Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Ingin Pulang


__ADS_3

Maaf sebelumnya, Zhao jarang up cerita. Zhao sedang sibuk ngurus real life. Tapi, sepertinya, sebagai ganti kebolosan Zhao akhir-akhir ini, maka up dipenghujung bulan ini akan lumayan banyak. Tidak kecil kemungkinan Zhao akan crazy up di akhir bulan (nyusul/menebus keterlambatan update) tapi tidak janji dulu, takut tidak bisa menepati.


Okay! Salam hangat! Semoga rezeki kalian semua semakin melimpah ruah, ya.😘😊🙏🙏


______________________________


"Ke mana, Sayang?" tanya Marshal dengan heran melihat Viona yang sudah rapi, padahal hari masih pukul enam pagi.


"Pulang ke rumah mama," sahut Viona seadanya sambil menutup koper kecil berisi pakaiannya.


Marshal langsung terperanjat dari atas ranjang. Sangat terkejut dengan ucapan istrinya. Buru-buru Marshal turun dan menahan tangan Viona yang sudah akan beranjak. "Apa maksud kamu?"


Setelah semalaman mereka berpisah kamar, tadi subuh Viona kembali ke kamar mereka. Marshal sudah senang  karena Viona masih mau masuk kembali, meskipun tetap sulit diajak bicara. Tapi, apa yang dia lihat dan dengar sepagi ini, membuatnya sangat-sangat ketakutan.


Marshal semakin kalut melihat Viona yang hanya menatapnya sekilas dan menarik kopernya. Dengan erat Marshal menahan tangannya. "Mau ke mana?"


Viona hanya diam. Dia sudah menjawabnya tadi, seharusnya Marshal tidak perlu mengutarakan pertanyaannya lagi.


"Sayang? Kenapa?" Marshal tidak menyangka karena ucapannya yang kemarin, Viona jadi seperti ini. Apa Viona sungguh tersinggung dengan ucapannya? Kenapa marahnya sampai sejauh ini? Marshal tidak mau Viona jauh darinya. Cukup sudah semalaman dia susah tidur, jangan sampai mereka malah pisah rumah. Itu sangat mengerikan lebih dari pisah kamar lima hari.


"Lepasin!" Viona menarik-narik tangannya dari cengkraman Marshal. Suaminya tidak mengizinkan dan malah menariknya untuk duduk dengan paksa di tepi ranjang.


"Aku minta maaf! Jangan seperti ini, Sayang! Masa hanya karena masalah sepele kamu pulang ke rumah orangtua." Katakanlah sikap Viona yang sedang marah ini jadi seperti anak kecil. Marshal tidak menyangka Viona akan berpikiran seperti itu. "Jangan pergi ke mana-mana!" Tahan Marshal lagi pada Viona yang akan kembali beranjak.


Viona hanya melihatnya dengan tatapan dingin. Marshal sampai menelan ludah melihat tatapan istrinya. Biasanya terlihat hangat. Viona selalu membuatnya merasa tenang jika mereka berpandangan. Tapi, kali ini tidak ada hal seperti itu lagi. Hanya karena ucapannya, yang menurut Marshal tidak terlalu kasar itu, Viona malah berubah jadi sangat dingin.


"Zahra, Sayang? Kamu marah?" Marshal menggamit tangan istrinya. "Ra?" Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap istrinya saat ini. Viona hanya diam, tidak mau buka suara sedikit pun. "Aku minta maaf!"


Viona melirik ke arah lain. Dia hanya diam saja, walaupun Marshal terus meminta maaf dan menahannya untuk beranjak.

__ADS_1


"Sayang, aku-"


"Aku gak mau liat kamu lagi," potong Viona dengan cepat.


Marshal membola dengan kaget dan semakin erat menggenggam tangan istrinya. Dia menggeleng keras, tidak mau sampai Viona jauh darinya. "Kenapa? Kamu marah?"


"Aku mau pulang."


"Pulang ke mana? Ini rumah kamu. Jangan pergi ke mana-mana!"


Viona menghempaskan tangannya kasar dari genggaman Marshal. Dia menatapnya sinis. Menarik koper dengan cepat, tidak peduli dengan Marshal yang terus melarangnya.


***


"Maaf, Tuan, saya terlambat mengabarkan hal ini." Rio terlihat merasa bersalah saat berhadapan dengan majikannya yang sedang uring-uringan. "Saya juga baru tahu, ternyata tuan Suryo bukan hanya menyalip dana proyek. Tapi kuga sudah berhasil menguasai dua hotel milik Tuan yang ada di Surabaya."


"Katakan laporan dengan benar, Yo! Aku sedang tidak ingin bercanda."


"Saya tidak bercanda, Tuan. Memang seperti itu. Maaf, saya lalai bertugas akhir-akhir ini. Dan saya juga mendengar, tuan Suryo sudah berhasil mengganti atas nama kepemilikan dua hotel yang dikelolanya itu."


Marshal terdiam menatap Rio. Dia tidak percaya, jika apa yang Rio katakan benar adanya. Marshal selalu mengawasi apa yang dia punya. Tidak mungkin cepat sekali berpindah kuasa tanpa sepengetahuannya.


"Tuan Suryo memanipulasi data Anda, Tuan. Dia juga membuat dokumen palsu mengatasnamakan persetujuan dari Tuan. Dan sekarang, dua hotel itu sudah atas nama tuan Suryo."


Bibir Marshal hanya diam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Tapi, tangannya bergerak mengambil gelas dan melemparkannya kasar ke lantai sampai terdengar suara kaca pecah di ruangan itu. Dia sedang tidak ingin marah karena pikirannya terlalu kacau akhir-akhir ini. Tapi, darahnya mendidih mendengar apa yang Rio katakan. Rio terlihat sangat serius dalam bicara. Dia orang kepercayaan Marshal, tidak mungkin berani membohonginya.


"Ini semua dokumen yang menjadi bukti, jika tuan Suryo sudah memegang kuasa atas dua hotel di Surabaya." Rio menyerahkan beberapa Map pada Marshal.


Dengan gigi yang menggertak, Marshal membacanya satu per satu. Mencoba sabar, namun tetap saja dia emosi. Di sana tercantum tanda tangannya. Sangat mirip dengan tinta yang selalu dia cantumkan dalam dokumen penting sebagai penanda bahwa itu adalah surat yang dibuat atas persetujuannya.

__ADS_1


"Tidak mungkin, Yo. Kenapa dokumennya sangat halus? Pantas saja jika semua orang percaya dengan surat penyerahan palsu ini." Dahi Marshal mengkerut marah. Dalam kertas yang dipegangnya sudah tercantum bahwa hak milik dua hotelnya yang ada di Surabaya jatuh kepemilikan kepada tuan Suryo. Padahal Marshal tidak pernah melakukannya.


"Surat ini sudah di-acc oleh semua pemilik saham saat Tuan sedang sakit. Mereka percaya karena tanda tangan Tuan sudah lebih dulu tercantum di sana. Jadi mereka mengikuti dan setuju jika hotel itu diberikan kepada tuan Suryo, asal pemilik Mars corporation menyetujuinya duluan."


Marshal menggeram marah. Dia melemparkan dokumen-dokumen itu sampai berserakan di lantai. Matanya menatap tajam pada Rio. Tidak biasanya Rio tidak bisa diandalkan. Saat ia sakit, keadaan memang memaksanya supaya tidak mengurus pekerjaan. Apalagi istrinya yang selalu melarang Marshal untuk banyak berpikir dengan masalah perusahaan. Dia menyerahkan semuanya pada Rio supaya perusahaan tetap terurus. Tapi, apa hasilnya? Rio malah lengah dan akhirnya kecolongan. Harusnya Marshal tidak mengikuti larangan istrinya. Harusnya dia tetap bekerja meskipun sakit supaya perusahaan tetap terkendali dan kasusnya bersama Suryo cepat selesai. Jika seperti ini, dia sendiri yang merasa terlalu bodoh. Dia menyesal telah mempercayakan beberapa proyeknya untuk dikelola oleh Suryo, jika akhirnya Suryo berkhianat.


"Bawa pengacara hebat! Kita akan perkarakan masalah ini di persidangan!"


"Percuma, Tuan. Tidak akan bisa. Tidak ada bukti yang jelas bahwa itu surat palsu. Tanda tangan Tuan sangat mirip tercantum di sana. Semua orang tidak akan ada yang percaya lagi."


Marshal melotot tajam. "Makanya cari bukti yang kuat! Cari tahu siapa yang sudah berani menjiplak tanda tanganku! Kamu harusnya mencari tahu akar permasalahannya! Cepat hubungi pengacara kita! Aku akan mengurusnya supaya tuan Suryo tidak lancang seperti ini lagi!"


"Hanya dua hotel. Lebih baik lepaskan saja! Untuk apa Tuan repot-repot mengurusnya ke jalur hukum? Hanya buang-buang waktu. Tuan punya banyak hotel di banyak daerah. Tidak masalah-"


"RIO!" Marshal menggebrak meja dengan kuat. Dia tidak menyangka Rio akan bicara seperti itu padanya. "Aku membangun hotel satu pun penuh perjuangan. Berani sekali kamu bicara seperti itu. Kamu pikir aset dua hotel itu sedikit apa, ha?!"


Dengan santainya, Rio malah tersenyum miring. Dia menyerahkan satu map lagi pada Marshal. "Itu surat pengunduran diri saya. Saya ingin berhenti bekerja dengan Anda, Tuan."


Dengan penuh emosi dan terkejut, Marshal membaca surat yang Rio serahkan. Matanya menatap kaget pada Rio, sedangkan Laki-laki yang ditatap malah kembali tersenyum miring.


"Saya bekerja sama dengan tuan Suryo. Sudah lama saya ingin mengusai hotel itu, jadi saya membantu tuan Suryo untuk membuat surat tersebut. Makanya surat itu terlihat nyata, karena saya yang menyalinnya dari data yang Tuan miliki."


"Apa maksudmu?!" Marshal berdiri cepat dari kursi kebesarannya. Tangannya mengepal kuat di saat otaknya menangkap maksud lain dari ucapan Rio, orang yang sangat dia percayai.


"Saya tidak punya maksud apa-apa, selain menguasai aset Tuan. Sudah lama saya bekerja terhadap Tuan, tapi saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya hanya orang suruhan. Saya juga ingin merasakan menjadi pemilik hotel, makanya saya melakukan itu. Saya lelah disuruh-suruh. Lain kali saya ingin menjadi pemimpin yang menyuruh." Rio tertawa licik. Dengan berani dia menatap Marshal, menandakan perang baru dimulai.


Tidak percaya. Marshal tidak akan pernah menduga jika Rio berkhianat padanya. Rio tahu segalanya tentang Marshal dan perusahaan. Pantas jika dia mudah mengubah segalanya mengatasnamakan Marshal.


"Saya harap Tuan jangan menyesal! Anggap saja dua hotel itu Tuan berikan pada saya sebagai balasan jasa. Karena saya sudah lama mengabdi pada Anda."

__ADS_1


__ADS_2