Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Belanja Bareng Mertua


__ADS_3

"Sedang apa?" Marshal memperhatikan layar ponsel dengan serius. Wajah cantik yang selalu dia lihat setiap hari, selalu dia nikmati, kini sedang muncul di layar. Terlihat sangat bahagia dihiasi senyuman manis yang selalu membuat siapa saja merasa terpana.


"Aku lagi lihat abang-abang yang bikin aquarium." Viona terlihat menggeser tubuh. Pemandangan di dalam layar berganti menjadi beberapa tukang yang tengah bekerja. Ada yang sedang mengukur jarak dan ada juga yang tengah memposisikan kaca tebal disertai hiasan untuk di dalamnya.


Kemudian, wajah Viona kembali terlihat. Senyumannya masih indah seperti sebelumnya. "Kalo aquariumnya beres hari ini, bisa diisi kapan?"


"Ikan dari Amerika kemungkinan baru sampai besok. Berarti, antara besok atau lusa baru akan selesai dengan isinya, Sayang."


Viona menganggukkan kepala. Dia berjalan menjauhi para pekerja tadi dan menaiki tangga. "Kamu udah makan belum?"


"Baru selesai makan, Sayang. Setelah ini aku ada rapat." Marshal masih memperhatikan layar ponsel dengan serius. Masih jam istirahat. Meskipun hanya punya waktu sedikit, Marshal pasti akan menyempatkan untuk menghubungi istrinya. Terlalu sayang sampai baru beberapa jam berjauhan saja sudah merasa rindu.


"Chal."


"Hm?"


"Aku mau izin keluar. Boleh, kan?"


"Ke mana?"


"Keluar. Nganter mama belanja."


"Mama?"


"Iya, Mama Rahma. Tadi nelepon, minta aku temenin buat belanja."


Marshal berpikir sejenak. Dia terdiam.


"Gak mau ada pengawalan. Aku aman. Ingin sendiri. Okay?"

__ADS_1


Baru saja Marshal akan membahas masalah itu, Viona sudah bisa menebak pikirannya duluan. Jika sudah seperti itu, dia tidak bisa melarang. Lagian Viona pergi dengan ibunya. Tidak akan terlalu berbahaya.


"Tapi, jangan dandan terlalu cantik. Dan juga ... selama di Mall, tidak boleh lirik-lirik lelaki mana pun. Ingat!"


"Okay, Bos!" Viona mengangkat tangan, hormat. Wajahnya tersenyum cerah terlihat sangat senang. "Makasih, ya. Bye, Sayang! Muach! Semangat kerjanya!"


Tut!


Marshal terdiam memandangi layar yang sudah tidak lagi menampilkan wajah Viona. Butuh waktu cukup lama untuknya mengembalikan kesadaran. Ada apa dengan Viona? Akhir-akhir ini tingkahnya selalu membuat Marshal terkejut. Selalu tiba-tiba dan tanpa bisa ditebak bagaimana tingkahnya.


Oh, Sayang ... aku malah semakin merindukanmu.


***


"Heleh, paling kak Chal yang larang, Ma. Aku tahu itu. Kak Viona 'kan bagaikan burung indah, berharga fantastis. Pantas saja jika dikurung sama yang punya."


Mereka berdua tertawa.


Hari ini Rahma mengajak Viona untuk pergi berbelanja. Sekadar untuk me-refresh otak supaya tidak mumet berada di rumah seharian. Teringat dengan sikap Marshal yang terlalu mengekang, Rahma merasa kasihan pada Viona. Menantunya pasti jenuh dan mungkin saja sudah merasa bosan berada di rumah sepanjang hari. Makanya dia berinisiatif untuk membawanya jalan-jalan.


Untung Viona bersedia dan katanya Marshal juga mengizinkan. Viona memang istri yang baik. Selalu meminta izin terlebih dahulu. Padahal jika Marshal tidak mengizinkan pun, Rahma tetap akan membawanya pergi. Tidak peduli dengan izin Marshal. Toh, putra semata wayangnya itu tetap akan patuh terhadap keputusan sang ibu. Selagi keinginannya tidak melenceng, masa iya Marshal akan melarang, bukan?


"Ma, kak Viona itu udah hamil belum, sih? Kayaknya aku belum dengar berita bahagia akan punya ponakan baru." Michelle menyorongkan tubuh pada ibunya.


Mereka berangkat ke rumah Marshal menggunakan mobil yang disopiri. Menjemput istrinya putra Wisnu. Viona. Karena tidak mau sampai merepotkan Viona, jika harus dia yang menghampiri ke rumah Rahma. Dan lagi, jarak pusat perbelanjaan lebih dekat jika berangkat dari rumah Marshal. Maka akan sedikit memangkas waktu, sekalian lewat.


"Belum. Mereka masih menunda. Kemarin-kemarin, Chal datang ke rumah. Nyuruh mama buat bujuk Viona supaya mau cepat punya anak. Tapi, mama lihat, Viona sepertinya belum mau punya anak, deh."


"Lho, kenapa? Terus itu kenapa bisa ditunda? Emang punya anak bisa ditunda gitu? Kayak apa aja ditunda." Michelle terlihat polos, malah cekikikan.

__ADS_1


"Sst ... diam! Kamu masih kecil. Lebih baik gak usah terlalu ikut campur urusan orang dewasa!"


"Mama ...." Bibirnya mencebik tidak suka. Dia sudah kelas tiga SMA. Sudah mengerti dan sudah bisa dibilang dewasa. Tidak kecil seperti yang Rahma katakan.


Mobil memasuki halaman rumah Marshal. Rahma turun bersama Michelle. Masuk ke dalam rumah megah milik sang putra Atmadinata. Mereka mengucap salam berbarengan dan disambut hangat oleh menantu kesayangan.


Senyuman Viona tetap terlihat ramah seperti biasanya. Dia sudah siap, semakin terlihat cantik dengan pakaian casual yang terlihat elegan di tubuhnya. Orang cantik, memakai apapun tetap akan terlihat semakin cantik. Tidak akan pernah ada yang salah dengan pakaiannya. Karena wajah dan postur tubuh yang mendukung.


"Aku kira masih agak lama kalian ke sini."


"Ya, gitulah, Kak. Mama gak sabaran."


"Chelle ...."


Viona hanya tersenyum, mengambil tas miliknya dan berpamitan pada Mbak yang berjaga di rumah. Mereka berangkat menggunakan mobil milik Marshal. Viona yang menyetir kali ini. Sekarang adalah hari keberuntungan. Setelah berdebat panjang bersama sang suami, akhirnya, dengan berat hati, Marshal mengizinkan Viona menyetir sendiri. Viona benar-benar ingin bebas. Untuk hari ini saja. Dan Marshal nampaknya hanya bisa mengalah menuruti keinginannya.


***


"Yang ini lebih bagus, Chelle." Viona menunjuk pakaian berwarna marun yang ditunjukkan Michelle padanya. Satu lagi berwarna toska dengan lengan yang lebih panjang. Viona melihatnya lagi, sejenak, dan dia lebih menyukai pakaian yang berwarna marun untuk adik iparnya.


"Yaudah, aku ambil yang ini aja, ah." Michelle pergi menghampiri pelayan toko, memberikan baju pilihannya untuk dibungkus, sedangkan Viona kembali memilih pakaian yang berjejer bersama Rahma. Dia baru menemukan beberapa dan sepertinya harus memilih yang lain lagi. Karena Rahma yang memaksa.


"Ini bagus, Viona. Sini, lihat!"


Viona menghampiri ibu mertuanya. Rahma menunjukkan sebuah baju yang menurut Viona itu terlalu seksi. Akan terlihat sangat terbuka dan Viona tidak suka itu.


"Chal bakalan suka. Pakainya di rumah aja. Ini bagus, lho." Rahma bisa melihat tatapan itu. Dia memang memilihnya hanya untuk sekadar memuaskan mata Marshal. Viona masih muda, cantik, punya tubuh yang bagus. Jika memakai pakaian yang terbuka, maka akan terlihat sangat seksi. Dan Rahma memang menginginkan hal itu. Marshal pasti berterima kasih padanya, jika Viona mau berpakaian seperti itu di hadapan sang suami.


"Kayaknya terlalu terbuka, deh, Ma. Chal mungkin juga gak akan suka." Viona berusaha menolak. Karena membayangkan memakai pakaian itu membuatnya bergidig ngeri. Di bagian bawah hampir sampai pangkal paha. Dan di bagian dada sangat rendah. Apa bedanya dengan hanya memakai bikini? Itu terlalu terbuka. Dan lagi, Viona sangat yakin, jika Marshal akan lebih suka, jika Viona tidak memakai baju.

__ADS_1


__ADS_2