Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kembali tunduk


__ADS_3

"Lupakan laki-laki itu dan jangan pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengannya!" tegas Marshal membuat Viona menoleh dengan kaget.


Mereka sedang berada dalam mobil menuju ke rumah orangtua Marshal.


Rio yang sedang menyetir melirik mereka melalui spion tengah dengan kaget saat suara tegas Marshal terdengar begitu keras di dalam mobil. Pikirannya bertanya-tanya apa mereka masih belum bisa akur? Karena yang Rio tahu, beberapa hari ini majikannya selalu berdebat dengan istrinya di saat kapan pun. Entah saat Marshal akan berangkat bekerja atau saat berada di rumah selepas pulang bekerja. Dia juga merasa pusing. Harapan supaya hubungan majikannya semakin membaik, sekarang sirna di saat Viona yang selalu sabar menghadapi sikap suaminya, kini mulai menunjukkan protes karena dia tidak bisa mendapat kebebasan.


"Kenapa saya harus melupakannya?" timbal Viona dengan tenang. Dia menghadap pada Marshal yang sekarang mulai menggertakan giginya. Sepertinya Marshal sangat marah pada Viona.


"Sudahi semuanya dan jangan pernah kamu berhubungan lagi dengan dia! Aku tidak suka!" Marshal kembali memperingatkan. "Selama ini aku sabar menghadapi sikapmu. Semuanya sudah melewati batas. Perilakumu yang mulai berani membantah membuatku muak."


"Tapi Tuan tidak pantas melarang saya sejauh itu. Saya punya kebebasan untuk dekat dengan siapa pun, termasuk Sendi," balas Viona tidak kalah tegas.


Emosi Marshal semakin tersulut. Dia sudah habis kesabaran menghadapi sikap pemberani istrinya. Selama beberapa hari ini dia bisa menahan emosi dan membiarkan istrinya berargumen, tetapi kali ini dia tidak bisa bersabar lagi. Menurutnya sikap Viona sudah melewati batas dan tidak bisa lagi ditoleransi. Dia tidak suka dengan sikap istrinya yang sekarang.


"Sudah, cukup! Aku tidak mau memperdebatkan masalah keadilan itu. Pokoknya kau harus menurut padaku! Jangan dekat dengannya lagi!" tegasnya tepat di depan wajah Viona.


"Tapi, Tuan tidak bis-mmphh ...."


Ucapan Viona tertahan oleh sumpalan bibir Marshal yang tiba-tiba. Dia memukul dada suaminya dengan keras karena dia tidak mau dan kaget mendapat serangan mendadak seperti itu. Tapi, Marshal tidak mempedulikan protesannya dan malah semakin memperdalam ciumannya. Sebelah tangannya menahan tangan Viona yang terus berusaha memukul dan mendorong tubuhnya. Satu tangannya lagi menahan tengkuk Viona supaya tidak menghindari ciuman.


Beberapa kali Rio meneguk ludahnya dengan kasar. Dia jadi salah tingkah sendiri saat melirik dari spion. Kenapa majikannya itu tidak tahu tempat? Apa mereka tidak menyadari keberadaannya? Rio jadi malu sendiri dihadapkan dengan adegan dewasa seperti itu. Apalagi ini kali pertama dia melihat Marshal dan Viona berciuman seperti itu.


Tuhan, ampuni dosaku telah melihat mereka!


Marshal masih belum mau melepaskan istrinya, walaupun dada Viona sudah kembang-kempis dengan cepat karena kehabisan napas. Dia tidak peduli. Cuma itu satu-satunya cara supaya istrinya tidak membantah lagi.


Setelah perlawan Viona melemah, Marshal mulai melepaskan tangan istrinya, tapi tetap tidak bisa membebaskan bibir tipisnya. Ciuman yang awalnya terjadi karena emosi, kini mulai dia nikmati di saat Viona juga membalasnya dengan tidak sabaran karena dia sudah kehabisan napas. Hanya dengan ikut bergerak dia bisa sedikit mencuri udara.


Perlahan tangan Viona merayap ke atas. Menggapai leher Marshal. Mengusapnya pelan hingga suaminya semakin terbuai dan semakin rakus. Namun, tidak bertahan lama karena tangan halus yang semula mengusap mulai mencengkram lehernya kuat hingga Marshal memekik kaget saat Viona menguatkan cengkaraman tangannya.


Viona mencekiknya.

__ADS_1


Dengan kaget Marshal melepaskan Viona. Dia mengusap lehernya yang terasa sakit akibat cengkraman tangan halus istrinya. Ditatapnya tajam Viona yang masih bernapas terengah-engah sama seperti dirinya. "Kenapa kamu mencekikku?"


Viona tidak menjawab. Masih memasok udara sebanyak-banyaknya.


Setelah napas mereka kembali teratur, mereka kembali bertatapan dengan sorotan sama-sama tajam. Viona marah karena sikap Marshal yang seenaknya dan Marshal marah karena sikap kejam istrinya.


"Kenapa Tuan selalu bersikap seenaknya pada saya? Tuan pikir Tuan ini siapa, sampai Tuan seenaknya mencium saya seperti itu?" sarkas Viona dengan nada tinggi. Dia tidak peduli dengan kemarahan suaminya yang akan semakin tersulut. Dia juga sama marahnya.


"Aku suamimu, jika-jika kamu lupa. Aku berhak atas dirimu."


"Tidak seperti itu caranya. Tuan tidak bisa memaksakan kehendak seper-"


"Ehem!" Terpaksa Rio berdehem. Tidak peduli dengan tatapan kedua majikannya. Dia tidak bisa fokus menyetir dan tanpa menunggu intruksi dia langsung menepikan mobil di jalanan yang sepi. Dia turun dari mobil tanpa bicara. Membiarkan majikannya berdebat sesuka hati mereka. Sudah pusing mendengarnya.


Seperti dugaan Rio, setelah asisten itu menjauh dari mobil, mereka kembali berdebat.


"Semakin hari kamu semakin berani melawanku. Selalu membantah dan dengan beraninya kamu bahkan mencekik leherku."


"DIAM!"


Seketika Viona terdiam. Memandangi Marshal yang semakin berapi-api menghadapi sikapnya yang pemberani.


Marshal mencengkram rahang Viona dengan lumayan kuat sampai Viona meringis. Dia mendekatkan wajahnya dengan gigi mengetat. "Kamu lupa dengan alasan kita menikah? Lupa dengan latar belakang bagaimana kamu menikah denganku?" Viona mulai takut melihat tatapan tajam suaminya. Dia hanya terdiam dengan tubuh yang mulai tidak nyaman. Apalagi rahangnya yang dicengkram kuat oleh Marshal. "Aku tidak mau berbuat kasar padamu, tapi karena sikapmu yang semakin hari semakin kurang ajar membuatku habis kesabaran. Kamu selalu membantah dan bahkan berani mendebatku sekarang. Terpaksa aku mengingatkanmu dengan alasan kita menikah. Supaya kamu sadar diri dan tidak pernah membantahku lagi."


Viona mati kutu. Bibirnya kelu untuk mengeluarkan kata. Ucapan Marshal benar-benar membuatnya hilang keberanian. Viona sadar, selama ini dia memang sudah melewati batas. Tapi semua itu dia lakukan demi mendapat kebebasan.


"Jika aku tidak menolong ayahmu, apa yang akan terjadi pada keluargamu? Bagaimana kondisi kalian saat ini?" Marshal tersenyum miring melihat istrinya terdiam dengan ketakutan. Dia sudah habis kesabaran menghadapi istrinya. Tidak ada cara lain supaya Viona kembali menurut padanya. Hanya dengan alasan itu Viona mungkin bisa kembali tunduk. "Sepertinya aku salah sudah membolehkanmu bersikap menjadi dirimu sendiri. Aku salah sudah membiarkanmu berargumen. Mungkin sebaiknya kamu memang jadi pendiam. Itu lebih baik karena kamu tidak akan membantahku lagi."


Viona menunduk saat Marshal berhenti mencengkram rahangnya dan malah mengusap wajah istrinya dengan lembut. Entah apa yang Viona rasakan. Keberaniannya menguap begitu saja jika diingatkan dengan apa yang telah Marshal lakukan pada keluarganya. Viona sadar diri. Dia hanya timbal balik atas pertolongan Marshal. Jadi, seharusnya dia memang tidak bersikap berlebihan seperti akhir-akhir ini pada suaminya.


"Maaf, aku berbuat kasar padamu," Marshal kembali mengusap wajah istrinya. Untung saja cengkramannya tidak terlalu kuat sehingga tidak meninggalkan bekas di rahang istrinya. "aku hanya ingin kamu menurut padaku."

__ADS_1


Viona hanya diam dan menunduk. Dia tidak berniat melawan lagi. Semua yang telah terjadi pada keluarganya saat ini adalah berkat pertolongan Marshal. Viona hanya berbalas budi dan tidak seharusnya menuntut kebebasan lagi. Sebelum dia menyetujui menikah dengan Marshal, dia sudah menerima konsekuensinya. Dan inilah yang seharusnya dia jalani. Dia harus patuh pada orang yang sudah menolong ayahnya.


Marshal mengangkat dagu Viona hingga kembali memandangnya. Dia mendaratkan beberapa kali ciuman di rahang istrinya yang sudah dia cengkram beberapa saat lalu. Dia menyesal telah berbuat kasar. "Jangan berani membantahku lagi! Aku tidak mau membentak, apalagi berbuat kasar padamu." Marshal mendekatkan tubuh istrinya yang masih terdiam untuk dia peluk. Viona tidak menolak. Entah kenapa dia jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirannya rumit menghadapi sikap Marshal yang sulit dipahami. Sekarang sikap suaminya itu kembali seperti saat pertama kali mereka kenal. Sebentar dia kejam. Sebentar dia tegas dalam memperingatkan dan sebentar dia bersikap baik hati. Viona tidak bisa memahami sikap suaminya yang berubah-ubah itu. Entah apa maunya. Dia hanya bisa terdiam dan ucapan Lina kembali terngiang dalam benaknya,


"... mencoba menjadi istri yang baik dan melayani suami dengan niatan ibadah."


Apa jika Viona bisa patuh terhadap Marshal dan memendam egonya sendiri, itu bisa dikatakan ibadah? Cukup sulit bagi Viona jika harus melakukan hal itu. Dia bukan ingin menjadi istri yang baik. Tapi ingin berbalas budi pada Marshal. Baiklah, mulai sekarang dia tidak akan menuntut kebebasan lagi. Dia seharusnya menerima semua konsekuensinya karena telah menikah dengan Marshal. Hal itu tidak boleh Viona lupakan supaya dia tidak kebablasan lagi dalam bersikap. Jiwa pemberani Viona sepertinya harus dia kubur kembali.


"Jangan bersikap sok berani lagi padaku, jika kamu tidak mau aku menghancurkan keluargamu," ucap Marshal dengan pelan namun penuh penekanan.


Sikapnya kembali berkuasa seperti semula. Dan Viona kembali mati kutu dibuatnya. Kelemahan Viona hanya ada pada keluarganya. Dia harus selalu mengingat jasa Marshal.


***


Sedang enak-enaknya menyandar pada pohon besar yang ada di pinggir jalan, Rio terperanjat saat suara klakson mobil terdengar begitu nyaring membuyarkan lamunan. Dia mendengus memandangi mobil yang terparkir di pinggir jalan itu. Baru saja dia bertemu dengan bidadari dalam lamunannya. Cling, bidadari tersebut berubah jadi nenek sihir karena suara klakson.


"Mengganggu saja!" Dia berjalan mendekat pada mobil. Melirik ke dalam sejenak lewat kaca jendela. Dua majikannya itu sedang duduk berdampingan dengan diam. Sepertinya perdebatan sudah selesai. Rio tersenyum senang dan langsung masuk ke dalam mobil.


Melirik sejenak lewat spion. Mereka hanya terdiam. Marshal memandang ke depan, sedangkan Viona membuang pandangan ke luar jendela. Kini Rio ragu. Apa masalah mereka sudah selesai? Kenapa masih sama-sama membisu?


"Cepat jalan! Kenapa hanya diam?" bentak Marshal dari kursi belakang.


Dengan segera Rio menghidupkan mesin dan mulai melajukan mobilnya dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Tapi dia hanya bisa mengutarakannya dalam hati. Tidak mungkin juga dia menanyakannya pada mereka. Biarkan saja mereka terdiam. Itu lebih baik daripada berdebat seperti tadi.


"Lain kali kamu harus bayar tiket jika mau menonton adegan romantis seperti tadi."


Rio melirik Marshal dari spion dengan bingung saat majikannya bersuara.


"Kamu pikir ciuman kami gratis untuk ditonton apa?"


"Eh?" Rio tersenyum kikuk. Salah tingkah kembali saat mengingat hal tadi. Ternyata mereka menyadari jika Rio curi-curi pandang untuk melihat adegan panas tersebut? Rio jadi malu sendiri. Dia kira majikannya tidak menyadari hal itu karena mereka sibuk sendiri tanpa menghiraukan keberadaannya yang mengenaskan.

__ADS_1


__ADS_2