginkan. Apapun akan dia berikan selagi hal itu bisa Marshal lakukan. Namun, suatu hal yang tidak terduga, tidak pernah ada dan tidak pernah terlintas dalam benak, malah terucap begitu saja dari mulut Amanda. Marshal membulatkan matanya dengan tajam penuh rasa kaget mendengarnya.
Amanda berbisik dengan seringaian licik kembali terbit dari bibirnya. Dia menatap Marshal penuh percaya diri. "Aku ingin kamu hamili aku sekarang juga!"
"Apa? Tidak, Manda, tidak!" Marshal bersusah payah menahan Amanda yang kembali menyerangnya. Dia sangat kaget mendengar apa yang barusan Amanda katakan. Amanda menuntut balasan pada Marshal atas ciumannya. Pikiran Marshal semakin kalut. "Tidak, Manda! Aku tidak mau!"
Amanda tetap tidak mau melepaskan diri untuk menyerang Marshal. Seringaian demi seringaian terus tercipta membuat Marshal takut seketika. Marshal tidak habis pikir, kenapa Amanda bisa seperti ini?
Melihat Amanda yang lemah dengan tubuh wanitanya itu. Amanda adalah sosok yang rapuh. Terbiasa hidup sendiri tanpa keluarga, sehingga membuatnya selalu tergantung pada laki-laki yang sekarang sedang berada dengannya.
__ADS_1
Jika mengingat hal itu, Marshal merasa terenyuh. Dia merasa semakin tidak tega dan kasihan, sehingga dia tidak bisa berbuat kasar untuk menyingkirkan Amanda dari tubuhnya. Dia membiarkan Amanda berbuat apa yang dia inginkan. Amanda menekan lehernya membuat Marshal memekik.
Mungkin Amanda masih menuntut balasan, pikir Marshal. Dengan sabar, dia meladeninya. Hanya untuk membuat Amanda tenang dan setelah itu, dia segera menahan kuat tangan Amanda untuk menjauh dari lehernya. Marshal menghentikan ciuman yang hampir saja membuatnya terhanyut lebih jauh.
"Tidak, Manda, jangan seperti ini!" Amanda menarik tangannya kasar membuat Marshal dengan cepat menahan tangannya yang sudah ingin menarik bajunya ke atas. "Jangan, Manda, aku tidak mau!"
Amanda malah menyeringai dan menarik bajunya sendiri untuk segera terlepas. Marshal berusaha kuat menahannya. Dia sampai mencengkram kuat tangan Amanda. Dia tidak mau Amanda berbuat lebih jauh lagi.
"Manda, jangan seperti ini! Aku tidak akan berbuat apapun padamu! Aku menyayangi, bukan berarti aku juga akan merusakmu."
Amanda terdiam, tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Marshal menahan tangannya kuat sampai terasa sakit di bagian pergelangannya. "Kenapa tidak mau, ha? Aku ingin kamu menghamiliku, Marshal! Aku ingin punya anak darimu supaya kamu tetap bisa menjadi milikku."
Amanda berpikir, dengan hamil oleh Marshal, dia bisa menikah dan hidup bersama laki-laki itu. Jika dia mengandung anak Marshal, merestui atau tidak, orangtua kekasihnya, pasti tetap akan menuntut Marshal untuk memberikan tanggung jawab padanya.
"Tidak, Manda! Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu! Aku menjagamu. Dari dulu-"
Marshal membulatkan matanya tajam. Sangat terkejut mendengar ucapan wanita yang masih berada dia atas pangkuannya. Sejak dulu, dia berpacaran dengan Amanda karena dia menyayanginya, ingin menjaganya. Tapi, apa yang dia dengar, kini membuatnya begitu terkejut.
"Manda, kamu ...."
Wanita itu malah tertawa sinis. "Kamu memang tidak pernah menyentuhku, tapi aku sudah rusak sebelum kenal denganmu."
Otak Marshal mendadak sulit untuk mencerna dengan baik. Dia terkejut. Kepalanya tidak bisa berpikir dengan jernih dan malah membuatnya semakin tidak menyangka akan hal yang sudah Amanda katakan padanya barusan.
__ADS_1
***
"Yah, kok, aku kalah ...." Viona menatap Rio dengan sebal. Asisten suaminya itu memberikan senyuman yang sangat mengejek padanya atas permainan Viona yang berhasil diungguli olehnya. "Tidak sopan kamu sama majikan! Harusnya kamu yang kalah lagi."
Rio terkekeh geli mendengarnya. Di saat seperti ini saja Viona mengakui dirinya sebagai majikan, sedangkan jika Rio yang berkata seperti itu, Viona pasti tidak mau.
"Kita teman. Jangan menganggapku seperti itu, Yo!" Selalu berkata seperti itu jika Rio menganggapnya sebagai orang terhormat, bukan seperti saat ini.
"Ini mengenai kesepakatan, Nyonya. Saya sudah membuktikan, jika saya juga bisa." Dagu Rio terangkat dengan angkuh. Ya, meskipun masih unggul Viona, tapi tetap saja dia yang menang kali ini. Setidaknya dia berhasil menang setelah kalah dua kali dari majikannya.
Viona mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Ya, sudah ... aku bukan orang yang akan ingkar janji. Nanti kamu bisa menagih satu menu masakan Jepang padaku."
"Hanya satu?"
"Memangnya kamu mau berapa menu, huh?"
Rio terkekeh melihat Viona yang menatapnya tajam. "Saya terserah yang masaknya saja." Dia memberikan cengiran dan melihat Viona yang mengepalkan tangan padanya.
"Ingat, aku majikanmu, bukan juru masakmu! Tapi, untuk asisten tersayang tuan Marshal ... ah, baiklah, aku akan memasakanmu tiga menu masakan. Bagaimana, kamu senang bukan? Kapan lagi bisa memakan masakan Viona, kan? Hasil tanganku sangat lezat dan tidak ada duanya. Nanti aku akan membuatkanmu masakan yang spesial."
Senyuman Rio merekah dengan senang. Dia mengangguk tanda setuju. Kapan lagi dia bisa mencicipi masakan luar hasil tangan majikannya. Viona memang sering memasak dan Rio juga sering merasakan masakannya. Tapi, untuk hal ini rasanya pasti berbeda. Karena masakan yang kali ini adalah buah dari keberhasilannya.
Ponsel yang baru saja Rio simpan setelah meraih kemanangannya, dia ambil kembali karena terdengar jika ponselnya itu berdering. Marshal menghubunginya, dengan cepat Rio menggeser panel hijau.
__ADS_1
Dia buru-buru keluar dari mobil dengan tergesa setelah mendapat intruksi dari majikannya. Tidak peduli teriakkan Viona yang bertanya-tanya dia mau ke mana. Rio tetap keluar dari mobil meninggalkan Viona sendiri dengan ponsel masih menempel di telinga dengan panik.
"Baik, Tuan, tunggu sebentar!" Rio berlari secepat yang dia bisa. Keluar dari basement menuju unit milik Amanda.